Portal NLP ™

Membebaskan Belenggu Pikiran Dengan Neuro-Linguistic Programming

Posted by Krishnamurti On December - 18 - 2007 17 Comments

“Berikan Hatimu, maka Engkau akan Temukan Jawabannya”

Inilah mantra “suci” yang sangat saya yakini sebagai makna kata “INTENT” dalam melakukan terapi. Kalimat indah ini meluncur begitu saja (kayak gak dipikir deh) dari Uskup Sinaga OFM saat kami jadi relawan bencana Tsunami Aceh akhir tahun 2004 lalu. Kata “INTENT” sendiri saya dapatkan sebagai PR dari NLP Master Trainer Bp DR Stefanus saat saya mengikuti kelas Basic Principle NLP awal tahun 2004.

Saya terus menggali dan meresapi kalimat ini ke dalam diri saya, dengan terus berkarya melakukan pelayanan terapi kemana saja, khususnya pada orang yang kurang mampu. Saya memilih untuk tidak memungut bayaran dalam kegiatan terapi karena keyakinan saya inilah misi bukan tempat cari uang. Untuk membiayai kegiatan pelayanan terapi ini, secara komersial saya memberikan pelatihan Mindset ke perusahaan-perusahaan. Semacam strategi ekonomi subsidi silanglah, toh uang tidak bisa membeli surga, bukan?

Kalimat di atas ter-ngiang kuat lagi saat melakukan sesi terapi pada seorang teman di Jogja. Karena niat yang kuat dari dalam dirinya untuk sembuhlah, dengan menjemput saya setelah selesai dari Seminar Parenting bareng Shanaz Haque di pagi hari dan Seminar Go Double “Teknik Cepat dan Teruji Menjadi Milyarder” di Solo Sabtu, 15 Desember 2007 lalu, yang mendorong saya untuk melakukan sesi terapi ini walau badan cukup lelah.

Kami ber-empat mencari lokasi yang cukup nyaman untuk sesi terapi ini. Sambil menunggu makanan, klien saya bernama Bu Di (bukan nama sebenarnya) mulai bercerita sakit yang dialaminya, tahun ini dia sampai masuk ke rumah sakit. Kesimpulannya sakit yang dia alami adalah sakit psikosomatislah… Sakit yang bersumber dari pikirannya sendiri. Tertekan, bingung, stres dkk-nya yang intinya adalah konflik batin.

Bukan Mengapa, Namun Bagaimana.

Dari sisi NLP,  saya tidaklah tertarik penyebabnya, tapi sayai lebih tertarik apa yang dirasakan saat ini dan apa maunya. Begitu kira-kira bahasa NLP preman-nya he..he..

Bu Di pun mulai menyampaikan apa yang dirasakannya, seperti rasa sakit di bagian badan tertentu. Dengan sedikit menggunakan teknik Time Line Therapy dan Unconscious Signal, saya mulai mengajak Bu Di untuk mencari apa simbol dari pesan Unconscious dia melalui rasa sakit di bagian tertentu tesebut. Karena dia adalah salah satu “korban” konspirasi kejadian kasus penyalahgunaan hipnosis untuk asusila tahun lalu, maka saya membuat garis waktu: sebelum kejadian, saat kejadian dan paska kejadian. Ini salah satu kemudahan teknik terapi garis waktu.

Wah, cukup kaget dengan hasilnya, ternyata sakit tersebut mewakili orang tertentu dan pernyataan yang disampaikannya. Sesi terapi ini baik untuk klien dan juga untuk saya sendiri sebagai masukan informasi, karena kebetulan saya tahu siapa-siapa yang disebutkan dari simbol rasa sakit tersebut. Thank God untuk semua ini…

Lalu, apa maumu Bu Di? Yaaa…, saya mau bebas dari semua sakit perasaan yang menyiksa saya setahun ini. Ah, kasihan sekali. Sungguh tega, orang-orang yang me-mapping Bu Di yang masih muda ini. Orang-orang yang saya kenal sebagai orang yang memiliki kemampuan terapi melakukan pe-MAKSA-an “mapping” yang bukanlah fakta, tepatnya FITNAH. Misalnya ada kalimat yang disampaikan: “Kamu sangat mirip dengan Bu Dwiningsih, saya HARUS membantu kamu agar tidak menjadi seperti dia…” Buset deh, emang siapa elo? Apa urusan elo? Emang elo, Tuhan? Duh, sungguh sombong sekali…. Namun, biarlah karena siapa yang menabur angin, dia akan menuai badai…

Baiknya Tidak Menterapi Jika Tidak Diminta

Untuk Anda para Therapis, apapun latar belakang ilmu terapi Anda baik Hypnotherapist atau yang lainnya. Baik sekali kita memegang pesan etika yang disampaikan Terapis kelas dunia dari Karang Asem, Ubud, Bali yakni Bpk Tjokorda Gede Rai yang menjadi model dari Peter Wrycza, agar “Kita tidak melakukan terapi jika tidak diminta”. Kasus penyalahgunaan hipnosis untuk asusila adalah contoh dari pemaksaan MAP yang bukanlah FAKTA. Hypnosis bisa saja digunakan secara keliru, misal menggiring klien ke arah orgasme sebelum percabulan, disitulah bahayanya. Repotnya lagi kegiatan hypnosis 90% adalah non verbal, jadi sulit pembuktiannya secara verbal.

