Jun 15th, 2009 | NLP Level Praktisi | 5 Comments
Meta Model? Meta Model yang buat nanya-nanya itu?
Yak, tepat sekali!
Masak sih bisa buat berempati? Bukannya malah bikin orang sebel ya?
Ya, memang bisa bikin orang sebel, kalau belum tahu cara menggunakannya dengan benar.
Loh, memangnya gimana cara menggunakan Meta Model dengan benar?
→ continue reading
Jun 12th, 2009 | NLP & Indonesia, NLP & Modeling, NLP Level Praktisi | 12 Comments
Well, saat menuliskan judul di atas, saya tersenyum-senyum sendiri… Karena mudah dirasakan bagi kawan-kawan seusia saya, judul itu akan mengingatkan pada slogan-slogan Orde Baru yang senang pembolak-balikan kata seperti itu. Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olah raga. Menyehatkan masyarakat, dan memasyarakatkan kesehatan.
Terlepas dari gaya bahasa itu sering dipakai di Orde Baru, gaya bahasa itu mengandung kearifan linguistik yang menarik. Hanya dengan membolak-balik kata, sudah tercipta dua pengertian yang berbeda secara drastis. Bahkan keduanya mengandung kedalaman linguistik yang sarat makna.
Mungkinkah NLP di-Indonesia-kan dan Indonesia di-NLP-kan?
Meng-Indonesiakan NLP
Kata meng-Indonesiakan NLP, setidaknya memiliki beberapa presuposisi (re : asumsi) bahwa : → continue reading
Jun 12th, 2009 | Hypnosis/therapy, NLP Level Praktisi, NLP Terapan Lain2 | 10 Comments
Ted, kemarin kan abis review. Wah, pusing berat, aku dibantai abis.
Loh, kok sekarang masih utuh?
Hehehe…bisa aja lo. Maksudnya, aku kemarin dimarah-marahin sama bosku.
Ya, udah biasa kan?
Iya sih. Cuman kok rasanya, sampai sekarang rasa takut itu masih terasa terus ya. Padahal biasanya aku tuh bebal loh.
Terus?
Ya, bantuin donk. Kemarin aku dengar si X kamu bantuin untuk diet udah mulai berhasil tuh.
→ continue reading
Jun 9th, 2009 | NLP & Belajar, NLP Level Praktisi | 28 Comments
Artikel ini adalah menjawab pertanyaan (komentar) Mas Teddi, terhadap artikel saya yang berjudul “Susah Mana, Belajar A atau Belajar B?”. Nah, agar mendapatkan konteks pembelajaran dalam artikel ini, alangkah baiknya baca dulu artikel “Susah Mana, Belajar A atau Belajar B?” (artikel sebelum artikel ini), baru kemudian Anda membaca artikel ini.
Nah, setelah Anda membaca artikel itu, tepat di bawah artikel itu, dalam urutan pertama, Mas Teddi menuliskan kalimat ini :
“Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP? Hehehe…”
Well,
Saya menganggap luar biasa pertanyaan itu, karena selain komentar itu merupakan komentar yang pertama, juga rumusan katanya sedemikian ambigunya untuk dapat mengetahui alasan penulisan komentar itu.
→ continue reading
Jun 8th, 2009 | Hypnosis/therapy, NLP & Modeling, NLP Level Praktisi | 26 Comments
Tulisan ini merupakan jawaban atas undangan Mas Yan agar memberikan tanggapan pada Status FB-nya beberapa saat yang lalu. Tentunya ada “Outcome” tertentu yang diinginkan oleh Mas Yan dengan pertanyaan ini “Susah mana belajar NLP atau belajar Hypnosis? Alasannya?”. Apalagi sampai-sampai ia mengundang Kang Asep dan saya untuk menanggapinya…
Secara mantap, tulisan Mas Yan di Status FB berjudul di atas mengundang respon yang luar biasa. Langsung direspon cepat oleh beberapa orang, dengan semangat membara… Sayang saya sendiri terlambat membacanya, baru ‘ngeh…’ setelah salah satu teman mem-forward ke milis alumni NLP Practitioner Sinergy Lintas Batas…. Weleh.. weleh..weleh… Mas Yan memang jago melakukan suatu “pancingan berkait” yang kontroversial. Karena sudah terlambat, saya memilih menjawabnya di sini aja ya Mas….
