Setelah Membaca Artikel Ini, Mana Yang Jadi Lebih Mudah?

Artikel ini adalah menjawab pertanyaan  (komentar) Mas Teddi, terhadap artikel saya yang berjudul “Susah Mana, Belajar A atau Belajar B?”. Nah, agar mendapatkan konteks pembelajaran dalam artikel ini, alangkah baiknya baca dulu artikel “Susah Mana, Belajar A atau Belajar B?” (artikel sebelum artikel ini), baru kemudian Anda membaca artikel ini.

Nah, setelah Anda membaca artikel itu, tepat di bawah artikel itu, dalam urutan pertama, Mas Teddi menuliskan kalimat ini :

Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP? Hehehe…”

Well,
Saya menganggap luar biasa pertanyaan itu, karena selain komentar itu merupakan komentar yang pertama, juga rumusan katanya sedemikian ambigunya untuk dapat mengetahui alasan penulisan komentar itu.

Komentar itu bisa saja dianggap sebagai suatu “onani kognitif” (meminjam istilah saat dulu kuliah di Psikologi). Onani kognitif adalah suatu lontaran pemikiran untuk memuaskan diri sendiri. Menyenangkan diri sendiri. Menunjukkan diri pintar, dan tidak perduli efeknya bagi orang lain, apakah pembaca akan menjadi bertambah susah. Mirip dengan karakter pada lagu “Bento” dari Mas Iwan Fals itu lho. Tidak ekologis!

Lha, rasa-rasanya khan mustahil jika Mas Teddi berniat demikian, sebab saya mengenalnya cukup lama. Saya kok lebih percaya bahwa Mas Teddi pasti punya niat baik. Jadi artikel ini anggaplah sebagai proses menguraikan intensi positif dari pertanyaan Mas Teddi itu.

Jadi saya lebih MEMILIH memaknakan komentar tadi sebagai niatan positif untuk melanjutkan proses pembelajaran, melanjutkan efek belajar yang sudah ditiupkan oleh Mas Yan sebelumnya. Jadi  mari kita sambut uluran tangan Mas Teddi dengan baik-baik. Terima kasih Mas Teddi atas feedback-nya. Kita jadi punya kesempatan menguraikan lebih banyak mengenai Milton Erickson secara gratis di Portal ini. Muga-muga nafas belajar kita cukup panjang ya…

Milton Model Hypnotic Language Patterns
Di dalam obrolan ringan, dan di beberapa forum saat mengundang Mas Yan Nurindra untuk berbicara mengenai ericksonian, Mas Yan sering mengucapkan : “kehebatan gaya ericksonian adalah  tidak jelas kapan awal induksi dimulai, juga tidak jelas kapan akhirnya. Semua dilakukan secara halus, tanpa ruang-ruang, tanpa tahap-tahap. Sebab dalam gaya klasik (direct hypnosis), seorang klien dapat merasakan adanya peralihan tahap ini : pre-induction, induction, test, deepening, PHS, termination.”

Kalimat di atas itu menunjukkan suatu eksplorasi yang luar biasa dari Mas Yan dalam mengenali kekuatan Ericksonian. Mantaps ya!

Saya setuju dengan Mas Yan, sebab di saat lain, ketika saya mengekplorasi Milton Model di NLP (ericksonian) di kelas training / ruang terapi, saya mendapati bahwa Milton Erickson dapat dipakai untuk meng-guide pikiran seseorang dengan cara tertentu ke arah yang diinginkan dengan cara yang amat smooth…. Umumnya dapat dilakukan dalam 4 domain (4 cara mengguide pikiran) :

  1. Secara tidak langsung (indirect elicitation pattern
  2. Melalui kebalikan (inverse) Meta Model Pattern
  3. Melalui Patterns of Metaphor
  4. Melalui proses penanaman presuposisi (asumsi) yang amat cerdik. Proses penanaman presuposisi ini layaknya kita sedang “menanam” atau “menyemai’ (seeding) suatu gagasan ke benak pendengar, bahkan tanpa disadari oleh si pendengar.

Jadi cara ini secara revolusioner berbeda sekali dengan gaya direct hypnosis, di mana proses pikiran diarahkan secara langsung oleh hypnotist. Dalam gaya direct hypnosis,  seorang hypnotist perlu melakukan proses hypnotic training untuk meng-empower unconsious, dengan cara mengadu-adu  conscious melawan unconsious melalui proses suggestion testing. Sehingga ada istilah “tidak ada induksi tanpa test”, maka si hypnotist harus mencari celah atau menciptakan celah untuk berkomunikasi dengan bawah sadar kliennya. Sebab kalau induksi tanpa test, namanya hanya “nyuruh-nyuruh”.