Kembali ke Bu Di yang menurutnya hampir juga menjadi korban penyalahgunaan hipnosis untuk asusila dari oknum yang sama, dengan teknik Submodality saya anjurkan dia memindahkan seluruh rasa sakit yang ada di bagian tertentu dalam dirinya, dipindahkan ke tempat yang dia inginkan. Kebetulan di depan kami ada nasi yang belum dimakan, rokok dan kopi. Jadi semua rasa sakit dipindahkan satu per satu ke tempat-tempat tadi. Ya, teknik utilisasi dari Milton Erikson. Apapun bisa jadi alat bantu termasuk nasi putih, rokok dan kopi di meja makan he..he..

Setelah selesai terapi, Bu Di mulai merasa lemas dan badannya mengajak istirahat. Esok paginya saya kembali ke Jakarta dan Bu Di SMS bahwa tidurnya sangat nyenyak. Setelah hari ke 4, Bu Di terus menginformasikan bahwa dia makin tenang, dan hari ini saya tergerak untuk menulis tentang kejadian ini.

Berikut ini kira-kira urutan proses saat saya melakukan terapi:

1. Saya amati dulu dari dalam diri saya apakah ada NIAT yang KUAT dan TULUS untuk membantu orang yang minta terapi pada saya. Jika belum ada, maka saya akan menolak sesi terapi ini.

2. Saya lihat, dengar dan rasakan (sensory acuity) apa yang disampaikan klien di depan saya. Sebagai entry point saya banyak meniru teknik Peter Wrycza dalam “membaca” simbol-simbol yang ada di klien, seperti pakaian, jam tangan, kalung atau apapun yang menurut intuisi saya bahwa ini adalah sebuah pesan bawah sadar dari klien. Kalibrasi beberapa hal untuk memastikan saja “pesan-pesan” bawah sadar tersebut.

3. Lalu, saya akan “utility” apapun yang ada di depan saya dengan menggunakan kekuatan “rasa” yang sangat fokus (trance) untuk melakukan Anchor, Submodalitas atau teknik lainnya seperti Swish Technique, Change Belief Technique, Chaining Anchors Technique atau teknik apa sajalah yang seringnya saya lupa apa namanya. Kadang sesuatu yang mungkin kurang masuk akal. Seperti kasus Bu Di memindahkan (dis-asosiasi) orang yang “bercokol” di dadanya ke nasi putih di hadapannya.

4. Saya anjurkan untuk Future Pacing, hanya untuk memastikan agar klien siap menyikapi hal yang sama, yang mungkin saja terjadi di masa depan. Sesi terapipun selesai. Setelah itu, saya akan cek beberapa kali dalam periode waktu ke depan. Karena ada waktu yang diperlukan untuk penyelarasan diri.

Dari semua urutan kegiatan di atas, menurut pengalaman saya selama ini, hal terpenting adalah bagian nomor 1 yakni sikap INTENT, NIAT TULUS atau apapun namanya. Jika sangat mendesak dan sangat INTENT, saya bisa saja menyembuhkan phobia atau trauma hanya 5-10 menit, bahkan pernah hanya 2-3 menit. Namun jika belum INTENT bisa jadi tidak bisa sembuh-sembuh, saya malah ikut sakit he..he..

Baiklah, satu hal yang ingin saya bagikan untuk para sahabat Terapis apapun latar belakang ilmu pengetahuan Anda, guna menghindari kembali terjadinya terapis yang malahan berakhir kekeliruan bahkan percabulan, sunguh bijak sekali jika kita memiliki mindset berikut:

Redefinisi Kata Menolong

Mari kita definisi ulang makna kata “Menolong”. Menolong menurut makna kita, belum tentu sama dengan makna menolong menurut klien. Bijak sekali perkataan Bpk Tjokorda Gde Rai agar janganlah pernah menterapi orang, jika orang itu tidak minta diterapi. Kasus penyalahgunaan hipnosis untuk asusila berawal dari penawaran yang bersifat “memaksa” untuk menolong klien yang ternyata ada udang di balik batu. Wah, sungguh panjang trauma akibat kejadian ini. Salah arti kata menolong, bisa berakibat fatal baik untuk kita sebagai terapis, juga untuk klien yang kita terapi.

