Pembaca, sebenarnya sudah lama saya ingin sekali menulis artikel ini. Namun karena kesibukan dan fokus saya yang lagi nggak “in” dengan topik ini maka saya menundanya. Keinginan ini muncul lagi saat baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang dengan begitu haqul yakin dan mantap mengatakan bahwa hipnosis adalah ilmu sesat dan dilarang agama.
Nah, apa yang saya tulis di artikel ini merupakan intisari dari edukasi dan diskusi yang saya lakukan dengan kawan saya ini. Setelah mendengar ulasan saya panjang lebar akhirnya kawan saya ini berhasil saya “sesatkan” kembali ke jalan yang benar.
Nah, pembaca, “Apa sih hubungan antara agama dan hipnosis?”Sebelumnya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu definisi hipnosis. Biar kita ada dasar pijakan berpikir yang sama. Ada banyak definisi yang diberikan oleh masing-masing pakar. Namun definisi yang paling banyak digunakan saat ini, yang merupakan definisi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika yaitu “Hypnosis is the bypass of the critical factor of conscious mind and the establishment of the acceptable selective thinking” atau Hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar dan diterimanya pemikiran tertentu.
Definisi di atas sama sekali tidak menyinggung “ilmu” atau “kekuatan” yang ditakutkan oleh kebanyakan orang. Jadi, hipnosis sebenarnya sangat sederhana. Saat terjadi penembusan critical factor dan diterimanya suatu pemikiran (baca: sugesti, ide, atau afirmasi) tertentu maka pada saat itu telah terjadi hipnosis.
Ada juga yang mengatakan bahwa hipnosis itu sama dengan tidur. Inipun tidak tepat. Memang, saat seseorang dalam kondisi hipnosis maka ia akan tampak seperti orang tidur. Namun aktivitas mental yang terjadi sangat berbeda.Kata “hypnosis” pertama kali digunakan oleh James Braid pada tahun 1842 . Kata ini berasal dari bahasa Yunani, Hypnos, yang sebenarnya adalah nama dewa tidur. James Braid semula berpikir hipnosis sama dengan tidur. Namun setelah ia memahami dengan benar bahwa kondisi hipnosis tidak sama dengan tidur, saat ia menyadari bahwa justru dalam kondisi hipnosis seseorang akan sangat fokus pada satu ide atau pemikiran, pada tahun 1847 ia mencoba mengganti kata hypnosis dengan mono-ideaism. Namun istilah hypnosis telah terlanjur populer dan terus digunakan hingga saat ini.
Jadi, tidak benar jika saat dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang bisa dikuasai, ditaklukkan, atau tidak sadar. Justru dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang menjadi sangat fokus dengan intensitas yang sangat tinggi.
Setiap upaya masuk ke kondisi hipnosis, baik itu waking hypnosis, self hypnosis, atau hetero-hypnosis, pasti mempunyai tiga komponen. Pertama, orang yang melakukan hipnosis harus mempunyai otoritas, atau paling tidak dipandang sebagai figur otoritas di bidangnya. Ini adalah langkah awal untuk menembus atau membuka celah di critical factor pikiran sadar. Setelah berhasil, dibutuhkan komponen kedua untuk membuat critical factor bersedia menerima informasi yang akan disampaikan. Critical factor akan bertanya, “Mengapa ini bisa bekerja?” Untuk bisa membuat critical factor “puas” maka digunakan salah satu dari tiga otoritas informasi berikut, yaitu doktrin, paradigma (teori atau model) dan trans-logic. Setelah itu baru komponen ketiga digunakan yaitu message unit overload atau membanjiri pikiran dengan sangat banyak unit informasi sehingga pikiran menjadi overload. Saat terjadi overload maka secara alamiah kita masuk dalam mode fight (lawan) atau flight (lari). Jika subjek melakukan fight (melawan) maka ia tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Saat subjek memutuskan untuk flight (lari) maka saat itu ia akan “masuk” ke dalam pikirannya, melarikan diri dari serbuan unit informasi yang begitu banyak, dan ia masuk ke kondisi hipnosis.
