How To Handle Abreaction And Catharsis

Dalam proses terapi, baik dilakukan dalam kondisi sadar sepenuhnya, light trance, maupun deep trance, klien, cepat atau lambat, pasti akan mengalami suatu luapan emosi. Luapan emosi ini, bisa yang ringan hingga yang sangat intens , merupakan bentuk pelepasan tekanan psikis yang selama ini terpendam di pikiran bawah sadar. Luapan emosi ini dikenal dengan istilah abreaction atau catharsis.

Istilah abreaction pertama kali digunakan dalam psikoterapi saat Josef Breuer mengembangkan “cathartic method” seperti yang dijelaskan dalam buku Studies in Hysteria, yang ia tulis bersama Sigmund Freud di tahun 1895.

Secara teknis, abreaction atau catharsis adalah proses terapeutik berupa lepasnya emosi yang intens yang diikuti dengan terungkapnya suatu emosi yang bersifat traumatik dengan tujuan tercapainya suatu resolusi. Saya menjelaskan hubungan antara simtom, pelepasan tekanan psikis, emosi negatif, dan kesembuhan di artikel saya yang berjudul “Teori Tungku Mental” yang bisa anda baca di http://www.quantum-hypnosis.com/index.php?pid=dtl_artikel&id=48.

Pada definisi di atas tampak bahwa tujuan utama terjadinya abreaction adalah untuk mencapai suatu penyelesaian atau resolusi dari suatu masalah. Namun sayangnya pemahaman ini jarang diungkapkan dengan jelas. Banyak yang mengira bahwa saat klien menangis atau meledak emosinya maka dengan demikian masalah telah berhasil diselesaikan. Benarkah demikian?

Yang terjadi sebenarnya adalah keluarnya emosi yang sekian lama dibendung, ditekan, dan disimpan di reservoir pikiran bawah. Seperti air yang tumpah ruah keluar dari suatu bendungan saat pintu bendungan dibuka. Namun bila sumber air yang mengisi bendungan tidak dihentikan maka saat bendungan ditutup akan kembali terjadi penumpukan air di dalam bendungan.

Inilah yang terjadi pada banyak sesi terapi yang tidak efektif termasuk yang sering terjadi di berbagai retreat. Saat klien mengalami abreaction, ia mengeluarkan begitu banyak tekanan psikis dan setelah itu ia akan merasa begitu lega dan nyaman. Ia merasa masalahnya sudah selesai. Terapis pun menyatakan klien sudah sembuh. Namun beberapa hari atau minggu kemudian simtom yang sama kembali muncul dan klien harus kembali menemui terapis (lain).

Terapis yang mumpuni akan tahu kapan perlu melakukan teknik terapi yang membuat klien mengalami abreaction dan kapan ia tidak perlu melakukannya. Selain itu ada banyak hal yang harus diperhatikan agar dapat membimbing klien mengalami abreaction secara aman, terkendali, dan diakhiri dengan tercapainya resolusi atau penyelesaian masalah.

Terapis pemula biasanya tidak akan nyaman menghadapi abreaction. Sama dengan saya dulunya. Pada saat klien “meledak” saya langsung blank dan kalang kabut plus panik. Namun berkat pembelajaran dan pengalaman akhirnya saya tahu cara yang aman dan efektif menghadapi klien yang mengalami abreaction.

Abreaction adalah sesuatu yang serius dan tidak bisa dibuat main-main. Terapis harus benar-benar siap dan mampu mengatasi luapan emosi kliennya dan memfasilitasi keseluruhan proses abreaction secara mulus, terstruktur, dan berhasil guna. Jika tidak ditangani secara benar maka abreaction justru akan membuat klien semakin “kacau”.

Apa sih sebenarnya yang terjadi pada klien saat ia mengalami abreaction?

Saat klien mengalami abreaction maka ia mengakses memori yang ada di pikiran bawah sadarnya beserta berbagai emosi negatif yang menyertai memori itu. Pada saat memori dan emosi ini naik dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar maka klien akan mengalami kembali semua kejadian (revivification) yang dulu ia alami dan yang mengakibatkan trauma ini. Dengan kata lain ini seperti kita membuat luka lama. Begitu luka ini terbuka maka kita harus cekatan membersihkannya, mensterilkan, memberi obat, dan menjahit kembali sehingga proses penyembuhan terjadi dengan alamiah dan optimal.

Apa yang terjadi bila setelah luka dibuka lalu kita biarkan begitu saja? Pasti akan terjadi infeksi dan membuat luka menjadi semakin parah dan bisa berakibat sangat fatal bagi klien.

Bila melihat penyebab terjadinya maka abreaction dibagi menjadi dua jenis. Pertama, abreaction yang disengaja. Abreaction jenis ini memang sengaja dilakukan oleh terapis terhadap klien dengan menggunakan tenik tertentu dan telah direncanakan dengan sangat hati-hati dan terstruktur. Terapis benar-benar tahu apa dan mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan.