Berbeda dengan cara di atas, dalam gaya indirect ini, efek hypnosis muncul karena pembicara menyelinap secara diam-diam melintasi critical area. Hal ini dilakukan dan BUKAN melalui proses hypnotic training berbentuk testing suggestion, namun dilakukan melalui kecerdikan linguistic. Melalui kecerdikan linguistic tertentu, seorang ericksonian hypnotist dapat langsung berkomunikasi dengan unconscious kliennya, bahkan dapat secara langsung meng-empower-nya, sekali lagi tanpa melalui proses hypnotic training formal. Milton erickson menyebut dengan kata “trance is learning about trance“.

Ups, saya baru saja membongkar rahasia “ruh” terdalam dari hypnosis style–nya  Dr Milton Erickson.…

Bedah Pertanyaan
Nah, kalimat Mas Teddi akan kita bahas dalam 2 domain:

  1. Inverse Meta Model Patterns, dan
  2. Presuposition Patterns. Mari kita ulang kalimatnya :

Berikut kalimat Mas Teddi :
Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP? Hehehehe

Pembaca tentunya dengan mudah mengerti bahwa berdasarkan kaliat awal dari Mas Yan, maka Mas Teddi mengimbuhkan dengan 3 kata yang mengandung hypnotic language pattern yakni :

  1. Kata “setelah”
  2. Kata “jadi”
  3. Kata “bertambah”

Kata ‘Setelah’ dan “Jadi”
Saya akan membahas terlebih dahulu kata “setelah” ini. Kata ini dalam Milton Model hypnotic language pattern termasuk rumpun Presuposisi pada subkategori “Subordinate Clause of Time”. Di sisi lain ini juga bisa masuk dalam rumpun Reverse Meta Model dalam kategori “Causal Modeling” alias “Linkage”.

Jika ditinjau dari sisi “Subordinate Clause of Time” (SCoT), tidak ada sesuatu yang istimewa. Kategori SCoT mengimplikasikan bahwa kata apapun yang terletak dibelakang kata “setelah” (dan rumpun kata sejenis) akan diproses di dalam kepala pembaca bahwa “hal itu benar”.

Dalam hal ini bahwa kata “setelah membaca” mengimplikasikan bahwa benar “sudah terjadi membaca”.  Nah di sini saya katakan tidak terlalu istimewa, karena memang benar asumsinya bahwa pembaca “telah terjadi” membaca artikel tadi.

Nah, bagaimana jika kata “setelah” dilihat efeknya dari sisi “Causal Modeling” alias “Linkage” (CM-L). Dalam pembahasan di Practitioner NLP, kata dalam rumpun ini akan membentuk suatu linkage (hubungan) antar 2 kalimat majemuk, atau akan membentuk suatu kondisi sebab akibat. Jadi ini merupakan Cause – Effect Violation dalam Meta Model. Cause effect biasanya ditandai dengan kata : akibatnya, menjadi, sehingga, dan kata sejenis lainnya.

Dari pengamatan struktur kalimatnya, mudah dilihat bahwa Mas Teddi memang membangun efek CM-L. Ditandai tidak saja pengunaan kata “setelah”, namun juga ada kata “jadi”. Kata “jadi” adalah bentuk lain dari kata “menjadi”.

Di taha ini jelas bahwa Mas Teddi memang bermaksud membuat hubungan sebab akibat dalam kalimat komentarnya itu.

Untuk lebih mudahnya, mari lihat contoh ini:

  • Setelah makan saya jadi kenyang.

Jadi yang “membuat” saya kenyang adalah karena saya makan. Ini yang disebut dengan ‘causal modeling’. Terungkapnya suatu Model Dunia di kepala pembicara bahwa penyebab (causal) dari rasa kenyang adalah disebabkan oleh peristiwa makan.

  • Setelah Anda duduk, Anda jadi bertambah rileks.

Nah, agak berbeda dikit dari di atas, di kalimat ini digunakan kata “Anda”. Jadi di sini Si Pembicara menginginkan terjadinya proses pertambahan rasa rileks pada diri pendengar. Dengan cara meng-guide melalui suatu sugesti hubungan sebab-akibat (causality) yang disebabkan oleh peristiwa duduk yang dialami oleh si pendengar.

