Saat remaja dulu saya pernah membaca buku Mati Ketawa ‘ala Rusia, sebuah buku humor yang sukses meledak di pasar. Buku yang berisikan humor ini konon ditulis rakyat Rusia di jaman komunisme yang penuh tekanan. Rakyat yang tidak berdaya akhirnya hanya berani menciptakan guyonan-guyonan konyol untuk menertawakan nasib sendiri.
Salah satu kisah yang sangat melekat adalah kurang lebihnya sebagai berikut: Seorang wartawan ditangkap Polisi Rahasia karena menuliskan headline di koran berjudul “50% Politisi Rusia adalah penipu.” Lantas ia diminta merevisi judul itu, dan diancam jika tidak mau akan dipenjara seumur hidup. Singkat cerita, keesokan harinya ia mengganti headline korannya sebagai berikut “50% Politisi Rusia adalah bukan penipu.” Hahahaha, luar biasa! Kecerdasan linguistik yang amat menggelitik.
Well, saya sekarang sedang bersemangat sekali mengajak kawan-kawan untuk lebih mawas pada semua janji politik dan manuver-manuver yang sedang marak luar biasa di Indonesia. Sepertinya, akhir-akhir ini di seluruh dunia memang nampaknya kemampuan dan kesuksesan seorang politisi untuk terpilih akan sangat dipengaruhi oleh kepiawaiannya berkomunikasi menggunakan linguistic quotient-nya. Kemenangan Barrack Obama adalah salah satu tonggak kuat dalam catatan sejarah komunikasi politik. Terlepas komunikasi yang dipakai itu etis ataupun tidak. Dalam teori konspirasi, tidak ada yang namanya kebetulan, semua yang ada harus dicari keterhubungannya.
Nah, untuk memulai marilah kita lihat screenshot yang saya ambil dari detik.com beberapa hari ini, silahkan lihat di bagian warna merah mengenai polling SMS itu. Judul polling :
“Siapa yang paling pantas diajak Megawati sebagai Cawapres?” Sri Sultan HB X atau Hidayat Nurwahid.

Mari kita kaji fenomena ini secara linguistic dengan menggunakan NLP. Disiplin NLP menjanjikan pembelajarnya akan lebih cerdas secara linguistik.
Nah, sambil Anda mengingat kisah “50% politisi Rusia adalah penipu”, mari kita lihat kalimat “Siapa yang paling pantas diajak Megawati sebagai Cawapres”. Kalimat ini menyimpan beberapa asumsi (sesuatu yang yang tidak perlu dikatakan secara terang-terangan
kepada pembacanya), yakni :
1. Berarti salah satu pilihan adalah “tidak pantas”.
2. Yang “mengajak”, sudah lebih pantas dari yang “diajak”
3. Yang “mengajak” sudah pantas pada posisi RI 1
4. Megawati punya kapasitas / perlu dipertimbangkan sebagai “pengajak”
Nah, dalam bahasan NLP, kehadiran asumsi ini sering disebut sebagai presuposition, atau bahkan sering dikatakan sebagai stealth pattern. Hal ini disebabkan, ia hadir tapi tidak kentara keberadaannya. Saking tidak kentaranya, ia menyusup demikian saja ke bawah sadar komunikan, terutama jika ia tidak kritis. Dan umumnya masyarakat kita tidak kritis secara linguistik.
Nah, jadi polling di atas, memiliki peluang besar untuk “menanamkan” ke bawah sadar pembacanya minimal 4 asumsi di atas. Saya tidak tahu, apakah polling ini memang sengaja didisain oleh pihak tertentu untuk “menanamkan” ke 4 hal tersebut atau hal ini terjadi secara tidak disengaja. Yang jelas hasilnya toh sama saja, mau sengaja ataupun tidak, ke 4 hal tersebut akan masuk ke bawah sadar dengan diam-diam seperti siluman.ini memiliki efek hypnotic secara conversational.
Nah mari kita bandingkan bagaimana halnya jika dituliskan seperti ini : “Siapa yang paling cocok berpasangan dengan Megawati?” Dalam hal ini, apa saja asumsinya ? :
1. Megawati perlu pasangan
2. Pasangan bisa saja RI 1 atau RI 2
3. Ada yang cocok dan yang tidak untuk menjadi pasangan Megawati.
Nah, efek siluman yang masuk ke benak pembaca sih biasa-biasa saja, sebaimana disebut di 3 point di atas. Tidak ada suatu hal baru yang ditanamkan / tertanam.
