NLP Untuk Berat Badan Ideal? Mau???
Ted, nggak salah tuh?
Apanya yang salah dan enggak?
Ya itu, mau sharing tentang NLP dan slimming.
Emang apa yang salah?
Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?
Nggak menclok kok.
Terus?
Ted, nggak salah tuh?
Apanya yang salah dan enggak?
Ya itu, mau sharing tentang NLP dan slimming.
Emang apa yang salah?
Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?
Nggak menclok kok.
Terus?
Setelah saya ingat-ingat kembali, pertanyaan serius tersebut diajukan pada 3 kesempatan.
Pertama, saat saya diundang oleh Street NLP nya kang Teddy Prasetyamulyawan , di rumah makan minangkabau Blok M Plaza saat baru kembali dari Sydney usai selaraskan Indonesian indigenous psychotherapy dengan Ericksonian dan Self Relation Psychotherapy nya Stephen G Gilligan, PhD.
Kedua, saat saya dibujuk oleh wadya bala TMI dengan provokatornya mas Iwan Ketan, Rahmadsyah Nurdin, Syamsul Hatta, Fitra Faturochman untuk sharing di perguruan tinggi di bilangan Bekasi. Seingat saya Ki Noeryanto Dhipuro turut membersihkan tempat penyelenggaraan dari hawa-hawa negative.
Ketiga saat saya mendapatkan undangan dari Pimpinan Sinergi Lintas Batas, Kang Mas Ronny Furqoni Ronodirdjo untuk manggung di pelataran kantor SLB di bilangan Kuningan.
Forgiveness therapy dan EFT kok nggak manjur sih? Harus pake apa nih kang?
Pertanyaan ini diajukan oleh seorang sahabat praktisi Hypnotherapy yang mengeluh ” bila berbicara serasa kurang lepas dan ada yang mengganjal dan menahan”. Hasil hypnoanalisa yang dilakukannya menyatakan bahwa ada peritiwa yang mengganjal dan memicu keadaannya.
Sambil ngobrol saya bilang “ Coba panggil kembali ke dalam kesadaran peristiwanya, mari kita amati apa yang terjadi pada dirimu”. Tak lama kemudian wajah sang kawan yang berkulit kuning itu memerah dan menghitam, bibir terkatup, gigi gemeletuk dan leher ada tanda-tanda ketegangan. Nafas tertahan dan kemudian “Wuh… sialan tuh orang, padahal aku sudah lakukan Forgiveness Therapy dan EFT nih “katanya “ Ehhh masih muncul dan memicu emosi juga” uijarnya lagi. → continue reading
Keinginan kuat untuk sembuhlah, yang menyembuhkan. → continue reading
“Seluruh badan keringatan, himpitan batin kini mulai ringan. Rasa benci dan dendam mulai memudar. Hati dan pikiran jadi longgar”
Demikian SMS dari Budi Temanggung, juga masuk dari Sulis Gresik: “Berkat Matahari itu pikiran saya menjadi plong karna saya lagi berat pikiran”
Nio Surabaya: “Setelah coba terapi matahari, hati & perasaan saya lebih lega & bahkan sampai sekarang kehangatan sinar matahari masih terasa di hati dan perasaan saya. Makasih banyak”
Demikian dari sekian puluh SMS yang masuk ke redaksi Radio Sonora 92.0 FM saat acara Terapi Musik, Minggu, 31 Mei 2009 jam 22:00-24:00 lalu. → continue reading
“Mas Kris, td subuh saya hampir ketinggalan pesawat ke Bali utk konferensi. Sampe bandara lari sekencang2 panik, jantung deg2kan, untung naek pesawat. Di dlm pesawat kaki sakit, kepala nyut2an, nafas terengah2. Pagi hari yg buruk. Tiba2 keingat ide terapi matahari semalam di sonora. Saya praktekkan di gabung dgn tidur lelap. Hanya tidur 20 menit, bangun tidur segar sekali dan perasaan nyaman, sakit hilang. Terima kasih mas Krishna, sukses selalu.. Salam, erwin freddy”
Demikian SMS dari seorang sahabat pendengar Terapi Musik di Radio Sonora, Senin, 1 Juni 2009, pukul 14:39 → continue reading
