Selamat datang di Portal NLP Indonesia, penuh berisi sumber informasi mengenai aplikasi ilmu Neuro-Linguistic Programming (NLP) di Indonesia.
NLP (tm) diciptakan oleh sepasang jenius : Dr. Richard Bandler dan Dr. John Grinder, dengan tujuan memodel keunggulan manusia sehingga bisa diduplikasikan ke orang lain. Mengapa PortalNLP ini dibuat? Silahkan simak dulu di bagian Misi di atas.

PENGUNJUNG BARU
Jika Anda pengunjung baru dan BELUM familier dengan NLP, silahkan mulai membaca artikel dari Kategori "Dasar NLP", setelah itu silahkan membaca yang lebih aplikatif.

TANGGAPAN
Tangggapan/komentar tidak dimoderasi, jika Anda mendapatkan pesan "Pesan Anda Menunggu Moderasi", berarti posting komentar Anda mengandung kata-kata "possible spam" dan terfilter OTOMATIS oleh mesin Anti Spam.
Manajemen Portal memiliki hak sepenuhnya untuk menghapus atau mengedit Komentator yang tidak menggunakan nama dan email yang asli, komentar yang dinilai tidak sopan, tidak produktif, mengadu domba, atau yang bersifat negatif lainnya.

Tip Praktis NLP#79: Tiuuup Ikhlas “Teknik Lupakan Pacar Cinta Pertama”

“Duh, gara-gara Facebook saya jadi teringat lagi dengan pacar cinta pertama saya, nih!”

Demikian seorang cerita teman sambil menggaruk kepala, walau tidak ada ketombe he he… → continue reading

NLP Dalam Hidup Saya

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Sudah hampir 5 tahun sejak pertama kali saya mengenal NLP. Sebuah masa yang pendek jika dilihat dari angkanya, sekaligus panjang saat dirunut tiap detik yang ada di dalamnya. Betapa tidak? Begitu banyak hal—hal-hal yang belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya—terjadi ketika saya belajar dan mempraktikkan NLP secara serius.

Wah, kok kayaknya canggih betul ya? Apa iya begitu?

Ah, setelah membaca artikel ini sampai habis, simpulkan saja sendiri deh.

→ continue reading

Tip Praktis NLP#78: Diam “Biar Makin Akrab dengan sang Batin”

“Pak Krishna, bagaimana bapak membuat diri bapak selalu semangat?”

Demikian pertanyaan yang kerap muncul saat saya berbagi motivasi. Menurut saya ini pertanyaan yang aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya selalu termotivasi, bagaimana mungkin saya bisa selalu semangat, bagaimana mungkin saya selalu percaya diri? Ya, tidak mungkinlah. Kalau saya selalu termotivasi, kapan saya tidurnya ha ha ha…

Jawaban canda yang selalu saya berikan adalah berikut ini: “Kuncinya agar kita selalu termotivasi dan bersemangat adalah dengan berdiam diri…” → continue reading

Tip Praktis NLP#77: Maaf + Ikhlas “Terapi Lenyapkan Pening Stres yang Cespleng”

Keinginan kuat untuk sembuhlah, yang menyembuhkan. → continue reading

Tip Praktis NLP#76: Joget Sumo “Cara tetap tenaaang saat Gempa! Gempa! Gempa!”

Joget irama gempa

Saat banyak orang panik lari tunggang-langgang keluar ruangan, → continue reading

Tip Praktis NLP#75: Sowan “Sekuntum kagum untuk Mbah Maridjan”

Sekuntum kagum → continue reading

Cara Mudah Berbicara Dengan Part atau Bagian Diri

Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan diri sendiri.

Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”. Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi dengan Part mereka.

Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part: → continue reading

Tip Praktis NLP#74 Bersyair ”Agar hati terus berbunga-bunga”

Hah, bakat membuat syair? → continue reading

Tip Praktis NLP#73: Ikhlas “Energi yang bisa merubah kehidupan”

Getaran Ikhlas ternyata bisa dirasakan… → continue reading

Tip Praktis NLP#72: Tengak-tengok “Asah kampak agar tetap tajaaam”

Mbok, asah dulu kampakmu…

“Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya malu. → continue reading

Tip Praktis NLP#71: Hari Terakhir “Pertanyaan Membangkitkan Jiwa”

Saya ingin bangkit dari semua ini… → continue reading

Mengapa Fitnah Itu Lebih Kejam Dari Pembunuhan?

Si A itu galak.

Si B itu nyebelin lho.

Demikian 2 kalimat yang saya dengar beberapa waktu belakangan di sebuah kantor. Beruntung, alih-alih mode gosip, yang muncul dalam kepala saya adalah alarm Meta Model. Ya, 2 kalimat tersebut jelas-jelas mengandung pelanggaran Meta Model, yang tidak saja punya efek hipnotik pada pendengarnya, melainkan juga mengandung sugesti (content) yang berbahaya.