Kiranya mudah disadari bahwa contoh yang diambil dari polling itu bukanlah membicarakan mengenai Partai tertentu, atau secara pribadi membahas Mbak Mega, Sri Sultan maupun Pak Hidayat. Tulisan ini adalah edukasi politik dari sisi linguistik NLP. Tentunya ini bisa menggunakan peristiwa apapun yang paling uptodate atau tengah berkesan di mata publik.
Latihan menyadari suatu gejala makna yang diam-diam menyeruak masuk ke rongga pikiran kita tanpa disadari. Well, satu latihan di atas saja mungkin sudah cukup mengagetkan buat kita.. Nah, ada berapa banyak gejala dan pengalaman yang Anda miliki setiap hari secara linguistik yang bisa mempengaruhi bahkan membahayakan kehidupan diri Anda?
Contoh bagaimana linguistik mempengaruhi hidup seseorang, di salah satu orang di internet, tertulis “Hidup terlalu pendek untuk dicemaskan, memiliki tatoo dong”. Pendapat saya ini tidak untuk mengadili si penulis, namun untuk membahas efek dari semboyan hidupnya ini lho…
Kalimat ini di NLP disebut memiliki bentuk Causal Effect, di mana kalimat memiliki kekuatan if-then yang menggiring logika pembaca unuk menyetujui kesimpulannya. Secara sugestif, kalimat di atas akan berpengaruh bagi orang yang setuju bahwa hidup ini pendek, maka ia merasa menjadi perlu memiliki tatoo. Tentunya pendapat setiap orang berbeda-beda mengenai tatoo, namun saya lebih suka kalimat ini : “Hidup ini terlalu pendek untuk disesalkan, pastikan tidak memiliki tatoo”.
Contoh berikutnya, saya menemui di salah satu web motto hidup seseorang “Kita hanya dapat mendengar jika kita dalam kesunyian”. Quotes ini aslinya dalam bahasa Inggris, dengan mengedepankan permainan huruf “SILENT” dan “LISTEN”. Well, mudah dipahami bahwa penulisnya memiliki limiting belief terhadap proses komunikasi. Keyakinannya ini berimbas, suatu rasa tidak mampu untuk mendengarkan apabila kondisi tidak sunyi.
Waaah, bukahkah tidak setiap saat kita bisa mendapatkan kesunyian pada saat kita seharusnya bisa mendengarkan? Bukankah jauh lebih asyik kalau kita mengembangkan kemampuan mendengarkan sekalipun kondisi tidak sunyi? Aduh, mungkin ini pula yang menyebabkan kandasnya perkawinan si penulis itu, sebuah kutipan itu menunjukkan indikator “communication breakdown”. Bukankah jauh lebih memberdayakan jika kita percaya, bahwa tidak hanya dalam kesunyian saja kita bisa mendengarkan? Sebab kehidupan riil tidak selalu memberikan kesunyian untuk kita setiap kita inginkan bukan?
Well, Mari kita lakukan percobaan… Bagaimana jika website Anda mengeluarkan suatu polling baru berjudul: “Siapa yang paling pantas mendampingi Anda sebagai pasangan hidup?” Nah, bagaimana feeling Anda sekarang… Tentunya lebih mudah dipahami khan…
Kecerdasan Linguistik
Saat saya mempelajari pertama kali mengenai Linguistik di Licensed Practitioner of NLP, saya langsung menyadari bahwa siapa yang menguasai linguistik dan dapat melakukan utilisasi dengan baik, dialah yang paling persuasif. Asumsi / presuposisi hanya satu dari buanyaaak sekali model bahasa yang dapat dipakai dalam melakukan sugesti.
Bahkan kenyataannya, belajar NLP akan menyelamatkan kita dari persoalan, karena kita tidak mudah lagi dibujuk / terbujuk orang lain yang mungkin niatnya kurang tulus. Melalui pengenalan pola bahasa linguistiknya, kita dapat membaca apa yang tersirat secara lebih conscious.
Melalui belajar linguistik NLP, kita dapat merancang kalimat-kalimat untuk berbicara dengan anak kita dari arah yang lebih memberdayakan, bukan menggunakan ancaman-ancaman dan gertakan sebagaimana sering dilakukan orang tua jika kurang sabar dengan anaknya. Mari kita gunakan ilmu linguistik untuk lebih cerdas dalam mensikapi janji politik…
Mari kita bantu masyarakat memahami kekuatan linguistik, agar tidak hanya menjadi sasaran empuk para persuader, seducer dan “promiser”.