Di sini terjadi proses “pacing ongoing reality”, di mana jika si pendengar benar sudah dalam posisi duduk, maka ia akan meng-afirmasi bahwa statemen itu benar (Benar, bahwa saya duduk). Akibatnya, jika kebenaran ini dijadikan suatu sebab (causal), maka akibatnya tentunya juga akan masuk akal.

Jadi di kepala si Pendengar akan terjadi proses “Wah, benar saya sedang duduk, jadi saya akan bertambah rileks nih”. Lihatlah di sini bahwa terjadi kondisi dimana pikiran bawah sadar pendengar-lah yang meyakinkan dirinya sendiri. Inilah efek Milton Model, nggak perlu pakai testing, langsung bawah sadar menjadi dominan.

Dari penjelasan di atas, nampak mudah dan jelas bahwa kata “setelah” merupakan fungsi “pacing ongoing reality” yang sedemikian dahsyat, terutama jika memang di pendengar sudah memproses perbuatan yang di-pace itu.

Dalam kasus Mas Teddi, maka yang di-pace adalah kata “membaca”. Dan benar, jika Anda sedang membaca komentar Mas Teddi, tentunya Anda sebelumnya TELAH SELESAI MEMBACA artikel di atasnya.

Jadi, Mas Teddi telah mensugestikan pada pembaca (termasuk Anda) bahwa : “Anda JADI bertambah susah, SETELAH membaca artikel.”.

Wow, apakah Anda “termakan” pada sugesti itu? Apakah Anda mengafirmasi dan membenarkan komentar itu? Nah, asyik khan pelajarannya, mas teddi ingin mengatakan pada kita agar tidak cepat-cepat menelan suatu presuposisi / asumsi. Bisa berbahaya..!

Cerdik….

Kata ‘bertambah’
Nah, sekarang kita membahas kata satunya, yakni “bertambah”.

Kata “bertambah” termasuk dalam kategori language pattern Presuposisi dalam subkategori yang disebut “Change of Time Verbs & Adverbs” (CoTVA). Kata yang termasuk dalam subkategori ini mengandung presuposisi: apapun yang diletakkan di belakang kata ini berarti adalah benar.

Misal :

  1. Saya bertambah lapar.
    • Maka asumsinya adalah bahwa “benar” sekarang saya sedang lapar, bahkan bertambah.
  2. Anda bertambah bingung
    • Maka asumsinya adalah bahwa “benar” Anda sekarang sedang bingung, dan bahkan bertambah.

Nah jadi kata “bertambah” adalah suatu sugesti untuk membuat pembaca/pendengar “menelan” asumsi bahwa memang benar ia sedang mengalami sesuatu. Ini adalah seeding yang powerful, dan tentunya amat berbahaya jika digunakan untuk menyemai ide yang disempowering. Astaghfirullah…, mohon ampun Ya Alloh, tentunya saya pun pernah salah secara sengaja atau tidak sudah menyemai ide berbahaya semacam ini.

Nah, di sini, sekali lagi saya percaya niat baiknya komentar Mas Teddi, berarti saat berkomentar, Mas Teddi sedang menunjukkan pada kita suatu pembelajaran untuk mengenal teknik menyemai ide :  “bertambah susah”.

Dalam konteks pertanyaan : “Mana yang jadi bertambah susah, NLP atau Hypnosis?”, disini Mas Teddi kembali menggabungkan dengan “double binding” atau “Use of Or” seperti yang sudah saya bahas di artikel sebelumnya.

Artinya, seeding itu adalah bekerja demikian :

  1. Hypnosis dan NLP itu susah
  2. Sekarang salah satunya JADI bertambah susah

Keseluruhan kalimat

Sekarang, jika kita gabungkan keseluruhan kalimat :

Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP? Hehehe…”

Maka dapat kita uraikan bagaimana Mas Teddi membentuk sugestinya melalui cara Milton Erickson ini :

  1. Memang benar NLP dan Hypnosis susah dirasakan oleh Pembaca.
  2. Pembaca sedang mengalami pertambahan susah.
  3. Pertambahan susah terjadi pada salah satu dari hal ini : NLP atau Hypnosis.
  4. Pertambahan susah itu disebabkan oleh karena Anda telah membaca artikel yang ditulis oleh Ronny F. Ronodirdjo.

Jadi ingat iklan salah satu merek rokok : Susah Melihat Orang Senang, Senang Melihat Orang Susah.

