Portal NLP ™

Membebaskan Belenggu Pikiran Dengan Neuro-Linguistic Programming

Posted by Mariani NG On January - 2 - 2009 7 Comments

Krisis ekonomi global, secara tidak langsung sudah kita bawa menjadi krisis pribadi. Betapa tidak. Membaca koran tentang krisis global di Amerika mengingatkan kita tentang krisis bangsa Indonesia di tahun 1998, dimana banyak bank tutup, PHK di mana-mana, terjadi banyak pengangguran, keadaan politik yang tidak stabil, kerusuhan. Kejadian di tahun 1998 menjadi trauma bagi kita dan kejadian di Amerika saat ini seakan membawa trauma itu kembali dalam hidup kita.

Kita sudah membayangkan kesulitan demi kesulitan yang sama yang akan terjadi padahal sesungguhnya belum kita alami. Hanya dalam pikiran kita, belum terjadi secara kenyataan. Tapi secara psikis, kita sudah merasakan apa yang seakan pasti terjadi; sepinya dagangan – uang yang semakin ketat – PHK – kredit macet, belum lagi ditambah pemilu di tahun yang sama, tahun 2009 mendatang.

Ada rasa waswas kita akan menjadi bagian dari orang-orang yang di-PHK, rasa waswas akan terulang kembali kejadian yang sama dengan tahun 1998. Perasaan yang tadinya semangat dan optimis dalam bekerja kini berubah menjadi pesimis dan waswas penuh curiga, jangan-jangan kita yang di-PHK. Jangan-jangan bonus berkurang, jangan-jangan tahun depan tidak ada kenaikan gaji, jangan-jangan …… seribu satu pikiran ‘jangan-jangan’ dan berbagai prediksi yang berakhir pada kecemasan. Mereka yang buka usaha sendiri mulai merasa cemas karena tahun 2009 ‘kelihatan’ akan sepi dagangan, banyak yang di-PHK, uang menjadi ketat, dan seterusnya.

Tanpa sadar, secara psikis kita menjadikan apa yang belum terjadi menjadi kenyataan, paling tidak kita sudah merasakan perasaan waswas dan pesimis itu secara nyata padahal kejadian-kejadian tersebut belum terjadi. Hal ini akan berpengaruh langsung pada produktifitas kerja sehari-hari. Kesibukan di akhir tahun berubah menjadi kesibukan super extra untuk menghadapi kesulitan di tahun 2009 nanti. Business plan yang disusun bukan lagi tentang bagaimana mengembangkan profit dan mencapai target, tapi lebih pada bagaimana untuk bertahan. Masing-masing personal kembali ke rumah dengan membawa serta perasaan waswas tadi, sambil bersiap diri menghadapi tahun 2009 yang penuh tantangan.

Kumpul keluarga yang biasanya ceria mulai berkurang ketika kepala keluarga mulai membawakan misi bersiap diri tadi. Makan malam dimembahas tentang ‘rencana’ krisis yang bakal terjadi di tahun mendatang. Perlu berhati-hati memakai uang, banyak usaha yang bakal tutup, bakal terjadi PHK, bakal banyak pengangguran, keamanan yang mulai bergoyah, dan seterusnya, dan seterusnya. Suatu ajakan untuk berhati-hati diakhiri dengan rasa cemas dan pesimis menghadapi pergantian tahun. Istri yang selama ini mengurusi keuangan rumah ikut merasa was-was dalam berbelanja. Anak-anak mulai merasakan cemas karena uang jajan akan berkurang, rasa tidak aman di jalan, dan pesimistis dari kedua orangtuanya.

Krisis global-pun kini beralih menjadi krisis keluarga.
Seorang ayah yang tadinya banyak bercanda sekarang mulai banyak mengkerutkan dahi. Ibu yang tadinya banyak senyum sekarang mulai berkeluh kesah. Supir dan pembantu jadi kena sasaran, akhirnya ikut-ikutan mengumpat sana sini. Anak-anak apalagi.

Perasaan berpengaruh besar terhadap pikiran seseorang. Ketika rasa cemas mulai menjalar, yang ada hanyalah ‘how to survive’, bagaimana bertahan agar tetap aman, tidak cemas. Orang itu akan sibuk berpikir bagaimana agar bisa lolos dari perasaan tidak nyaman tersebut, berdasarkan perasaan tidak nyaman pula. Ibarat mencari jalan keluar dari rimba kecemasan dengan kacamata cemas, tentu yang dilihat adalah cemas selalu; orang-orang yang cemas, urusan yang mencemaskan, kesempatan yang mencemaskan. Akibatnya menutup diri terhadap berbagai kesempatan di luar lingkaran itu, banyak peluang yang terlewatkan hanya karena ketidakmampuan untuk melihat secercah sinar terang melalui kacamata yang sudah keburu ditutupi kecemasan tadi.

Umumnya bila satu orang merasa cemas (termasuk waswas dan pesimis), orang-orang di sampingnya akan siap membantu, entah saat orang tersebut minta bantuan ataupun ketika orang di sampingnya melihat kebutuhan dibantu tadi. Tapi, ketika kecemasan yang tadinya hanya dimiliki oleh beberapa orang mulai menjadi collective anxiety, siapa yang bantu siapa? Jangan jangan satu sama lain malah saling mencemaskan …

Hahhh … saya membayangkan bagaimana kita akan menutup tahun 2009 nanti. Pada bulan Desember 2009, ketika kita melihat kembali apa yang telah dilakukan sepanjang tahun 2009 … apa yang akan kita katakan? Kemenangan? Atau keberhasilan? Berhasil? Berhasil bertahan? Berhasil memenangkan? Atau jangan-jangan, berhasil ikut-ikutan ….

