Portal NLP ™

Membebaskan Belenggu Pikiran Dengan Neuro-Linguistic Programming

Posted by Asep Haerul Gani On March - 19 - 2008 23 Comments

Apa bisa NLP berpadu dengan Spiritualitas Sufi?

Saya bersama istri mendapat kehormatan terundang pada Training ”Spiritual Thinking” pertama untuk publik yang diselenggarakan di Wisma Lintang lantai 3, Kemang Jakarta Selatan , 9-10 Februari 2008 lalu, dipandu oleh Priatno H. Martokoesoemo, Certified Master Practitioner NLP & Personal Coach.

Apakah Spiritual Thinking itu NLP ?

Bila kita bertanya kepada Dr. Richard Bandler atau Drs. RH Wiwoho,MSc  jawabannya diduga”Bukan NLP”.  Spiritual Thinking adalah hasil pemaduan pengalaman Priatno yang mendapatkan Mater of Practitioner NLP dari Bennet Stellar University. Usai Priatno belajar NLP saat ke Indonesia , ia bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman ruhaniah yang diperkenalkan dengan metode Sufi melalui thariqat (ordo sufi) Qadiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya. Ia menjadi lebih memahami apa yang dinyatakan Robert Dilts ”Ketika perubahan itu dilakukan pada tataran spiritual, maka perubahan menjadi lebih permanen”. 

Spiritual Thinking , istilah yang bila dikaji secara etimologis memang unik. Priatno mengatakan bahwa pada awalnya ini adalah ”Spiritual Mind Set atau Spiritual Mindbase”. Usulan penerbit Mizan menjadikan temuan Priatno ini dinamakan Spiritual Thinking.
Spiritual Thinking ini adalah kemasan Priatno hasil memodel gurunya, Ajengan KH Abdul Gaos Syaefullah Al Maslul dan hasil memodel Guru Mursyid, KH Ahmad Syahibul Wafa Tajul Arifin yang harum dipanggil Abah Anon,  inilah yang dikembangkan. Kedua Guru ini adalah para Guru yang memodel tokoh-tokoh mulia dalam Al Qur-an. Muhammad bin Abdullah, Sang Nabi dan Rasul bagi ummat Islam, Keluarga Nabi yang mulia, Para Sahabat Nabi yang akhlak utama, Para Wali sebagai pewaris Nabi, Para Mursyid (Sebutan bagi Guru Ordo Sufi) adalah model-model nyata.

Teknik-teknik NLP apa yang digunakan dalam Spiritual Thinking ?

Teknik yang paling banyak digunakan dalam Spiritual Thinking adalah Anchoring. Priatno memperkenalkan istilah clicking dan flip-flop untuk menggantikan istilah anchoring. 

1. Clicking dan 3A

Clicking adalah seperti anda memencet tombol. Setiap tombol punya fungsi tertentu. Manusia adalah makhluk yang boleh dikatakan banyak tombolnya. Tombol ini bisa berupa hasil penglihatan, hasil pendengaran, hasil penciuman,  hasil pengecapan, hasil perabaan dan juga hasil perasaan.  Priatno memperkenalkan konsep 3A, yaitu Access, Amplify dan Apply dalam memanfaatkan clicking . 

Contoh kasus : Anda hobi bermain musik , saking nikmatnya dengan hobi ini, Anda rela berlama lama, rela tekun saat menemukan kesulitan, semakin menjadi penasaran bila sesuatu yang Anda bayangkan belum anda lihat dalam kenyataan. Pada saat lain Anda ingin mengerjakan tugas membuat laporan kerja mingguan, akan tetapi Anda malas luar biasa. Clicking dan 3A dapat digunakan agar Anda dapat menyelesaikan laporan kerja mingguan dengan perasaan seperti Anda sedang mengerjakan hobi Anda. 
Caranya ? 

