Delete Aja: Terapi ala Orang IT
Ted, kemarin kan abis review. Wah, pusing berat, aku dibantai abis.
Loh, kok sekarang masih utuh?
Hehehe…bisa aja lo. Maksudnya, aku kemarin dimarah-marahin sama bosku.
Ya, udah biasa kan?
Iya sih. Cuman kok rasanya, sampai sekarang rasa takut itu masih terasa terus ya. Padahal biasanya aku tuh bebal loh.
Terus?
Ya, bantuin donk. Kemarin aku dengar si X kamu bantuin untuk diet udah mulai berhasil tuh.
Lah, emang kamu mau diet juga?
Ya mau sih. Setelah yang takut ini ilang. Hehehe…
OK, aku bantuin yang sekarang. Yang diet besok ya? Abis itu kukirim invoice. Hehehe…
Hehehe…OK deh. Sekarang aku mesti gimana?
Duduk dulu lah sini. Nah, sambil rileks, sekarang munculin tuh rasa takutnya.
Wah, caranya?
Lah, bukannya kamu suka bayangin Luna Maya terus senyum-senyum sendiri?
Iya emang. Tapi apa hubungannya?
Ya sama kayak gitu. Sekarang, kamu munculin lagi deh tuh rasa takut, persis sama seperti rasa takut yang kamu alami kemarin. Sekarang!
Oh…hmmm…(memejamkan mata, ekspresi wajah mulai berubah, beberapa saat kemudian tampak muncul keringat).
Nah, bagus…betul, yang itu. OK, buka mata sekarang. Emang berat badanmu berapa, kok mau diet?
Eh? Oh, ya 63 sih. Cuman rasanya badan udah kegendutan.
OK deh. Nah, kamu sering men-delete file kan?
Ya iya lah. Kerjaanku tiap hari ya pasti ada nge-delete-nya.
Nah, sekarang, pikirkan saat kamu sedang melihat sebuah file yang tahu sudah tidak kamu perlukan lagi dan ingin kamu delete.
OK. (Mata terpejam, arah kepala lurus, tangan kanan bergerak seperti sedang memegang mouse).
Nah, betul itu. Bagus. Apa yang kamu pikirkan tepat pada saat mau men-delete?
Mmm…ada suara yang bilang kalau ini udah nggak penting nih.
Bagus. Ada lagi yang lain? Yang kamu lihat atau yang kamu rasakan?
Di monitor kelihatan file-nya. Terus makin lama kayak makin kecil dan kabur. Terus rasanya jadi nggak penting gitu.
OK banget tuh. Rasa nggak penting itu dimana letaknya di tubuhmu? Seperti apa rasanya?
Awalnya seperti ada kayak tekanan di dada bawah. Terus pas jadi nggak penting rasa itu mengalir ke bawah terus hilang.
Sip. Bagus. OK, buka mata sekarang. Emang mau nurunin berat jadi berapa?
Eh? Oh, ya pengennya turun 5 kilo lah.
Oh, cuma 5 kilo mah enteng.
Beneran tuh?
Ya bener lah. Nah, sekarang kita beresin dulu ya nih si takut takut kucing ini.
Hehehe…takut takut kucing. Lucu juga.
OK, munculkan si takut ini.
Hmmm…(langsung muncul ekspresi wajah yang sebelumnya).
Bagus. Makin jago nih. OK, sekarang, Bayangkan gambar yang kamu lihat di rasa takut ini berubah jadi icon file yang akan kamu hapus sebentar lagi. Beri saya tanda kalau sudah.
OK.
Nah, sekarang, buat ia makin lama makin kecil dan kabur.
Hmmm…(mengangguk).
Bagus banget. OK, rasakan perasaan nggak penting…makin nggak penting…sehingga bahkan ketika kamu ingin menganggapnya penting, ia justru makin nggak penting. Mengaliiiiir ke bawah…dan mulai menghilang…
Hmmm… (mengangguk).
Dan, tepat saat ia terasa betul-betul nggak penting, tekan tombol delete dengan mantap.
Hmmm…(jari telunjuk melakukan gerakan menekan tombol).
Bagus. Yak, buka mata sekarang. Omong-omong, ini kemauan sendiri pengen diet, atau ada request nih?
Hehehe…ada sih, dari calon istriku. Katanya musti langsing sebelum nikah akhir tahun ini.
Wah, kalau gitu pasti makin cepet jadinya.
Hehehe…
OK, omong-omong, kamu tadi bilang takut apa?
Oh, takut…(gerakan mata seperti mencari-cari sesuatu). Yang tadi aku ceritain itu….dimarahin…(kening berkerut dan mata bergerak-gerak seperti keheranan). Kok, ilang ya?
Apanya?
Ya takutnya tadi itu.
Ya, itu kan emang tadi.
Iya. Tadi.
Sekarang?
Ilang bener lho.