Wah, yang bener? Kalimat sederhana itu?

→ continue reading

Ketika Meta Model Menjadi Alat Untuk Berempati

Meta Model? Meta Model yang buat nanya-nanya itu?

Yak, tepat sekali!

Masak sih bisa buat berempati? Bukannya malah bikin orang sebel ya?

Ya, memang bisa bikin orang sebel, kalau belum tahu cara menggunakannya dengan benar.

Loh, memangnya gimana cara menggunakan Meta Model dengan benar?

→ continue reading

HYPNOTHERAPY #23 : Humor tidak Selalu Menyenangkan, Mau bukti?.

Sahabat pembaca portal NLP yang mengagumkan.

Pengalaman menakjubkan yang saya alami ini tak mampu saya rahasiakan. Saya tidak sanggup menyimpannya sendiri saja dalam ingatan saya . Saya pikir begitu juga yang dialami peserta HUMOR GROUP THERAPY di Surabaya, Sabtu 6 Juni 2009.

Semakin terlibat dalam kegiatan memandu sebuah proses pembelajaran, membuat saya yakin bahwa sebenarnya sayalah muridnya, dan para peserta adalah Guru-Guru terbaik yang selalu memperkaya khasanah ilmu.

***  → continue reading

Meng-Indonesia-kan NLP dan meng-NLP-kan Indonesia…

Well, saat menuliskan judul di atas, saya tersenyum-senyum sendiri… Karena mudah dirasakan bagi kawan-kawan seusia saya, judul itu akan mengingatkan pada slogan-slogan Orde Baru yang senang pembolak-balikan kata seperti itu. Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olah raga. Menyehatkan masyarakat, dan memasyarakatkan kesehatan.

Terlepas dari gaya bahasa itu sering dipakai di Orde Baru, gaya bahasa itu mengandung kearifan linguistik yang menarik. Hanya dengan membolak-balik kata, sudah tercipta dua pengertian yang berbeda secara drastis. Bahkan keduanya mengandung kedalaman linguistik yang sarat makna.
Mungkinkah NLP di-Indonesia-kan dan Indonesia di-NLP-kan?

Meng-Indonesiakan NLP
Kata meng-Indonesiakan NLP, setidaknya memiliki beberapa presuposisi (re : asumsi) bahwa : → continue reading

Delete Aja: Terapi ala Orang IT

Ted, kemarin kan abis review. Wah, pusing berat, aku dibantai abis.

Loh, kok sekarang masih utuh?

Hehehe…bisa aja lo. Maksudnya, aku kemarin dimarah-marahin sama bosku.

Ya, udah biasa kan?

Iya sih. Cuman kok rasanya, sampai sekarang rasa takut itu masih terasa terus ya. Padahal biasanya aku tuh bebal loh.

Terus?

Ya, bantuin donk. Kemarin aku dengar si X kamu bantuin untuk diet udah mulai berhasil tuh.

→ continue reading

How To Handle Abreaction And Catharsis

Dalam proses terapi, baik dilakukan dalam kondisi sadar sepenuhnya, light trance, maupun deep trance, klien, cepat atau lambat, pasti akan mengalami suatu luapan emosi. Luapan emosi ini, bisa yang ringan hingga yang sangat intens , merupakan bentuk pelepasan tekanan psikis yang selama ini terpendam di pikiran bawah sadar. Luapan emosi ini dikenal dengan istilah abreaction atau catharsis.

Istilah abreaction pertama kali digunakan dalam psikoterapi saat Josef Breuer mengembangkan “cathartic method” seperti yang dijelaskan dalam buku Studies in Hysteria, yang ia tulis bersama Sigmund Freud di tahun 1895.

Secara teknis, abreaction atau catharsis adalah proses terapeutik berupa lepasnya emosi yang intens yang diikuti dengan terungkapnya suatu emosi yang bersifat traumatik dengan tujuan tercapainya suatu resolusi. Saya menjelaskan hubungan antara simtom, pelepasan tekanan psikis, emosi negatif, dan kesembuhan di artikel saya yang berjudul “Teori Tungku Mental” yang bisa anda baca di http://www.quantum-hypnosis.com/index.php?pid=dtl_artikel&id=48.

Pada definisi di atas tampak bahwa tujuan utama terjadinya abreaction adalah untuk mencapai suatu penyelesaian atau resolusi dari suatu masalah. Namun sayangnya pemahaman ini jarang diungkapkan dengan jelas. Banyak yang mengira bahwa saat klien menangis atau meledak emosinya maka dengan demikian masalah telah berhasil diselesaikan. Benarkah demikian?
→ continue reading

Bahasa Itu Punya Nyawa

Tulisan ini merupakan catatan kecil selama mengikuti Training Hypnotherapy Fundamental di Yanurindra School of Hypnotism di Jakarta, 6 Juni 2009. Saya beruntung mendapat kesempatan untuk duduk mengikuti kelas Hypnotherapy Fundamentalnya Pak Yan.