  1. Access :  Bayangkan saat ini Anda sedang melakukan hobi Anda, lihat apa yang Anda lihat, dengar persisnya apa yang Anda dengar , dan rasakan seluruh perasaan yang Anda rasakan . 
  2. Amplify: Intensifkan perasaan tadi, rasakanlah perasaan tesebut meningkat, 2 kali, 3 kali, 10 kali, 100 kali, rasakanlah perasaan tersebut menguasai diri Anda. Saat perasaan ini intensitasnya tinggi buatlah tombol (clicking) misalnya dengan menjentikan jari, atau mengatakan kata tertentu atau membayangkan gambar tertentu. Ulangi proses ini, hingga bila Anda clicking tombolnya, perasaan yang tadi anda bangun muncul segera.
  3. Apply: Alihkan segera pikiran Anda dengan membayangkan saat ini Anda sedang mengerjakan tugas membuat laporan kerja mingguan, Clicking perasaan tadi. Bayangkan Anda melakukan seluruh proses dalam membuat laporan kerja mingguan sambil clicking perasaan tadi. Proses dinyatakan usai bila dalam bayangan Anda, Anda telah mendapatkan gambaran mengerjakan laporan kerja mingguan – yang selama ini dengan rasa malas – dengan perasaan suka, tekun dan tertantang.

2. Menyiapkan Perilaku

Untuk melakukan perubahan perilaku, perubahan akan mudah dilakukan bila diawali dengan terjadinya perubahan pada tataran mind set. Pikiran harus tepat, diiringi oleh perasaan yang tepat. Seringkali orang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tindakan tertentu, karena pikiran dan perasaan yang mengiringi tidak klop. Contoh, Anda akan melakukan negosiasi dengan klien baru. Bisa jadi Anda sudah tahu persis jurus-jurus pembuka hingga penutup. Apakah pasti berhasil? Belum tentu.  Apa yang Anda pikirkan saat akan melakukan tindakan dan apa perasaan Anda seringkali menjadi lebih penting dan menjadi penentu keberhasilan.

Tidak sedikit orang yang smart, tahu cara yang harus ditempuh, memahami langkah yang harus diambil seringkali malah tidak mampu mewujudkan langkah yang dirancangnya. Mengapa? Seringkali mind set khususnya perasaan yang diinstall tidak tepat.  Ada sejumlah teman yang ingin alih quadran dari pekerja menjadi pemilik usaha. Ia sudah janji dengan prospek. Saat ia berangkat menuju tempat prospek, terlintas di pikiran ”saya akan ditolak” , perasaan yang dirasakannya pun adalah was-was, khawatir. Saat bertemu dengan prospek, pikiran yang terlintas adalah ”seperti saya pengen ketemu dengan Boss saya dulu, saya pasti kalah”, perasaan yang mengiringi adalah segan, malu dan ragu. Sang teman mengatakan ” Ya akhirnya bisnis saya seringkali berakhir pada saat-saat seperti itu”. 

Priatno mengajarkan bahwa perlu kiranya saat menyiapkan perilaku tertentu, menyiapkan pula pikiran dan perasaan yang harus muncul pada saat perilaku tersebut dilakukan. Agar apa yang Anda lakukan membuat Anda nyaman, maka perlu kiranya untuk semua tindakan diakses hingga ke rasa keberlimpahan dan rasa kebersamaan dengan sang pencipta. 

Untuk negosiasi tentunya diperlukan sejumlah pikiran yang tepat agar sukses, misalnya :

  • prospek akan tertarik dengan penawaran ini
  • prospek menganggap penawaran bagian dari tindakannya yang menguntungkan
  • prospek saat ini menjawab Ya. 

Untuk negosiasi diperlukan pula perasaan yang tepat, antara lain :

  • Percaya Diri
  • Berani 
  • Tekun
  • Mampu meyakinkan
  • Rasa bersahabat
  • Rasa keberlimpahan dan
  • Rasa kebersamaan dengan sang pencipta

Apa yang perlu Anda lakukan saat siap-siap untuk bernegosiasi? Ya gunakan teknik clicking dan Access, Amplify dan Apply untuk kesemua perasaan tersebut. Setelah anda dipenuhi dengan rasa percaya diri, rasa berani, rasa tekun rasa mampu meyakinkan, rasa bersahabat, rasa berkelimpahan dan rasa kebersamaan dengan sang pencipta, lakukanlah negosiasi.

Bila percaya dirinya habis, anda masih punya rasa berani. Bila rasa beraninya sudah habis, anda masih punya tekun. Bila rasa tekunnya habis, anda masih punya rasa mampu meyakinkan. Bila rasa mampu meyakinkan habis, anda masih punya rasa bersahabat. Bila rasa bersahabat habis, Anda masih punya rasa berkelimpahan.. Bila rasa berkelimpahan pun habis, anda masih punya hal yang terakhir Anda miliki yaitu rasa kebersamaan dengan sang pencipta.  Itulah yang menyebabkan para Nabi, Avatar, Wali, Santo , orang-orang mulya dan orang-orang yang mendapatkan penerangan budi tetap senyum dan bahagia hidupnya tak pernah terpengaruh oleh perubahan dan ragam stimulus luar.

