Tip Praktis NLP#75: Sowan “Sekuntum kagum untuk Mbah Maridjan”

Sekuntum kagum → continue reading

Meng-Indonesia-kan NLP dan meng-NLP-kan Indonesia…

Well, saat menuliskan judul di atas, saya tersenyum-senyum sendiri… Karena mudah dirasakan bagi kawan-kawan seusia saya, judul itu akan mengingatkan pada slogan-slogan Orde Baru yang senang pembolak-balikan kata seperti itu. Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olah raga. Menyehatkan masyarakat, dan memasyarakatkan kesehatan.

Terlepas dari gaya bahasa itu sering dipakai di Orde Baru, gaya bahasa itu mengandung kearifan linguistik yang menarik. Hanya dengan membolak-balik kata, sudah tercipta dua pengertian yang berbeda secara drastis. Bahkan keduanya mengandung kedalaman linguistik yang sarat makna.
Mungkinkah NLP di-Indonesia-kan dan Indonesia di-NLP-kan?

Meng-Indonesiakan NLP
Kata meng-Indonesiakan NLP, setidaknya memiliki beberapa presuposisi (re : asumsi) bahwa : → continue reading

Susah Mana : belajar A atau belajar B? Alasannya?

Tulisan ini merupakan jawaban atas undangan Mas Yan agar memberikan tanggapan pada Status FB-nya beberapa saat yang lalu. Tentunya ada “Outcome” tertentu yang diinginkan oleh Mas Yan dengan pertanyaan ini “Susah mana belajar NLP atau belajar Hypnosis? Alasannya?”. Apalagi sampai-sampai ia mengundang Kang Asep dan saya untuk menanggapinya…

Secara mantap, tulisan Mas  Yan di Status FB berjudul di atas mengundang respon yang luar biasa. Langsung direspon cepat oleh beberapa orang, dengan semangat membara… Sayang saya sendiri terlambat membacanya, baru ‘ngeh…’  setelah salah satu teman mem-forward ke milis alumni NLP Practitioner Sinergy Lintas Batas…. Weleh.. weleh..weleh… Mas Yan memang jago melakukan suatu “pancingan berkait” yang kontroversial.  Karena sudah terlambat, saya memilih menjawabnya di sini aja ya Mas….

Well, memenuhi undangan itu, saya akan menganalisis pertanyaan ini tidak hanya dari sudut pandang NLP, tapi juga sudut pandang hypnosis. Lho, memang sih hanya sedikit yang tahu, bahwa justru hypnosis adalah disiplin yang jauh-jauh sudah dipelajari ketika saya masih berstatus mahasiswa psikologi di Yogyakarta.  Waktu itu rasa penasaran membawa saya mengikuti kursus hypnosis gaya tradisionil… Sementara NLP kemudian saya pelajari sekitar 1998. Hmm, jadi tulisan ini mewakili NLP atau Hypnosis, atau Psikologi? Yah, anggap saja mewakili penulisnya sendiri….

PRESUPPOSITION
Pertanyaan “Susah Mana” adalah pertanyaan yang di dalam ilmu logika disebut sebagai mengandung “asumsi”, kalau di dalam NLP secara mudah disebut mengandung “Presupposition”. Sedangkan dalam Hypnosis disebut mengandung apa hayo?

Susah mana, A atau B: apa asumsi dari kalimat ini? Penulisnya mengasumsikan bahwa keduanya –baik A maupun B- adalah susah, pertanyaannya adalah “mana yang lebih susah?”. Atau mungkin, penulisnya, ingin agar pembaca tulisannya menelanasumsi yang sengaja ditanam’ alias disemai (seeding) alias diinstall (unconscious installation) bahwa  A dan B memang susah. Atau penulisnya sedang mengajari para pembacanya: agar hati-hati jangan asal menjawab, sebelum mengerti asumsinya… Yang terakhir sepertinya yang paling ekologis.
→ continue reading

Modeling Itu Mudah: Licensed Master Practitioner of NLP™

Siang bolong jam 13.15 di Ruang Mawar Hotel Santika Jakarta, tiba-tiba susana menjadi senyap, saat Pak Yan mendemokan penggunaan hypnosis skill di kelas Master Practitioner of NLP™. Laiknya seorang penari yang gemulai menarikan tariannya, Pak Yan secara piawai sekali menunjukkan kebolehannya melansir proses hypnosis dengan sangat smooth! Jurus Ericksonian dan Non Ericksonian bergulir satu demi satu yang menunjukkan tingginya “flying watch” (alias Jam Terbang menurut tukul). Hari ini Pak Yan hadir sebagai tamu penting di kelas Master Practitioner of NLP™, dan bersedia berbagai ilmu secara luarbiasa sekali.