Kondisi hipnosis adalah kondisi alamiah pikiran manusia. Nggak percaya? Pernahkah anda saat mencari sesuatu, katakanlah kunci mobil anda, sudah anda cari ke mana-mana tapi tetap nggak ketemu. Padahal kunci mobil itu tepat berada di depan anda? Pasti pernah mengalami hal seperti ini, kan?
Tahukah anda apa yang terjadi? Yang terjadi adalah anda mengalami negative visual hallucination. Benda yang dicari ada namun anda tidak bisa melihatnya. Dan tahukah anda bahwa saat anda mengalami hal ini, anda sebenarnya berada dalam kondisi very deep trance. Jika menggunakan Davis Husband Scale, dari 30 level kedalaman trance, anda berada di level 29. Ck…ck…ck… luar biasa.
Atau anda mungkin pernah, saat mandi, tiba-tiba merasakan perih di lutut anda. Setelah anda lihat ternyata lutut anda lecet tergores sesuatu. Mengapa baru saat mandi anda merasakannya? Mengapa saat terluka anda sama sekali tidak merasakannya?Jawabannya sederhana sekali. Saat lutut anda tergores atau terluka pikiran ada sedang sangat fokus pada sesuatu. Saat itu anda sedang dalam kondisi hipnosis yang dalam. Terjadi pain blocking. Anda tidak merasakan sakit sama sekali. Fenomena ini, bila kita tahu caranya, tentunya dengan kondisi hipnosis, dapat dengan sangat mudah diciptakan. Jadi, tidak ada yang aneh atau mistik dalam hal ini.Atau mungkin anda pernah sedang membaca buku atau nonton tv, saking asyiknya (baca: fokus), anda tidak mendengar saat dipanggil oleh kawan anda. Ini juga contoh kondisi deep hypnosis.
Nah, kembali ke diskusi kita mengenai hubungan agama dan hipnosis. Dengan mengacu pada definisi hipnosis, dan beberapa keterangan tambahan yang telah saya sampaikan di atas maka anda kini sadar bahwa sebenarnya semua, saya ulangi semua, agama sebenarnya telah menggunakan hipnosis untuk memengaruhi umatnya.
Mari kita lihat praktik atau ritual agama. Kita mulai dengan bentuk bangunan ibadah. Bagaimana bentuknya? Pasti berdiri tegak, besar, dan megah. Lalu, saat kita berada di dalam bangunan ini, bagaimana bentuk dan ketinggian plafon? Apakah rendah ataukah (sangat) tinggi dan megah? Sudah tentu plafonnya tinggi dan megah.
Apa tujuan atau efeknya terhadap diri kita?Kita, secara sadar atau tidak, akan merasa kecil. Merasa tidak ada apa-apanya. Otoritas gedung ini, ditambah lagi kita tahu bahwa ini adalah tempat ibadah, membuat kita “takluk” dan “pasrah”. Lalu bagaimana dengan pemuka agama yang menyampaikan “pesan”? Dari mana mereka menyampaikan “pesan” mereka? Apakah mereka berdiri sejajar dengan umat ataukah lebih tinggi?
Sudah tentu lebih tinggi. Biasanya di atas mimbar khusus yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang khusus. Ini juga salah satu bentuk otoritas. Begitu pikiran sadar kita melihat figur otoritas maka critical factor langsung terpengaruh dan mulai membuka.
Lalu, apa yang digunakan untuk komponen kedua? Benar, sekali. “Pesan” yang disampaikan itu dikutip dari kitab suci, langsung menembus critical factor, dan masuk ke pikiran bawah sadar. “Pesan” ini biasanya dalam bentuk doktrin.
Bagaimana dengan komponen ketiga, message unit overload? Caranya adalah dengan menggunakan repetisi atau emosi. Saat sesuatu “pesan” disampaikan berulang-ulang atau suatu emosi berhasil digugah dan dibuat menjadi intens, baik itu emosi positif maupun negatif, misalnya kebahagiaan karena akan masuk surga atau kengerian dan ketakutan siksa neraka, maka semua unit informasi ini membanjiri pikiran dan menciptakan kondisi overload. Menggugah emosi bisa juga dengan melalui lagu-lagu dengan irama yang lembut dengan syair yang menghanyutkan perasaan atau dengan wangi-wangian tertentu.