Kalau memang itu yang sedang di seeding Mas Teddi…, Woow, Ngeriii Ngga’….!?

Nah, tapi jelas dong Mas Teddi nggak akan men-seeding hal seperti itu. Kata anak sekarang, secara khan Mas Teddi itu trainer yang mengajarkan aplikasi NLP dan hynosis juga gitu lho…

Sedikit Merasa Susah Mengerti Artikel Ini?

Jika misalkan Anda kok merasa agak sedikit susah dalam memahami artikel ini, rileks saja. Itu sebenarnya bukan susah kok.

Benar seperti itu, sekarang tiba-tiba Anda ingat kisah saya tentang orang yang sedang belajar menuntun sepeda kayuh yang mungkin akan merasa susah jika dirinya membayangkan untuk dapat (capable) mengendarai sepeda motor.

Itu bukan susah, hanya belum mengoptimalkan sumber daya saja. Sebab setelah kita bisa nuntun sepeda kayuh, maka kita mulai bisa dengan mudah membawanya berjalan kesana-kemari. Membawa berjalan sepeda kayuh akan men-JADI-kan Anda mudah belajar mengendarainya. Saat Anda sudah dapat mengendarai Sepeda kayuh, dengan mudahnya Anda akan belajar mengendarai sepeda motor… Karena sumber daya sudah mencukupi, Dan hebatnya suber daya itu sudah ada di dalam diri Anda, tinggal dioptimalkan…

Atau, Anda boleh saja mengganti rasa susah dengan rasa penasaran, dengan rasa ingin tahu, atau dengan rasa lain yang lebih memberdayakan diri. Sebab rasa “susah” dan lainnya adalah keputusan kita sendiri kok. Apalagi rasa “bertambah susah” itu juga keputusan sendiri”. jadi putuskan saja suatu rasa, yang memberdayakan diri….

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajarkan apada kita, apapun yang disugestikan orang pada kita, dengan bahasa hypnotic apapun, setelah Anda mengenalinya, maka DENGAN MUDAH sekali dapat Anda PUDARKAN pengaruhnya pada Anda.

Sampai dengan saat ini, sayapun bahkan masih belajar ericksonian dan linguistic pattern. Jadi tidak benar tuduhan-tuduhan diluar bahwa saya adalah ahli linguistic pattern. Itu bagaikan fitnah yang berbahaya, dan bisa membuat lupa diri. Anda bisa melihat dengan mudah bagaimana di setiap tulisan saya selalu belajar. Sebenarnya, kalau boleh dikatakan, saya hanya ahli dalam satu hal saja : Saya paling ahli untuk Enggan Merasa Susah, saat sedang belajar sesuatu.

Bukankah NLP itu mudah dan mempermudah?

Meta Modeling
Agar pembelajaran yang sudah diangkat oleh Mas Teddi menjadi semakin berguna bagi kita, tentunya kita perlu menyusun suatu kalimat yang punya efek men-challenge pelanggaran Meta Model itu.

Nah, apa pertanyaan paling cocok untuk men-challenge pertanyaan Mas Teddi? Katakan dengan mantap:

Sugesti itu nggak punya pengaruh, saya tidak pernah merasakan perasaan bertambah susah itu, lha wong saya tidak pernah merasa susah belajar NLP dan hypnosis. Sekalipun saya baru saja membaca artikel manapun. Saya memutuskan sejak sekarang dan seterusnya bahwa NLP dan Hypnosis itu mudah, gampang dan mempermudah”.

Nah, sekarang setelah membaca tulisan di atas, dengan mudah kita menyadari bahwa menjadi susah atau menjadi merasa mudah adalah keputusan. Dan kita capable membuat keputusan yang baik untuk kita.

Wuiiiih…
Makasih ya Mas Teddi, sudah memancing pebelajaran bagi kita semua!
Lha kalau Mas Teddi tidak menulis komentar khan, artikel ini tidak pernah ada…
Pancingan pembelajaran yang hebat, dan baik bagi kita semua.

STOP!
Setelah membaca artikel ini, dan merasa lebih mudah dalam memahami Milton Model, bagaimana jika ternyata….  ide dan seeding dari Mas Teddi bukanlah seperti yang saya katakan di atas? Baigaimana jika intensi Mas Teddi bukanlah seperti itu?

Woow.., Ngeri Ngga’….!?

