Susah Mana : belajar A atau belajar B? Alasannya?

Tulisan ini merupakan jawaban atas undangan Mas Yan agar memberikan tanggapan pada Status FB-nya beberapa saat yang lalu. Tentunya ada “Outcome” tertentu yang diinginkan oleh Mas Yan dengan pertanyaan ini “Susah mana belajar NLP atau belajar Hypnosis? Alasannya?”. Apalagi sampai-sampai ia mengundang Kang Asep dan saya untuk menanggapinya…

Secara mantap, tulisan Mas  Yan di Status FB berjudul di atas mengundang respon yang luar biasa. Langsung direspon cepat oleh beberapa orang, dengan semangat membara… Sayang saya sendiri terlambat membacanya, baru ‘ngeh…’  setelah salah satu teman mem-forward ke milis alumni NLP Practitioner Sinergy Lintas Batas…. Weleh.. weleh..weleh… Mas Yan memang jago melakukan suatu “pancingan berkait” yang kontroversial.  Karena sudah terlambat, saya memilih menjawabnya di sini aja ya Mas….

Well, memenuhi undangan itu, saya akan menganalisis pertanyaan ini tidak hanya dari sudut pandang NLP, tapi juga sudut pandang hypnosis. Lho, memang sih hanya sedikit yang tahu, bahwa justru hypnosis adalah disiplin yang jauh-jauh sudah dipelajari ketika saya masih berstatus mahasiswa psikologi di Yogyakarta.  Waktu itu rasa penasaran membawa saya mengikuti kursus hypnosis gaya tradisionil… Sementara NLP kemudian saya pelajari sekitar 1998. Hmm, jadi tulisan ini mewakili NLP atau Hypnosis, atau Psikologi? Yah, anggap saja mewakili penulisnya sendiri….

PRESUPPOSITION
Pertanyaan “Susah Mana” adalah pertanyaan yang di dalam ilmu logika disebut sebagai mengandung “asumsi”, kalau di dalam NLP secara mudah disebut mengandung “Presupposition”. Sedangkan dalam Hypnosis disebut mengandung apa hayo?

Susah mana, A atau B: apa asumsi dari kalimat ini? Penulisnya mengasumsikan bahwa keduanya –baik A maupun B- adalah susah, pertanyaannya adalah “mana yang lebih susah?”. Atau mungkin, penulisnya, ingin agar pembaca tulisannya menelanasumsi yang sengaja ditanam’ alias disemai (seeding) alias diinstall (unconscious installation) bahwa  A dan B memang susah. Atau penulisnya sedang mengajari para pembacanya: agar hati-hati jangan asal menjawab, sebelum mengerti asumsinya… Yang terakhir sepertinya yang paling ekologis.

Pertanyaan “Susah Mana”, dalam bahasa hypnosis language pattern dikenal sebagai “double binding”, sedangkan dalam jika ditinjau secara NLP akan lebih mudah dikenali dari namanya yakni “Use of Or” (alias penggunaan kata “atau”).

Nah disebut double binding karena pendengarnya akan menghadapi situasi terikat secara double : “lari kesana terikat, lari kesini terikat”. Maksunya adalah : kemanapun larinya jawaban anda, akan tetap berakhir dengan “terikat” bahwa  -yang manapun itu- tetaplah “sulit”.

Contoh lain double binding? Mudah ajah kok..

  • Mau dicium di pipi kiri atau kanan?
  • Mau mentransfer biayanya sekarang atau besok?
  • Mau mendaftar Licensed Practitioner of NLP ™ sendirian atau sama pasangan?

Ya, memang …. Pada dasarnya “double binding” ataupun “use of or” bekerja sebagai akibat adanya efek presuposisi tadi itu.

  • Pertanyaan “Susah Mana A atau B” menempatkan pendengarnya pada suatu asumsi (tanpa disadarinya), bahwa apapun jawaban pertanyaannya itu, maka “A dan B adalah susah”, hanya saja pertanyaannya adalah “mana yang lebih susah”?
  • Pertanyaan “Mau dicium di pipi kiri atau kanan” menempatkan pendengarnya pada suatu asumsi (tanpa disadarinya), bahwa apapun jawaban pertanyaannya itu, maka “ia bersedia dicium”, hanya saja pertanyaannya adalah “mana yang mau dicium”?
  • Pertanyaan “Mau mentransfer biayanya sekarang atau besok?” menempatkan pendengarnya pada suatu asumsi (tanpa disadarinya), bahwa apapun jawaban pertanyaannya itu, maka “ia mau mentransfer”, hanya saja pertanyaannya adalah “kapan mentransfernya”?
  • Pertanyaan “Mau mendaftar Licensed Practitioner of NLP ™ sendirian atau sama pasangan?” menempatkan pendengarnya pada suatu asumsi (tanpa disadarinya), bahwa apapun jawaban pertanyaannya itu, maka “ia mau mendaftar Licensed Practitioner of NLP ™?”, hanya saja pertanyaannya adalah “mendaftarnya sendirian atau sama pasangan”?

