NLP Untuk Berat Badan Ideal? Mau???
Ted, nggak salah tuh?
Apanya yang salah dan enggak?
Ya itu, mau sharing tentang NLP dan slimming.
Emang apa yang salah?
Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?
Nggak menclok kok.
Terus?
Ted, nggak salah tuh?
Apanya yang salah dan enggak?
Ya itu, mau sharing tentang NLP dan slimming.
Emang apa yang salah?
Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?
Nggak menclok kok.
Terus?
Saya memulai pengembangan Spiritual NLP dengan alasan yang amat sederhana. Sebuah alasan yang berangkat dari keawaman saya mengenai ranah spiritual dan agama. Ya, saya bukanlah seorang ustadz, apalagi ahli agama. Saya adalah praktisi psikologi. Sementara itu, jauh di atas profesi saya, saya adalah seorang Muslim, yang menikmati keislaman saya.
Nah, dalam kondisi sedang menyelami perjuangan untuk mendekat pada Sang Pencipta, saya menemukan bahwa umur manusia begitu singkat jikalau digunakan untuk hal-hal yang tidak mendekatkan saya pada tujuan akhir: bertemu Allah sebagai ahli surga.
Wah, apa nih?
Ya, Spiritual NLP.
Maksudku, apa lagi nih? Memangnya NLP kurang, kok musti dispiritualkan?
Begitulah.
Wah, bukannya NLP itu sudah komplit? Kurang apa lagi?
Beneran pengen tahu?
Forgiveness therapy dan EFT kok nggak manjur sih? Harus pake apa nih kang?
Pertanyaan ini diajukan oleh seorang sahabat praktisi Hypnotherapy yang mengeluh ” bila berbicara serasa kurang lepas dan ada yang mengganjal dan menahan”. Hasil hypnoanalisa yang dilakukannya menyatakan bahwa ada peritiwa yang mengganjal dan memicu keadaannya.
Sambil ngobrol saya bilang “ Coba panggil kembali ke dalam kesadaran peristiwanya, mari kita amati apa yang terjadi pada dirimu”. Tak lama kemudian wajah sang kawan yang berkulit kuning itu memerah dan menghitam, bibir terkatup, gigi gemeletuk dan leher ada tanda-tanda ketegangan. Nafas tertahan dan kemudian “Wuh… sialan tuh orang, padahal aku sudah lakukan Forgiveness Therapy dan EFT nih “katanya “ Ehhh masih muncul dan memicu emosi juga” uijarnya lagi. → continue reading
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Sudah hampir 5 tahun sejak pertama kali saya mengenal NLP. Sebuah masa yang pendek jika dilihat dari angkanya, sekaligus panjang saat dirunut tiap detik yang ada di dalamnya. Betapa tidak? Begitu banyak hal—hal-hal yang belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya—terjadi ketika saya belajar dan mempraktikkan NLP secara serius.
Wah, kok kayaknya canggih betul ya? Apa iya begitu?
Ah, setelah membaca artikel ini sampai habis, simpulkan saja sendiri deh.
Si A itu galak.
Si B itu nyebelin lho.
Demikian 2 kalimat yang saya dengar beberapa waktu belakangan di sebuah kantor. Beruntung, alih-alih mode gosip, yang muncul dalam kepala saya adalah alarm Meta Model. Ya, 2 kalimat tersebut jelas-jelas mengandung pelanggaran Meta Model, yang tidak saja punya efek hipnotik pada pendengarnya, melainkan juga mengandung sugesti (content) yang berbahaya.
Wah, yang bener? Kalimat sederhana itu?
”Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (kesibukan pekerjaan)”
Ada fenomena menarik saat melaksanakan ibadah Sholat Jumat, terutama adalah saat mendengarkan 2 Khutbah menjelang pelaksanaan 2 rakaat Sholat. Yaitu fenomena terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur lelap (baca: mendengkur). Sampai-sampai ada ungkapan bahwa terapi Insomnia terbaik adalah saat mendengarkan Khutbah Jumat.
Fenomena yang kedua adalah meskipun berada di dalam Masjid dan mendengarkan khutbah, namun pikiran kita teraktivasi untuk memikirkan hal-hal di luar materi khutbah. Karena mendengarkan Khutbah Jumat adalah bagian dari Ibadah Sholat Jumat, idealnya saat itu kita sudah berada pada state ibadah, yaitu pada gelombang otak alpha menuju theta. Sehingga kita fokus mendengar dan menyimak esensi khutbah sambil menyiapkan diri masuk ke state Sholat (theta menuju delta).