Kedua, abreaction yang tidak direncanakan atau bersifat spontan. Abreaction ini dapat terjadi sewaktu-waktu saat sesi terapi berlangsung. Terapis yang andal akan mampu memfasilitasi dengan baik abreaction yang disengaja maupun yang spontan karena secara teknis penanganannya sebenarnya sama saja.

Saya pernah meminta seorang klien, di salah satu kelas pelatihan QHI, untuk mundur ke satu masa yang sangat menyenangkan dan membahagiakan dirinya. Saat itu saya sedang memberikan contoh melakukan regresi. Saat saya regresi bukannya mundur ke masa bahagia klien malah mundur ke masa yang menyakitkan. Klien langsung abreaction dan menangis hebat. Saya langsung membawa klien keluar dari abreactionnya. Saya sengaja tidak memproses abreaction ini karena di awal sesi kita telah sepakat bahwa klien hanya akan mundur ke masa bahagia.

Setelah klien tenang saya kembali melakukan regresi ke masa bahagia. Kembali ia mundur ke masa yang menyakitkan. Ternyata pikiran bawah sadarnya tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan repressed content karena ia berada di tempat yang aman dan dalam penanganan orang yang mampu membantunya.  Kembali saya membawanya keluar dari abreaction. Selanjutnya kembali saya melakukan regresi dan ia kembali lagi ke masa yang menyakitkan. Saya langsung menghentikan proses regresi dan membawa klien keluar dari kondisi profound somnambulism. Sengaja saya tidak lakukan terapi karena keterbatasan waktu dan mengingat kondisi fisik dan mental saya yang sudah cukup lelah setelah mengajar sehari penuh. Pada pertemuan berikutnya barulah saya memproses abreactionnya hingga tuntas.

Pernah juga terjadi ada seorang pasien wanita di rumah sakit, saat kembali sadar setelah menjalani suatu operasi yang mengharuskan dilakukan pembiusan total, tiba-tiba mengalami abreaction hebat. Ternyata saat itu secara tidak sengaja ia mengakses materi psikis yang selama ini disembunyikan pikiran bawah sadarnya. Waktu kecil ia sering mengalami pelecehan seksual dan dipukuli tetangganya. Akibatnya pasien ini mengalami depresi. Untunglah dokter yang merawatnya cukup tanggap dan merujuk pasien ini ke seorang terapis yang mampu membantu klien mengatasi pengalaman traumatik ini dan bisa sembuh.

Anda mungkin bertanya, “Lho, kok bisa pasien ini mengingat repressed content yang selama ini disembunyikan pikiran bawah sadarnya?”

Jawabannya, “Bisa”. Ada tiga macam hipnosis. Pertama self-hypnosis atau hipnosis yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri. Kedua, hetero-hypnosis atau hipnosis yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Dan yang ketiga, para-hypnosis atau kondisi hipnosis yang disebabkan oleh obat-obatan tertentu. Nah, pasien ini saat mulai kembali sadar ia sebenarnya keluar dari kondisi hipnosis. Saat dalam kondisi ini secara tidak sengaja ia mengakses repressed content itu.

Salah satu situasi yang menurut saya cukup berbahaya adalah, dan ini cukup sering terjadi, terapis yang tidak memahami cara penanganan abreaction justru secara tidak sengaja membuat klien mengakses materi psikis (memori) yang selama ini ditekan dan dipendam di pikiran bawah sadar. Materi ini sengaja disembunyikan oleh pikiran bawah sadar klien, bahkan klien seringkali lupa atau tidak ingat mengenai materi ini, demi kebaikan klien. Pengalaman yang sangat traumatik, dengan muatan emosi negatif yang begitu intens, tentunya bisa berakibat fatal bagi kesehatan mental/emosi klien. Dan karena salah satu sifat pikiran bawah sadar adalah melindungi diri kita dari segala hal yang ia (pikiran bawah sadar) persepsikan berbahaya, baik secara fisik maupun mental/emosi, maka pengalaman atau memori ini disembunyikannya sehingga tidak bisa diakses oleh pikiran sadar.

Dengan menggunakan Mind Mirror tampak jelas bagaimana pikiran bawah sadar menghambat akses ke memori ini.  Gelombang theta klien sangat aktif dan fluktuatif pertanda ada sesuatu.
Namun terjadi alpha blocking sehingga data ini tidak bisa naik ke pikiran sadar (beta).
Secara umum abreaction biasanya terjadi saat dilakukan regresi, baik age regression maupun past life regression. Dengan kedalaman trance yang sesuai, profound somnambulism, maka klien akan mengalami kembali (revivification) semua kejadian yang dulunya membuat ia trauma. Jika kedalamannya tidak mencapai profound somnambulism, misalnya hanya di level medium trance maka yang terjadi adalah pseudo-revivification atau yang lebih dikenal dengan hypermnesia. Dalam kondisi ini sulit terjadi abreaction.