Sekarang coba kita lihat ritual doa. Apa yang dilakukan umat sebelum berdoa? Apakah mereka akan ribut, cerita-cerita sendiri, ataukah mereka akan berlutut, diam, hening, dan memusatkan perhatian mereka pada doa yang akan diucapkan? Kondisi pemusatan perhatian ini sebenarnya adalah untuk masuk ke kondisi hipnosis, yang kalau dalam bahasa agama disebut dengan kondisi khusyuk. Setelah pikiran terpusat, hati tenang, barulah doa dibacakan atau diucapkan. Doa yang diucapkan ini sebenarnya adalah sugesti atau afirmasi. Jika doa ini diucapkan sendiri maka ia menjadi auto-suggestion melalui self hypnosis.
Bagaimana doa dengan hanya membaca satu atau dua ayat tertentu dan diulang-ulang? Inipun sama saja. Dengan pemusatan pikiran terhadap doa yang dibacakan akan tercipta kondisi hipnosis (baca: khusyuk).Bagaimana dengan latihan meditasi dengan objek pernapasan? Bagaimana dengan orang yang melakukan liamkeng atau berlatih meditasi dengan fokus pada suara yang timbul akibat ketukan pada alat bantu tertentu?
Semuanya sama saja. Intinya adalah adanya pemusatan perhatian atau fokus pada sesuatu objek dan adanya repetisi. Semua akan mengakibatkan kondisi overload yang akhirnya akan mengakibatkan kondisi hipnosis.Banyak orang sangat ingin masuk ke kondisi khusyuk. Namun kondisi ini hanya bisa mereka capai sesekali saja. Tidak bisa diulang sesuai keinginan. Mengapa? Karena kebanyakan kita tidak mengerti mekanisme untuk masuk ke kondisi khusyuk ini. Kita selama ini hanya menggunakan cara trial and error. Ada yang bisa dengan sangat mudah menjadi khusyuk namun ia tidak bisa menjelaskan atau mengajarkan caranya kepada orang lain.
Sulitkah untuk menjadi fokus atau khusyuk? Sama sekali tidak. Justru bila kita tahu caranya kita bisa membuat diri kita khusyuk kapanpun dan di manapun dengan sangat mudah dan cepat.
Banyak orang yang saat berdoa, begitu khusyuknya, sampai merasakan keheningan luar biasa yang disertai perasaan gembira, bahagia, dan damai yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Sungguh pengalaman euphoria spiritual yang sangat luar biasa. Apakah ini ada hubungan dengan kondisi hipnosis? Sudah tentu. Kondisi ini mirip sekali dengan salah satu kondisi hipnosis yang sangat dalam, yang bila kita bisa masuk ke kondisi ini, kita akan merasakan perasaan bahagia, damai, dan luar biasa “enak”. Orang yang berhasil masuk ke kondisi ini biasanya ingin seterusnya berada di kondisi ini karena begitu luar biasanya perasaan mereka.
Kondisi hipnosis jugalah yang sebenarnya digunakan untuk membentuk, membangun, dan memperkuat belief seseorang terhadap doktrin suatu agama. Saat anak masih kecil basically mereka sangat sering berada dalam kondisi hipnosis secara alamiah. Bila doktrin agama diajarkan pada saat anak masih kecil maka efeknya akan sangat kuat.
Mengapa?Karena saat masih kecil, usia 0 – 3 tahun, anak belum mempunyai critical factor. Saat usia 3 tahun critical factor baru mulai terbentuk dan akan semakin menebal dan kuat pada usia 8 tahun. Critical factor akan benar-benar tebal saat usia 11 tahun dan ke atas.Agar doktrin benar-benar diyakini kebenarannya, dipegang dengan sangat kuat oleh seseorang maka doktrin ini harus masuk dalam bentuk belief yang dikaitkan dengan emosi yang sangat intens. Dan belief ini bila terus diperkuat , dengan berbagai repetisi, akhirnya menjadi faith atau iman. Berikut saya kutipkan definisi faith dari kamus elektronika Encarta, “Faith: belief or trust: belief in, devotion to, or trust in somebody or something, especially without logical proof” atau “Iman: kepercayaan pada, kepercayaan yang sangat kuat pada seseorang atau sesuatu, biasanya tanpa bukti yang logis.