1. Humor itu apaan sih?
Humor adalah State. Humor adalah kemampuan yang diduga hanya dikembangkan oleh Manusia. Humor melibatkan aktifitas fisik, emosi, dan terlebih adalah pemikiran. Humor menggunakan pemikiran lateral yang juga digunakan dalam pembuatan karya-karya kreatif dan pengalaman Aha para penemu.
Humor punya silogisme tersendiri. Dalam humor ada ketimpangan, ada kesenjangan, ada loncatan, ada kekurangan, ada kontradiksi, ada kekagetan, ada keterkejutan, ada wawasan, ada kesadaran baru, dan hal yang penting ada riang.
2. Sense of humor
Sense of Humor adalah kompetensi. Agar kompeten dalam hal humor seseorang harus mampu disosiatif (membuat jarak dengan dirinya), transcendent (melesat mengatasi kenistaan dirinya), meta/beyond (keluar melampaui kungkungan dirinya), memetakan peristiwa, fakta dan cerita dan menggunakan beragam cara pandang (perceptual position), dan mendapatkan fokus (trance) dalam memutuskan sikap dan tindakan terbaik untuk diri sendiri. → continue reading
“Mas Krishna, ada nggak cara cepat meredam EMOSI?”
Tanya seorang teman Face Book’ers kepada saya dalam sebuah chatting. Sudah 2 minggu ini saya tergila-gila dengan FB dan hanya setengah bulan, tahu-tahu jumlah teman saya menjadi 1.000 orang. Gimana kerjanya FB itu yooo he..he.. Membingungkan…
Oke, kembali ke topik diatas, tentu banyak sekali ide itu, dan sebagai seorang penerap NLP, teknik itu mudah sekali, bukan? Namun, tantangannya adalah menjawab melalui tulisan berbeda dengan memandu saat di pelatihan. Mengapa demikian?
Karena saya tidak tahu apakah sistem referensi si penanya ini, dominan Visual, Audiotori atau Kinestetik, bukan? Tentu sangat baik, jika saya bisa menjawab yang bisa memenuhi semua faktor VAK tsb, sehingga banyak orangpun bisa melakukannya. Marilah…
Berdiam, bertanya ke Unconscious… dan…
Sahabat, pembaca portal NLP yang budiman,
Akhir tahun 2008, saat melakukan muhasabah (membandingkan hal yang telah dicapai dengan standard yang ditentukan) , dan menelusuri kembali setiap jejak yang pernah dilewati , saya teringat kembali akan hal yang dikuliahkan Betty Allice Erickson tentang Hidup.
1. Hidup adalah kerja keras
Orang menemukan makna hidup antara lain dengan cara bekerja. Kadang ada pekerjaan yang ringan, mudah, seenteng membalikkan telapak tangan. Namun tak kadang ada pekerjaan yang berat, yang membuat semua energi terkuras. Hal yang menarik adalah semua kerja pada dasarnya adalah kerja keras. Pekerjaan mudah pun bila ditunda-tunda, kelak menjadi sebuah kerja keras saat waktu sudah kepepet.
Di salah satu hari di ramadhan 2008, saya terlibat diskusi dengan Mas Ronny FR, yang mana beliau ini menurut saya termasuk orang yang agak langka, karena benar-benar memiliki attitude NLP yang sangat luar biasa !
Kami mendiskusikan beberapa tema-tema sederhana di sekitar materi Hypnotherapy, yang dikupas berdasarkan “map” NLP.