3. Pembelajaran apa lagi di Spiritual Thinking

Banyak tema-tema lain yang dilatih bersama di antara peserta, yaitu : Beauty therapy,
Self Respect, Modelling, dan Membangun kasih sayang di tingkat spiritual

Bukunya yang berjudul SPIRITUAL THINKING: Sukses dengan NLP dan Tasawuf, juga menarik untuk dinikmati kita semua.

Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu Sangkan Nanjung Di Juritan Nanjeur di Buana

Asep Haerul Gani

Categories: NLP & Spiritual

23 Responses

  1. Kang Asep,

    Nuhun pisan pencerahannya, ya Kang.

    Sederhana, gamblang, dan mudah dicerna. Untuk orang seperti saya, penjelasan dan penampilan Kang Asep belum lama ini terus terngiang dan tergambar di kepala. Jadi mulai mudheng sedikit dengan NLP. Semoga semakin memacu semangat saya untuk belajar lebih banyak, dan Insya Allah dapat menerapkannya.

    Salam,
    Ietje

  2. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Ibu Ietje,

    Sami-sami Bu. Apa yang saya sampaikan saat sharing “Menjadi Juara di Tanah Jawara” syukurlah bila membuat ibu mudheng dengan NLP. Saya berusaha untuk mengambil dari ulayat hal yang terbaik dan menyajikannya untuk kita semua. Dari diskusi dengan Ibu, saya malah menangkap banyak hal yang bernas hasil pemodelan Ibu pada beragam situasi. Kami tunggu ibu lagi membuat kelas dan berbagi.

    Terima kasih

    Asep Haerul Gani

  3. ANDY SAVERO says:

    LUAR BIASA SEKALI NLP yg dikembangkan.kapan saya kerjasama dengan para pembicara dan pembaca.
    Terima kasih,
    ANDY SAVERO,penulis buku just jist just(termasuk buku nlp juga)

  4. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Pak Andy Savero, Luar biasa lagi sang penciptaNya. Pertanyaan anda dapat segera dijawab oleh Anda sendiri bila Anda mau menentukan waktunya.

    Sukses dengan Just Jist Just nya.

    Asep

  5. hendri says:

    Kang asep…berbicara tentang spiritual berkaitan denga hypnoterapi dan NLP, ada gak kang teknik yang bisa buat ibdah jadi lebih manis dan nikmat? boleh dong kang dibuatin artikel khusus.he…

  6. Salam sehat pa Asep.
    Saya sangat menantikan karya bpk selama ini di abadikan pada sebuah buku yang menarik.
    Gaya penjelasan yang mudah dicerna oleh masyarakat awam terlebih oleh para santri.
    kalo bisa pa Asep Roadshow ke pesantren-pesantren, sambil sowan ke para Kyai.
    Santri-santri amat menantikan pencerahan dari Kyai NLP.
    Terima kasih.

  7. khusen says:

    Tararenkyu artikelnya,saya termasuk penggemar artikel Pak Asep(tapi yang gratisan s perti ini).
    Apakah tehnik ini bisa dipakai ketika lagi kesel banget kalo anak rewel?

  8. Asep Haerul Gani says:

    Pak Yudhi Syarief,

    Apa yang bapak harapkan adalah impian saya. Roadshow ke pesantren sudah dilakukan pak antara lain ke Pondok Pesantren Suryalaya. Sowan dan berguru kearifan dari para kiyai adalah salah satu hal yang kerap saya lakukan bila berkunjung ke daerah tertentu.

    Bila bapak punya komunitas, silakan buka pesantren untuk belajar. Ketika para santri siap belajar maka semesta akan menjadi pesantrennya. Saya insya Allah siap datang.

    Terima kasih

    Asep Haerul Gani,
    Di Public Library North Sydney Council
    saat rehat TRANCE CAMP Stephen Gilligan,PhD

  9. Asep Haerul Gani says:

    Pak Khusen, sama-sama terima kasih.
    Artikel ini tidak gratisan, anda membayarnya dengan keinginan, minat dan hasrat untuk mencoba pada diri Anda. Percayalah anda telah membayar harga yang tepat untuk itu.