”Belief yang sudah berhasil dibentuk, dibangun, dan diperkuat akhirnya akan mengkristal menjadi value, yang biasanya menempati level tertinggi dalam hirarki value seseorang. Dan untuk mengubah value ini, sangat-sangat sulit, jika tidak mau dikatakan tidak bisa.
Sebagai penutup artikel ini berikut saya kutipkan email dari dua orang pembaca buku dan artikel saya.
Terima Kasih dari Seorang Pastor
Saya sudah membaca buku anda berjudul, Hypnosis: The Art of Subconscious Communication, dan Becoming a Money Magnet. Tulisan anda sangat memperkaya hidup pastor.
Sangat efektif sekali hypnosis untuk keperluan terapi. Banyak masalah emosi terluka/perasaan terluka tersembuhkan dengan hypnosis.
Saya ini seorang imam, banyak umat datang ke tempat saya, saya ajak umat untuk berdoa/meditasi, setelah sungguh hening-memasuki gelombang alpa-theta, barulah membacakan firman Tuhan.
Hal positif. Ini sungguh mengubah hidup umat. Kebencian bisa tergantikan dengan pengampunan. Betul kata anda. Salah membuat kalimat ketika orang berada dalam gelombang theta or alpha, maka berdampak buruk. Pikiran dan perkataan kita harus selalu positif sehingga melahirkan hal positif.
Berlimpah Terima Kasih,
T. Budi
Saling Meneguhkan
Saya sudah membaca hampir semua artikel yang Bapak tulis, dan saya sangat tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam. Saya sedang memesan beberapa buku Bapak.
Mengapa saya tertarik?
Sebelumnya saya buta sama sekali tentang hypnosis karena saya pikir dulu itu adalah ilmu sesat. Tetapi setelah saya membaca artikel-artikel yang Bapak tulis, ternyata anggapan saya keliru. Bahkan apa yang Bapak ajarkan, itu juga yang saya ajarkan. Bedanya saya melalui jalur agama, sedangkan Bapak dari jalur sekuler.
Dan banyak hal ternyata yang selama ini saya tahu dan ajarkan, ternyata setelah saya membaca tulisan Pak Adi, baru saya tahu alasan lain yang ditinjau dari ilmu yang Bapak pelajari. Jadi kesimpulannya adalah saling meneguhkan.
Sekali lagi terima kasih banyak atas pencerahannya Pak. Saya ingin sekali berdiskusi dengan Bapak jikalau ada kesempatan.
Hormat saya,
Pdt. F.G.
Nah, pembaca, setelah anda membaca sejauh ini, bagaimana pandangan anda mengenai hipnosis?
Apakah anda akhirnya “tersesat” kembali ke jalan yang benar seperti kawan saya?




















Akhirnya setelah hampir sebulan ada lagi tulisan baru………
Sepakat banget dengan anda, hypnosis adalah science dan bukan hal yang bersifat mistis.
Oh iya mas, kalo hancurin mental blok negatif pake hypnosis bisa ngga ya? Kalo bisa gmn caranya…?
Mental block itu istilah dalam dunia hipnosis/hipnoterapi. Kalo dalam dunia retreat namanya luka batin. Kalo di psikologi itu trauma atau phobia. Semuanya bisa dibantu dengan hipnoterapi.
Caranya…..?
Akan sangat teknis jika saya jelaskan di sini. Saran saya Bapak bisa membaca buku-buku hipnosis/hipnoterapi yang ada di toko buku.
Saya menulis dua buku mengenai hipnosis dan hipnosterapi. Bisa didapatkan di TB. Gramedia.
Salam hangat,
Adi W. Gunawan
Saya udah baca buku Mindset tulisan Bapak, cuman saya tidak nemuin hal yang secara spesifik mengenai teknis menghancurkan mental block……
Kalo boleh minta tolong, sharing dong file atau tulisan yg membahas teknis menghancurkan mental block via email saya. yudhi.k.gunawan@gmail.com
Terima kasih sebelumnya
Hi,
Coba baca buku saya The Secret of Mindset. Dalam buku ini saya ada menjelaskan tenik untuk menghancurkan mental block.
Saran saya, beli yang Hard Cover karena ada bonus CD Ego State Therapy. Buku ini bisa didapatkan di Gramedia.
