Portal NLP ™

Membebaskan Belenggu Pikiran Dengan Neuro-Linguistic Programming

Posted by Teddi P. Yuliawan On August - 28 - 2008 12 Comments

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

 

Menjelang puasa, nuansa ruhani dan spiritual semakin mengelilingi kehidupan saya. Bulan magis ini memang luar biasa. Disebut sebagai bulan kemarau, agar orang tidak silau dengan kemudahan, dan menarik makna dari ‘kesulitan’.

 

Baru saja saya selesai mengisi kelas 2 hari tentang aplikasi NLP di bidang rekruitmen, saya pun mendapatkan ilmu baru. Bermula dari kebiasaan saya untuk menerangkan apa itu NLP, sebuah ilham pun hadir di hadapan.

 

Neuro-Linguistic Programming, ia disebut demikian, karena sebuah alasan. Neuro dan Linguistic, selalu dihubungkan dengan sebuah “-“, karena keduanya saling berkait. Neuro, alias saraf, adalah bahan baku dari pikiran dan perasaan. Dan, melalui penguasaan bahasa, kita bisa melakukan intervensi terhadap susunan saraf itu, yang otomatis berdampak terhadap pikiran dan perasaan yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, kita bisa melakukan programming pada pikiran dan perasaan, juga re-programming jika program yang lama sudah tidak sesuai dengan kondisi yang kita alami.

 

Dari sini, bahasa pun menjadi titik sentral bagi penentu state, alias kondisi pikiran-perasaan yang kita alami. Ubah bahasanya, state pun berubah. Katakan sesuatu yang baik, state pun menjadi baik. Katakan sesuatu yang buruk, state pun menyesuaikan. Tidak mengherankan, orang-orang sukses adalah mereka yang punya tabungan kosa kata baik lebih banyak daripada mereka yang sengsara. Dan, orang-orang biasa serta orang-orang gagal adalah mereka yang pakar dalam mengumpulkan kosa kata negatif.

 

State, pada akhirnya akan menjadi penentu perilaku yang akan kita munculkan. State positif, maka orang berhutang pun akan kita hutangi. State negatif, maka kita pun akan getol menagih hutang. Maka, kunci memunculkan perilaku yang baik adalah memunculkan state yang positif, yang kuncinya adalah memprogramkan bahasa yang positif. Dan, bukankah manusia dinilai dari apa yang ia lakukan? Maka bisa dikatakan, letak kesuksesan adalah pada kata-kata yang kita programkan pada diri kita setiap saat.

 

Saya pun teringat pada pertanyaan saya pada suatu waktu di masa lalu, tentang begitu banyaknya doa yang diajarkan kepada manusia. Doa sebelum makan, sesudah makan, mau tidur, bangun tidur, mau buang air, mau keluar rumah, mau naik kendaraan, mau bekerja, mau berbicara di depan umum, dan seterusnya.

 

Ah, saya baru sadar maknanya. Ia tidak sekedar doa, yang dijalankan sebagai sebuah sunnah. Ia adalah sebuah cara yang diberikan Tuhan, agar manusia senantiasa berbuat baik. Bukankah kata-kata menjadi penentu state, dan state adalah penentu perilaku? Dan bukankah tidak ada kata-kata yang lebih mulia daripada yang diajarkan oleh Tuhan melalui Nabi-Nya? Maka mengucapkan doa sebelum makan, sejatinya adalah memunculkan state yang tepat untuk makan, sehingga memunculkan perilaku makan yang sehat dan bermanfaat bagi diri kita. Mengucapkan doa setelah makan, adalah memastikan kita berada dalam state yang tepat untuk mengakhiri makan, sehingga tubuh kita siap mengolahnya. Membaca doa sebelum tidur adalah memunculkan state yang tepat untuk tidur, sehingga memunculkan perilaku tidur yang bisa menyegarkan diri serta mengembalikan tenaga kita. Membaca doa naik kendaraan, adalah menciptakan state yang tepat untuk mengendarai kendaraan, sehingga memunculkan perilaku yang aman bagi diri sendiri dan orang lain.