→ continue reading
Practical Spiritual NLP
State Sholat dan Gelombang Otak
Belum lama berselang, pada sebuah sesi kajian di Masjid Asy-Syakirin Kuala Lumpur, seorang jamaah bertanya,”Ustadz, saya merasa belum bisa secara maksimal memperoleh manfaat dari Sholat. Saya pikir itu karena saya belum bisa benar-benar khusyu’ saat menjalankan Sholat. Bagaimana caranya memprogram pikiran kita agar bisa melaksanakan Sholat dengan khusyu’?”
Sesungguhnya melaksanakan Sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’
Mari kita mulai dengan bertanya pada diri sendiri, saat akan melaksanakan Sholat, apakah kita merasa berat? Jika jawabnya ”ya”, maka saat itu kita memang jauh dari khusyu’ karena kita merasa berat melakukannya. Jika jawabnya ”tidak”, maka kita sudah berada pada track untuk melaksanakan sholat dengan khusyu’, karena kita terhindar dari perasaan berat menjalankan Sholat. Selanjutnya bagaimana kita meninggikan derajat ke-khusyu’-an kita sepanjang Sholat kita? Sesungguhnya khusyu’ adalah dari Allah SWT. Sebagai hamba kita berupaya untuk menuju pada ke-khusyu’-an, menjemput ke-khusyu’an demi kesempurnaan Sholat kita. → continue reading
Sahabat, pembaca portal NLP yang budiman,
Akhir tahun 2008, saat melakukan muhasabah (membandingkan hal yang telah dicapai dengan standard yang ditentukan) , dan menelusuri kembali setiap jejak yang pernah dilewati , saya teringat kembali akan hal yang dikuliahkan Betty Allice Erickson tentang Hidup.
1. Hidup adalah kerja keras
Orang menemukan makna hidup antara lain dengan cara bekerja. Kadang ada pekerjaan yang ringan, mudah, seenteng membalikkan telapak tangan. Namun tak kadang ada pekerjaan yang berat, yang membuat semua energi terkuras. Hal yang menarik adalah semua kerja pada dasarnya adalah kerja keras. Pekerjaan mudah pun bila ditunda-tunda, kelak menjadi sebuah kerja keras saat waktu sudah kepepet.
Pesantren berasal dari kata Pe-Santri-an yan berarti tempat santri. Kata Santri berasal dari kata Santi , bahasa Sanskrit (Bandingkan dengan Santi ni ketan nya Rabindranath Tagore). Kata Santri sama dengan kata Catrik, Siswa dan Pelajar.
Pesantren banyak ragamnya. Ada pesantren Salaf dengan kekhasan kajian kitab kuning, soroghan, bandongan dan pasaran dan mengandalkan pada kecepatan belajar masing-masing santri. Ada pula pesantren Modern dengan sistem klasikal, guru per bidang pelajaran dan menggunakan kurikulum yang baku.
Beruntung dalam perjalanan hidup saya sempat mondhok di Pesantren, sekalipun dengan status Santri Kalong , Belajar di pondok menyerupai Kalong, sore keluar dari rumah untuk belajar hingga dini hari dan Subuh, kemudian pagi hari pulang ke rumah. Kelompok santri lainnya adalah Santri mukim, yang tinggal di pondok (asrama). Di tanah Pasundan istilah Ajengan lebih populer ketimbang Kyai untuk pimpinan sebuah pondok. Istilah yang sama pula digunakan untuk orang-orang yang mumpuni dalam ilmu keagamaan.
1. Makna Merdeka
Merdeka = Bebas. Bisa jadi bila merdeka diartikan bebas dari sesuatu itu lebih mudah dibandingkan dengan bebas untuk melakukan sesuatu. Merdeka dari penjajahan berarti berjuang sekuat tenaga sehingga penjajah enyah dari Nusantara, lalu setelah itu apa? Terbentang beragam kemungkinan, pilihan dan langkah. Merdeka dari sesuatu bisa jadi lebih mudah dibandingkan Merdeka untuk sesuatu. Tersedia lebih banyak pilihan, lebih banyak hal yang menarik sekaligus menyeramkan, fascinotum and tremendum.
