“Pacaran itu tidak ada gunanya.”
Demikian yang pernah saya pelajari sewaktu aktif di aktivitas organisasi kerohanian dulu. Sekalipun saya tahu bahwa kalimat tersebut bersumber dari ajaran agama, saya masih belum benar-benar paham maksud dari ajaran tersebut. Pun, meskipun saya tahu bahwa pasti ada maksud baik dari ajaran tersebut, saya masih juga berpacaran selayaknya remaja pada umumnya.
Bagi saya dan teman-teman pada waktu itu, pacaran adalah sesuatu yang sah saja, asalkan dijalani dengan rambu-rambu yang tidak melanggar norma. Pacaran, selayaknya sebuah budaya di kalangan orang muda, dilakukan antara lain sebagai sebuah proses pengenalan dan pembelajaran sebelum pada waktunya nanti memutuskan untuk hidup berumah tangga dalam sebuah pernikahan. Meskipun memang, tidak semua remaja yang berpacaran memiliki rencana sejauh itu. Cukup banyak yang menjalani sebagai bentuk tren semata.
Saya pun mencoba untuk merenungkan alasan yang pertama beberapa waktu belakangan ini. Meskipun sudah menikah, saya merasa perlu memikirkan hal ini, mengingat suatu saat anak saya pun akan beranjak dewasa dan bisa jadi ingin mengikuti tren berpacaran ini.
Saya memulai dengan melihat dengan lebih cermat ajaran yang mengatakan pacaran itu tidak berguna. Menurut ajaran agama ini, orang yang sudah betul-betul ingin dan siap menikah, selayaknya meluruskan niat dan mencari pasangan yang cocok. Dalam proses pencarian yang cocok inilah, ia diperbolehkan untuk saling kenal-mengenal calonnya, dalam rambu-rambu yang ketat untuk menjaga kesucian keseluruhan proses pencarian jodoh dan pernikahan itu sendiri. Jodoh, dalam pandangan agama adalah sesuatu yang telah digariskan sejak kita lahir. Tugas seseorang sebenarnya bukanlah mencari jodoh, melainkan menyambut jodoh yang pada waktunya pasti akan muncul dengan sendirinya. Mencari jodoh, adalah sebuah perjalanan emosional dan spiritual, yang mengandalkan kepasrahan kepada Tuhan. Sebuah cara yang agak sulit diterima oleh mereka yang memang belum mencapai tingkat keimanan setinggi itu.
Masih dalam pencarian, saya pun mencermati pula alasan di balik keinginan orang muda untuk berpacaran, dengan alasan ingin saling mengenal lebih dalam. Berbeda dengan ajaran agama tadi, pendekatan pacaran memang lebih menggunakan sisi rasional, dengan mengadakan berbagai audit yang dalam budaya Jawa disebut dengan 3B (bibit, bebet, bobot). Pacaran adalah proses untuk menemukan rasa yakin akan ketepatan pilihan. Seorang gadis yang memiliki pacar, misalnya, biasanya akan melakukan berbagai tes ala reality show sehingga ia bisa melihat keseluruhan respon dari sang pacar terhadap berbagai situasi. Jika secara keseluruhan hasilnya dirasa memuaskan, maka ia pun merasa yakin untuk memilih sang pacar menjadi pasangan hidupnya.
Namun demikian, ada satu tantangan yang belum bisa terpecahkan dengan metode pacaran ini. Sebuah tantangan yang umumnya muncul setelah 2 orang menikah dan menjalani kehidupan selama beberapa tahun. Kalimat klasik pun muncul, “Waktu pacaran dulu, dia perhatian sekali sama saya. Entah mengapa sekarang ia tidak lagi seperti itu.” Mengingat proses pacaran yang di dalamnya terdapat berbagai audit tadi, tantangan ini cukup menggelitik untuk saya pecahkan.
Jadilah, saya kembali menelusuri pelajaran hidup yang saya dapat dari NLP. Dan seperti biasa, NLP selalu menghadirkan kembali makna-makna baru dari berbagai hal yang sudah pernah saya pelajari sebelumnya. Setidaknya ada beberapa hal dalam NLP yang bisa kita jadikan jembatan antara kedua pendekatan di atas.
Beberapa presuposisi NLP rupanya menghadirkan sebuah pencerahan dalam proses pencarian jodoh dan pengambilan keputusan.