Ingat bagian atas artikel ini, saya sebutkan bahwa Milton Model umumnya dapat dibagi dalam 4 domain : 1. Secara tidak langsung (indirect elicitation pattern), 2. Melalui kebalikan (inverse) Meta Model Pattern, 3. Melalui Patterns of Metaphor, dan 4. Melalui proses penanaman presuposisi (asumsi)

Nah, Patterns of Metaphors adalah penggunaan pola-pola perumpamaan, misal : Majas, Pribahasa, Analogi, dll. Dalam teknik Milton Model.

Ada 2 subkategori penting dalam Patterns of Metaphor ini, yakni 1. Selection Restriction Violations dan 2. Quotes.

Nah, bagaimana jika komentar Mas Teddi itu ternyata masuk dalam Language Pattern yang “Selection Restriction Violations” (SRV)? Apakah itu?

SRV secara mudah adalah suatu proses membuat analogi/perumpamaan dengan melakukan ‘pelanggaran’ atas kapabilitas yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan.

Misal :

  • Ombak Lautan itu bagaikan tengah berbicara mesra denganku.
  • Alam semesta sedang bersedih

Nah, Ombak Lautan ‘kan tidak mungkin berbicara? Alam semesta khan tidak kapabel melakukan aktivitas bersedih? Inilah yang disebut dengan SRV, adanya pelanggaran kapabilitas yang sebenarnya terbatas.

Nah, kalau tulisan Mas Teddi kita tengarai sebagai Patterns of Metaphor berbentuk SRV, maka kesimpulan kita menjadi lain dong…

Mari kita lihat ulang kalimat Mas Teddi :

“Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Hipnosis atau NLP? Hehehe…”

Nah, di dalam kalimat itu, seolah-olah NLP dan Hypnosis itu bisa (capable) untuk bertambah susah…!

Apalagi di belakangnya ada ketawa “Hehehehe”, sepertinya memang SRV deh…

Nah lho!

Contoh lain :

  1. “Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah pinter, Anda atau Saya? Hehehe…”
    Di dalam contoh ini, Anda dan Saya memang kapabel untuk bertambah pinter, jadi tidak ada SRV.
  2. “Nah, setelah membaca artikel ini, mana yang jadi bertambah susah, Batu atau Pasir? Hehehe…”
    Di dalam kalimat ini ada SRV, batu dan pasir khan tidak bisa (tidak capable) untuk susah…

Demikianlah,
Jika pertanyaan / komentar Mas Teddi kita perlakukan sebagai SRV, maka jawaban untuk Mas Teddi adalah :

Tidak ada yang bertambah susah, sebab NLP dan Hypnosis tidak capable (tidak mampu) untuk merasa susah! Yang ada adalah perasaan mudah, setelah membaca artikel ini…

Allohu ‘alam bi sawab…

Demikian, semoga kita semua diberikan Tuhan YME kesempatan untuk bersedia belajar dari situasi apapun, dan dijauhkan dari perasaan “susah belajar”…

Makasih Mas Yan, Makasih Mas Teddi.
Makasih kawan-kawan pembelajar NLP dan Hypnosis …

This article has 28 comments so far!

  1. Teddi P. Yuliawan says —

    Asyiiik…ini yang saya tunggu2…

    Bahasan soal “kengerian” yang bisa timbul dari kelalaian kita dalam menggunakan bahasa. Sekaligus ANUGRAH yang bisa dengan sengaja kita timbulkan SETELAH mempelajari dan mempraktikkan pola-pola bahasa NLP secara BENAR.

    Dan, di bawah bimbingan Pak Ronny…semuanya menjadi MUDAH dan MENYENANGKAN… :-)

    Matur nuwun Pak Kiai… :-)

    Nah, sementara rekan-rekan memikirkan untuk mempelajari dan mempraktikkan NLP dengan lebih serius, perubahan apa saja yang sudah mulai Anda rasakan dengan membaca artikel di atas? :-)

  2. Ronny F Ronodirdjo says —

    Waduh…
    Mas Teddi menjawab yang pertama lagi…

    :)
    :)

    Apakah ini artinya saya harus membuat artikel lagi?

    :)
    :)

    Lha kalau mau artinya, khan ya jangan tanya orang lain ya… Harusnya kan saya nanya ke diri saya sendiri…

    :)
    :)

    Sebab memang diri kita yang selalu membuat arti segala sesuatu, melalui proses yang disebut complex equivalence…

    Jika kita mengganti sudut-sudur makna Complex Equivalence itu, maka kita namanya melakukan reframing…

    BRAVO Mas Teddi…!
    Matur Nuwun Nggih…!