Budaya memperingati kemerdekaan di negeri kita sering diwarnai dengan tema-tema : 1) Lepas dari perbudakan dan penjajahan , 2) Persaingan mendapatkan sesuatu – seperti terlihat pada aneka lomba saat tujuh belasan, dan 3) Pertempuran. Tema-tema yang sama , sering saya jumpai saat membimbing kajian psikoterapi , khususnya hypnotherapy. Berkaitan dengan tema kemerdekaan ini. Konsep Self Relation Psychotherapy saya kerap pakai untuk membantu proses sahabat-sahabat yang berproses memerdekakan dirinya.
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Menjelang puasa, nuansa ruhani dan spiritual semakin mengelilingi kehidupan saya. Bulan magis ini memang luar biasa. Disebut sebagai bulan kemarau, agar orang tidak silau dengan kemudahan, dan menarik makna dari ‘kesulitan’.
Baru saja saya selesai mengisi kelas 2 hari tentang aplikasi NLP di bidang rekruitmen, saya pun mendapatkan ilmu baru. Bermula dari kebiasaan saya untuk menerangkan apa itu NLP, sebuah ilham pun hadir di hadapan.
Neuro-Linguistic Programming, ia disebut demikian, karena sebuah alasan. Neuro dan Linguistic, selalu dihubungkan dengan sebuah “-“, karena keduanya saling berkait. Neuro, alias saraf, adalah bahan baku dari pikiran dan perasaan. Dan, melalui penguasaan bahasa, kita bisa melakukan intervensi terhadap susunan saraf itu, yang otomatis berdampak terhadap pikiran dan perasaan yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, kita bisa melakukan programming pada pikiran dan perasaan, juga re-programming jika program yang lama sudah tidak sesuai dengan kondisi yang kita alami.
Saya tuliskan artikel ini sebagai oleh-oleh untuk pembaca PortalNLP , hasil nyantri 88 jam kepada Kyai Stephen G. Gilligan,PhD di North Sydney. Tulisan ini merujuk pada konsep Self Relation Psychotherapy yang dikembangkan Gilligan.
—
a. Kesurupan
Kesurupan adalah fenomena budaya. Di Nusantara kesurupan adalah fenomena yang dapat dijumpai dari Aceh hingga Papua. Setiap budaya memunyai penjelasan yang berbeda dan mempunyai cara yang berbeda pula dalam menyikapi dan menanganinya.
Istilah yang sama untuk kesurupan adalah kerasukan, kerawuhan, keranjingan. Kata surup, rasuk, rawuh, ranjing menggambarkan keadaan sesuatu yang berasal dari luar masuk ke dalam dan mengisi → continue reading
Saya tuliskan artikel ini sebagai oleh-oleh untuk pembaca PortalNLP , hasil nyantri 88 jam kepada Kyai Stephen G. Gilligan,PhD di North Sydney. Tulisan ini merujuk pada konsep Self Relation Psychotherapy yang dikembangkan Gilligan. Sengaja saya pilihkan ini, karena banyak kesamaan dengan budaya Nusantara yang esoterik, magic dan mystic (pengalaman kebersatuan dengan Sang Maha).
a. Somatic mind, Cognitive mind dan Field Sejak dari dalam rahim Ibu, cikal bakal manusia yang namanya jabang bayi telah mengembangkan kesadarannya melalui tubuhnya (somatic). Kesadaran yang berupa sensasi di tubuh ini untuk mudahnya kita namakan “Somatic Mind” . Beragam rasa berkaitan dengan sensasi pada tubuh. Rasa panas , nyaman, gatal, pahit, pedas, manis, legit, enak, asoy, terwakili sensasinya ada tubuh.
Pada awalnya beragam perasaan sang jabang bayi dalam kandungan terhubungkan dengan sang Ibu → continue reading
Apa bisa NLP berpadu dengan Spiritualitas Sufi?
Saya bersama istri mendapat kehormatan terundang pada Training ”Spiritual Thinking” pertama untuk publik yang diselenggarakan di Wisma Lintang lantai 3, Kemang Jakarta Selatan , 9-10 Februari 2008 lalu, dipandu oleh Priatno H. Martokoesoemo, Certified Master Practitioner NLP & Personal Coach.
Apakah Spiritual Thinking itu NLP ?