Salah satunya adalah “perbedaan” filosofi dari teknik “Theater Method of Dissociation”, yang mungkin di NLP lebih dikenal dengan istilah “Fast Phobia Cure”. Jika di Hypnotherapy teknik ini bertujuan untuk memperoleh efek desensitization (berkurangnya sensitivitas) dengan pengulangan-pengulangan “film kejadian” melalui teknik dissociate dan associate, maka menurut Mas Ronny FR di NLP filosofinya adalah “pengubahan” Submodalities. Oleh karena itu tekniknya jadi agak “nyeleneh” jika dipahami dengan kacamata Non NLP, karena bagaimana mungkin mengubah warna film menjadi hitam-putih, atau mengubah kecepatan film (frame-rate) dapat menyembuhkan Phobia ??
Tiba-tiba “cling” ….! Ada suatu pemahaman baru memasuki diri saya, sekali lagi barang lama tetapi mendadak memiliki arti yang benar-benar “baru” ….! Submodalities ….
“Wah, ternyata musik klasik itu indah sekali ya…
Saya bukanlah penggemar musik klasik dan baru saja mendengarkan siaran Radio Sonora dan mengikuti panduan bapak untuk menikmati musik klasik. Ternyata seru sekali, nikmat, indah dan menenangkan hati. Terasa Damai. Badanpun jadi ringan dan segar”
Demikian kira-kira SMS ringkasan komentar beberapa pendengar Radio Sonora, pada saat saya diminta untuk menjadi nara sumber di acara musik klasik. Bahkan, beberapa SMS menganggap saya ahli musik klasik. Padahal, tidaklah demikian. Saya tidak hafal lagu-lagu musik klasik, saya tidak tahu sejarah musik klasik. Singkatnya, saya tidak tahu apa-apa tentang musik klasik. Saya hanya penggemar semua jenis musik, termasuk musik klasik. Lalu,… → continue reading
Hah, sejak kapan NLP dapat dipakai mencabut gigi?
Yang benar aja…
Hehehe,
Hari Sabtu ini saya mengantar anak saya ke dokter di sebuah RS Ibu dan Anak, dari namanya nampaknya RS ini tidak memberi layanan pada si Bapak ya… Nah, sembari menunggu, saya berkeliling dan mendapati bahwa ternyata di situ ada fasilitas dokter gigi juga, dan saat saya bertanya, ternyata RS itu juga menerima pasien bapak-bapak. Oalah…., ya sudah, akhirnya saya memeriksakan gigi saya sekalian di situ.
Di tengah proses pembersihan gigi, saat teringat bahwa di ujung belakang geraham atas kanan saya sering sekali menyelip makanan kecil dan sulit sekali dijangkau oleh sikat gigi jenis apapun. Sehingga, terkadang harus kumur-kumur dengan air hangat agak lama, baru menjadi kendor selipan makanannya dan bisa digoyang pakai sikat gigi. Hmmm, menguji kesabaran khan…
1. Makna Merdeka
Merdeka = Bebas. Bisa jadi bila merdeka diartikan bebas dari sesuatu itu lebih mudah dibandingkan dengan bebas untuk melakukan sesuatu. Merdeka dari penjajahan berarti berjuang sekuat tenaga sehingga penjajah enyah dari Nusantara, lalu setelah itu apa? Terbentang beragam kemungkinan, pilihan dan langkah. Merdeka dari sesuatu bisa jadi lebih mudah dibandingkan Merdeka untuk sesuatu. Tersedia lebih banyak pilihan, lebih banyak hal yang menarik sekaligus menyeramkan, fascinotum and tremendum.
Budaya memperingati kemerdekaan di negeri kita sering diwarnai dengan tema-tema : 1) Lepas dari perbudakan dan penjajahan , 2) Persaingan mendapatkan sesuatu – seperti terlihat pada aneka lomba saat tujuh belasan, dan 3) Pertempuran. Tema-tema yang sama , sering saya jumpai saat membimbing kajian psikoterapi , khususnya hypnotherapy. Berkaitan dengan tema kemerdekaan ini. Konsep Self Relation Psychotherapy saya kerap pakai untuk membantu proses sahabat-sahabat yang berproses memerdekakan dirinya.