Bila materi yang sangat traumatik ini sampai naik ke pikiran sadar dan tidak terjadi resolusi maka efeknya sangat negatif terhadap klien. Ada seorang wanita yang mengalami guncangan emosi yang luar biasa setelah menjalani past life regression (PLR) yang dilakukan seorang terapis di satu kota besar. Dan karena penanganannya tidak optimal kabar terakhir yang saya dengar klien ini masuk rumah sakit jiwa. Ini pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua agar tidak main-main dengan pikiran klien.

Hal yang perlu dilakukan adalah membantu klien mengeluarkan (semua) emosi yang terpendam  dengan intensitas sesuai yang diijinkan oleh pikiran bawah sadarnya. Terapis tidak boleh memaksa klien untuk mengeluarkan secara tuntas semua emosi ini hanya dalam satu sesi terapi. Jika klien siap maka boleh dalam satu sesi tuntas. Jika tidak maka abreaction ini bisa “dicicil” atau dilakukan dalam sesi yang berbeda.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah apakah klien mengidap sakit jantung, tekanan darah tinggi, atau epilepsi. Bila ya maka terapis harus benar-benar ekstra hati-hati bila terpaksa membimbing klien untuk mengalami abreaction.

Saya pribadi tidak akan membiarkan klien yang mengalami masalah kesehatan seperti yang saya sebutkan di atas mengalami abreaction. Terlalu riskan. Saya biasanya menggunakan teknik lain yang bisa dengan sangat cepat menetralisir emosi apapun yang klien rasakan tanpa klien harus merasakan kembali emosi itu. Dengan kata lain saya memodifikasi proses abreaction sehingga walaupun agak berbeda tapi hasilnya sama. Kalaupun saya terpaksa harus membimbing klien ini mengalami abreaction maka prosesnya saya cicil, sedikit demi sedikit.

Teknik ini juga saya gunakan untuk membantu wanita yang mengalami pelecehan seksual. Sudah tentu akan sangat menyakitkan kalau klien harus abreaction dan mengalami kembali pengalaman traumatik itu.

Dalam kondisi normal setelah klien mengalami abreaction, setelah tekanan psikis berhasil dilepas, maka langkah selanjutnya adalah membimbing klien menjalani proses restrukturisasi program pikiran atau memori. Begitu tahap ini berhasil dilakukan dengan sempurna maka proses terapi berhasil mengeliminir emosi dari memori. Selanjutnya bila klien mengingat kembali kejadian, yang dulunya membuat ia sangat trauma, perasaannya datar dan sama sekali tidak ada pengaruh.

Lalu, bagaimana cara menangani abreaction agar dicapai resolusi terbaik untuk klien?

Pertama, terapis harus punya postur yang bagus di depan klien. Apakah klien benar-benar yakin dan percaya pada kemampuan dan integritas terapis ataukah ada keraguan di hati klien? Hal ini sangat penting karena terapi sebenarnya bermula sejak seorang klien mulai tahu tentang terapis, bukan saat klien bertemu terapis di ruang praktik.

Setelah itu dapatkan hypnotic contract antara terapi dan pikiran bawah sadar klien. Pastikan bahwa pikiran bahwa sadar klien sepakat untuk menjalankan semua bimbingan, arahan, dan instruksi yang disampaikan kepadanya selama sesi terapi. Hal ini penting agar saat terjadi abreaction, sehebat apapun, pikiran bawah sadar klien tetap menjalankan berbagai sugesti yang diberikan. Sudah tentu sugestinya antara lain klien kuat menjalani abreaction atau klien keluar dari abreaction.

Sebelum melakukan terapi pastikan klien telah benar-benar masuk ke kondisi profound somnamblism. Hal ini bertujuan agar secara fisik dan terutama pikiran klien telah benar-benar rileks. Pada kondisi ini sistem saraf yang aktif atau dominan adalah sistem saraf parasimpatetik. Intensitas abreaction pada saat sistem saraf simpatetik sedang aktif akan lebih ringan dan terkendali daripada dalam kondisi normal.

Selanjutnya, sebelum melakukan terapi pastikan memberikan sugesti pengaman. Misalnya dalam kondisi apapun pikiran bawah sadar klien tetap akan patuh sepenuhnya menjalankan instruksi yang diberikan terapis. Bentuk pengaman lainnya adalah meminta klien membuat tempat kedamaian dan melakukan eksplorasi tempat kedamaiannya untuk beberapa saat. Eksplorasi ini selain membuat klien merasa sangat aman dan nyaman juga merupakan salah satu teknik deepening yang sangat efektif bagi klien yang visual. Dengan sedikit modifikasi maka akan sama efektif untuk klien yang auditori dan kinestetik.