Bila kita bertanya kepada Dr. Richard Bandler atau Drs. RH Wiwoho,MSc jawabannya diduga”Bukan NLP”. Spiritual Thinking adalah hasil pemaduan pengalaman Priatno yang mendapatkan Mater of Practitioner NLP dari Bennet Stellar University. Usai Priatno → continue reading
Pembaca, sebenarnya sudah lama saya ingin sekali menulis artikel ini. Namun karena kesibukan dan fokus saya yang lagi nggak “in” dengan topik ini maka saya menundanya. Keinginan ini muncul lagi saat baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang dengan begitu haqul yakin dan mantap mengatakan bahwa hipnosis adalah ilmu sesat dan dilarang agama.
Nah, apa yang saya tulis di artikel ini merupakan intisari dari edukasi dan diskusi yang saya lakukan dengan kawan saya ini. Setelah mendengar ulasan saya panjang lebar akhirnya kawan saya ini berhasil saya “sesatkan” kembali ke jalan yang benar.
Nah, pembaca, “Apa sih hubungan antara agama dan hipnosis?” → continue reading
Hening membuat bening si nada sunyi.
Bening membuat jernih si mata hati.
Jernih untuk berkaca melihat si isi diri.
Tersenyum sadar untuk merubah rasa.
Geli tertawa sadar salah untuk merubah Jiwa.
Mungkin bersih, mungkin baru, mungkin transformasi.
Mungkin, mungkin dan mungkin. Tergantung ijin si Empunya diri.
Saat masih kecil jika saya marah, biasanya saya “gak” mau makan. Saya “mogok” makan he..he..namanya juga anak-anak. Ehm, nantinya saya paham bahwa hal tersebut ada manfaatnya. Lho, kok bisa? Karena saat sangat lapar semua emosi negatif terendah → continue reading
Sakti (Sanskerta) = Power (English) = Kuat (Arab) = Daya=Kuasa (Indonesia). Kekuatan beragam bentuknya. Kekuatan ragawi, kekuatan indria, kekuatan pikiran, kekuatan rasa dan kekuatan ruhani. Merujuk kepada tulisan-tulisan Sanskerta , kata “Sakti” sejalan dengan kata “Ahli”.
Kata Sakti dalam bahasa Indonesia telah terjadi penyempitan arti menjadi hanya “kadigjayan”. Dengan makna yang luas, orang dapat sakti dalam beragam hal. Ada yang sakti olah raga, ada yang sakti seni, ada yang sakti teknologi, ada yang sakti berbicara, ada yang sakti mengajar, ada yang sakti bertani, dll.
Semua orang secara alamiah mempunyai potensi kekuatan di dalam dirinya sejak lahir. Mau bukti? Coba dengar suara lengkingan tangisan bayi, sangat keras, panjang dan lama. → continue reading
a. Dzikir
Dzikir dalam bahasa Arab artinya mengingat. Dzikir secara istilah adalah semua ucapan, pikiran , perasaan dan gerak laku yang tertuju pada mengingat Allah.
Dzikir dalam Islam memiliki kedudukan penting . Syukurnya seorang hamba dinyatakan dalam dzikir. Ingkarnya seorang hamba ditengarai dengan tiadanya dzikir.
Shalat yang merupakan mi”rajnya kaum mu”minin dilakukan dalam rangka dzikir. Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Karena shalat itu untuk berdzikir, maka dapat disimpulkan bahwa dzikir selain bermanfaat diperolehnya kedamaian dan ketentraman jiwa sekaligus juga mencegah manusia dari perbuatan sia-sia dan perilaku yang merugikan sesama.
a. Dukun di Filem Indonesia
Dukun di filem Indonesia digambarkan sangat klise. Berambut gondrong gimbal, berbaju warna hitam dan berasesoris macam-macam. Di lehernya ada kalung panjang teruntai, di tangan melilit hitam gelang bahar, dan di jari jemari penuh dengan cincin bermatakan batu mulia. Nyaris tak ada Dukun yang digambarkan ganteng dan necis. Gigi sang dukun pun berwarna hitam.Kulit sang Dukun pun legam. Panggilan Sang Dukun pun nyaris sama, yaitu Ki bagi laki-laki dan Mak bagi perempuan.
Ruangan praktek sang dukun digambarkan selalu temaram malah nyaris gelap. Bisa jadi ada nyala lampu meskipun kecil. Asap dupa yang dibakar mengalun. Semerbak wewangian. Di altar atau meja sederhana tersedia beragam oborampe , peralatan. Ada → continue reading