 

Subhanallah! Sungguh mulia cara menakjubkan cara Tuhan menjaga ciptaan-Nya.

 

Saya pun penasaran, bagaimana rasanya jika saya mengucapkan doa secara kongruen, sesuai dengan yang diajarkan oleh NLP? Jadi, tidak sekedar membaca tanpa penghayatan seperti yang biasa saya lakukan.

 

Hasilnya? Subhanallah! Luar biasa! Jauh, jauh lebih menenangkan. Saya berkendara dengan lebih tenang, sesemrawut apapun kondisi jalan. Saya makan dengan lebih sabar, alih-alih terburu-buru seperti yang biasa saya lakukan. Dan, semuanya itu berjalan begitu alami.

 

Hmm…saya penasaran, apa lagi yang akan saya dapatkan pada bulan Ramadhan tahun ini?

 

Anda juga? Mari belajar dan berbagi bersama.

 

Dan sebelumnya, saya memohon maaf, atas segala kekhilafan yang telah saya lakukan kepada Anda. Mudah-mudahan kita semua berada dalam state yang tepat untuk berpuasa dan akan memunculkan perilaku yang lebih baik setelah menjalaninya.

 

Taqabbalallahu minni wa minkum. Semoga Allah menerima ibadah saya dan, kita semua.

12 Responses

  1. marwoto adi says:

    Mas Teddi, trim ya uraiannya… dan insya’ Allah makin meresapi apa-apa maksud dand tujuan ari doa-doa kita…

    Trim

  2. Fadhil.ZA says:

    Betul mas Teddi do’a yang diucapkan akan membentuk state dan perilkaku pada seseorang. Selain do’a sebenarnya sholat juga akan membetuk state sesuai ayat atau kalimat yang dibaca. Sayangnya sebagian besar umat Islam tidak mengerti apa yang diucapkannya dalam sholat.

    Kalau kita mengerti kalimat yang kita baca dalam sholaat….sungguh dahsyat. Coba perhatikan bacaan do’a sesudah sujud ” Robbigfirli…ya allah ampuni aku, warhamni…rahmati aku…wajburni…tutupi semua keburukanku….warfa’ni…angkat derajatku….warzuqni…beri aku rezeki…wahdini beri aku petunjuk….wa’afini…beri aku kesehatan….wa’fuanni….maafkan aku…. Namun sayang kebanyakan orang membacanya sambil ngebut dan tidak mengerti.

    Seluruh bacaan sholat adalah kumpulan kalimat yang dapat memunculkan state yang dahsyat pada diri seseorang asal ia mengerti apa yang diucapkannya dalam shalat itu, yang dikenal denga istilah shalat khusuk. Hanya sayangnya saat ini sedikit sekali dari umat Islam yanmg mengerti dan paham apa yang mereka ucapkan dalam shalatnya itu. Kebanyakan akibat nggak ngerti fikirannya jadi ngelantur kemana mana dalam shalat. ….sayang sungguh sayang.

  3. Pak Marwoto, semoga bermanfaat. Silakan dibagikan bagi siapa saja yang membutuhkan.

    Betul Pak Fadhil. Hanya saja, saya masih punya sebuah kecurigaan. Bahwa kata2 mulia dalam doa baik yang diajarkan oleh Al qur’an atau Hadits, tetap memiliki efek terhadap state, sekalipun tidak dipahami maknanya. Asalkan, ia diucapkan dengan kesungguhan. Ini masih dugaan saya saja, yang amat yakin akan kebenaran dan keampuhan kalimat2 mulia tersebut.