    Apakah anak rewel bermasalah? Coba deh kembali ke diri Anda saat anak-anak. Ajaib, anda akan menemukan bahwa rewel ternyata adalah bentuk komunikasi tubuh Anda pada lingkungan. Sukar mencari kata, kalimat yang tepat akan apa yang Anda rasakan.

    Karena itu siapa yang harus diubah, buah hati yang rewel atau diri Anda? Bukankah lebih mudah bila menyentuh diri kita.

    Caranya?
    Tutup mata, rasakan sensasi tubuh Anda, temukan ketenangan, sentuh pengalaman ruhani Anda, perbesar hal tersebut, pikirkan, dengar dan rasakan :
    Kasih Sayang
    Kesabaran
    Rasa Ingin tahu
    Rasa Mengayomi
    Rasa Melayani
    memenuhi diri Anda.
    Rasakanlah semua rasa tersebut ada pada diri Anda.

    Coba proyeksikan semua kelimpahan rasa tadi pada saat Anda menemui buah hati anda yang ingin berkomunikasi dengan cara rewel? Temukan keajaiban, ternyata semuanya OK. No Problem.

    Anak anda bisa jadi masih tetap, namun ajaib, anda tak terganggu, ada rasa damai di diri Anda.

    Selamat mengenal dan masuk ke dalam diri Anda, temukan diri anda, biarkan dia seperti bunga kuncup yang belajar mengembang dan membuka kelopaknya, sehingga sang semerbak keluar dari diri Anda.

    Percayalah, Tuhan menciptakan semesta untuk anda akses. Pertanyaannya adalah : Maukah anda sedikit berusaha untuk mengaksesnya, menerimanya dengan terbuka dan memanfaatkannya?

    Salam hangat dari Public Library North Sydney.

    Asep Haerul Gani

  10. titus budi says:

    gagasan cemerlang mengangkat filosofi sufi dengan NLP. Saya berharap tulisan-tulisan kang asep dibukukan. saya menunggu untuk mengkonsumsinya.

  11. Asep Haerul Gani says:

    Pak Titus Budi, tunggu tulisan-tulisan saya yang lain dari khasanah ruhaniah sufi. Silakan nikmati tulisan-tulisan ini. Menjadikannya buku juga salah satu outcome saya.

    Sukses bagi Anda.

    Asep Haerul Gani
    Stanton Library, North Sydeny Council

  12. fahmy says:

    luar biasa kang tapi sdaya ingin penjelasan yang lebih mendalam lagi tentang artikel ini dalam tulisan2 akang selanjutnya ya Salam terapis !!!

  13. Asep Haerul Gani says:

    Pak Fahmy,

    Insya Allah. Memang tidak mudah menyampaikan hal yang bersifat teknis dalam sebuah tulisan. Kegiatan terapi menurut hemat saya adalah kerja kolaboratif antara terapis dan subyek. Conectednes (ketersambungan) antara terapis dan subyek dalam level conscious dan unconscious adalah hal utama, selanjutnya intention (Goal) dari subyek, dan bila ini telah terjadi, maka teknik seringkali muncul dengan sendirinya.

    Terima kasih atas dukungannya.

    Salam terapis.

    Asep Haerul Gani,
    Stanton Library, North Sydney

  14. wira says:

    Kuncinya:
    Sering-sering merenung “siapa aku?”
    Itulah pertanyaan kehidupan paling sulit dan paling tinggi.
    Klo ga percaya, silahkan coba?
    Klo konsisten tapi tidak jujur , Anda tidak akan berhasil.
    Klo jujur tapi tidak konsisten, Anda bisa gila.
    Klo jujur dan konsisten, Anda akan ………………………………………………….

  15. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Pak Wira, terima kasih.

    Semakin mencoba menjelaskan jawaban atas pertanyaan “siapa aku” ternyata ketemu “bukan Aku”. Aku bukan hanya karyaku, aku bukan hanya identityku, Aku bukan hanya apa yang kumiliki, Aku bukan hanya apa yang kupikirkan tentangku, aku bukan hanya gambaran orang lain tentangku, Apapun yang kukatakan tentangku bukanlah Aku yang sebenarnya, Aku melampui semua yang kuindrai tentangku.