Terus terang, tulisan inipun saya buat karena cemas dan waswas .. waswas karena banyak rekan yang sudah mulai pesimis, banyak rekan yang sudah mulai waswas menghadapi tahun 2009 nanti. Saya cemas atas kecemasan mereka.

Dalam setiap kesempitan selalu ada kesempatan. Di balik tantangan selalu ada peluang. Tinggalkanlah kacamata kecemasan tadi, rubah dengan semangat membangun bersama. Paling tidak, semangat untuk tetap optimis.

Semoga, optimisme ini menular secepat rasa cemas itu menulari satu sama lain.
Paling tidak, ingatlah akan satu hal. Bahwa krisis global bukanlah krisis pribadi. Jangan sampai itu terjadi.

Jakarta, medio Desember 2008
Mariani Ng

Categories: Dasar NLP

7 Responses

  1. bambang setiawan says:

    Ketika membaca tulisan ini, ‘metamodalities’ saya hidup. Saya melihat, mendengar dan merasakan kembali suasana pelatihan bersama guru saya, Bu Mariani. Tulisan ini sangat memotivasi saya sehingga saya pun merasakan perasaan saya bahwa krisis global bukan merupakan krisis pribadi. Setidak-tidaknya, saya tetap optimis untuk mempertahankan perasaan optimisme di tengah kewaswasan yang mungkin tengah dirasakan banyak orang. Kecemasan hanyalah sekedar ‘state’ mendahului yang ‘salah tempat’. Sebaiknya lakukan saja ‘uptime’, maka kita pun dapat berpikir tentang pikiran-pikiran yang jernih. Thks Bu Mar. Dinanti tulisan berikutnya…..

  2. kun says:

    Bu Mariani NG yang saya hormati,

    Terimakasih atas artikel menariknya, yang sangat membumi dan aplikatif ditengah2 krisis yng melanda dunia sekarang ini…

    Dalam bahasa china (yg saya dengar di TV),..krisis selain berarti ‘titik kulminasi’….juga berarti adanya HARAPAN…adanya KESEMPATAN..

    Life is alot of choices..
    Thinking is full of choices..

    Arrange Your Mind!..; gitu kata orang2 NLP..hehehhehe…

    Stephen Covey bilang : segala sesuatu yang ‘dari luar’ diri kita hanya berpengaruh 10% saja…; yng 90% nya adalah DIRI KITA SENDIRI..

    salam kenal dan hormat saya buat Bu Mariani..

    kun

  3. Arif says:

    Bu mariani…Artikle ini mengingatkan saya akan krisis pupuk dikalangan petani beberapa bulan terakhir,ada kecemasan dan kepanikan,pesimis dengan hasil,namun saat semua dijalani dan dilalui ternyata tidak seburuk yang kami bayangkan,walau pupuk langka sekadar untuk kebutuhan bisa terpenuhi..Cuma sekarang yang jadi pertanyaan bagaimana menetralisir kecemasan itu,karena terus terang hidup dengan kecemasan dan was was sungguh tidak enak..Makasih buat ibu mariani

  4. Fitri NL says:

    Terima kasih banyak Bu Mariani untuk artikelnya yang bagus sekali :)

  5. Asep Haerul Gani, Pengasuh Pondok Pesantren Hypnotherapy +6281510770666 says:

    Yth. Ibu Mariani Ng,

    Untungnya dalam kehidupan ada anomali, ada yang melenceng, ada yang diluar konvensi. Ada saja orang-orang yang tetap mampu memilih respon yang bahagia dan membahagiakan di tengah krisis ini, herannya justru bukan karena ia berkelimpahan dalam hal materi. Si papa yang fakir dan miskin dalam sisi materi, yang sudah terbiasa dalam hidup kekurangan justru belajar dengan arif dan berkelimpahan dalam budi.

    Puji Tuhan, Alhamdulillah, Saya masih dapat bertemu dengan pribadi-pribadi mulya seperti itu, dan ternyata banyak di sekeliling kita. Bila kita menggunakan kacamata cemas, apa yang kita lihat adalah kecemasan. Saatnya kita belajar lagi menggunakan kacamata yang tepat untuk dapat melihat yang kita inginkan.

    Kata mentor saya Mr. Lui Chee Won, dalam karakter China, kata krisis itu terbangun dari karakter yang berarti bahaya dan peluang. Saatnya belajar utuh untuk melihat kedua sisi sekaligus dan mengayun dari sisi bahaya ke sisi peluang-peluang yang dapat diciptakan.

    Sukses bagi kita semua di tahun 2009

    Asep Haerul Gani

  6. Irwan Yuliusmawan says:

    Bu Mariani,

    Meskipun kemarin saya menghadiri hanya tinggal setengah sessinya, saya merasa di-charge ulang, terutama metafora “Mulut-Mu Harimau-Mu” mengingatkan saya dan akan selalu saya terapkan setiap saat.

    Terima Kasih banyak, artikel bagus, penyampaian yang enak dicerna dan suasana kelas yang hidup dan familier.

    Kadang saya masih meragukan diri dan kemampuan diri saya sendiri. Kemarin pikiran sadar saya yakin Gak bakalan dapat door Prize, wong saya ngak ngasih kartu nama dan KTP.

    Alhamdulillah, eehhhh… malah dapat door prize PRE-SCAN PERSONALITY .

    Terima Kasih juga atas Door Prize nya.

    Sukses selalu Bu Mariani :)

  7. hade says:

    Bgaimana sebaiknya menghadapi krisis ini dari kacamata NLP ya….

Leave a Reply