Nah jadi pertanyaan semaam itu jika di-‘well engineer’ akan  berpotensi menjadi idea seeding (pembenihan ide / installation), sesuai sifat dari asumsinya. Bisa saja menjadi seeding yang negatif, bisa juga menjadi seeding yang positif.

Saat Anda sudah Master Practitoner, tentunya dengan mudah dapat melihat, bagaimana para alumni Master Practitoner of NLP™ menjadi sangat semangat ketika mempelajari Ericksonian Hypnosis. Terutama saat mempraktekkan salah satu pattern dari penggabungan : Commentary of Adjective and Adverb, Simple Deletion, Presuposition, Nominalisasi, Unspecified Predicate, Numeral Ordinal dan Double Binding (Use of Or).  Lihat bagaimana double binding dapat menjadi cantik sekali sehingga membentuk suatu content free suggestion :

Untungnya kita tidak perlu tahu, bagaimana tepatnya Bawah Sadar Anda menyelesaikan permasalahan itu. Bahkan Bawah Sadar Anda mengetahui hal itu lebih baik dari kita sendiri dalam mempergunakan Sumberdaya Internal yang mana yang paling tepat agar penyelesaian masalah itu berlangsung dari sekarang, atau setelah kalimat saya ini selesai.”

Stop dulu, apakah Anda merasa belum mengerti maksud contoh dari 2 paragraf terakhir di atas? Ndak papa, contoh itu memang hanya untuk para Master Practitioner saja. Jika Anda pembelajar awal NLP, tidaklah perlu merasa “kok susah…” atau “kok sulit…”, …. sebab sama saja hal ini dengan perasaan seseorang yang merasa sulit untuk dapat naik Sepeda Motor, karena orang itu untuk menuntun Sepeda Kayuh saja belum bisa.

Naik Sepeda Motor bukanlah suatu hal yang sulit, awalnya hanya sedikit memerlukan urut-urutan belajar yang benar, dan perlu dibimbing oleh orang yang sudah dapat naik sepeda motor, dan mampu mengajari dengan cara yang baik dan sabar.

Lihat, dengar dan rasakan, bagaimana sebenarnya naik Sepeda Motor ternyata demikian mudah, sekarang bagi Anda, bahkan juga mempermudah kehidupan Anda…. Demikian NLP dan Hypnosis juga sebenarnya demikian mudah, dan mempermudah hidup Anda, ditangan pembimbing yang tepat seperti Mas Yan dan kawan-kawan yang lain…

Luar biasa ya?
Bagaimana suatu Status di FB ternyata dapat dengan mudah menjadi pembelajaran language pattern yang amat menarik….

Ups, nanti dulu, masih ada lagi yang lain….

Kata “Susah”
Dalam istilah psikologi, ‘susah’ adalah suatu perasaan tertentu yang dimiliki oleh seseorang. Dalam pengertian Practitioner NLP, ketika mendengar seseorang mengatakan sesuatu itu ‘susah’, maka dengan cepat Practitioner  mengenali bahwa orang itu sedang melakukan suatu filter “distorsi”. Sebab, apa yang disebut “susah” oleh seseorang, belum tentu akan disebut “susah” oleh orang lain. Jadi susah atau mudah adalah suatu yang tergantung filter seseorang dalam mempersepsi suatu stimulus.

Distorsi yang muncul tadi, dalam language pattern atau dalam Meta Model merupakan bentuk complex equivalence (CEq). Disebut Complex Equivalence karena pembicara sedang melakukan penyamarataan (ekuivalensi) sesuatu yang sebenarnya hubungannya bersifat kompleks.

Nah, dalam hal kalimat “Susah Mana, belajar A atau belajar B.”, keberadaan CEq itu sedemikian tidak kentara alias terselubung dalam layer yang paling dalam. Perhatikan, bahwa kalimat di atas jika diurai akan menjadi 2 kalimat  ini :

  1. NLP adalah susah
  2. Hypnosis adalah susah

Nah, sekarang Anda dengan mudah mengenali keberadaan CEq-nya. Oke, trus apa sih yang istimewa dari CEq, lha wong cuman begitu aja? Hehehehe….