Redefinisi Kata Niat

Kata “Niat”pun baik sekali kita kaji ulang lagi, apakah benar-benar NIAT TULUS atau ada udang di balik rempeyek? Niat akan menimbulkan perasaan. Nah, rasa inilah yang akan berpindah ke klien saat kita menterapi. Kalo rasa energi penyembuhan yang berpindah untuk terapi, ya tentu baik. Nah, kalo yang berpindah adalah rasa Nafsu Seks, kan repot? Saya menemukan kalimat dari seorang terapis “Niat saya baik kok mau menolong dia, mau menyelamatkan dia”. Namun, masalahnya apakah si klien punya niat minta tolong pada kita sebagai terapis?

Every Hypnosis is Self Hypnosis

Kalimat ini sering dijadikan tameng oleh teman-teman terapis saya bahwa apapun yang dilakukannya pastilah seijin klien. Pernyaataan ini sungguh seperti melempar tanggung jawab. Mengapa tidak kita rubah maknanya. Karena “Ervery Hypnosis is Self Hypnosis” maka saya harus berhati-hati menggunakan hypnosis, karena jika klien sudah sangat percaya pada kita, maka jika kta salah mengarahkan, salah induksi, salah sugesti, hasilnya tentu bisa sangat parah untuk klien… Jadilah pribadi yang bertanggung jawab.

Pisau Bedah yang sangat tajam

Nah, bagi kita yang menggunakan ilmu Hipnosis sebagai sarana terapi, baik sekali untuk mengingat pesan dari Mbah kita bahwa Hipnosis layaknya sebuah pisau, namun bukan pisau biasa. Hipnosis adalah pisau bedah, pisau bedah yang sangat tajam sehingga bisa sangat berguna, juga bisa sangat berbahaya. Hati-hatilah menggunakannya dan bertanggungjawablah akan dampaknya.

Hypnosis adalah ilmu yang indah dan sangat berguna, jika digunakan untuk kebaikan. Namun layaknya sebuah pisau yang sangat tajam, diapun bisa berbalik jika salah digunakan. Bisa menusuk diri sendiri dan menusuk orang lain…

Terakhir, saat sang hati memahami makna kalimat: “Berikan Hatimu, maka Engkau akan Temukan Jawabannya”, maka kemampuan dan kekuatan dalam diri Andapun akan muncul dengan sendirinya. Terima kasih banget-banget Uskup Sinaga, OFM. Pesan yang sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa.

Dari Krishnamurti, anakmu.

NB:

Mohon maaf, bagian Mindset diatas bukanlah untuk menggurui, saya hanya ingin berbagi pengalaman dan perasaan saja, agar kejadian penyalahgunaan ilmu hipnosis/hypnotherapy oleh oknum tertentu untuk tindakan asusila kepada kliennya, tidak terulang lagi.

Sayapun hanyalah seorang manusia yang banyak salah, banyak keliru, banyak kotoran, dan banyak lagi yang lainnya. Untuk itu, ada baiknya kita saling mengingatkan agar tidak terpeleset lagi ke hal yang sama, yang kadang berawal dari sebuah ambisi dan ego diri.

Karena sebagai terapis, kita tahu betul umumnya setelah terapi selesai akan muncul keyakinan dari klien bahwa kitalah yang menyembuhkannya, kitalah yang hebat, padahal sebenarnya keputusan dan keyakinan diri mereka sendirlah yang menyembuhkan mereka. Bukan kita sebagai terapis. Kita hanyalah alat, kita hanyalah sarana saja. Allah yang punya kuasa. Mohon ampun Gusti…mohon ampun…

Categories: Trauma/Phobia

17 Responses

  1. Budi says:

    Bagus banget pak, bisa menambah kebijaksanaan bagi pembacanya. Pak kira-kira kapan ada acara seminar di semarang, tolong saya dikabari, karena saya termasuk salah satu penggemar bapak. Kalau mau terapi dengan bapak apakah bapak juga ada waktu?? Terima kasih

  2. Krishna says:

    Dear Budi, semoga demikian. Awal Jan 2008 saya ada undangan ke Semarang, coba saya atur untuk buat kelas public juga, mungkin seminar GO DOUBLE saja. Untuk terapi, nanyti diatur saja waktunya. Mungkin group therapy boleh juga…

  3. Danu says:

    akhirnya semua beres ya pak… ini membuktikan bahwa teknik saja tidak cukup….. karena kecerdasan kita tidak akan mungkin bisa mengalahkan energi penyembuhan dari Tuhan yang udah “Built in” di dalam jiwa manusia.. thx atas sharingnya pak…