Jika masa depan negara ini hanya diletakkan pada permainan linguistik saja. Alangkah menyesalnya kita nanti…




















Good…! dan Top Markotop…!, pilihan kata ini mudah2an ada efek neurologisnya. Sukses itu hanya permaian pikiran, dan pikiran (persepsi) sebagai dasar manusia bertindak, tidak lepas daripermainan bahasa. Siapa saja yang mengusai bahasa berikut cara mengutilasikannya, dialah manusia (politisi) sukses ?
Hari Rabu 11 Feb kemarin saya dan teman2 komunitas Hypnosis dan NLP Purwokerto bertemu dengan Mas Khirsnamurti di Toko Buku Gramedia Purwokerto. Senang sekali rasanya. Mas Ronny, kami tunggu datang ke Purwokerto.
Waidi Akbar
Mas Ronnya saya sudah download bukunya, terimakasih Guru!
Sukses selalu
Halo Mas Waidi..
Thanks atas tanggapannya. Saya setuju banget…
Jadi hari Rabu bertemu mas Krishna di Prwokerto ya Mas…, salam ya…
Lama nggak bertemu dengan Mas Krishna, padahal kawan-kawan sudah pada kangen pada tulisannya…
Salam juga untuk kawan-kawan di Purwokerto!
Saya bersyukur bisa belajar dari tulisan Mas Ronny yang ini dan yang akan datang…setiap kali saya membaca tulisan Mas Ronny saya merasa semakin bersyukur dan semakin bersyukur.Saya tidak tau persis hal apa saja yang akan jadi lebih baik, jika pak Ronny ikut terjun di dunia politik juga…he…he…
kira-kira pak Ronny akan jadi master trainer ikut mentraining bersama bandler kapan ya?
Makasih Mas Sangat menispirasi dan menantang untuk semakin memperhatikan presupposition dalam berbagai komunikasi sehari-hari….
Pak Hendri, terima kasih sudah mampir…
Saya juga bersyukur karena artikel ini bermanfaat untuk Anda, demikian juga semoga bagi yang lain.
Dari sisi indirect hypnosis, maka presupposition adalah yang paling basic dari seluruh proses hypnosis, inilah proses yang mendasari hampir semua terjadinya “self hypnosis”. Ingat semluruh hypnosis pada prinsipnya adalah self hypnosis.
Kapan saya menjadi Master Trainer mendampingi Bandler, muga-muga dapat terlaksana dengan baik harapan ini. Di dalam Society of NLP (SNLP), menjadi “Master Trainer” bukan melalui suatu pelatihan seperti di level Pract, Master Pract atau pun Trainer.
Mendapatkan Master Pract di SNLP seorang yang melalui pemberian langsung oleh DR Bandler atas prestasi dan kontribusi seseorang di ranah NLP.
Demikian, terima kasih
Mamang Mas Rony ini The Master nya NLP….wah saya jadi membayangkan seandainya CALEG-CALEG dan JURKAM di bekali ilmu NLP wah Gimana ya….he2x…?Jadi setiap apa yang di sampaikan oleh Mereka merupakan susunan linguistik yang sangat indah dan bisa terasa efek dari hypnotic secara conversational nya.
sehingga simapatisan akan Trance dan mungkin bisa meminimalisir kekerasan atau kericuhan saat mereka Berkampanye…
Artinya…Mungkin calon CALEG dan JURKAM WAJIB mengikuti NLP for Trainer 20 – 21 Februari bersama Mas Rony….
Ulasan yang sangatmenarik Mas Rony. Saya jadi teringat dengan dengan EMPAT mata sekarang jadi BUKAN Empat Mata….Jangan-jangan Mas ROny nih orang di belakang layarnya….Ha…Ha…..Salam Linguistik..
Halo Mas Fadli…
Hahaha, suwun Mas tanggapannya…
Mas,
Kita semua ini Master…, Master of our amazing Mind!
Dan NLP “hanya” alat untuk mengoptimalisasi Mind kita itu lho…
Wah,
Saya masih mikir-mikir untuk ngajarin Caleg dan Politisi…
Saya malah lagi cari semangat membuat tulisan yang langsung memberdayakan masyarakat…
Gimana Mas…
Lebih seru dan bermanfaat lho ya…
Dear Mas Daniel…
Thanks ya.
Apakah ini Mas Daniel Kurniawan? Lama nggak baca tulisan2nya…
Hahaha
Untuk BUKAN Empat Mata, BUKAN saya yang membuatnya kok Mas…
Salam Linguistik!
Saya jadi mikir ni mas.