Seseorang mengungkapkan suatu kalimat berbentuk CEq, otomatis  mencerminkan suatu belief system yang diyakininya. Ingat, belief system mudah dikenali dari struktur linguistik berbentuk CEq dan C/E (Cause Effect) Pattern.

Nah, jadi dari kalimat itu, jika dikatakan secara apa adanya, maka pembicara mempercayai bahwa “A dan B itu susah”.

Berbeda dalam kasus Mas Yan, dugaan saya tentunya Mas Yan sengaja membuat (meng-engineer) kalimat itu untuk memberikan pembelajaran bagi pembaca Status FB-nya, agar memancing diskursus, dan pembenturan-pembenturan Conscious vs Un-conscious.

Oke… oke…,
Anda mau lebih jauh dibahas.., mau menolong orang yang sudah terlanjur masuk dalam disempowering belief bahwa “NLP itu Susah….” Atau “Hypnosis itu susah ….”. Apa yang mau Anda lakukan?

Tanyakan saja pertanyaan ini pada orang yang sedang mengatakan kalimat “NLP itu Susah ….” Atau “Hypnosis itu susah ….” Dengan cara:

Sejak kapan Anda memutuskan bahwa NLP atau Hypnosis itu susah dipelajari?

Nah, saat menjawab pertanyaan itu, orang yang bersangkutan secara mudah akan langsung menyadari bahwa ‘dirinyalah sendiri yang membuat itu menjadi susah’. Alias susah atau mudah itu sebenarnya hanya hasil dari keputusan yang diambil oleh seseorang itu sendiri.

Alasannya?
Ingat, pertanyaan Mas Yan aslinya berbunyi “Mana lebih susah, belajar NLP atau belajar Hypnosis? Alasannya?”

Aduh, dahsyat nian…
Pertanyaan “Alasannya?” akan membuat penjawabnya mengatakan demikian:

  • “Karena ……..”
  • “Sebab……”
  • “Alasannya ….”

Lha ini, khan memancing orang untuk masuk dalam Language Pattern berikutnya yang namanya Cause-Effect Pattern, yang dikenal dengan kode C/E atau X?Y. Ingat khan?

Lagi-lagi ini merupakan bentuk belief system, seperti yang sudah disinggung di 5 paragraf di atas. Jadi menjawab pertanyaan ini akan “menjebak” seseorang untuk mengungkapkan belief system-nya dia.

Silahkan diamati dari komentar yang muncul di bawah Status FB Mas Yan itu, maka yang menjawab alasannya, berarti tanpa sadar ia sudah “membocorkan rahasia belief system yang sebelumnya tersimpan rapat dan dalam-dalam”.

Nah… nah… nah…, rupanya NLP dan Hypnosis sedemikian mudah ya untuk mengungkap rahasia belief system seseorang hanya dengan bertanya sedikit dan memperhatikan Struktur Linguistik jawabannya.

Jawaban Atas Pertanyaan Akan Menjadi Lost Performatif

Kembali kita membahas mengenai efek kalimat apa yang muncul saat orang berkontribusi menjawab pertanyaan itu. Berkontribusi dalam menjawab pertanyaan “Susah mana belajar NLP atau belajar Hypnosis”, akan menempatkan orang menjawab misalkan “Susah belajar NLP” atau “Susah belajar Hypnosis”.

Nah, jadi ia akan mengatakan “Belajar … itu Susah”.

Jelas merupakan hal yang mudah bagi para Practitioner untuk mengenali bahwa di dalam kalimat terkandung suatu ‘Lost Performatif’ (LP). Karena kalimat itu diucapkan dengan menghilangkan Nara Sumbernya, alias tidak jelas pendapat itu menurut siapa?

Dengan cepat dan mudah saya mengingat, bahwa Dr Richard Bandler di Orlando, saat mengajarkan hypnosis menyatakan dengan tegas, kalimat LP seringkali berpotensi ‘membeberkan diri’ alias ‘self disclosure’.

Misalkan, saat orang mengatakan seperti ini : “Si A itu sulit di hypnosis”. Nah, biasanya orang yang menyatakan hal ini percaya pada skala semacam SHSS khan…

Tidak tergantung pada Skala apapun yang dia percayai, sebenarnya kalimatnya itu mengandung “LP” :

  • Menurut Siapa?
  • Siapa Yang Sulit Menghipnotisnya?