    Ojok manggil saya Kyai lah…, saya masih “makmum” kok…

  3. hadi says —

    thanks artikelnya. setelah membaca artikel ini saya jadi semakin mengerti…

  4. Ronny F Ronodirdjo says —

    Hai Mas Hadi…

    Makasih juga…
    Semoga sukses selalu

  5. Hari Prabowo says —

    wuih, keren! setelah membaca artikel ini semakin bertambah semangat untuk lebih mempelajari NLP dan Hypnosis

    sangat menarik! apalagi metodenya mbah milton erickson!

    Makasih Pak Rony, atas pembelajaranya! pada2 wong jogja! heheh
    Part: perlu di modeling nich orang

  6. Ronny F Ronodirdjo says —

    Halo Mas Hari Prabowo…

    Nama yang keren..,
    Biasanya nama orang sukses…

    Salam kenal dari Wong Yogya juga…
    Terima kasih sudah mampir..

    Sukses selalu

  7. Rahmadsyah says —

    Assalamu’alaikum

    Pak Ronny.. terima kasih banyak atas penjelasan tentang Language Patternnya… sungguh sangat menarik, dan enak penjelasannya. Bagaimana kalau Pak Ronny mengulas juga pattern yang lainnya ?

    Jujur Pak, Mungkin jika artikel sebelumnya, saya dengar langsung dari Pak Ronny (verbal/Lisan). Saya jadi gak ngeh dengan Nestedloopnya. Berhubung tulisan,jadi lebih mudah untuk dikaji mana nestedloopsnya…

  8. Ronny F Ronodirdjo says —

    Wa’alaikum salam ww

    Thanks sudah mampir Mas Rahmadsyah…
    Untuk patterns yang lain, tunggu yah…

  9. Asep Haerul Gani says —

    AlhamdulilLah,

    Akhirnya usai menunggu 2 tahun, tulisan Kyai* Ronny di Portal NLP yang semula lebih banyak membicarakan unsur N dan P nya, saat ini mulai mengeksplor unsur L nya alias Linguistik.

    Bagian yang memang tidak mudah dicerna, namun menarik minat untuk mengikutinya secara perlahan-lahan dan mendorong kita semua untuk tidak hanya pragmatik dalam linguistik juga menjadi analitik dan eklektik dalam aplikasi terapetik.

    Syukurlah rupanya gelitik Kang Teddi membuat dada Kyai Ronny tak mampu membendung lagi hal-hal yang selama ini “rahasia”, sehingga “inti” Ericksonian disampaikan dengan lega lila, dengan ikhlas lillahi ta’ala.

    Bagi saya meskipun ditulis “gratis”, tetap saja untuk memahaminya dengan benar, perlu adanya seorang mentor yang dapat memberikan feedback sehingga pembelajaran menjadi sempurna, menghadiri pembelajaran di Licence NLP Practitioner dan atau Licence Master NLP Practitioner adalah salah satu upaya yang niscaya.

    Dari Santri kalong, Saya dan Teddi terimalah persembahan Terima kasih, untuk yang sudah, sedang dan akan ditulis oleh imam PortalNLP, Kyai Ronny. Mohon terima panggilan akrab dari Santri Anda yang bernama Teddi dan Asep, karena Anda adalah Imam di PortalNLP ini, kamilah yang makmum dan Anda lah yang menjadi Imam. So jadilah selalu Imam Muhtadin, yang memberikan selalu petunjuk, pencerahan kepada kami.

    Salam hangat dari Santri kalong,

    Asep Haerul Gani

  10. Ronny F. Ronodirdo says —

    Hehehe..

    Lha kalau Kang Teddi dan Kang Asep memilih jadi Santri Kalong…

    Saya mendingan memilih jadi “Manusia Kelelawar” aja agar agak dekat-dekat kekeluargaannya dengan Batman…

    Soalnya, kok kurang enak kalau memilih kata “Codot”, ataupun “Kampret”…, sebab biasanya di beberapa daerah, kata ini dipakai untuk istilah mengumpat…
    Hehehehe

    Ohya,
    Dalam bahasa Jawa, kata “Kalong” adalah ambigu :

    - Kalong : sejenis kelelawar
    - Kalong : berkurang

    Jadi Santri Kalong dapat bermakna
    “Santri yang sifatnya seperti Kelelawar.”
    “Santri Yang Berkurang”

    BTW…
    Lha Kang Asep ini khan sebenarnya Imam Besar dari Pesantren Hypnotherapy lho…, sedangkan Kang Teddi adalah Imam Besar dari Milis Indonesia NLP Society, dimana saya jelas-jelas menjadi anggotanya, makmum-nya.