Siapakah yang pantas jadi pasangan hidup saya
Keren Mas…
BTW, bagaimana kalau njawabnya ginnni:
Pantas belum punya jodoh… Mikirnya gittttu!
Salam Linguistic
Kang Mas Ronny,
“Menguasai linguistik menguasai dunia” itulah yang disampaikan Pangeran Charles dari Inggris saat dulu mampir ke Indonesia. Politik dan kekuasaan ibarat 2 sisi dari mata uang yang sama. Senjatanya lagi-lagi adalah linguistik.
Untuk menguasai negeri yang dulu dikenal Nusantara, penjajah mempelajari linguistik sekaligus foklore, metaphor dan mithologinya. Dan dengan sangat “cerdik”"mereka memanfaatkannya untuk kepentingannya. Naskah-naskah Nusantara yang ada dan diboyong oleh ilmuwan Belanda dan disimpan KILTV di Leiden University, Negeri Belanda adalah saksi sejarah mengenai hal ini.
Menyimak penggunaan linguistik dari sebagian anggota legislatif dan caleg di Televisi, tampaknya kita memerlukan waktu untuk menunggu Indonesia menjadi Raya dan Jaya.
Saya setuju dengan pendapat kangmas Ronny yang lebih tergerak memberdayakan masyarakat langsung ketimbang politisinya. Saya juga setuju dengan pendapat sebagian politisi bahwa menjadi aktor politik akan memberikan pengaruh besar untuk pemberdayaan masyarakat.
Mari kita tunggu dari para aktor politik, linguistik yang cantik, berdaya hipnotik, dan mampu menggelitik masyarakat hingga mau bangkit dan membuat dirinya, masyarakatnya dan bangsanya menjadi lebih baik.
Salam hangat dari Ciwandan,
Asep Haerul Gani
Halo mas Ronny. Sebetulnya saya pernah mendapat materi NLP for politician waktu ikut NLP4 Trainer di Hotel Sofyan. Saya sekarang sedang giat-giatnya memberikan training satu hari kepada para caleg. Bekalnya ya itu tadi, dari Mas Ronny, terutama reframing, up time (ini dari NS), Chunking, rep. system, dll. Makasih banyak mas, sudah memberikan banyak inspirasi u saya.
Hatur Nuhun Kang Mas Asep…
Luar biasa, tambahan informasi dari Anda semakin memperkaya kita semua akan pentingnya ilmu linguistic ini.
Menimbang background Mas, saya jadi terpikir bahwa rasanya pantas sekali, bahwa di dunia pesantren, keberadaan ilmu mantiq (semantik) menduduki posisi yang sentral dalam pembelajaran.
Salam linguistic
Halo Mas Bambang,
Bagaimana kabarnya?
Semoga sukses dengan program pembekalan Calegnya. Nitip pesan ya…, bantu para Caleg ini menggunakan NLP untuk kebaikan ummat, konstituens, dan Indonesia pada umumnya.
Salut luar biasa untuk Anda!
Muantab…masternya presuposisi pancen…
Mungkin yang lebih dulu bisa kita mulai adalah mendayagunakan NLP untuk melahirkan caleg yang berkualitas ya? Sehingga bisa menginstal setiap janji kampanyenya ke dalam pikiran-perasaan, menjadikannya wellformed outcome, dan mewujudkannya bagi kepentingan bangsa dan dunia.
Barulah, setelah itu mereka dibekali dengan kecanggihan linguistik.
Mas Teddi,
Nuhun sudah mampir…
Saya setuju dengan Anda.
Kita pakai NLP untuk “mencetak” kader / caleg yang berkualitas lebih baik dan berpihak pada kepentingan masyarakat ya….
Yang ini saya mendukukng
Setuju kang Teddi. Perlu bagaimana melahirkan caleg yang berkualitas. apakah installing programnya melalui sugesti pikiran bawah sadar, melalui neuro logical level, mungkin juga praktek wellformed outcome. Mungkin bisa juga melalui pendekatan spiritual hipnoterapi. Mungkin dengan cara lain yang saya tidak tahu… Nah setelah itu baru mempraktekkan prinsip-prinsip NLP lainnya.
Btw, apakah penglihatan saya benar bahwa para caleg yang sudah banyak makan asam garam itu sudah mempraktekkan beberapa prinsip NLP seperti bagaimana mereka melakukan reframing terhadap sebuah pernyataan atau fenomena, mereka juga tahu kapan harus melakukan chunking up, down atau side. Bagi mereka yang belum pengalaman apakah harus menunggu pengalaman yang lama terlebih dahulu? Maka jalan pintasnya dengan belajar aplikasi NLP….