Tema Master Practitioner adalah Modeling, secara praksis, bukan teoritis. Proses modeling hari ini sangat terasa memenuhi iklim ruangan, saat Pak Yan beraksi. Semua mata peserta Master Practitioner of NLP™ sudah beralih ke modus Periveral Viewing, menyerap habis excellency di depan mata itu dengan metode Deep Trance Indentification.

Sementara peserta melakukan proses unconscious modeling, di sudut lain dari ruangan -dengan rileks- Trainer NLP mengawal proses itu dengan mengkodekan language pattern, belief systems, mental syntax (VAK, Modal Operator dan Meta Program), dan fisiologi dari Pak Yan.

Peserta Master Practitioner of NLP™ selama 5 hari sebelumnya sudah disuguhi, mengunyah dan mencerna berbagai teknik modeling melalui proses terstruktur yang dirangkai indah. Rangkaian pembelajaran berlangsung secara conscious melalui latihan, dan juga terjadi unconscious installation melalui proses nested loop. Sebelum peserta mengalami 2 hari lagi ke depan untuk menggenapkan ilmu NLP, diberikan kesempatan melakukan proses live encoding alias live modeling yang merupakan ilmu NLP kelas tinggi warisan rahasia dari Eyang Guru Bu Kek Siansu… Hehehehe, kok jadi ngelantur kayak cerita silat saja….

→ continue reading

Meng-‘crack’ struktur perilaku ‘proses pembelian’ dengan NLP

Siang tadi saya ke sebuah Mall yang konon terbesar di Indonesia yang terletak di bilangan Slipi/Tomang bersama keluarga, setelah seminggu meninggalkan mereka untuk memberikan pelatihan Licensed Practitioner of NLP di Yogyakarta yang luar biasa sukses.

Saat masuk foodcourt, saya segera disadarkan bahwa sistem pembelian harus memakai kupon uang-uangan yang dibeli di loket. Seingat saya, emang sudah lama sekali Mall ini memberlakukan sistem ini untuk mengelola footcourt mereka. Tentunya ada ada alasan tertentu yang mereka miliki sehingga memutuskan menggunakan cara ini. Mungkin saja ini adalah cara untuk mengontrol agar omset setiap counter dapat diketahui dengan pasti dan tidak terjadi manipulasi jumlah pembelian dan komisi. Beberapa Mall memang memberlakukan sistem bagi hasil dan bukan sistem sewa ruang murni. Dengan cara bagi hasil ini, maka jika untung dinikmati bersama, rugi juga demikian halnya.

Well, sebagai seorang praktisi NLP, tentunya kita tidak akan melewatkan kesempatan melakukan information gathering dan getol dalam mengamati perilaku dengan attitude “ingin tahu”. Di Mall ini, saya memutuskan untuk menyalurkan hasrat mengamati perilaku pembeli yang ada di foodcourt ini, tentunya mengamati menggunakan keilmuan NLP. Saya tahu Anda penasaran bagaimana cara meninjau struktur proses perilaku dari kacamata NLP.
→ continue reading

Tip Praktis NLP#65: Black and White “Terapi Buang Energi Negatip dalam Tubuh”

Berawal dari pertemuan saya dengan rohaniwan Buddha, Banthe Khamsai dari Thailand, saat kami bareng melayani jadi pembicara. Diundang oleh salah satu perusahaan di pedalaman Riau, sekitar Juni tahun 2008 lalu, ternyata berbuah karma baik yang cukup panjang.

Tidak disangka, suatu saat saya dikejutkan dengan undangan menjadi pembicara di Vihara Menteng oleh salah seorang umat beliau. Saya sungguh sangat grogi, karena saya diminta sharing mengenai Meditasi, di depan ratusan umat Buddha yang tentunya meditasi adalah menu makanan sehari-hari. Namun, saya putuskan untuk berbagi saja, saya sangat yakin saya akan belajar sesuatu dari kesempatan ini.