Catatan saya yang pertama, bahwa training ini simple, mendasar dan cukup membekali peserta untuk menjadi seorang terapis atau seorang hipnotis panggung atau hypno stage. Metodenya dengan banyak praktik (workshop) sehingga peserta tidak terjebak dalam metode belajar verbalistik. Belajar yang baik adalah dengan cara melakukannya, bukan hanya sekedar melihat dan mendengarkannya.

Catatan saya yang kedua, setelah menyimak, memperhatikan demo-demo yang diberikan oleh Pak Yan dan sekaligus mencoba mempratikannya, saya punya catatan khusus bahwa antara ilmu hypnosis dan NLP (neuro linguistic programming) memiliki kesamaan spesifik yakni ”bermain-main soal bahasa”. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa sukses itu hanya soal ”permainan bahasa”. Bahasa mempengaruhi pikiran dan pikiran menentukan tindakan/perilaku.

→ continue reading

Setelah Membaca Artikel Ini, Mana Yang Jadi Lebih Mudah?

Artikel ini adalah menjawab pertanyaan  (komentar) Mas Teddi, terhadap artikel saya yang berjudul “Susah Mana, Belajar A atau Belajar B?”. Nah, agar mendapatkan konteks pembelajaran dalam artikel ini, alangkah baiknya baca dulu artikel “Susah Mana, Belajar A atau Belajar B?” (artikel sebelum artikel ini), baru kemudian Anda membaca artikel ini.

Nah, setelah Anda membaca artikel itu, tepat di bawah artikel itu, dalam urutan pertama, Mas Teddi menuliskan kalimat ini :

Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP? Hehehe…”

Well,
Saya menganggap luar biasa pertanyaan itu, karena selain komentar itu merupakan komentar yang pertama, juga rumusan katanya sedemikian ambigunya untuk dapat mengetahui alasan penulisan komentar itu.
→ continue reading

Susah Mana : belajar A atau belajar B? Alasannya?

Tulisan ini merupakan jawaban atas undangan Mas Yan agar memberikan tanggapan pada Status FB-nya beberapa saat yang lalu. Tentunya ada “Outcome” tertentu yang diinginkan oleh Mas Yan dengan pertanyaan ini “Susah mana belajar NLP atau belajar Hypnosis? Alasannya?”. Apalagi sampai-sampai ia mengundang Kang Asep dan saya untuk menanggapinya…

Secara mantap, tulisan Mas  Yan di Status FB berjudul di atas mengundang respon yang luar biasa. Langsung direspon cepat oleh beberapa orang, dengan semangat membara… Sayang saya sendiri terlambat membacanya, baru ‘ngeh…’  setelah salah satu teman mem-forward ke milis alumni NLP Practitioner Sinergy Lintas Batas…. Weleh.. weleh..weleh… Mas Yan memang jago melakukan suatu “pancingan berkait” yang kontroversial.  Karena sudah terlambat, saya memilih menjawabnya di sini aja ya Mas….

Well, memenuhi undangan itu, saya akan menganalisis pertanyaan ini tidak hanya dari sudut pandang NLP, tapi juga sudut pandang hypnosis. Lho, memang sih hanya sedikit yang tahu, bahwa justru hypnosis adalah disiplin yang jauh-jauh sudah dipelajari ketika saya masih berstatus mahasiswa psikologi di Yogyakarta.  Waktu itu rasa penasaran membawa saya mengikuti kursus hypnosis gaya tradisionil… Sementara NLP kemudian saya pelajari sekitar 1998. Hmm, jadi tulisan ini mewakili NLP atau Hypnosis, atau Psikologi? Yah, anggap saja mewakili penulisnya sendiri….

PRESUPPOSITION
Pertanyaan “Susah Mana” adalah pertanyaan yang di dalam ilmu logika disebut sebagai mengandung “asumsi”, kalau di dalam NLP secara mudah disebut mengandung “Presupposition”. Sedangkan dalam Hypnosis disebut mengandung apa hayo?

Susah mana, A atau B: apa asumsi dari kalimat ini? Penulisnya mengasumsikan bahwa keduanya –baik A maupun B- adalah susah, pertanyaannya adalah “mana yang lebih susah?”. Atau mungkin, penulisnya, ingin agar pembaca tulisannya menelanasumsi yang sengaja ditanam’ alias disemai (seeding) alias diinstall (unconscious installation) bahwa  A dan B memang susah. Atau penulisnya sedang mengajari para pembacanya: agar hati-hati jangan asal menjawab, sebelum mengerti asumsinya… Yang terakhir sepertinya yang paling ekologis.
→ continue reading