Siap, pesan Mas Ronny siap dilaksanakan..!!! Terima kasih Mas Ronny. Ini semua atas peran Mas Ronny di pelatihan-pelatihan dan portalnlp tentunya, serta para kontributor lainnya.
Baik Mas Bambang…
Mari kita batu meretas belenggu pikiran anak bangsa ini agar lebih BERDAYA!
Yes!
Betul…Mas Rony. Namaku masih sama. Terima kasih masih ingat. Yang dikatakan Kang Asep, betul sekali. Masih banyak linguistik yang perlu digali dari ranah nusantara ini. Salah satu contohnya saya sendiri. Perpaduan dari tiga linguistik yang berbeda. Palembang, batak dan cina. Dari kata, intonasi, bahasa tubuh. Saya banyak belajar. Maju terus dan kembangkan linguistik asli iNdonesia.
Wah, menarik Mas Daniel..
Ayo di sahre dong.
Bagaimana linguistic dari 3 suku bangsa ini.
Yang palingberat adalah yang bahasa Cina. Sepanjang yang saya pelajari, bahasa Cina : beda intoasi sudah beda arti. Misalkan kata “ibu” dalam bahasa Cina, dalam intonasi tertentu akan berubah arti.
Nah,
Dalam persoalan ini, kita menhindari menemukan sumber ambiguity baru….
Ya khan…
Yang penting harus dijaga, ambiguitynya harus konstruuktif fan intentional..
Luar Biasa ‘hypnotic Language” nya Mas Ronny…benar2 membuat saya Trances…hehehe…
Waking Hypnosis dengan beberapa pattern yang ada memang luar biasa, langsung masuk kebawah sadar tanpa disadari, sehingga masuk suk… suk.. deh Sugesti yang memang diinginkan oleh pembicara…
Patern2 Language yang mas Ronny uraikan diatas sangat2 manjur..sim salabim ajaib efek sugesti yang bisa ditimbulkannya…..
Presupositions menggambarkan seolah2 ‘menganggap semua orang sudah tahu dan setuju akan hal itu’, setahu saya termasuk “distortion pattern”, dismping ada beberapa macam ‘distortion pattern’ yang lain seperti : “causal – effect” yg menempatkan seolah2 adanya suatu hubungan sebab akibat secara ‘keliru’ ; ataupun kita ‘mengidentikan’ sesuatu tanpa ukuran yang ‘jelas’(efek ekivalen complex); ataupun kita ‘menjudge’ sesuatu dgn kesimpulan tanpa ‘ukuran’ yang jelas (lost performative)
Pattern lain untuk mensugesti kelam bawah sadar ini, yang sangat dikenal adalah apa yg disebut sebagai “by pass words”, dgn pola bahasa dgn hukum “MD”, misal mendahului kata SIFAT sebelum kata kerjanya, ataupun menggunakan kata KETERANGAN sebelum kata kerjanya…
Pattern yang memicu mental pendengar bahwa seolah2 fakta apapun yang mengikuti KATA2 tsb adalah mrupakan suatu kebenaran, dikenal dgn Awareness pattern, misal kata2 : pahami, sadari, alami, amati, memperhatikan, dll..; misal : saya sangat MENYADARI bhwa KEHEBATAN linguistic NLP dapat mensugesti seseorang,..dll…,dll..
Diera dunia yg sedang mengalami krisis global seperti skrang ini, sering boss saya bilang : DIBALIK turunnya order produksi beberapa bulan ini terdapat kesempatan kita melakukan banyak improvement…hehehe.. tahu sendiri orang Jepang..seneng banget dgn kata2 improvement, kaizen…; tahu gak tahu, boss itu sudah pakai salah satu Pattern hypnosis language, yg dikenal dengan SPATIAL Pattern, kata2 ini dapat memberi efek seolah2 memunculkan hubungan antar beberapa ‘gagasan’…
Banyak lagi saya pikir ‘patern2′ yang ada…yang saya tunggu bahasan artikelnya oleh Mas Ronny sang Pakar kita ini…
Saya tunggu kelanjutannya ya PAPARON…eh, Mas Ronny…
Salam berbahagia selalu,
KUN
Wah …
Apa kabar mas Kun yang luar biasa…
Dari ulasan Mas Kun, sudah dengan mudah kita sadari bahwa Anda memang sudah menguasai ilmu ini dengan biak sekali.
Ayo, silahkan di kupas gejala-gejala linguistik pada para politisi….