  11. Rahmadsyah says —

    Tatkala Imama Syafii berguru kepada Imam Malik, maka Imam Malik sebagai shahibul bait menjadi imamnya. Bila Imam hambali silaturahim kerumah Imam syafii, maka imam syafii menjadi Imamnya. Baangkali demikian…

  12. Yan Nurindra says —

    Hmmmm …

    Ini Kang Ronny ilmunya keluar semua …. kupasan lingustic yang jadi rahasia utama Ericksonian …..

    Untuk saya pribadi Hypnosis dan NLP sama-sama remeh dan guampiiiilll ……! Asalkan ngerti cara mempelajari dan memahaminya …

    Hypnosis ?
    Lah ini kan ilmu “skill” alias “keterampilan” mirip dengan “nggenjot becak” …! Nggak ada cara lain yang efektif selain ya “di-genjot”, dan jangan khawatir jatuh atau nabrak … disini kita akan ngerti teknik “nggenjot” yang baik, teknik belok dengan ngebut tapi nggak terbalik, sampai dengan kalau nabrak mobil kita harus ngomong “maap bos, kagak sengaja” !

    NLP
    Lah ini kalau yang ini lebih gampang lagi ! Saya tinggal minta mas Ronny menjelaskan ke saya …. beres …! Sebagai contoh : saya hanya perlu beberapa menit untuk memahami Sub-Modalities melalui penjelasan Phobia Cure dari mas Ronny …..

    Jadi mana yang lebih susah antara “Nggenjot Becak” dan “Menyembuhkan Orang Phobia” ?

    Tabik
    Yan Nurindra

  13. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Rahmad…

    Thanks perspektif metaforiknya…

  14. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Yan…

    Sepertinya sama-sama lho mudahnya antara jurus “Menyembuhkan Orang Phobia Nggenjot-Becak”…dan jurus “Nggenjot Becak, Menyembuhkan Orang Phobia”…

    Huehehehehe

  15. Rahmadsyah says —

    Kalau menyembuhkan phobia pengenjot becaknya bagaimana ?

  16. Ronny F Ronodirdjo says —

    Lha, kalau ini Mas Rahmadsyah aja yang menjawab…
    Hehehehe

  17. Teddi says —

    Pasti gampang…karena orang yang nggak biasa nggenjot becak, akan menemukan bahwa rupanya ada hal lain yang lebih layak untuk dibuat fobia daripada fobia yang ia miliki, yaitu nggenjot becak itu sendiri.

    Hehehehe…

    Nah, dari situ ia pun segera menemukan bahwa begitu mudah fobia dibuat, begitu mudah fobia itu dihilangkan.

    Hehehehe….

  18. Ronny F Ronodirdjo says —

    Bener banget Mas Teddi.
    Setuju…

  19. Alfalaq says —

    Aslm. Pak Kiyai Ronny Salam kenal dari santri Hypnotherapy Ciputat Asuhan Pak Kiyai Asep HG.
    Setelah membaca artikel ini akhirnya tersingkap juga tabir inti Ericsonian… Penjelasan Pak Kiyai Ronny tentang Glitikan Kang Mas Teddi semakin mudah dan mempermudah serta semakin mencerdaskan. Mengingatkan kita untuk mempelajari dan mempraktikkan pola-pola bahasa NLP secara BENAR dan amanah…
    Terimakasih atas pencerahannya.

  20. Ronny F Ronodirdjo says —

    Salam kenal kembali Mas…

    Wah… wah … wah…
    Ini ada yang mau jadi Santri kalong lagi yaaa.?
    Hehehe, kok saya jadi mind reading ya…

    Salam untuk Kang Asep yang luar biasa karya-karyanya!

  21. Mastono says —

    Setelah membaca tulisan mas Ronny tentang linguistic ini, saya jadi hati-hati dalam bicara.

    Apa yang dulu saya anggap biasa saja, sekarang setelah tahu menjadi luar biasa.

    Kata-kata yang biasa saya omongkan seperti: “sulit mana? matematika atau fisika” … , sekarang setelah tahu, kata-kata itu luar biasa berbahayanya bila di katakan pada anak-anak …. TAPI bila kata-kata ini di ubah seperti ini: “mudah mana? matematika atau fisika?” maka artinya menjadi luar biasa baiknya karena presupposition nya “mudah” ….