    Aku si jelek, aku si elok, aku sekaligus si jelek dan si elok, aku melampaui keduanya.

    Aku si malas , aku si rajin, aku sekaligus si malas dan si rajin, aku melampaui keduanya.

    Aku si bodoh, aku si pintar, aku sekaligus si bodoh dan si pintar, aku melampaui keduanya.

    Sukses untuk Anda.

    Asep Haerul Gani

  16. wira says:

    Hahahahahaha . . . . . .
    Itu dia . . . .
    Maksud dari “Sering-sering merenung “siapa aku?” adalah pembuka jalan.”

    Saya juga menulis,
    Klo konsisten tapi tidak jujur , Anda tidak akan berhasil.
    Klo jujur tapi tidak konsisten, Anda bisa gila.
    Klo jujur dan konsisten, Anda akan …………………………………………………

    Coba lihat, Anda akan …………………………………………………
    Saya tidak menyimpulkan apapun.

    Atau saya coba menjelaskan dengan kata-kata(pikiran)
    Kita adalah Roh.
    Hidup dengan menggunakan Pikiran.
    Dan bersemayam dalam tubuh fisik.

    Sulit untuk menjelaskan Roh dengan kata-kata.
    Karena itu hanya bisa di mengerti dan di rasakan.
    Yang bisa sedikit saya jelaskan,

    Roh adalah Kasih Sejati.
    Ketika Anda hidup sebagai Roh, ke-aku-an akan hilang dengan sendirinya.
    Semua pertanyaan kehidupan langsung terjawab karena Anda telah menjadi Kebenaran.
    Anda akan hidup dalam SAAT INI.
    Anda tidak akan mengenal lagi arti segala jenis Penderitaan.
    Anda “melihat” apa adanya.
    Anda melihat Tuhan dimana-mana.

    Mmm .. . .
    Coba pikirkan . . .
    Kalau semua yang Anda mau langsung Anda peroleh. Apapun itu ! ! !
    Apakah yang menjadi tujuan hidup Anda.

    Klo Anda jeli, pasti Anda tahu jawabannya.

    Kenapa Kita sulit mencapainya.
    Karena kita hidup di dunia. hahahahahaha
    Yang menjadi penghalang adalah KEYAKINAN yg memiliki batasan yang bersumber dari KETERIKATAN dengan Ego.

    Terimakasih.

    God in Us And Blees Us

  17. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Pak Wira,

    Senang di penghujung tahun membaca tulisan seperti ini.

    Terima kasih.

    Asep Haerul Gani

  18. wibisono says:

    dear pak Wira,

    wahahahahahahahahahaha,……………..
    saya setuju tuhan ada dimana-mana, kita juga nga perlu tempat khusus dan bahkan (mungkin) waktu khusus untuk berinteraksi dengannya………………

  19. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Pak Wira dan pak Wibisono,

    Hanya karena Tuhan berada di mana-mana, tentu tidak berarti kita pasti berinteraksi denganNya. Seberapa diri kita berinteraksi denganNya maka apapun yang kita indrai tidak ada yang bukan perwujudanNya.

    Kesadaran akan interaksi dan Interaksi akan kesadaran menjadi penting, sehingga kita dapat embedakan apakah saat ini saya sedang berada dalam Tuhan atau malah dalam genggaman Hantu.

    Selamat menemuka Tuhan di dalam diri.

    Asep Haerul Gani

  20. Amim says:

    Kang asep yg di rahmati Allah.
    Skr sy sdh mengikuti bbrp pelatihan motivasi & belajar sendiri dasar2 NLp & hypnoterapi. Namun sy heran dg diri sendiri kadang outcome yg sy kehendaki kebanyakan tidak sesuai dgn harapan pdhal sudah menerapkan LOA, visualisasi dan afirmasi.
    Apa kurang berlatih ya….? krn sy gunakan untuk keinginan yg benar2 urgen.
    Apalagi sy kan wirausaha sejak 2 bln setelah keluar jd karyawan, sy hrs menafkahi keluarga dan beli rumah (saat ini kontraktor kang asep … kontrak sana,kontrak sini sampe malu sama saudara sendiri).

    Tlg kang asep beri sy saran agar sy termotivasi mengarungi hidup dan sekaligus berikan teknik (sbg bagian ikhtiar kan?) NLPnya…

    Thank…
    Wassalam

  21. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Pak Amim yg di rahmati Allah.