Well, memenuhi undangan itu, saya akan menganalisis pertanyaan ini tidak hanya dari sudut pandang NLP, tapi juga sudut pandang hypnosis. Lho, memang sih hanya sedikit yang tahu, bahwa justru hypnosis adalah disiplin yang jauh-jauh sudah dipelajari ketika saya masih berstatus mahasiswa psikologi di Yogyakarta. Waktu itu rasa penasaran membawa saya mengikuti kursus hypnosis gaya tradisionil… Sementara NLP kemudian saya pelajari sekitar 1998. Hmm, jadi tulisan ini mewakili NLP atau Hypnosis, atau Psikologi? Yah, anggap saja mewakili penulisnya sendiri….
PRESUPPOSITION
Pertanyaan “Susah Mana” adalah pertanyaan yang di dalam ilmu logika disebut sebagai mengandung “asumsi”, kalau di dalam NLP secara mudah disebut mengandung “Presupposition”. Sedangkan dalam Hypnosis disebut mengandung apa hayo?
Susah mana, A atau B: apa asumsi dari kalimat ini? Penulisnya mengasumsikan bahwa keduanya –baik A maupun B- adalah susah, pertanyaannya adalah “mana yang lebih susah?”. Atau mungkin, penulisnya, ingin agar pembaca tulisannya menelan ‘asumsi yang sengaja ditanam’ alias disemai (seeding) alias diinstall (unconscious installation) bahwa A dan B memang susah. Atau penulisnya sedang mengajari para pembacanya: agar hati-hati jangan asal menjawab, sebelum mengerti asumsinya… Yang terakhir sepertinya yang paling ekologis.
→ continue reading
Jun 2nd, 2009 | Hypnosis/therapy, NLP Level Praktisi | 4 Comments
Artikel ini adalah proses chunk down dari artikel gubahan Pak Ronny mengenai proses latihan modeling yang dilakukan oleh para peserta program Licensed Master Practitioner of NLPTM selama 7 hari.
Yap, asyik sekali bertemu dengan orang sekelas Pak Yan Nurindra. Orang seperti Pak Yan inilah yang pantas menyandang sebutan expert, yang tidak hanya tahu, paham, dan bisa, juga kesemuanya itu telah terintegrasi dari dalam dirinya. Ibarat masakan, cara Pak Yan melakukan hipnosis itu memang sudah punya komponen utama yang membuat masakan tersebut enak disantap. Maka kalau dibedah satu per satu komponennya, barangkali kita sudah tidak menemukan lagi pola-pola yang eksplisit. Tidak heran, wejangan yang awal-awal kami dengar pada sesi demo tersebut adalah, → continue reading
Apr 28th, 2008 | NLP & Kesehatan, NLP Level Praktisi | 10 Comments
Undangan Radio Sonora 92.0 FM Jakarta per Januari 2008 untuk menjadi Host di acara Senin jam 06-08 pagi, yang ide awalnya adalah menemani para pendengar yang walau sedang bermacet-ria di jalan, namun tetap bisa “stay tune” menambah khasanah dengan berbagai pengetahuan NLP yang bisa diterapkan secara praktis dan mudah.
Awalnya, acara “ON AIR” Radio ini saya beri judul “NGOPI Pagi bareng Krishnamurti”, namun karena kebutuhan dan situasi pasar yang makin seru, akhirnya nama acara ini per medio April berubah menjadi “TERAPI Pagi bersama Krishnamurti“. Kok terapi? Karena SMS yang masuk umumnya adalah pertanyaan masalah diri. Dalam NLP, hal ini sungguh sederhana dan mudah saja. Cukup gunakan teknik-teknik Submodality, Reframing, Slyghter of Mouth bereees he..he.. biasa deh urang eN eL Pi emang nakal… (Gimana ya mengeja slyghter? Lupa…)
→ continue reading
Jan 3rd, 2008 | NLP Level Praktisi | 4 Comments
Seorang manajer harus mendatangi anak buahnya setiap hari untuk mengingatkan penyelesaian tugas yang rutin dan sudah terstandardisasi. Ia merasa tidak punya cara lain untuk membuat anak buahnya dapat menjalankan pekerjaan sesuai yang ia inginkan. Jadilah ia harus meluangkan waktu 1 jam setiap harinya hanya untuk pekerjaan cek mengecek ini. Sang manajer berpendapat bahwa ia harus menjaga kinerja tim yang ia kelola, sehingga setiap target dapat tercapai pada waktunya dan tidak merugikan perusahaan.