    Salam,

    Teddi

  4. Fadhil.ZA says:

    Betul mas Teddi, walaupun sebagian umat Islam tidak mengerti apa yang dibaca namun gregetnya masih ada, karena didorong oleh keyakinan mereka dalam sholat. Namun gregetnya akan lebih dahsyat jika mereka mengerti dan paham dengan apa yang mereka baca. Sebenarnya Allah juga sudah menegur orang beriman dalam surat An Nisa ayat 43, agar mereka mengerti setiap kalimat yang mereka ucapkan dalam sholat…….Hai orang yang beriman janganlah kalian mengerjakan sholat ketika sedang mabuk (akibat minum khamar) hingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan…..Nah orang yang nggak ngertti ucapannya ketika sholat diserupakan dengan orang yang mabuk.

    Untuk meningkatkan mutu kehidupan umat Islam saya setuju banget dengan metode sholat khusuk yang saat ini dikembangkan bapak Abu Sangkan. Mungkin ini bisa membentuk state yang baik dan prima bagi yang melaksanakan sholat khusuk tersebut.

    Kalau ada waktu silahkan mampir kepondok saya mungkin kita bisa sharing untuk mengembangkan sholat khusuk bagi saudara kita yang lain

    Salam hangat kembali.

    FadhilZA

  5. heksayad_i says:

    kongruen itu mas?
    aq belum ngerti banget.

  6. Abi says:

    Dear mas Tedy,

    Artikel tentang doa nya bagus bgt apalagi pas momen nya di bulan Ramadhan. Ngomong2 mas aku minta izinnya ya mengutip tulisan mas Tedy di Blog ku. Tapi tetep disebutkan sumber tulisannya.. mohon koreksinya kalau ada salh2 kata.

    trims…
    Wassalam

  7. fahmy says:

    Makasi mas Ted,tapi saya harap mas lebih detil lagi supaya kami juga bisa merasakan apa yang mas Ted rasakan, Salam Street Smart NLP !!!

  8. Halo Heksayad…

    Kongruen itu sama dan sebangun. Alias apa yang dikatakan sesuai dengan cara mengatakannya.

    Halo Abi…
    Tentu. Silakan dikutip, dan semoga bermanfaat.

    halo Fahmy…
    Sama2…sedetil apakah yang dimaksud?

  9. Abi says:

    Tengkyu mas Tedy..:)

  10. Fadhil.ZA says:

    Ass wr wb

    Mas Tedy salah satu syarat untuk khusuk dalam sholat adalah menyatunya antara ucapan, fikiran dan perasaan (hati). Apakah ini bisa juga disebut dengan istilah kongruen diatas. Soalnya dewasa ini saya banyak mengamati orang yang sholat tapi antara ucapan, fikiran dan perasaannya nggak nyambung. Mulutnya ngomong A, fikirannya membayangkan B dan hatinya merasakan C…hasilnya yaa.. nggak khusuk.

    Trima kasih

  11. Waalaikumsalam wr. wb.

    Betul sekali Pak Fadhil. kongruen itu ya yang demikian itu. Bagi yang belum bisa merasakan kenikmatan shalat, coba deh berlatih sederhana saja. seperti, mengucapkan bacaan2 sholat sesuai dengan maknanya.

    Allahu Akbar, dan bayangkan, dengarkan, dan rasakan kebesaran Allah, melalui jagat raya yang begitu luas tak terhingga, sehingga kita menjadi begitu kecil.

    Itu saja sudah akan memberikan efek yang berbeda, karena membayangkan, mendengarkan dan merasakan kebesaran Allah jelas akan mengantarkan kita pada state merasa kecil dan bersyukur akan karuniaNya yang tak terbatas.

  12. maryam ahmad says:

    saya juga sependapat, makanya Al-Qur’an menyampaikan pertanyaan yang retorik, apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? jadi yang memiliki ilmu(pemahaman yang dalam) dari bacaan sholat, efect yang akan diperoleh akan berbeda dengan yang tidak. Meskipun kita juga tetap berkeyakinan, walaupun kita belum tahu maknanya, tetap saja ada dampak nagi yang mengerjakan meski berbeda, karena itu merupakan instrumen yang disiapkan Sang Khaliq untuk melatih manusia tunduk pada aturannya. Melatih pada posisi sebagai hamba yang harus tunduk atas perintahnya.

Leave a Reply