Gunakan tempat ini sebagai safety exit bila abreaction klien sangat intens dan sudah mencapai level yang tidak bisa ia tolerir lagi. Bisa juga terapis mensugestikan agar klien kembali menyadari sedang berbaring di kursi di ruang terapi. Jadi, kursi terapinya digunakan sebagai tempat kedamaian. Satu hal yang perlu diwaspadai, jangan pernah memaksakan tempat kedamaian anda kepada klien. Biarkan klien menentukan atau menciptakan sendiri tempat kedamaiannya.

Cara lain yang sangat ampuh adalah dengan mensugestikan klien keluar dari pengalaman traumatik yang sedang ia alami. Saat klien mengalami abreaction maka yang terjadi adalah revivification. Klien benar-benar mengalaminya seperti dulu saat kejadian itu terjadi. Ini adalah kondisi asosiasi. Lakukan sebaliknya yaitu disosiasi. Minta klien keluar dari pengalaman itu dan hanya menyaksikan pengalaman atau kejadian itu sebagai film. Kalau emosinya masih tetap intens, lakukan modifikasi pada submodalitas visual atau auditori dari film yang sedang ditonton klien dengan tujuan menurunkan intensitas emosinya.

Di awal saya mengatakan bahwa sangat penting bagi terapis untuk punya postur yang bagus di depan klien. Terapis harus tampil dan dipandang sebagai figur otoritas.Hal ini sangat bermanfaat saat membimbing klien dalam kondisi somnambulism, apalagi saat abreaction.

Di salah satu sesi pelatihan QHI para peserta saling melakukan terapi. Ternyata ada satu peserta yang mengalami abreaction dan tidak bisa reda walaupun rekannya telah melakukan berbagai teknik yang saya ajarkan. Saat saya yang memberikan sugesti kepada pikiran bawah sadar peserta itu untuk menghentikan dan keluar dari abreaction serta merta peserta ini langsung rileks dan keluar dari abreaction-nya. Mengapa ini bisa terjadi? Karena otoritas saya, menurut persepsi pikiran bawah sadar peserta ini, sangat tinggi dan melampaui otoritas rekannya yang juga lagi sama-sama belajar. Anda jelas sekarang?

Teknik yang saya jelaskan di atas sangat manjur untuk membawa klien keluar dari abreaction. Saya dulu selalu menggunakan teknik-tenik ini. Dan sekarang sudah hampir tidak pernah lagi. Bukan karena tidak efektif namun saya mengembangkan sendiri teknik penanganan abreaction berdasar pengalaman saya. Sekarang hanya dalam waktu 2 detik saya bisa mengeluarkan klien dari abreaction sehebat apapun yang ia alami. Dan teknik ini selalu berhasil. Teknik ini diajarkan di kelas pelatihan Quantum Hypnosis Indonesia dan telah sangat membantu alumnus pelatihan saya menangani dan memproses abreaction dengan sangat mudah, aman, dan efektif. Akan sangat teknis bila saya jelaskan di artikel ini.

Saat klien dibimbing keluar dari abreaction dan berada di tempat kedamaian beri kesempatan klien ”istirahat” sejenak sambil memberikan beberapa sugesti untuk menguatkan klien. Setelah klien siap bimbing ia kembali ke kejadian traumatik itu dan mengalami kembali abreactionnya. Demikian seterusnya hingga tekanan psikis berhasil dikeluarkan semua.

Setelah tekanan psikis habis barulah dilakukan restrukturisasi. Lakukan pemaknaan ulang atas peristiwa itu dan netralisir emosi yang mungkin masih tersisa. Terapi ditutup dengan melakukan posthypnotic suggestion untuk mengamankan dan memperkuat perubahan yang telah dilakukan sehingga klien tidak lagi bisa kembali ke pola lamanya walaupun ia secara sadar menginginkannya atau mungkin lingkungan yang memprovokasi ia kembali ke pola lama itu. Dan sebagai sentuhan akhir yang juga sangat penting lakukan “penyegelan” atau sealing pada program positif yang baru diinstal sehingga tidak dapat sembarangan diotak-atik oleh klien atau mereka yang tidak berkepentingan.

Sekalipun abreaction atau catharsis merupakan fenomena yang umum terjadi dalam proses terapi namun bila tidak ditangani dengan baik akan dapat berpotensi semakin menyengsarakan hidup klien, seakan menoreh luka baru di atas luka lama. Melalui kehati-hatian yang tentunya dilandasi pengetahuan mendalam, ketenangan, kebijaksanaan, dan pengalaman dari hasil akumulasi jam terbang yang cukup maka terapis dapat memfasilitasi dengan baik hal ini sehingga menjadi salah satu teknik pelepasan tekanan mental yang sangat positif, konstruktif, dan efektif dalam membantu klien mengatasi masalahnya.