Nah, jadi memang benar, bahwa sebenarnya LP justu semata-mata membocorkan informasi diri (self disclosure) alias mencerminkan suatu pengakuan atas ketidak kompetensi-an diri.

Nah, jadi yang terjebak menjawab bahwa : “NLP lebih susah dipelajari”, ataupun “Hypnosis lebih susah dipelajari”, maka sejatinya ia sudah membuka diri mengenai kompetensinya. Duuuuh!

Peserta Master Practitioner kemarin pasti masih ingat dengan mudahnya keberadaan metafor “memencet hidung” 3 orang di depan kelas yang saya demonstrasikan. Aduh, semoga Anda yang belum mengikuti Master Practitioner tidak menjadi penasaran karenanya.

Simple Deletion
Pertanyaan “Susah Mana Belajar NLP atau Belajar Hypnosis?”  merupakan simple deletion. Karena tidak jelas, belajar NLP-nya sama siapa? Belajar Hypnosis-nya sama siapa? Sebab yang namanya belajar memerlukan sumber pembelajaran, apakah itu Trainer, Guru, Buku, Video, ataupun khayalan dewek….

Jadi sebelum menjawab pertanyaan ini haruslah melengkapi dulu dengan pertanyaan “Dengan siapa / apa dulu belajarnya?” Dengan menanyakan pertanyaan ini, maka deletion-nya sudah Anda recover.

Unspecified Verbs
Pertanyaan di atas juga merupakan “Unspecified Verb”, karena tidak jelas, apa tepatnya yang disebut dengan “belajar” itu?

Apakah ‘belajar’ itu merupakan proses : membaca buku, apa ikut pelatihan, apa melihat suatu demo, apa mempraktekkan pengajaran, apa mengintip ruang pelatihan, apa melihat The Master di TV, dan seterusnya.

Menjawab pertanyaan ini akan menguraikan lebih detail, sebab musabab munculnya perasaan ‘susah’ tersebut. Misal, terang aja merasa ‘susah belajar hypnosis’ lha belajarnya ajah cuman melihat potongan rekaman TV 5 menit terus dipraktekkan ke suaminya sendiri….

Ya jelas lah…

Nominalisasi
Apakah Nominalisasi (N) itu, yakni mengubah kata proses menjadi kata benda (biasanya adalah kata benda abstract). Misalkan :

  1. Mempelajari         : Pelajaran
  2. Memperlakukan   : Perlakuan
  3. Meneliti               : Penelitian
  4. Mencintai             : Percintaan
  5. Membenci            : Kebencian

Nah, sekalipun beberapa contoh di atas adalah berbentuk kalimat “pe-…-an”,  atau “per-…-an”, namun bentuk nominalisasi dapat saja bermacam-macam, apalagi yang merupakan kata benda abstrak yang berasal dari serapan dari bahawa asing.

Mengecek suatu Nominalisasi itu mudah, tinggal Anda tanyakan dalam hati “Apakah bendanya ada / eksis?”, jika tidak eksis maka itu merupakan nominalisasi.

Nah, dengan demikian mudah dipahami bahwa kata “NLP” dan “Hypnosis” adalah suatu serupkan nominalisasi. Sebab kedua hal itu tidak ada bendanya secara eksis.

Nah, efek dari suatu kata yang diubah menjadi Nominalisasi adalah, kita cenderung memperlakuan sebagai “benda” yang tidak bisa diubah (freeze). Padahal yang namanya NLP kenyataannya adalah suatu Sikap (attitude) dan Methodology (ilmu modeling), yang tentunya

Ketika kita mempertanyakan kepada pembicara “Apakah yang Anda maksudkan dengan NLP itu?” Kemudian lanjutkan “Pada bagian mana tepatnya bagian NLP yang Anda bicarakan itu?”

Nah, pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan secara luar biasa mempermudah yang bersangkutan untuk mendapatkan solusi yang lebih baik, karena “permasalahannya” yang tadinya seperti sudah “harga mati” menjadi terurai secara lebih detail dan mudah ditelusuri jalan keluarnya.

Meta Modeling

Nah, jadi tentunya ada pembelajaran dari pertanyaan Mas Yan itu… Bahwa dari pada menjawab “susah yang ini” atau “susah yang itu”…,  Nah lebih baik mengajukan ‘pertanyaan balik’ atas ‘pertanyaan’ Mas Yan itu..? Agar kita menjadi berdaya… Agar tujuan Mas Yan memberdayakan kita menjadi tercapai dong….

