Terapi Part ‘ala NLP: “Ngono yo ngono, ngona-ngono, ning ojo ngono” (Ungkapan Bahasa Jawa untuk : “Begitu ya begitu, begita-begitu, tapi mbok ya jangan begitu”).
Terapi Part (1)
Keberadaan tiap parts, senantiasa punya intensi positif (niat baik).
Kendati parts itu nampak seolah sdg konflik, berseteru, saling menghajar, mengganjal, atau tdk selaras. Praktisi NLP akan melakukan mediasi mll suatu proses chunk-up mengetahui level logika diatasnya, shg ketemu dgn intensi positif masing2.
Melalui pertanyaan : “Apa yg membuat behavior itu mjd penting?”.
Terapi Part (2)
Saat seluruh pihak selesai di-chunk-up, umumnya diperoleh situasi bhw intensi positif-nya ternyata selaras atau kurang lebih sama, namun behaviornya yg tidak saling ekologis.
Di level logika ini, mediasi lebih mudah dilakukan, krn intensi positifnya sdh terungkap.
Inilah ide dibalik presuposisi bahwa : People aren’t their behavior. digabung dgn presuposisi : Every behavior has a positive intention, at least in particular context.
Terapi Part (3)
Dalam level organisasi, bisnis atau tim. Mk kita, atau kelompok kita adalah “parts” dr sistem yg lebih luas itu.
Mk jk kita merasa ada konflik dgn pihak lain, mk tanyakan pd diri sendiri dulu ke hati nurani: “Apa yg membuat behaviorku ini penting?” kmdn, tanyakan pula: “Apa niat baik dibelakang behavior itu, sehingga dilakukan mrk?”
Di level ini, akan terasa aadnya suatu keselarasan yg mempermudah terhjadinya mediasi.
Terapi Part (4)
Tantangan NLP-er dlm melakukan terapi part adalah utk mendapatkan intensi positif yg paling esensial, krn seringkali “intensi positif” yg dijawab oleh parts itu hanya “lips service” sj, demi faktor “agar terlihat baik” (spt kalau calon karyawan ngejawab Test Personality.
Disinilah dikenal “secondary gain” (dlm dunia hypnosis), yakni intensi positif yang paling esensial, yg seringkali tersembunyi dalam2, dan perlu skill eliciting dan deep rapport.
Terapi Part (5)
NLP-er sejati akan berhati2 dlm memberi julukan pd parts.
Misal, saat sy belajar terapi parts dlm disiplin di luar NLP, sy pernah diajari katanya ada “Malevolent parts”. Serem sekali, ingat julukan = label = nominalisasi, yg melanggar presuposisi “People aren’t their behavior“.
Menjuluki negatif suatu part, hanya memperkuat & memperteguh ‘unwanted behavior‘ dr part itu.
Kecerdasan linguistic, akan memainkan peranan penting dlm memberi julukan yg lebih produktif, dan bersahabat.
Terapi Part (6)
Membongkar kebijakan dibalik Visual Squash Pattern & Six Steps Reframing, akan membuat kita belajar mengenai Terapi Part ini.
Itu adalah 2 contoh Terapi Part yg elegan.
Krn pembelajar NLP adlh seorang modeler, mk membongkar2 kebijakan seperti ini pasti adalah kegiatan yg menyenangkan.
Terapi Part (7)
Apa yg tjd saat kita gabungkan Terapi Part + Perceptual Position?
Ide ini muncul wkt tjd konflik part di suatu sistem yg luas, dimana sy mjd suatu part.
Sy msh ingat nasehat Dr. Richard Bandler, agar terutama menerapkan NLP utk diri sendiri.
Mk sy lakukan Perceptual Position & di Posisi 1st + 2nd sy tanyakan “apa intensi positif / apa yg membuat behavior ini penting”.
Lucunya Posisi 3rd & 4th pun ternyata LEBIH AHLI dlm melihat “intensi positif” ini.Luar biasa…
Terapi Part (8)
Terapi part dlm NLP juga menyadarkan kita mengenai kemampuan kita berpikir dlm Logika Level yg sifatnya multi arah (Omni Directional). Ini dikenal dengan Hirarki Ide, dlm NLP.
Part yg seringkali dianggap “bandel” (julukan yg kurang bijak, anyway), adalah part yg biasanya terlalu naif untuk mampu melihat dirinya adalah bagian dari Level Logika yg lebih tinggi / sistem lbh luas.
Sehingga behaviornya tidak ekologis, dan nampak hanya mementingkan diri sendiri / kelompoknya.
Terapi Part (9)
Contoh:ANAK adlh suatu Part dlm Sistem yg lebih luas = KELUARGA.
Kadang Anak berprilaku Naif yg dpt menyulitkan bhkn bs dianggap merusak tatanan Keluarga.
Anak ini bkn Nakal, ia tll naif dlm mengejar kepentingannya sendiri, shg lupa ekologisnya dlm keluarga.
Kepentingan sendiri ini adlh intensi positif, niat baik, dlm bentuk behavior yg tdk ekologis.