This article has 15 comments so far!

  1. Ronny F Ronodirdjo says —

    Mas Adi,

    Salut!

    Artikel yang sangat berguna bagi tema-teman yang serius mendalami hypnotherapy.

    Merupakan pemaparan lengkap dan komplit, dari dataran issue, wacana diskursus, kehati-hatian, sampai tekhnis pelaksanaan…

    Suatu kemurah-hatian yang luar biasa.

    Thanks for sharing Mas…

  2. Adi W. Gunawan says —

    Hi Mas Ronny,

    Sama-sama Mas Ronny. Hidup akan sangat indah bila kita bisa saling berbagi, saling belajar, dan membelajarkan.

    Saya belajar banyak dengan membaca berbagai artikel yang ditulis rekan-rekan di Portal NLP tercinta ini.

    Salam hangat dari sesama pembelajar,

    Adi W. Gunawan

  3. Asep Haerul Gani says —

    Pak Adi W Gunawan yang baik,

    Tangisan, raungan, ketegangan badan, kejang saat klien mengalami abreaction bisa jadi membuat pemula kaget dan bingung.

    Memodel para guru dalam Ericksonian method, kuncinya adalah utilisasi dari keadaan abreaction klien, indirect suggestion untuk menerima keadaan itu, merasakan energi yang (umumnya)tertahan pada tubuh tertentu dan mengarahkan klien untuk menggerakkan energi tersebut sehingga mengalir ke seluruh tubuh dan klien mendapatkan insight untuk mengelola energi tersebut (memunculkan, mengalirkan, memperbesar, memperkecil bahkan menghilangkannya). Dengan metaphor dan reframing yang elegan klien dapat digiring menuju kepada keadaan yang merupakan intentionnya.

    Kunci pada diri terapis/coach adalah kredibilitas dan integritas dalam pandangan klien. Inilah yang menjadikan seakan-akan terapis memiliki otoritas yang apapun yang dikatakan akan diikuti klien.

    Sukses selalu pak Adi dengan QHI nya. Kapan muncul buku berikutnya.

    Asep Haerul Gani

  4. Adi W. Gunawan says —

    Hi Kang Asep….

    Matur nuwun Pak untuk masukannya.

    Dalam waktu dekat akan terbit 2 buku baru saya yang berjudul Quitters Can Win dan Quantum Life Transformation.

    Salam hangat,

    Adi W. Gunawan

    Adi

  5. Ronny F Ronodirdjo says —

    Wuihhh..
    Judulnya amat indah :

    Quitters Can Win!!!

    Sangat memberdayakan!

  6. Toha Zakaria says —

    Pak Adi, Sungguh Luar biasa Artikelnya. menambah wawasan dan semangat untuk terus belajar.
    Ouw itu pak judul buku pak adi yang akan segera terbit. “Quitters Can Win” kalo ga salah pernah ada artikelnya ya. Tak sabar menunggu terbitnya 2 buku pak Adi..
    Semoga Ilmu pak Adi semakin berkah

  7. Yan Nurindra says —

    Dear All,

    Tulisan yang sangat luar biasa dari Pak AWG, seperti komentar Kang Ronny, bahwa tulisan ini menyentuh berbagai aspek, mulai dari teori pendukung sampai dengan tataran operasional.

    Secara singkat saya mencoba menyimpulkan bahwa pesan utama dari tulisan ini adalah Hypnotherapy bukanlah suatu “permainan” atau suatu tindakan yang mengandalkan unsur “coba-coba” ! Karena Hypnotherapy bersentuhan langsung dengan jiwa manusia.

    Tetapi saya juga berharap bahwa tulisan inipun tidak serta-merta membuat orang untuk “miris” mempelajari Hypnotherapy, atau mendadak membayangkan resiko yang begitu fatal jika terjadi suatu kesalahan atau ketidak-siapan prosedur.

    ***

    Jika saya ditanya, apakah dengan menguasai berbagai teori Hypnotherapy moderen, mulai dari teori dari prosedur regressi yang benar, teori untuk membuat tempat kenyamanan, teori mencari akar permasalahan, dan puluhan teori lainnya, serta merta membuat seseorang terampil dalam melakukan Hypnotherapy ? Saya pasti akan menjawab dengan tegas dan jelas, yaitu : “Tidak” ! Lho ….?

    Saya sering mengatakan bahwa Hypnosis adalah suatu “seni” yang ditulis ulang, nah sebagai suatu “seni”, maka harus berlangsung suatu attitude yang dikenal dengan istilah : “Trusting Mindset”, artinya menyerahkan sepenuhnya apa yang akan terjadi pada proses berlangsungnya Hypnotherapy sepenuhnya kepada intuisi kita. Tentu saja yang dimaksudkan “intuisi” disini merupakan ekspresi dari berbagai pengetahuan pendukung serta teori yang telah kita peroleh. Oleh karena itu “latihan” merupakan hal mutlak untuk dapat memainkan “seni” ini, dan harus selalu dilakukan dalam mode : Trusting Mindset.