    “sy heran dg diri sendiri kadang outcome yg sy kehendaki kebanyakan tidak sesuai dgn harapan pdhal sudah menerapkan LOA, visualisasi dan afirmasi”.

    Pak Amim, analogi dengan pekerjaan kontraktor, saat mereka mendapat order dari pemesan pembangunan Gedung, mereka menerjemahkan keinginan pemesan dengan membuat blue print gedung yang akan dibangun. Mereka sadar betul bahwa BLUE PRINT bukanlah GEDUNG. Blue print adalah semacam visi dan gambaran gedung yang akan dibangun.

    Sekedar membuat blue print belumlah berarti membangun gedung.
    Sekalipun blue print nya baik, tentu saja tidak akan menjadi sebuah gedung bila tidak dilanjutkan dengan ACTION membangun gedung. Tahapan-tahapan, dan proses-prosesnya pun perlu dirancang juga dilakukan, sehingga perlahan-lahan gedung tersebut jadi.

    Wellform outcome (NLP), LOA menurut pendapat saya adalah bermanfaat pada taraf pembuatan VISI hidup. Untuk membuat itu maujud (menjadi bukti nyata) hal yang teramat penting disiapkan ACTION PLAN untuk mencapainya, dan dilakukan Monitoring dan Evaluasi kemajuannya, sehingga perlahan dan pasti Outcome yang dirancang dapat tercapai.

    Walt Disney sudah membayangkan Disneyland (Disneyland dibangun setelah dia meninggal dunia), dan Walt Disney membuat Outcome nya itu terejawantahkan dalam langkah-langkah dan proses-proses nyata sehingga orang berikutnya mampu mewujudkan outcome nya. ]

    Semakin urgent Anda memiliki outcome, semakin urgent pula Anda perlu menyiapkan langkah-langkah dan proses untuk menuju outcome, dan semakin urgent pula anda untuk komit melakukan monitoring pencapaian outcome dan menentukan tindakan perbaikan sehingga outcome dapat diraih.

    Membuat outcome tanpa membuat cara mencapainya dan melaksanakan cara yang sudah dirancang, belumlah termasuk WELLFORM OUTCOME. Ibarat Anda akan pergi ke suatu tempat, namun belum merancang rute yang harus ditempuh dan juga tidak beranjak dari kursi nyaman Anda.

    Selamat merancang dan bergerak mengaah menuju outcome Anda.

    Thanks, Wassalam

    Asep Haerul Gani

  22. Albert Herdie says:

    Dear Pak Wira, Pak Wibisono & Pak Asep,

    Waktu belajar dulu, “Orang Tua” saya bilang, “Tuhan/Allah kagak pernah ninggalin umatnya, kemana juga diikutin, ke Masjid, Gereja atau ke rumah judi dan rumah bordil sekalian! Seberapa juga kita disayang orang, begitu Allahnya ninggalin, semua juga ‘ngusir’, buru-buru disuruh ‘pergi’ dari rumah!”

    Sayangnya memang susah menjadi serendah hati (baca: meniadakan/menyangkal diri) seperti Syekh Siti Jenar yang berujar, “Tidak ada aku, yang ada adalah Allah.” Emang susah memahami apalagi menyadari sifat imanen (selalu ada dalam ciptaanNya) Tuhan. Butuh benar-benar merdeka, “belajar mati sebelum mati” untuk bisa sadar “Yang mengenal dirinya, Yang mengenal TuhanNya” atau “Aku adalah jalan dan kebenaran yang Hidup!”, sehingga tidak lagi terjebak dualitas dan ilusi materi dan menyalahkan orang lain (termasuk setan dan hantu) atas apa yang (harus) terjadi pada kita serta justru bisa “sangkan paraning dumadi”.

    Mudah-mudahan NLP & segala variantnya bisa jadi alternative vehicle untuk mengenali kesejatian dan ‘life in happily ever after’.

    Matur Sembah Nuwun

  23. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Pak Albert Herdie, Terima kasih telah menyumbangkan kesadaran untuk menerima tanpa menilai. Tidak mudah meleburkan diri dalam DIRI, apalagi sejak kecil dikondisikan untuk memuja diri.

    Terima kasih, Semoga Bahagia.

    Asep Haerul Gani

Leave a Reply