(Edisi revisi 2: ada tambahan ide & Bonus CD untuk Relaksasi Otot & Pikiran)
“Apakah NLP bisa membantu masalah-masalah yang dihadapi para Lansia?”
Demikian pertanyaan salah seorang Paman saat kami membahas penerapan NLP dalam kehidupan sehari-hari. Adapun Lansia singkatan dari Lanjut Usia. Sayapun tidaklah terlalu tahu apakah NLP bisa membantu, karena belum menjadi Lansia he..he.. Namun, tantangan tersebut sangat menarik perhatian saya. Karena cukup banyak klien saya yang menghadapi situasi ini, juga undangan untuk bicara kepada kelompok Lansia yang terus berdatangan.
Modelling dan “Future” Time Line
Nah, karena dasar ilmu NLP adalah modelling, sayapun me-”model” beberapa Lansia. Dan, dengan teknik “Future” Time Line yang saya dapatkan saat berguru dengan DR Richard Bandler di Orlando, Amerika, Maret 2008 lalu, sayapun menuju ke masa depan untuk mencari ide solusi, menjadi seorang yang Lanjut Usia, lalu kembali lagi ke saat ini… Bagaimana prosesnya? Nanti saya jelaskan di artikel lainnya, karena kali ini saya lebih tertarik berbagi terapan NLP-nya, bukan NLP-nya… → continue reading
Dari jagat ilmu kedokteran diketahui bahwa setiap detik ada sel-sel tubuh yang aus, rusak dan mati, pada saat yang sama ada sel-sel tubuh baru yang perlahan tumbuh, hidup dan berkembang. Anggaplah informasi ini 100% benar, maka secara ketubuhan, kita sebenarnya secara fisik hadir selalu baru.
Bila demikian halnya, menjadi pertanyaan yang mengganggu, mengapa peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang dan memberikan efek kepada fisik, tetaplah ada sekalipun sang fisik (seluruh sel yang hidup saat peristiwa tersebut terjadi) bisa jadi sebenarnya sudah mati dan berganti dengan fisik baru. Dengan demikian, lahirlah pertanyaan baru apakah fisik yang memicu ingatan atau sebaliknya ingatan yang memacu fisik.
Bila fisik memicu ingatan, jelas sekali bahwa fisik yang lama (sel-sel tubuh) sudah mati . Seharusnya maka ingatannya pun mati. Kenyataannya ? Tidak tuh. Buktinya ? Cobalah tengok ke dalam diri Anda. Masih adakah trauma? Masih adakah dendam? Masih adakah kesal? Masih adakah rasa sakit pada masa tertentu? Masih → continue reading
Saya tuliskan artikel ini sebagai oleh-oleh untuk pembaca PortalNLP , hasil nyantri 88 jam kepada Kyai Stephen G. Gilligan,PhD di North Sydney. Tulisan ini merujuk pada konsep Self Relation Psychotherapy yang dikembangkan Gilligan.
Ngapain sih Kebelet aja dibahas di Portal NLP? Apa memang ada terapinya? Apanya sih yang bisa dimodel? Emang ada manfaatnya?
Tahan dulu pertanyaan Anda, terlepas Anda punya beagam pengalaman mengenai Kebelet dan mohon cermati cerita berikut.
Bajuri sedang mengikuti rapat penting dengan Direktur yang terkenal galak dan tak ada kompromi. Ia disertai manager lainnya. Rapat terasa mencekam. Semua peserta tegang. Nyaris tak ada bunyi apapun. Orang berusaha bicara seperlunya. Hanya bicara bila diminta. → continue reading
Saya tuliskan artikel ini sebagai oleh-oleh untuk pembaca PortalNLP , hasil nyantri 88 jam kepada Kyai Stephen G. Gilligan,PhD di North Sydney. Tulisan ini merujuk pada konsep Self Relation Psychotherapy yang dikembangkan Gilligan. Sengaja saya pilihkan ini, karena banyak kesamaan dengan budaya Nusantara yang esoterik, magic dan mystic (pengalaman kebersatuan dengan Sang Maha).