    ***

    Secara singkat, sebagai suatu “skill” yang dibangun melalui proses berlatih, maka “bermain” dengan Hypnosis & Hypnotherapy mau tidak mau akan membawa kita kepada suatu “kesalahan” demi “kesalahan”, tidak berbeda seperti saat kita belajar bersepeda. Bahkan “kesalahan” demi “kesalahan” ini akan membuat kita semakin maju dan memahami esensi dari Hypnosis & Hypnotherapy.

    Lalu bagaimana ?

    Yang harus disiasati adalah sedapat mungkin kita tidak melakukan kesalahan yang “fatal”. Seperti belajar naik sepeda, mungkin jatuh dan lecet2 sedikit adalah soal biasa, jangan ketika kita belum mahir mengerem kita bermain sepeda di jalan raya, tentu akan fatal akibatnya, mungkin kita akan tertrabrak mobil ?!

    ***

    Dalam tingkat operasional, jika kita baru saja “lulus” dari pelatihan Hypnotherapy, mungkin sebaiknya hanya “bermain-main” dengan “empowerment”, sampai kita benar-benar memahami filosofi dan “roh” dari entitas Pikiran Bawah Sadar. Tidak masalah kita hanya menggunakan teknik “Direct Suggestion” selama sifatnya hanya empowerment, mirip seperti pemberian Vitamin C ke pasien dengan penyakit apapun juga ….!

    Mungkin jika kita sudah mulai mahir, kita boleh sedikit-sedikit bermain dengan Future Pacing ?! Lalu mulai berlatih Positive Regression sambil melakukan uji coba “tempat kenyamanan” ….! Dst.

    Nah, bayangkan … jika baru sehari selesai pelatihan Hypnotherapy lalu menangani kasus yang memerlukan pencarian akar permasalahan … dan dengan pede melakukan regression untuk mencari ISE (awal permasalahan) …. Wah … bakalan “bubar” …!

    Atau baru saja memahami Regression lalu langsung mencoba PLR, tanpa berdiskusi tentang spiritual belief … ya bener … bisa membuat Client “miring” ….!

    ***

    Kembali ke tulisan dari Pak Adi W. Gunawan, dimana secara lengkap Pak AWG telah memaparkan bahwa “abreaction” yang mungkin tampak sederhana (ah, kan tinggal di-sugesti dan di-elus-elus pundaknya dikit) dapat menghasilkan efek negatif yang sangat dahsyat ……

    Dan walaupun Pak Adi telah memaparkan secara sepintas teknik-teknik yang harus dikuasai, sekali lagi harap diingat bahwa kita bersentuhan dengan jiwa manusia ! Kuasai “seni” ini tahap demi tahap ….!

    ***

    Dan akhirnya ….. saya merekomendasikan rekan-rekan, terutama yang berminat untuk memahami Hypnotherapy secara serius untuk menimba A-Z pengetahuan ini dari Bp. Adi W. Gunawan yang saya kenal secara pribadi sebagai sosok yang selalu meng-upgrade diri dengan berbagai pengetahuan Hypnotherapy terkini.

    ***

    Viva Hypnotherapist Indonesia !

    Yan Nurindra

  8. Adi W. Gunawan says —

    Dear Pak Yan,

    Terima kasih banget untuk masukan Bapak. Sangat mencerahkan dan memperluas cakrawala pemahaman mengenai hipnosis/hipnoterapi.

    Saya setuju dan mendukung sepenuhnya pendapat dan pandangan yang Bapak tulis. Benar, seharusnya demikianlah kita mempelajari hipnosis/hipnoterapi.

    Pada level pemula kita belajar sekian banyak pengetahuan dan teknik yang berguna sebagai landasan pijak berpikir dan bertindak. Ini adalah landasan sains.

    Selanjutnya setelah semuanya terintegrasi ke struktur kognisi maka dengan sering praktik kita akhirnya akan menguasai seni hipnosis/hipnoterapi.

    Pada level mahir maka teknik yang digunakan adalah teknik “Tanpa Teknik” karena apapun yang dilakukan terapis sudah merupakan teknik terapi. Dengan kata lain terapis bekerja berdasarkan intuisi (Trusting Mindset), yang seringkali sekan-akan tidak sejalan dengan berbagai teknik awal yang ia pelajari namun justru mampu memberikan hasil terapi yang dahsyat.

    Benar Pak Yan,tulisan ini memang bukan untuk membuat miris rekan-rekan yang ingin belajar hipnoterapi. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa hipnoterapi sangat dahsyat, seperti juga NLP, jika dipelajari dan dipraktikkan, tentunya dengan dilandasi integritas dan pengetahuan yang benar.