Saya menciptakan realita saya sendiri. Jika saya percaya, maka saya akan melihatnya
Bukan fokus pada keputusan mana yang benar atau salah, melainkan mana yang paling bermanfaat
Kita mengevaluasi segala sesuatu berdasarkan konteks dan ekologi
Keputusan selalu diambil berdasarkan pilihan terbaik yang dipunyai pada saat itu
Meyakini presuposisi ini, saya jadi paham bahwa mencari jodoh selalu berawal dari keyakinan. “Seberapa yakin Anda akan menemukan jodoh Anda? Kapankah Anda akan menemukannya?” adalah 2 pertanyaan yang selayaknya diajukan bagi para pencari jodoh untuk dapat menciptakan realita mereka akan jodoh yang diinginkan. Jika sudah yakin seperti ini, maka yang perlu dilakukan selanjutnya hanyalah pasang mata, pasang telinga, dan mulailah merasakan sekiranya sang jodoh ada di sekeliling.
Sisi lain, saya pun ngeh bahwa kata ‘cocok’ hanyalah sebuah nominalisasi dari suatu proses yang ada di dalamnya. Menggunakan Meta Model dan Wellformed Outcome, pertanyaan yang kemudian bisa diajukan adalah, “Darimana Anda tahu bahwa Anda sudah menemukan jodoh Anda? Apa yang akan Anda lihat, Anda dengar, dan Anda rasakan ketika Anda sudah menemukannya?”
Dilanjutkan dengan metode perumusan kriteria, jadilah proses mencari jodoh menjadi sebuah perjalanan yang lebih jelas petanya, dan tidak akan ‘nyasar’ ke berbagai calon pasangan terlalu lama yang hanya akan menimbulkan frustasi pada akhirnya. Tinggal ajukan pertanyaan, “Apa yang paling penting dari seorang suami/istri? Apa lagi? Di antara kriteria yang telah disebutkan, mana yang lebih penting? Setelah itu mana yang penting lagi?”
“Tampaknya saya sudah menjalankan proses yang kurang lebih sama, tapi mengapa saya masih merasa ada orang lain yang lebih baik dari suami/istri saya sekarang?” demikian barangkali ujar beberapa orang.
Di titik inilah, presuposisi kedua di atas menjadi berguna. Memilih pasangan hidup tidak ada hubungannya dengan benar dan salah, karena apa yang kita anggap benar saat ini bisa jadi salah di saat lain. Begitu juga dengan sesuatu yang kita rasa salah di masa lalu, bisa jadi justru menjadi pelajaran berharga bagi kita di saat ini. Kalau sudah begini, sang pencari jodoh selayaknya memfokuskan pada pilihan yang paling bermanfaat. Bermanfaat seperti apa? Tentu bermanfaat bagi pencapaian kehidupan yang diinginkannya di masa depan dengan sang pasangan hidup. “Seperti apa hidup yang Anda inginkan? Jika itu yang Anda inginkan, pasangan seperti apakah yang paling tepat untuk mencapai hidup yang seperti itu?”
Dan, at the end of the day, ingatlah bahwa tidak ada sebuah keputusan yang tepat seratus persen seumur hidup. Dalam perjalanan, amat wajar jika kemudian seseorang merasa ada sebuah pilihan yang ‘lebih baik’ daripada pasangan yang ia miliki sekarang. Wajar, sebab setiap keputusan memang dibuat berdasarkan pilihan terbaik yang tersedia saat itu. Jika ini yang kemudian terjadi, maka ingatlah bahwa kita selalu mengevaluasi berbagai hal berdasarkan konteks dan ekologi. Kalau pasangan Anda saat ini dirasa sudah tidak sesuai lagi dengan konteks saat ini, bukankah pasangan Anda yang baru pun bisa jadi tidak sesuai dengan konteks masa depan? Dan, bukankah juga Anda bisa jadi tidak sesuai lagi dengan konteks masa depan baginya, untuk kemudian Anda ia tinggalkan?
Mana yang lebih ekologis, mengatakan secara terus terang kepada pasangan Anda bahwa Anda ingin meninggalkannya untuk mencari pasangan lain, atau menjalani sisa hidup dengan membuat diri Anda bahagia dengan pasangan yang sekarang? Toh, Anda yang menciptakan realita Anda sendiri. Bukankah bahagia itu pun bisa Anda ciptakan sendiri pula?