Sisi lain, si anak buah pun gerah melihat perilaku manajernya. Ia merasa diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Tidak lewat satu hari tanpa ia harus mendengar pertanyaan, ”Sampai mana progresnya?”, dengan nada yang menurutnya kurang bersahabat. Kualitas → continue reading
Dec 13th, 2007 | NLP Level Praktisi | 8 Comments
Time Line Therapy™ dikembangkan oleh Dr.Tad James sejak tahun 1985 yang ditulis juga ditulis dalam buku nya yang berjudul “Time Line Therapy and The Basis of Personality “ tahun 1988 dimana sekarang ini sudah dikenal dan diakui di hampir seluruh belahan dunia. Teknik ini sebuah integrasi dari dua teknik; Neuro Linguistic Programming dan Ericsonian Hypnosis yang terbilang sebagai salah satu dari teknik dapat menghilangkan “Negative Emotions ,Limiting Decision and Andvance Goal setting yang dapat mengijinkan kita mendapatkan apa yang kita INGINKAN.
MENGHILANGKAN EMOSI NEGATIF
Teknik yang ampuh,cepat, mudah dan menyenagkan ini dapat menghilangkan emosi negative yang tidak Anda inginkan seperti ; reaksi marah yang berlebihan / → continue reading
Dec 11th, 2007 | NLP Level Praktisi | 4 Comments
Squash Pattern akan mudah dipahami dan dipraktekkan oleh mereka yang punya preferensi visual. Bagaimana dengan mereka yang preferensinya auditory? Apakah mereka tidak dapat mencicipi manfaat pattern ini? Atau sudah ada pattern serupa yang dirancang untuk preferensi auditory?
Sambil menunggu, mungkin kita bisa coba jurus adaptasi ini. Saya sudah uji coba dalam pelatihan in-house di suatu BUMN. Ketika menginjak session pattern, ternyata separuh kelas punya preferensi auditory. Maka setelah dibagi menjadi dua, saya ajarkan dulu Squash Pattern untuk visual. Mereka yang auditory tetap ikut mendengarkan sehingga secara overall mereka sudah menangkap prosedurnya.
→ continue reading
Jul 29th, 2007 | NLP Level Praktisi | 10 Comments
NLP dalam dunia pelatihan telah menjadi suatu jargon disiplin ilmu baru yang dengan cepat tumbuh dan berkembang. Kemampuan para pengguna NLP untuk melakukan terapi dengan cepat terhadap penderita beberapa jenis phobia telah membuka mata mengenai efektifitasnya. Di era 1970 Richard Bandler melakukan riset terhadap hasil rekaman para terapis seperti Milton Erickson, Virginia Satyr dan Fritz Perls, ketika mereka melakukan terapi terhadap para pasien mereka. Berkolaborasi dengan John Grinder, salah satu pengajar linguistic di University of California Santa Cruz, NLP muncul sebagai hasil rangkaian proses replikasi cara terapis yang sangat mengagumkan. Buku Structure of Magic volume I dan II menjadi hasil karya Grinder dan Bandler yang membahas bagaimana struktur semantik yang digunakan ketiga terapis dalam proses → continue reading
Mar 7th, 2007 | NLP Level Praktisi | 8 Comments
Anda mungkin sudah mengenal konsep “time line”. Atau mungkin sudah pernah mencoba menerapkannya. Dan mungkin beberapa di antara anda merasa gagal. Atau menganggapnya sebagai mustahil. Jangan keburu putus asa. Saya sendiri gagal ketika mencobanya pertama kali. Dan tetap gagal beberapa kali sesudahnya.
Baru ketika mengikuti sertifikasi NLP, saya belajar tips & trick tentang konsep “time line”. Di situ saya belajar mengenai salah satu penerapan konsep “time line” yang dikemas dalam paket Sequential Mind Therapy. Teknik ini memungkinkan saya menelusuri masa lalu saya dan bila diperlukan “menulis ulang sejarah”. Apa yang sudah terjadi tetap tidak akan berubah. Yang berubah adalah cara saya memandang sejarah versi saya sendiri. Dengan teknik ini, hal-hal yang selama ini menjadi “unfinished business” dan menghantui → continue reading