  4. Krishna says:

    Dear Danu, ya tinggal pengakuan jujur saja dari pelaku. Kuncinya adalah JUJUR agar semua bisa terbuka dengan tuntas dan ikhlas, biar banyak orang bisa belajar dari kejadian ini. Krn teknik terapi yg canggihpun, jika tanpa adanya hati yg tulus, duh bisa bahaya banget… Fitnahpun bisa jadi Fakta. Ampun Gusti, ampun dan ampun…

  5. Dedik I. Prasetyo says:

    Salam Hormat! Membaca tulisan Bpk sangat bermanfaat namun alangkah lebih berguna jk dpt bertemu langsung dg Bpk, Kpn Ngadain acr di Balikpapan? kami tunggu

  6. imron says:

    Pak Krish, artikel yang menarik. Pembacaan bapak terhadap keadaan klien melalui simbol-simbol dengan memanfaatkan unconsious communication, pengamatan VAK, dan kalibrasi selalu memberikan insight baru bagi saya. ngomong-ngomong kapan bapak ada acara di yogya?

  7. Krishna says:

    Dear Dedik, boleh juga ya kita ketemuan ngopi2 di Balikpapan. Oke, saya atur di thn 2008 ya…

  8. Krishna says:

    Dear Imron, ya kita memang harus sangat jeli “membaca” situasi yg ada. Oke, kami jadualkan juga untuk acara di Jogja lagi ya… di 2008!

  9. Fifi hariani says:

    artikel nya bgus bgt pak, kita mesti harus ati2 ya pak, salam sukses untuk bapak, kapan ngadakan acara di Batam lagi pak, sy tunggu ya pak.
    salam

  10. Krishna says:

    Dear Fifi Hariani, ya memang sbg terapis kita mesti hati2 banget krn kita bisa ikut nyusahin klien walau dg niat menolong. Utk Batam, sudah saya jadualkan di 2008 ini. Sukses selalu ya…

  11. titus budi says:

    sharing dalam tulisan krisnha merupakan keberanian luar biasa. Pengalaman pahit membuahkan berkat bagi diri sendiri dan banyak orang. Kita tinggal berani menelan empedu pahit kita atau tidak? dalam tulisan terdahulu ada pemikiran kris tentang mengatasi kepedihan dengan menelannya akan lebih cepat mengatasi persoalan daripada menolak kepedihan itu. ketika kita jatuh, terus berani bangun membawa dampak besar juga bagi diri dan orang lain. terimakasih adalah kata tepat utuk sharing pengalaman pahit dalam tulisan ini. memelihara hati suci , niat suci, pikiran suci, dan perilaku suci dalam segala hal memang mutlak. apalagi sebagai seorang terapist. untuk mencapai kesucian itulah diperlukan pertobatan dan selalu berkontak dengan Tuhan. semoga kasih tuhan memancar dalam klien, bukan nafsu terapist. salam dan doa dari bangka

  12. Krishna says:

    Dear Mas Titus, thanks atas sharing & spirit Anda. Ya, memang perlu kekuatan yg harus kita minta dari DIA yg empunya kita agar kuat menerima semuanya. Sekali lagi thanks atas doanya dan salam dari kamu semua untuk Anda dkk di Bangka…

  13. iin jogja says:

    maaf pak krishna saya terlambat kirim salamnya… baru punya pulsa, [ ya ga terlambat2 amat he he he ] semoga kabar baik selalu menyertai… amin salam more happy

  14. iimjogja says:

    artikel bapak selalu mencerahkan hati. saya termasuk penggemar bapak..
    kapan bikin acara dijogja? saya juga mau diterapi.. salam ikhlas n more happy thanx

  15. Nanang Abdullatif ("Love" Moivation Centre. Awarness,Care and Share) says:

    Salam Cinta and Semngat Guru, lama tidak sua. sibuk ngurus kerja and love MC. sy habis sakit masih belum sembuh 100%.
    Alhamdulillah,Wow Ruar biasa artikel dasyat nich…
    1. keikhlasan menjadikan qita luar biasa. semoga ttp terus menjadikan landasan lankah qita {Awarness)
    2. emapti menjadikan kita bisa trus berbagi (Care}
    3. melakukan apa yang kita bisa {Share}
    Salam Cinta Nanang. Guru kpn belajar lagi saya dan team “love” kepingin belajar.

  16. george says:

    mas kapan qta bs ktmu lg…
    N kl ada artikel yg br tlg email ke aq ya mas tq

  17. Krishna says:

    Dear George, nanti sy inform. Sy kembali ke Jkt dari Orlando sekitar 15 Maret. Salam sukses untuk Anda dkk

Leave a Reply