    Sedikit sharing Pak. Saya pernah berdiskusi dengan seorang rekan psikolog mengenai penanganan emosi seorang wanita yang dalam kurun waktu 12 tahun melakukan aborsi 5 x dari hasil hubungan dengan pria yang bukan suaminya. Wanita ini hingga saat diterapi belum menikah.

    Menurut rekan psikolog ini untuk membantu wanita ini menyelesaikan masalah emosinya, terutama perasaan bersalah, berdosa, takut, menyesal, kecewa, dll karena tindakannya itu akan membutuhkan upaya dan waktu yang tidak sedikit.

    Namun dengan memproses dan mengeluarkan emosi yang terpendam sekian lama di “reservoir” pikiran bawah sadarnya melalui abreaction/catharsis yang difasilitasi dengan konstruktif maka masalahnya dapat diselesaikan hanya sekejap. Hanya dalam 1 sesi (1 jam) saja dan tuntas.

    Beberapa bulan kemudian waktu dilakukan follow up hasilnya tetap positif. Masalah emosi yang berhubungan dengan kejadian itu telah benar-benar clear.

    Di sisi lain pernah ada rekan yang bercerita bahwa ada teknik penanganan abreaction yang agak “lain”. Tekniknya yaitu terapis memabantu klien mengeluarkan emosinya (abreaction) dan setelah itu membiarkan pikiran bawah sadar klien yang membereskannya sendiri.
    Alasannya yaitu pikiran bawah sadar sangatlah cerdas dan pasti mampu memnbereskan sendiri masalah yang tadinya tersembunyi dan berhasil diangkat keluar.

    Sewaktu ditanya komentar saya mengenai teknik ini saya menjawab bahwa saya tidak kompeten mengomentarinya karena saya tidak pernah melakukan cara ini dan kedua saya tidak punya dasar teori yang cukup untuk memahami cara kerja teknik ini.

    Hingga saat ini saya masih terus mencari literatur pendukung untuk bisa memahami teknik di atas.

    So.. bagi rekan-rekan semua mari kita memajukan hipnosis/hipnoterapi bersama-sama.

    Salam hangat,

    Adi W. Gunawan

  9. Teddi P. Yuliawan says —

    Salam kenal Pak Adi…

    Terima kasih atas artikel komprehensifnya. Saya sendiri pernah mengalami, meskipun sudah berkali-kali menggunakan teknik Time Line Therapy, klien yang mengalami ketakutan saat proses terapi. Rupa2nya, beliau ini memang punya ketakutan pada ketinggian.
    Jadilah kita mesti tenang dan cerdik untuk mengatasi agar proses terapi dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan perubahan pada klien.

    Betul sekali yang diuraikan Pak Yan. Sebagai terapis pemula, paling baik mulai berlatih dari yang sifatnya empowerment. Karena saat sudah mahir melakukan model2 empowerment (baca: membangun resource positif), akan menjadi alat yang ampuh untuk mengatasi kondisi2 tak terduga seperti abreaction.

    Saluuut…

  10. Isywara Mahendratto says —

    Salam kenal pak Adi …

    Senang …. ketemu portal NLP. Artikelnya bagus bagus dan mencerahkan.

    Ternyata mas Kris nongkrongnya juga di sini he he he…..

  11. Daday Rahmat Hidayat says —

    Yth. Pak Adi Wijaya Gunawan,
    Suatu kebanggaan bagi saya bisa menimba ilmu Hypnotherapy, langsung dari seorang master seperti Pak Adi, yg selalu mengupdate ilmunya, bahkan dari hasil pengalaman prakteknya bisa juga memperkaya pengetahuan yg dimiliki.
    Saya baru menyadari bahwa proses belajar hypnotherapy bukan hanya di dalam kelas saja, namun bisa saja terjadi proses belajar saat menghadapi suatu kasus yg dihadapi dalam praktek. Saya tahu pasti, karena saya mengalaminya saat interaksi dengan Pak Adi.

    Tidak sembarangan guru hypnotherapy bisa menangani kasus abreaction, karena kasus ini seringkali muatannya mirip kesurupan dalam kasus tertentu.
    Abreaction dan kesurupan boleh jadi sarana untuk merilis atau mengeluarkan emosi yg terpendam.

    Walhasil, dengan teknik penanganan abreaction yg diberikan pak Adi saat kelas QHI, saya sekarang dengan mudah dan simple bisa menangani orang kesurupan atau trance, tidak perlu lagi pakai ajian ajian tertentu atau japa mantra untuk penyembuhan orang kesurupan.