Inilah yang secara amat mudah Anda selalu ingat sebagai ilmu Meta Model…!

  1. Emangnya susah belajar NLP dan Hypnosis?
  2. Apa sih yang tepatnya Anda maksudkan dengan NLP itu?
  3. Pada bagian mana dari NLP itu yang menurut Anda susah dipelajari?
  4. Apa sih yang tepatnya Anda maksudkan dengan Hypnosis itu?
  5. Pada bagian mana dari hypnosis itu yang menurut Anda susah dipelajari?
  6. Apa tepatnya yang Anda maksudkan dengan kata belajar, jelaskan lebih spesifik. Apakah sekedar mendengarkan, menirukan hingga bisa, atau apa?
  7. Belajar NLP dengan siapa yang Anda maksudkan?
  8. Belajar Hypnosis dengan siapa yang Anda maksudkan?
  9. Sejak Kapan Anda memutuskan bahwa NLP atau hypnosis itu susah dipelajari?
  10. Menurut siapa belajar NLP atau Hypnosis itu sulit?

Thank’s Mas Yan…

Seolah-olah, tanpa harus dikatakan lagi, dengan begitu mudah kita jadi ingat pepatah :  “Questions Are The Answers….”

This article has 26 comments so far!

  1. Teddi Prasetya Yuliawan says —

    Nah…setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP?

    Hehehe…

  2. Toha Zakaria says —

    wah…Benar2 Artikel yang Luar Biasa. membuka kamar baru di otak saya. saya jadi “semakin paham akan mudahnya NLP dan Hipnosis”. :) Terima kasih Pak Ronny..

  3. Hasbi says —

    Luar biasa mas Ronny…
    Tuntas…tas…tas…
    Thanks telah menunjukkan contoh2 dan mengingatkan kembali pada materi NLP Pract. Yang lebih luar biasanya lagi, saya mendapatkan icip2 materi Master Pract. Jadi tambah ngiler untuk mendapatkan kesempatan duduk dan melahap menu2 luar biasa dalam kelas Master Pract.

  4. Ikhwan Sopa says —

    Luar biasa Oom. Tulisan keren ini simple: Good question, better answer. Luar biasa.

  5. alfalaq says —

    Terimakasih Master Ronny, Semakin kuat mengundang saya untuk mempelajari NLP dan Hypnosis ke tingkat Master Pract.

  6. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Teddi…
    Tangggapan / komentar Mas Teddi luar biasa..
    Saya membuat artikel khusus untuk itu…

  7. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Toha..

    Senangnya sudah membantu menemukan pintu sehingga Kamar Baru bisa dibuka…

    Salam kenal!

  8. Ronny F Ronodirdjo says —

    Uda Hasbi…

    Apa kabar…?
    Lama nggak ketemu dan mendengar ketawa khas dari Uda…
    Selamat dinikmati…, sajian ulang dan sajian icip-icip ini…

    Sukses untuk Uda dna keluarga!

  9. Ronny F Ronodirdjo says —

    Om Ikhwan Sopa…
    Apa khabar?

    Lama juga nggak lihat batang hidung maupun batang yang lainnya…

    Wah, makin lama makin berkibar-kibar…

    Selamat dan sukses untuk Om Ikhwab Sopa!

  10. Ronny F Ronodirdjo says —

    Salam kenal Bung Al Falaq…
    Wah nama yang indah, bak bintang diangkasa.

    Saya yakin akan bertemu Anda di kelas-kelas yang akan datang…

    Sukses selalu untuk Anda !

  11. Daniel says —

    Salut buat MAS RONY…atas ulasannya membuat saya semakin tahu menggunakan kata-kata dalam kehodupan…ternyata kata-kata adalah bahan bakar yang sangat berguna dalam hidup ini…

  12. Ronny F Ronodirdjo says —

    Halo Mas Daniel…

    Seperti pada alamat email Anda, memang benar “Kata” adalah “Ajaib”…

    Salam sukses selalu!

  13. hadi says —

    Salam kenal buat semuanya.

    paparan yang menarik. luar biasa!!

  14. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas hadi…

    Salam kenal kembali!
    Sukses luar biasa untuk Mas….

  15. Yan Nurindra says —

    He .. he …

    Wah jadi susah (lah susah lagi) …. kalau Mas Ronny sudah ikut-ikut ….
    Rahasianya jadi terbongkar …. soalnya beliau ini hacker-nya linguistic ….