Salam,
Adi W. Gunawan
http://www.adiwgunawan.com
BETUL SEKALI, Hipnosis bukan hal yang mistik, ia sangat RASIONAL hanya saja kita BELUM banyak tahu, sehingga kita katakan ia mistik. masyarakat kita adalah masyarakat MISTIK karena itu sudut pandang mereka ya tetap MISTIK, Contohnya, Dr. Masaru Emoto meneliti tentang reaksi air yang berubah ketika dibacakan kata2 positif atau doa2, terus bisa digunakan untuk sarana menyembuhkan penyakit, apa yang kita bilang SYIRIK lah, JIN lah, MISTIK lah dan sebagainya. Bangsa lain sudah ke angkasa luar kita baru ke ATAP RUMAH, GAK NYAMPEK LAGI . . .WESSSS BABLAS BONGSONE > > > > >
Saya mungkin termasuk yang banyak baca buku-buku Mas Adi. Mau tanya, do’a kan harus (atau sebaiknya) menggunakan kata-kata positif. Jadi yang mengabulkan doa itu, Tuhan atau kemampuan kita memilih kata-kata? Terima kasih atas jawsaban Mas Adi.
Dear Mas Bambang,
Kita sebagai umat beragama yakin 100% Tuhan yang akan mengabulkan. Tuhan selalu menyuruh kita meninggalkan keraguan. Menggunakan kalimat positif adalah tools terbaik untuk menghilangkan keraguan itu. Keraguan adalah senjata atau alat dahsyat atas tidak terkabulnya doa. Saat kita berdoa kita yakin dengan doa itu. saat itu sugesti atau permintaan terkuat adalah doa, maka yakinlah Tuhan sedang melakukan proses penerimaan doa. Nach saat kita ragu, maka keraguan itu lebih kuat sugesti nya dari doa tadi. dengan demikian peluang lebih diterimanya doa rasa ragu itu jauh lebih besar dari doa itu sendiri. akibatnya peluang doa kita tidak diterima jauh lebih besar Ingat segala yang kita lakukan adalah doa saat berpikir negatif pun kita sebetulnya sedang berdoa, karena itu kenapa kita tidak menggunakan tools terbaik untuk menghilangkan keraguan
Sorry kalo penjelasannya ngga terlalu detail dan jelas, maklum masih belajar
YUDHI K GUNAWAN
THE POWER OF DREAM
Saat berdoa sebaiknya kita menggunakan kalimat dengan kata-kata positif. Sebisa mungkin hindari kata-kata negatif.
Dalam kondisi khusyuk (baca: trance) pikiran bawah sadar mempunyai kecenderungan yang disebut dengan Pharsing. Kecenderungan ini adalah pikiran bawah sadar akan men-drop atau menghilangkan atau mengabaikan kata-kata yang bersifat negasi,seperti,”tidak”,”jangan,”tidak boleh”, dll.
Doa juga sebenarnya adalah suatu bentuk afirmasi.
Siapa yang mengabulkan doa kita? Apakah pilihan kata ataukah Tuhan?
Ya sudah tentu TUHAN. Semua doa jika tidak diridhoi oleh Tuhan maka nggak akan bisa ada hasilnya.
Kalau menurut Bapak, siapa yang mengabulkan doa kita?
Salam,
Adi
Senang mendapat respon dari Pak Adi. Ada doa yang sudah umum, yaitu “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka.” (alquran surah 2: 200). Bukankah kata “lindungi” atau ada juga yang mengartikan dengan “jauhi” dan “hindari” merupakan kata negatif? Apakah bisa dihubungkan dengan kecenderungan manusia yang “gain plesure” atau “avoid pain”? Atau adakah yang ahli bahasa Arab, arti dari “waqinaa ‘adzaabannar”? Makin mendalami, makin menambah keimanan, makin mungkin Tuhan mengabulkan doa.
Senang sekali membaca buku-buku Pak Adi, dari Manage Your Mind For Success, Becoming a Money Magnet, Hypnosis: The Art of Subconscious Communication menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang hypnosis, menghilangkan mental block, reprogramming of subconscious mind, membangun mental sukses.