    Komentar saya : Pak Adi memang luar biasa, dan tidak salah saya telah belajar dari sumber yg mumpuni.
    Kreatifitas yg timbul saat interaksi dengan para murid, bisa saja menghasilkan variasi dan improvisasi dari ilmu hypnosis, misalnya Hypno NLP, Hypno EFT, surogate EFT (EFT jarak jauh) dsb.
    dan kalimat yg paling saya ingat dari Pak Adi adalah seorang guru/instruktur/trainer berhak dicabut izin mengajarnya bila sudah tidak mau lagi belajar.

    Terima kasih Pak Adi atas pencerahan dan inspirasi yg diberikan. Semoga kita bisa mencerahkan alam semesta.

    Terima kasih juga kepada rekan rekan di forum ini, salam kenal dan semoga saja diskusi di forum ini bermanfaat bagi peningkatan kwalitas hidup manusia.

  12. Daday Rahmat Hidayat says —

    Yth. Pak Adi Wijaya Gunawan,
    Suatu kebanggaan bagi saya bisa menimba ilmu Hypnotherapy, langsung dari seorang master seperti Pak Adi, yg selalu mengupdate ilmunya, bahkan dari hasil pengalaman prakteknya bisa juga memperkaya pengetahuan yg dimiliki.
    Saya baru menyadari bahwa proses belajar hypnotherapy bukan hanya di dalam kelas saja, namun bisa saja terjadi proses belajar saat menghadapi suatu kasus yg dihadapi dalam praktek. Saya tahu pasti, karena saya mengalaminya saat interaksi dengan Pak Adi.

    Tidak sembarangan guru hypnotherapy bisa menangani kasus abreaction, karena kasus ini seringkali muatannya mirip kesurupan dalam kasus tertentu.
    Abreaction dan kesurupan boleh jadi sarana untuk merilis atau mengeluarkan emosi yg terpendam.

    Walhasil, dengan teknik penanganan abreaction yg diberikan pak Adi saat kelas QHI, saya sekarang dengan mudah dan simple bisa menangani orang kesurupan atau trance, tidak perlu lagi pakai ajian ajian tertentu atau japa mantra untuk penyembuhan orang kesurupan.

    Komentar saya : Pak Adi memang luar biasa, dan tidak salah saya telah belajar dari sumber yg mumpuni.
    Kreatifitas yg timbul saat interaksi dengan para murid, bisa saja menghasilkan variasi dan improvisasi dari ilmu hypnosis, misalnya Hypno NLP, Hypno EFT, surogate EFT (EFT jarak jauh) dsb.
    dan kalimat yg paling saya ingat dari Pak Adi adalah seorang guru/instruktur/trainer berhak dicabut izin mengajarnya bila sudah tidak mau lagi belajar.

    Terima kasih Pak Adi atas pencerahan dan inspirasi yg diberikan. Semoga kita bisa mencerahkan alam semesta.

    Terima kasih juga kepada rekan rekan di forum ini, salam kenal dan semoga saja diskusi di forum ini bermanfaat bagi peningkatan kwalitas hidup manusia.
    Wassalam

    Daday Rahmat Hidayat.

  13. Adi W. Gunawan says —

    Hi Pak Daday,

    Senang bisa mendapat sapaan Bapak kembali. Saya yang justru sangat berterima kasih kepada Bapak dan juga rekan-rekan lainnya yang telah bersedia membuka hati dan memberikan saya kesempatan untuk berbagi pengharapan, ilmu, pengetahuan, dan pengalaman.

    Sebagai sesama terapis saya sangat menghargai apa yang Bapak lakukan. Dan saya juga belajar banyak pada pengalaman rekan-rekan terapis lainnya. Mereka semua punya kelebihan dan keunikan.

    Guru yang sesungguhnya adalah klien-klien kita. Mereka lah pengajar yang “memaksa” kita untuk terus berkembang dan semakin meningkatkan diri.

    Dan buku yang paling lengkap dan tak kan pernah habis dipelajari adalah buku sumber dari segala sumber buku yaitu Buku Kehidupan.

    Saya juga belajar banyak dari para tokoh hipnosis/hipnoterapi Indonesia.

    Salam hangat,

    Adi W. Gunawan

  14. Fadholi says —

    Pak Adi ysh,

    Membaca artikel dan paparan Bapak. Saya yang selama ini penasaran dengan Hypnotheraphy dan sangat tertarik menjadi tercerahkan. Enam bulan ini saya sedang giat-giatnya belajar NLP, termasuk sudah ikut kelas salah satu master NLP Insonesia. Mohon penjelasan untuk kelas Hypnotheraphy Bapak.

    Salam kenal,

    Fadholi

  15. Adi W. Gunawan says —

    Hi Pak Fadholi,

    Senang berkenalan dengan Bapak. Saya akan menyelenggarakan kelas pelatihan hipnoterapi 100 jam di Jakarta bulan Juli. Informasi lengkap bisa lihat di http://www.quantum-hypnosis.com atau http://www.adiwgunawan.com.

    Salam hangat,

    Adi W. Gunawan

Leave a Comment