Setelah sesi sharing dan sedikit latihan meditasi NLP ala saya he he he, tiba-tiba saya dikerubuti umat yang hadir, sempat kaget dan tenyata pada minta tanda tangan saya di buku Share The Key yang mereka beli he he… Oke, oke, oke… Share The Key-pun ludes… → continue reading

Hypnotherapy dalam NLP


Sesaat setelah saya membaca artikel karya dari Mas Yan Nurindra yang berjudul NLP dalam Hypnotherapy pada hari Minggu siang kemarin ini. Pikiran saya dengan cepat lantas terkenang-kenang pada kemesraan diskusi yang kami lakukan beberapa kali di berbagai tempat.

 

Tulisan dari Mas Yan, orang yang saya respek sebagai pakar Hypnosis di Indonesia ini, saya rasakan sebagai undangan dan ajakan untuk menuliskan fenomena yang sama namun dari perspektif yang berbeda. Saya sungguh mengagumi beliau yang rajin men-utilisasi NLP untuk dimasukkan pada ranah hypnosis. Tulisan yang berjudul NLP dalam Hypnotherapy itu, lantas mengejar-ngejar saya semalaman seperti mendorong-dorong saya untuk menulis dengan judul yang sama namun dengan kalimat yang dibalik. Hypnotherapy dalam NLP.

 

Kenapa tulisan dengan judul dibalik ini penting? Karena saya ingin menawarkan suatu perspektif alternatif, melihat dengan cara lain atas suatu teritorial yang sama. Lha namanya saja alternatif, jadi artinya kedua perspektif tetap masih dapat dipakai, bahkan secara bersamaan…

→ continue reading

The Map is not the Territory, So What?

The map is not the territory. Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya.

Presuposisi yang satu ini adalah senjata ampuh bagi praktisi NLP terutama untuk menerangkan bagaimana setiap manusia memiliki keunikan tersendiri karena setiap manusia menggunakan model dunianya masing-masing.

Saya sendiri berpikir presuposisi ini adalah titik kunci pembeda NLP dengan yang lain. Karena itulah yang mendasari proses modeling yang adalah merupakan jantung dari NLP.

→ continue reading

HYPNOSIS #19. Bangunkan PAHLAWAN yang Tertidur dalam DIRI Anda!


Tanggal 10 November di Indonesia diperingati sebagai Hari Pahlawan, tanggal tersebut dipilih untuk mengenang pertempuran di tahun 1945. Tulisan ini disusun sebagai sumbangsih portalNLP memperingati Pahlawan yang telah dimuliakan nyawanya oleh sang pencipta. Tulisan ini  juga dibuat untuk memprovokasi pembaca agar membangunkan, membangkitkan, memberdirikan dan menggerakkan Pahlawan yang sedang nyenyak tidur di dalam DIRI.

1. Pahlawan dengan Selaksa Wajah

Pahlawan beragam wajahnya. Pahlawan dapat dilihat pada sosok pejuang di Nusantara yang rela meregang nyawa demi menjadi manusia merdeka. Pahlawan dapat didengar dari tuturan Sengkon dan Karta . petani lemah yang berjuang melawan peradilan sesat. Pahlawan dapat dirasakan emosinya dari sebuah patung Pangeran Kornel Sumedang yang menyambut uluran tangan kanan Daendles dengan juluran tangan kiri.*

→ continue reading

HYPNOSIS #18. Bila NLP itu Makanan, Skripsi & Maenpo

Tulisan ini adalah bentuk syukur nikmat atas barokah yang diperoleh menjadi “Murid Tamu” selama 2 hari 7 days Licensed NLP Practitioner, 25-31 Oktober 2008, Ruang Cempaka, lantai Dasar Hotel Santika, Jakarta.

Ada satu fragmen di hari pertama saat Mas Ronny memberikan metafora mengenai NLP. Ibarat masakan, maka NLP adalah pengetahuan mengenai bahan masakan, bumbu masakan, alat masak, cara mengolah masakan dan menyajikan. NLP karena itu tidaklah memberikan recipe makanan jenis tertentu. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang memesan makanan tertentu, diperlukan keahlian sang Chef untuk memadu madankan bahan, bumbu, alat, cara mengolah dan menyajikan.