Sayangnya, dlm komunikasi ada istilah : Ukuran keberhasilan suatu komunikasi adlh dr hasilnya! (artinya bukan dr Niatnya).
Terapi Part (10)
Perilaku Anak td itu, bahkan dapat menyulitkan Part Lain dlm sistem itu. Yg sebenarnya tidak tahu menahu, tidak terlibat bahkan tidak ada hubungannya dlm Konflik Parts yg sdg tjd.
Misal, Kakaknya jadi terbawa-bawa, bahkan Tatangganya yg tidak tahu apa2, jg dianggap tersangkut & kena getahnya.
Ini yg di NLP disebut sebagai isu “Ecological”
Jadi dlm penyelesaian Konflik pun harus tetap ekologis utk semua pihak / parts.
Terapi Part (11)
Kadang NLPer perlu wkt cukup lama & berliku, dlm proses edukasi pada salah satu Part agar bersedia:
- Melihat intensi postif part lain
- Mampu melihat dlm Level Logika yang lebih Luas / tinggi
- Melihat ekologisnya dgn Part lain yang tdk terlibat.
Disinilah, kearifan & sikap NLPer diuji.
NLPer sebagai terapisnya pun harus memiliki intensi positif yg jernih & solid.
Sy juga masih belajar terus untuk mjd yg spt ini.
Terapi Part (12)
Bgmn jk Terapi Part ini kmdn digabungkan dg Universal Therapy, misal gaya 5-Path nya Cal Banyan?
Nah, umumnya sbg efek Konflik Part akan terjadi kondisi saling melukai dari masing2 pihak / parts.
Terjadi perlukaan emosi, akibat saling gencet antar parts.
Nah, sesuai dgn 5-Path itu, mk terapi pelengkapnya adalah Forgiveness Therapy: Memaafkan Diri Sendiri & Memaafkan Parts Lain. Serta meminta maaf pada Parts lain.
Terapi Part (13)
Saya bbrp thn pernah membantu Unicef meng-advokasi Perda akte kelahiran gratis di berbagai Kabupaten.
UU 23, psl 28 ayat3 mengatur Pembuatan Akte Kelahiran harus gratis. Tp di berbagai Kabupaten mengenakan biaya ini, alasannya adalah PAD (Pendapatan Asli Daerah).
Ini contoh, Part yg:
- Tidak memperhatikan Kepentingan yg lebih luas (Melawan UU – Nasional)
- Merugikan Parts lain : masyarakat kecil yg tdk tahu apa2
Intensinya sih positif: PAD!
Khan PAD juga utk masyarakat, kilah mereka!
Terapi Part (14)
Melalui advokasi persuasif berbasis NLP, lihat disini: http://www.unicef.org/indonesi a/id/resources_6899.html.
Kami membantu LSM (& Unicef) bernegosiasi dg Para Pengambil Keputusan di Daerah ttg “Konflik Part” ini.
Solusinya adlh:
- Menghargai perundangan yg lbh tinggi. Banyak cara “menolong masyarakat”, tanpa hrs melanggar UU yg lbh tinggi.
- Menemukan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dr sumber lain. Khan msh banyak cara memperoleh Pendapatan. (Misal: Parkir, Objek wisata, dll)
Terapi Part (15)
Alhamdulillah, kegiatan dengan Unicef itu sukses di puluhan Kabupaten, dengan cara yg damai. Tanpa demonstrasi lagi, tanpa mogok, tanpa perlu bentrokan destruktif dlm memperjuangkan niat baik.
Semua Parts merasa senang
.Jadi sy belajar, bahwa rupanya Terapi Part ini tidak hanya dipakai untuk masalah psikologis saja …Mantap ya…
Terapi Part (16)
Saya sendiri memperoleh banyak manfaat dlm menerapkan Terapi Part ini dalam kehidupan psikologis saya scr pribadi.
- Menggunakan Terapi Part untuk negosiasi ‘kebiasaan pilek’ yang mengganggu sy di SETIAP hari. Alhamdulilah solid.
- Menggunakan Mediasi dlm Konflik keinginan yg saya alami: Karier atau Bisnis.
- dan lain-lain
Alhamdulillah, banyak lho kemudahan dan manfaat untuk diri sendiri, saat Praktekkan NLP utk kita sendiri.
Terapi Part (17)
Saat digabungkan dgn Perceptual Positioning, Logical Level, Hirarki Ide, dan Forgiveness Therapy, sungguh banyak sekali yang sudah kami saksikan manfaat bagi klien-klien ataupun trainee di kelas.
Rugi banget deh, yang tidak mempraktekkan NLP untuk diri dan lingkungan sekitar.
Enak gila!
Demikianlah,
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Mohon maaf lahir dan bathin….



















Subhanallah alhamdulillah trimakasih
Pak Ronny, saya berniat mengikuti pelatihan NLP di Sinergy Lintas Batas dan saya sedang mengumpulkan biayanya. Smoga Allah mudahkan dan meridloiku.