Yakin tuh?
Iya, bener. Kok gampang bener ya? Gimana caranya tadi tuh?
Ya tinggal di-delete aja. Kan kamu udah biasa delete file yang nggak penting.
Iya ya. Hehehe…thanks ya.
Demikianlah, obrolan saya dengan seorang kawan yang bekerja di bidang IT (Information Technology). Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan semua.
Tags: brief therapy, submodality, terapi nlp, utilisasi




















(On June 12th, 2009 at 3:14 am)
Pak teddy bisaaaa ajah..
Thanks pak,
oya pak,waktu mau breaking state ga dianchor dl y pak?mhn penjelasannya..trmksh pak teddy,salam kenal..
Yuris
(On June 12th, 2009 at 3:16 am)
Good…
Setelah di delete, kan masih ada di Recycle bin. bagaimana mengantisipasi kenangan pahit tersebut apabila di restore ama yang lain
(On June 12th, 2009 at 3:37 am)
Kang Teddi,
Belajar dari Richard Bandler melalui Anda sebagai cucu muridnya,belajar dari teknik terapi ulayat, karya Erickson serta para muridnya, rupanya banyak ragam teknik penyembuhan menggunakan pikiran inibila dikaji dengan map NLP kebanyakan adalah dalam mengelola SUBMODALITY.
Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan keunikan map klien dan mengajarkan klien untuk mengotak-atik submodalitynya untuk memperoleh keadaan yang diinginkan.
Beragam teknik “terapi” di NLP dugaan saya merujuk kepada SUBMODALITY. Ini terjadi berupa perubahan, penggantian, pencangkokan, pengalihan, penggantian, pemunculan dan penghilangan aspek2 SUBMODALITY.
Dugaan ini makin menguat, usai membaca ulangkali “Bandler, Richard. 2008. Get the Life You Want. Florida: Health Communication,Inc.” yang dipinjam Mbak Heny Budi Astuti dari pak John Manurip.
Jadi, tak heran bila ragam tulisan , ragam teknik dapat muncul dari konsep SUBMODALITY ini, seperti uraian pada artikel ini.
Sukses selalu Kang Teddi,
Asep Haerul Gani
Sukses selalu kang Teddi.
Asep Haerul Gani
(On June 12th, 2009 at 6:09 am)
Pak Yuris:
Bisa juga pake anchor Pak. Saya sengaja tidak melakukannya, karena sebenarnya kita sambil terapi tu sambil ngajari klien agar bisa otak atik sendiri resource yang sudah dimiliki. Karena waktu ngobrolnya tidak lama, daripada nanti susah2 ngajari berbagai macam istilah, ya kita pakai saja terapi semi formal. Maksudnya, terapi formal yang modelnya ngobrol.
Pak Adi:
He..he..ya tinggal di delete lagi. Insya Allah, kalau sudah beberapa kali melakukan, akan jadi pattern di dalam pikiran kita, yang membuat pikiran kita secara otomatis melakukan proses delete setiap ada file yang tidak dibutuhkan.
Ups, bukankah kita sudah punya kemampuan delete otomatis ini? Kalau tidak punya, tentu pikiran kita sudah overload dengan informasi.
Biar lebih mantep memang bisa juga proses delete-nya ditambahi lagi dengan delete yang di recycle bin. Ide yang bagus Pak.
Kang “Kiai” Asep:
Submodality dan linguistik memang merupakan 2 utilisasi yang orisinil dan khas dari NLP. Dari keduanya lah definisi NLP sebagai proses modeling menjadi amat sangat mudah. Jadi, kalau sudah menguasai di kedua fondasi tersebut, yang lain2 akan terasa lebih mudah, Insya Allah.
(On July 4th, 2009 at 3:34 am)
Thanks mas Teddy. Saya suka ba
(On July 4th, 2009 at 3:37 am)
Saya suka banget artikel ini.
(On July 6th, 2009 at 7:26 am)
Halo Pembelajar…
Terima kasih telah mampir dan membagikannya kepada orang lain…
(On August 5th, 2009 at 11:49 am)
wah… saya juga kepingin belajar delete yang seperti ini juga.
btw, biasanya kalo suka komputer deletenya jarang pake mouse, kebanyakan pencet tombol delete di keyboard.
(On August 6th, 2009 at 3:23 am)
Betul Djupi…
karena itu, di artikel di atas delete-nya pake tombol di keyboard. Coba deh dibaca lagi…
Pake mouse untuk memilih file yang sudah tidak diperlukan lagi.
Sampai jumpa!
(On September 29th, 2009 at 11:32 am)
Saya tertarik dengan pembahasan NLP ini, saya berminat mengangkat dalam sebuah seminar,terutama yang berkaitan dengan humor dan IT, bisa kasih saya nomor kontak yang bisa dihubungi?
via email aja..