Dengan metafora yang diberikan mas Ronny, untuk menjadi pembelajar NLP yang mampu memberikan jawaban atas masalah yang dihadapinya, diperlukan kemampuan mengakses “State of excellence” seorang Empu, Seorang Penemu, Seorang Iseng yang mau belajar bereksperimen hingga akhirnya “AHA” mendapatkan apa yang diinginkan. Orang iseng seperti ini udah pasti jarang sejarang orang genius dan orang-orang di SLB (ini juga ambigous, anda boleh menganggap Sekolah Luar Biasa atau bila kemarin hadir di 7day License NLP Practitioner ini adalah Sinergy Lintas Batas). → continue reading

Imagineering :Belajar dari Kesuksesan Walt Disney

“You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one.
I hope someday you’ll join us. And the world will be as one.
(‘Imagine’, John Lenon)

 

Bisakah kita membayangkan dunia tanpa sosok Walt Disney? Mungkin kita tidak akan pernah mengenal ikon-ikon lucu seperti Mickey Mouse, Donald Bebek, Putri Salju, dan sebagainya. Yang jelas, masa kecil kita tidak lebih indah tanpa kehadiran tokoh-tokoh animasi tersebut. Dengan tokoh-tokoh itu, Disney mampu mengantarkan kita ke dunia hiburan yang sangat mempesona. Penuh impian. Bahkan, Disney menjadi salah satu raksasa bisnis dunia dengan profit $ 1,3 miliar.

Sulit membayangkan emporium bisnis itu dipelopori oleh seorang manusia rendah hati yang pernah drop out dari sekolahnya, Walt Disney. Bahkan, dalam hidupnya, Disney mengalami kebangkrutan sampai menguras uangnya selama empat kali. Membuatnya mengalami bencana keuangan dan guncangan bisnis yang cukup hebat. Namun, keajaiban terjadi. Walt Disney tidak patah arang. Ia mampu mengubah tokoh-tokoh binatang di garasi mobilnya menjadi maha bintang animasi yang luar biasa. Tikus garasi diubah menjadi Mickey Mouse yang melegenda itu.

→ continue reading

Genius Behind NLP ™

Wow!  Sungguh terasa beruntung dan berkelimpahan, mendapat kesempatan selama 15 hari mengikuti training langsung selama 3-4 jam sehari dengan seorang jenius di belakang terciptanya NLP, Dr. Richard Bandler (RB) sendiri di Orlando. Tokoh yang terkenal kontroversial dengan istilah unconscious installation dan nested loops-nya. 

Selain itu, setengah harinya kemudian diisi latihan dan juga belajar dari puluhan orang hebat lain, yakni para NLP Master Trainer level dunia seperti John LaValle, Barbara Stepp, Elvis Lester, Elizabeth Butler, Ron Perry, Kate Benson, dan lain-lain yang ikutan mengajar di training itu bergantian satu sama lain…

Hmmm…, hadir ditempat itu semakin memperjelas bagi hati nurani saya untuk merasa harus terus belajar rendah hati…, berani mengantongi ego di saku. Membuka pikiran dan hati, sebab di atas langit masih ada langit. → continue reading

Imager Modeling

Modeling adalah teknik meniru atau memodel orang lain yakni tokoh yang dikagumi/diidolakan. Setiap orang yang sukses –idola katakanlah– pasti memiliki sebuah pola tindakan (pattern) yang bisa ditiru atau diduplikasi oleh orang lain.

Seorang petenis unggulan misalnya, ia memiliki pola tindakan (pattern) baku yang dapat dipelajari oleh orang lain. Tindakan terpola itu misalnya: dimulai latihan-latihan rutin sebelum bertanding, persiapan di lapangan, cara serve yang bagus, cara menangkis bola lawan, hingga cara menyemes yang mematikan. Tahapan seperti itu dapat dikodifikasikan (ditulis) secara jelas sehingga dapat dipelajari oleh orang lain.

Demikian halnya dengan seorang tokoh bisnis terkenal. Ia memiliki pola tindakan yang → continue reading