Saya saat ini juga hobby memeberikan training-training motivasi bagi para siswa SMA dan Mahasiswa, juga kadang-kadang bagi orang dewasa. Hanya saja dalam memberikan training untuk orang dewasa, khusus orang-orang yang diatas usia 50 tahun cenderung susah untuk menerima metode sugesti dan hypnosis ini.
Kenapa bisa demikian ya pak? Pak Adi bisa kasih solusi, sebaiknya bagaimana untuk mempengaruhi dan mengubah pemikiran negatif orang yang telah berusia diatas 50 tahunan itu untuk diprogram dengan pemikiran positif? Terima kasih pak Adi atas jawabannya.
Saya sependapat dengan Mas Yudi K. Gunawan (satu marga dengan Pak Adi W. Gunawan..? he … he..), bahwa keyakinan akan lebih membuka peluang terkabulnya doa. Izinkan saya untuk mengemukakan pendapat tentang hal ini. Di dalam al quran banyak doa-doa yang berkalimat positif, dan banyak pula yang menggunakan kalimat negatif, yakni menggunakan kata “jangan”. Silakan buka surat al baqarah ayat 286. Dan beberapa surat yang lain, selain juga doa-doa yang disusun oleh para ulama. Oleh karena itu, saya cenderung melihat hal ini sebagaimana diungkapkan Anthony Robbins. Beliau mengatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu karena dua hal: mendapatkan sesuatu atau menjauhi/menghindari sesuatu. Dalam salah satu Meta Program, sebuah teknik dalam NLP, “Arah Motivasi” seseorang itu bisa “mendekati”, bisa pula “menjauhi” (“gain plesure” atau “avoid pain”). Puncak kebahagiaan yang diimajinasikan secara emosional dapat memotivasi seseorang, apalagi jika dilakukan melalui sugesti bawah sadar. Demikian pula halnya jika kita mengimajinasikan puncak penderitaan. Maka dalam ajaran agama ada konsep surga dan neraka. Coba ikuti forum-forum seperti (bagi umat Islam) majlis zikir, atau qiyamullail, mungkin juga ESQ (saya ingin ikut pelatihan itu), itu adalah pengalaman ruhani bagaimana mengimajinasikan puncak kebahagiaan dan puncak penderitaan sehingga diharapkan memicu motivasi. Doa yang minta dihindarkan dari kesulitan, dari marabahaya, atau dari api neraka, merupakan bagian dari bagaimana kita mengimajinasikan puncak ketidaknyamanan untuk mendapatkan kebahagiaan. Maaf, ini adalah publikasi yang pertama, setelah saya belum mendapatkan jawaban yang pas dari pelatihan sertifikasi NLP dan hipnosis. Tentu saja sangat debatable.
Pak Adi yang Lauar Biasa!!..saya baca 2 buku bapak, berkaitan dengan Hypnosis; ada beberapa pertanyaan saya :
1). Mental Block; kadang malah SENGAJA harus diciptakan, untuk tujuan yang baik bukan?. Bagaimana CARA yang efektif efisien utk mengcreate Mental Block yang positif ini?; dan Bagaimana pula CARA destroy-nya kalo’ ternyata dilain waktu sudah TIDAK berguna lagi
2). Ttg MINDSET, saya pikir Mindset adalah semacam gabungan beberapa BELIEFS yang kita yakini ya Pak?; bagaimana CARAnya agar semua BELIEFS yang kita miliki bisa kita ADJUST sefleksible mungkin (tidak RIGID)?..karna Beliefs yang terlalu KAKU, pada keadaan tertentu malah membuat pusing/stress sendiri bukan? yang pada akhirnya menjadi tidak bahagia dalam hidup.
3). Utk pertanyaan saya no.1 dan 2; gimana CARANYA dilakukan dengan metoda Hypnosis,..apa ada kaitannya?
Sekian dulu Pak ADI GUNAWAN…saya tunggu jawaban DETAIL nya…
Terimakasih, thanks, maturnuwun sanget, Domo…
Pengennya sich satu marga….. heheheheh…..
Biar ilmunya juga bisa didapat. ehehehehehe…
Saya sepakat banget dengan Mas Bambang, maaf ngga bermaksud membicarakan 1 agama di sini. Dalam Al-Quran biasanya ada kalimat positif ditambah dengan pain. Hal ini untuk mengoptimalkan sugesti ke manusianya. Tuhan tahu hal itu, dan dimasukkan ke dalam kitab suci. Mas Bambang kayaknya memberi inspirasi saya, ternyata NLP ada juga di dalam kitab suci yach…..