    Duh … sudah berapa kali kah saya mengucapkan kata dengan presupposition yang kurang baik dan membuat orang-orang menjadi tidak berdaya, sebelum saya membaca tulisan-tulisan mas Ronny dan mengikuti kelasnya. Semoga Allah mengampuniku.

    Seberapa banyak juga dana yang saya haburkan untuk menulis iklan-iklan yang menggunakan kata-kata yang tidak pas? … semoga bos belum tau?

    Jujur tulisan ini bukan sebagai suatu “onani kognitif” tulisan yang penuh bahasa-bahasa NLP TAPI pembahasan bahasa keseharian dengan tujuan memberikan pencerahan terhadap pentingnya berkomunikasi.

  22. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Tono yang luar biasa…

    Saya sangat bangga punya kenal dari Anda, seorang yang terus rendah hati mau belajar dari semua orang, padahal Anda sendiri memiliki demikian banyak kualitas yang lebih dari layak untuk dijadikan tempat belajar dari kami semua.

    Salam hormat dari kami.

    Terus berkarya untuk negeri ini!

  23. zein & setannya says —

    Suatu ketika saya pernah salah ucap dan nasihat yang saya terima adalah “cocotmu leh ngomong sing ati-ati cak…!!” entah kenapa ketika membaca interaksi njenengan dg Mas Teddy lewat artikel ini langsung terlintas moment itu TAPI disertai dengan perasaan TERGETAR betapa SALUT, ELEGAN dan INDAHnya orang-orang berilmu yang saling mengingatkan.Sakan membungkuk penuh hormat saya menuliskan ini…matur nuwun Pak Ronny dan Mas Teddy telah memberi TAULADAN & mencerahkan saya tentang betapa mulianya sikap orang orang yang berilmu. Semoga Sang Maha Penuntun saling mengikatkan hati manusia berilmu NLP tuk membuat lebih banyak pencerahan untuk Bangsa ini…

  24. bambang says —

    Assalamu’alaikum Mas dan semua komentators, tidak salah belajar di SLB dan portalNLP, krn merekalah kata – kalimat jadi hidup dan bermakna. Dan hiduppun jadi lebih hidup. Dan asyiknya saya jadi lupa atas pertanyaannya,setelah membaca semua kunci jawabannya … lalu biarlah alam bawah sadar yang menyatakannya … sebelum mengakhiri komen ini, jadi ingat kata guru saya konselor yg hebat bisa memberikan jawaban sampai si penanya lupa apa pertanyaan dan terlebih dia lupa apa ekspetasi jawaban dari pertanyaan yg diberikan itu … that’s the back door … matur nuwun mas Ronny, Pak Yan, Mas Teddy dan teman2 laennya … terimakasih kepada sang maha hidup dan menghidupkan telah mempertemukan saya dengan anda semua…memang tidak sulit kalau sudah “dipertemukan” … salam

  25. Ronny F Ronodirdjo says —

    Halo Mas Zein…

    Luar biasa, semalam saya sedang menulis artikel yang saya baru saja posting di Portal NLP (Meng-Indonesia-kan NLP dan meng-NLP-kan Indonesia), di situ saya sebut nama Mas Zein (tanpa setannya), dan pagi ini saya mendapatkan tanggapan dari Anda.
    Luar biasa, getaran yang positif memang selalu berhubungan.
    Salam salut untuk mas Zein…
    Salam kagem Pak Yai yang nge-ludahin mulut santrinya….

  26. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Bambang Suyono yang baik…

    Setulusnya saya katakan, saya justru belajar dan mengagumi atas bagaimana Mas Bambang membuat suatu tulisan… yang selalu menggunakan submodality yang indah sekali.

    Terus berkarya dan saya tunggu tulisan indahnya lagi di republikNLP.com

  27. Fadholi says —

    Salut Mas Ronny,

    Senang sekali baca artikel Mas Ronny, yang selama ini saya hanya tahu nama Mas Ronny dari bukunya Ibrahim Elfiky. Saya ini pembelajar baru NLP. Tapi artikel Mas di atas sangat menambah pemahaman saya soal NLP.

    Thanks berat sharingnya….

  28. nazarudin says —

    Saya masih merasa buta tentang nlp, beli buku aja baru kemaren. tapi saya mengerti artikel ini, atau enggak ya ?, ah ngerti aja deh. hehehe

Leave a Comment