Nah, kalau sudah begini, saya yakin akan semakin sedikit perawan dan perjaka tua di dunia ini, yang takut dan ragu mengambil keputusan untuk segera menikah. Saya juga yakin, akan semakin sedikit pasangan yang tidak bahagia, kemudian lirik kiri-kanan hanya demi menemukan pilihan yang dirasa lebih baik.




















pacaran tak berguna, wah mas rasanya tulisan ini bisa mudah dimengerti untuk kita2 yg sudah maried. kenyataannya temen saya nggak dapet2 jodoh, padahal segala macem teori nlp sdh kasih tau, saya sampai bilang kenapa dia bisa mencintai anjng kesayangannya yg jelas2 binatang yg cuma punya insting, knp begitu susah mencintai orang yg memiliki otak yg begitu sempurna? mungkin krn dia terlalu pemilih ya atau dia belajar nlp dari guru yang salah ya he he he
salam nlp
Pak Pratomo,
Kan di NLP ada presuposisi, “Tidak ada kegagalan, hanya PEMBELAJARAN”. Dan, juga ada pilar fleksibilitas.
Saya yakin, kalau diterapkan, maka teman Bapak itu akan menemui jodohnya dalam waktu dekat.
Topik yang menarik Mas Teddi…
Dari pengalaman pribadi menjadi ilmu!
Sedep, mantep Mas!
Tiba-tiba muncul ingatan teman saya yang suka punya “pikiran usil…”
Menurut dia, bukan 3 B tapi 5 B :
Bibit
Bobot
Bebet +
Babat
Bubut
Babat :
Kalau sudah naksir orang…, langsung Babat saja dulu….
Hah…? Maksudnya langsung nembung saja, ngaku naksir, jangan ditunda-tunda. Tembak! Proklamasi, Pengakuan, Testimoni, atau apapun istilahnya….
Kemudian berproses…, tidak penting namanya apa, pacaran atau jalan bareng.
Sebab semakin ditunda ngungkapin, maka semakin cinta terpupuk…, dan biasanya laki-laki semakin ragu ngungkapin cinta…, makin takut ditolak…
Nah, proses berjalan memupuk cinta ini menjadi mantep, karena kedua pihak tidak menebak-nebak maksud dari pasangannya, karena sudah ngaku emang naksir.
Jadi babat saja!
Hihihi
Bubut
Kalau mesin bubut, gunanya untuk menggerus suatu permukaan benda agar menjadi lebih rapi dan halus.
Jadi setelah di Babat, asupan cinta kasih harus terus disiram, agar hubungan menjadi semakin rapih, semakin halus, semakin smooth…
Wis ah guyonane…, temanku itu memang paling playboy dan kucing garong…
Oya mas, dulu saya pernah lihat buku tulisan Andrew Bryant, kalau gak salah judulnya semacam “NLP for Flirt”, ini jelas-jelas versi lebih halus dan elegan dari SS nya RJ.
Gimana kalu Mas Teddi menulis dalam versi bahasa Indonesia, tentunya bakal jadi hit baru.
Kayaknya topik ini belum banyak disentuh secara NLP di Indonesia.
Saya tunggu ya Mas…
Ronny FR
Mas Teddi…; dari dulu kalo’ orang bilang PACARAN,..ane masih belum jelas tuh…, pacaran yang gimana sih?…..komitmen?jalan2?dll,dll,…bias ambigu banget ane dengernya…; tapi kalo’ bicara yang melibatkan hati, cinta lawan jenis….emang indah berbunga2 ye….; jadi pacaran emang nlp banget gitu loh…; tanya HATI…unconscious…, kayak 6step reframing donk ya?….
Mantaf Mas Ted….
Ditunggu artikel2 praktis dalam kehidupan sehari2 LAINNYA mas Ted..
Salam,
kun
pengendus nlp
NLP for Flirt, buku bagus kedengaranya! bisa dapat dimana ya?
Wah…sudah lama tak menengok artikel ini, rupanya ada komentar2 yang menarik.
Thanks Pak Ronny. Insya Allah, salah satu buku yang sudah saya buat list untuk ditulis adalah untuk membangun keluarga sakinah. Jadi goal-nya bukan untuk sekedar merayu atau pacaran. Goalnya ya untuk membentuk keluarga.
Dan ilmu merayu akan jadi bagian penting, setelah seseorang secara sah menjadi suami istri. Ya, sebab justru saat sudah jadi suami istri itulah ilmu ini lebih dibutuhkan. Agar setiap hari selalu berbunga2. hehehe…