    Padahal saya cuma mau survey … dari sekian banyak teman FB saya, siapa saja yang :

    1. Memahami dengan baik esensi dari NLP & Hypnosis
    2. Setengah memahami & tidak memahami
    3. Yang fanatik dengan apa yang pertama kali mereka pelajari.
    4. Yang open-mind dan dapat menempatkan esensinya.
    5. Yang tidak memahami sama sekali, tetapi punya semangat untuk kemudian berharap dapat memahami.
    6. Yang memilih menjawab : “Benar” “Benar” “Tidak Berhubungan” yg ini biasanya semangatnya bersilaturahmi.
    7. Dan banyak lagi lainnya.

    Ya, salah satunya adalah “memotret” belief seperti yang dikatakan oleh Kang Ronny ……

    Dan satu lagi ….
    Seberapa populer FB kita …. sehingga banyak yang mau bersusah-susah meluangkan waktu dan pulsa untuk merespon kita ….. he he ….

    Dan akhirnya belajar NLP dan Hypnosis tidaklah berbeda dengan belajar apapun juga …. susah dan mudah adalah persoalan asumsi semata di tingkat emosi yang dipicu oleh berbagai hal : passion, need, dsb.

    Salam,

    Yan Nurindra

  16. Ronny F Ronodirdjo says —

    Waduh…
    Lha saya jadi ikutan komentar karena dijawil Mas Yan juga di tengah2 persimpangan komentar Status itu lho…

    Heheheh
    Yang penting jadi berkah untuk semua…

  17. Atiqurrakhman says —

    Wow Luar biasa… Suatu tafsir yang dilandasi mantik dan balaghoh yang keren abis… Saya bisa mendengar standing applaus dari para audience yang mendengarkan untaian kata demi kata dari Kang Mas Kiai Ronny… Dari wajah mereka tergambar peningkatan keyakinan tentang pentingnya memahami lebih dalam meta model… Dan sejuta keyakinan ttg pemberdayaan. Atur nuhun Kang Mas Kiai Ronny, dan Ndoro Suhu Yan…

  18. Ronny F Ronodirdjo says —

    Halo Hafidz Atiqurrahman..

    Hatur Nuhun sudah maempir…
    Aduh lama nggak dengar istilah mantiq dan balaghoh…

    Salam kagem para guru-guru di pesantren, salam hormat dari saya.

    Sukses selalu!

  19. EKO says —

    Wah..payah nih…kalo uda masternya yang bicara..kalimat sederhana bisa bermakna LUAR BIASA.. SALUUUUUTTT..

  20. Ronny F Ronodirdjo says —

    Waduh..
    Salah langkah nih Mas…
    Lha kok jadi “payah”…
    Hehehehehe

    Salam Salut untuk Mas…

  21. Antonius Arif says —

    Setelah saya membaca Artikel ini, saya menjadi tercerahkan….. Walau tidak mudah mengunyah satu per satu kalimat…. Dan saya yakin pelajaran diatas akan terintegrasikan dengan luar biasa dikepala saya….

    RUARRR BIASAAAA Mas Ronny…….

    saya siap menerima ilmu lanjutan dari anda sehingga setiap keping puzzle saya mulai menjadi suatu master piece yang indah….

    salam

  22. Ronny F Ronodirdjo says —

    Waaaa…w!
    Mas Arif De La Antonius…

    Apa kabar Mas?

    Saya selalu semangat kalau ketemu dengan Anda….
    Seorang yang cerdas, mau membayar harga untuk belajar dan berani mengambil resiko!

    Well,
    Mengunyah memang selalu baik bagi kesehatan, baik keehatan tubuh maupun kesehatan linguistik.

    Kapan, kita bertemu lagi dan berdiskusi untuk “mengawin silang ulangkan” berbagai pattern hypnosis dan linguitic NLP…?

    Sukses selalu!

  23. kusumo n says —

    wuuuueeeee, keren pak!!!eeehhm rasanya nikmat ya kalu bisa jadi hacker lnguistic kaya njenengan pak??? dan memutuskan untuk segera ikut kelas Master Practiconer selanjutnya!!!! salam sukses pak!!! Kusumo Nindito!!!(DITO)!!!

  24. Ronny F. Ronodirdo says —

    Halo Ki Kusumo Nindito…

    Hahahhaha, linguitic hacker is really good…., yesssss, that’s right

  25. seto says —

    makin salut ma mas ronny

  26. pastor titus budiyanto says —

    sudah a dan b?

Leave a Comment