Kayaknya kita semua harus lebih banyak mengkaji kitab suci juga…..
Salam Kenal buat Pak Yudhi dan pak Bambang Setiawan. Menurut saya, NLP itu sudah ada dari semenjak Nabi Adam AS, hanya saat itu namanya saja belum NLP,dan terdokumentasikan sebagai NLP dimotori oleh Bandler, Grinder dkk. Kita lihat saat berdo’a…khusyuk!..kondisi knowing nothing state (istilah dlm NLP)…dll; NLP tidak hebat,..otak manusia-lah yang Hebat…dan sang pencipta otak-lah yang MAHA hebat..
adalah kehormatan bagi saya, ucapan terimakasih atas buku mas adi dimuat diujung artikel ini. Saya segera mencari buku anda berjudul, The Secret of Mindset.
Training yang anda selenggarakan 100 jam. ini sangat menarik. semoga ada waktu untuk mengikuti training tersebut. Melalului training dan buku anda yang luar biasa, banyak orang tercerahi.
berlimpah makasih
Saya sudah pernah mengalami trauma yang sangat dasyat di kehidupan saya, saya pernah di therapy dengan tekhnik hypnotherapy. Saat itu saya dalam keadaan dihipnotis (tanpa pengaruh mistis), saya di minta merasakan yang menjadi mental block saya, dan saya diminta utk melihat dan merasakan peristiwa itu lagi, kemudian perasaan tsb diperbesar sampai di skala yg bisa saya tanggung, saya disuruh berserah diri kepada Tuhan atas peristiwa tersebut, kemudian saya diminta mengecilkan perasaan tsb, semakin mengecil, mengecil, mengecil dan hilang.
Dengan di hypnotherapy, peristiwa yang traumatis itu tidak dihilangkan dr ingatan saya, namun rasanya yang dihilangkan.
Cara itu sangat manjur bagi saya.
Nah, sekarang saya sedang mempelajari lebih jauh lagi tentang hypnotherapy
hypnosis memang baik untuk menyembuhkan pikiran.
namun, hypnosis adalah pikiran bermain dengan pikiran.
intinya masih berada diranah relatif.
setiap manusia hanya bisa disembuhkan oleh dirinya sendiri.
dan manusia juga hidup hanya untuk kepentingannya sendiri.
kesadaran akan diri adalah roh akan menyembuhkan segala penyakit.
caranya sederhana saja.
namun pikiran kita saja yang rumit.
sering2 lah bertanya pada diri sendiri “siapa aku?”
sewaktu kita sadar esensi diri sejati, semua akan terbuka.
berusaha tanpa usaha akan menjadi cara hidup.
semua hanyalah permainan pikiran dan emosi.
roh sedang berbicara dengan kata-kata (pikiran).
namun, roh tidak selalu “sadar”.
karena pikiran seperti melihat bayangan di ditempat yang di kelilingi cermin.
Saya hanya ingin tanya pada saodara-saodara yg hypnosiser..
Apakah pernah di rukyat?.. (yg syar’i, bukan yg dukun..)
jika sudah tolong buktikan bagaimana hasilnya ?
baru deh sumonggo..
saya tunggu di email saya.
terima kasih.
trima kasih Pak adi, buku pertama tulisan Pak Adi yg sy baca mind set itu, dari situ sy termotivasi utk lebih tahu ttg NLP. Apalagi kebetulan booming ilmu tentang rahasia otak semakin ngetrend. Bersyukur kita, melalui kajian NLP itu, semakin sadar, masih banyak ya instrumen yang diberikan Allah kepada kita belum kita daya gunakan. Padahal kita dapat tugas sebagai “Khalifah di Bumi”. Kalau banyak memahami instrumen, boleh jadi bisa banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengemban “amanah” Nya untuk meningkatkan kualitas diri dan sesama, subhanallah….
Thank for your articles, it make me like an angelic-man, I am able to do everything couse I know the secret of mind and universe law. I belife that man and God are one, so Human being is able to do something like God, The First Creator, and man is second creator. God bless for human being.