a. Somatic mind, Cognitive mind dan Field Sejak dari dalam rahim Ibu, cikal bakal manusia yang namanya jabang bayi telah mengembangkan kesadarannya melalui tubuhnya (somatic). Kesadaran yang berupa sensasi di tubuh ini untuk mudahnya kita namakan “Somatic Mind” . Beragam rasa berkaitan dengan sensasi pada tubuh. Rasa panas , nyaman, gatal, pahit, pedas, manis, legit, enak, asoy, terwakili sensasinya ada tubuh.
Pada awalnya beragam perasaan sang jabang bayi dalam kandungan terhubungkan dengan sang Ibu → continue reading
Hypnotherapy dapat digunakan untuk membantu beragam hal termasuk untuk proses melahirkan. Dalam sejumlah literatur dikenal istilah HYPNOBIRTHING . Tulisan ini adalah hasil wawancara dengan seorang penemu metode anb, metode yang dimanfaatkan untuk membantu kelancaran proses melahirkan.
a. Opa Agung pembelajar sejati
Opa Agung, ia ingin dipanggil. Wajah tampan, badan tinggi besar dan bersuara bariton. Usianya lewat 40 di bawah usia pensiun. Suami dr. Lucy SpA (K) ini sebagian waktu hidupnya dihabiskan menjadi seorang tenaga marketing. Perjalanan hidupnya membuatnya beralih menekuni dunia pelatihan. Pada awalnya ia mendirikan ATMA PRIMA, kemudian ia menjadi partner Bapak Yusantos, praktisi dan guru hypnosis/hypnotherapy di Surabaya sekaligus juga mengembangkan Therapeutic Leadership melalui anb&partner.
Undangan Radio Sonora 92.0 FM Jakarta per Januari 2008 untuk menjadi Host di acara Senin jam 06-08 pagi, yang ide awalnya adalah menemani para pendengar yang walau sedang bermacet-ria di jalan, namun tetap bisa “stay tune” menambah khasanah dengan berbagai pengetahuan NLP yang bisa diterapkan secara praktis dan mudah.
Awalnya, acara “ON AIR” Radio ini saya beri judul “NGOPI Pagi bareng Krishnamurti”, namun karena kebutuhan dan situasi pasar yang makin seru, akhirnya nama acara ini per medio April berubah menjadi “TERAPI Pagi bersama Krishnamurti“. Kok terapi? Karena SMS yang masuk umumnya adalah pertanyaan masalah diri. Dalam NLP, hal ini sungguh sederhana dan mudah saja. Cukup gunakan teknik-teknik Submodality, Reframing, Slyghter of Mouth bereees he..he.. biasa deh urang eN eL Pi emang nakal… (Gimana ya mengeja slyghter? Lupa…)
“Oiii! Kito lomba nyelem yang lamo yo…”
Teriak ajakan Anton teman berenang saya saat SMP Xaverius II Palembang membangun emosi kami beramai-ramai nekat melompat, menyelam dan berdiam diri di dalam kolam renang selama mungkin sesuai dengan kekuatan nafas masing-masing untuk bertahan. Untuk yang paling akhir muncul ke permukaan, kami akan berikan tepuk tangan yang riuh “Oi, hebat nian budak ini…!!!” Tanpa disadari agar bisa menahan nafas selama mungkin, saya belajar ketenangan. Ah, begitulah kehidupan, sering kali mengajarkan sesuatu yang hanya kita bisa petik hikmahnya di kemudian hari.
Ya, tidak disangka memori ini muncul kembali saat saya bersama panitia dan pembicara Seminar Parenting berkeliling kota Palembang tanggal 23 November yang lalu dan melewati kolam renang yang sering kami gunakan untuk latihan. Ya, memori indah yang → continue reading