Tip Praktis NLP#72: Tengak-tengok “Asah kampak agar tetap tajaaam”
Mbok, asah dulu kampakmu…
“Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya malu. Saya sudah bekerja sangat keras. Saya sudah lembur. Saya sudah mati-matian. Namun hasilnya bukan membaik, malah terus menurun. Saya malu… pak!”, demikian ucapan tertunduk seorang penebang pohon kepada pimpinan yang bijaksana.
Suasana makin hening, karena bukan jawaban kalimat yang terdengar namun malahan bunyi “sruuut” seruput teh panas dihirup nikmat, yang dilanjutkan kelegaan: “Aaah…” yang membuat si penebang pohon makin tertunduk malu…
Sang pimpinan berdiri perlahan dan dengan tangan kanan yang lembut menepuk bahu kiri si penebang pohon, membuat suasana makin hening dan trance tegang. Mata penebang pohonpun berkedip-kedip makin trance bingung menunggu bunyi kalimat jawaban pimpinannya. Namun, tetap trance heniiing…
Akhirnya suasana senyap terinterupsi dengan kalimat lembut: “Kapan terakhir kali kamu mengasah kampakmu?”
Dengan tergagap penebang pohon menjawab terputus-putus: “Man… mana… sempat, pak! Saya bekerja siang malam agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Man.. mana ada waktu untuk mengasah kam… kampakku itu”
Eh, malah terdengar suara tertawa bijaksana khas Mbah Surip: “Ha ha ha ha… itulah masalahnya. Kamu lupa mengasah kampakmu. Mana bisa kamu menebang pohon lebih banyak dengan kampak yang tumpul, bukan?”. Bunyi tawapun terulang lagi: “Ha ha ha ha…”
Hai sobatku, hai saudaraku, hai temanku… Kadang sepertinya kita tidak punya waktu untuk diri sendiri. Kita tidak sempat untuk sediakan waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Kita tidak mau buang waktu untuk diam. Kita sibuk diluar diri, takut masuk kedalam diri. Karena takut saja…
Nah, marilah. Sekali lagi, marilah ambil jedah sejenak untuk evaluasi perjalanan kita saat ini, sekarang biarkan kepala Anda dalam posisi…
Tengok ke Bawah
(Bacalah kalimat berikut di bawah ini dengan sangat perlahan, sangat sangat perlahan)
Kapan terakhir kali Anda mengasah kampak Anda?
Kapan terakhir kali Anda tertawa lepas terbahak-bahak?
Kapan terakhir kali Anda retret dari kesibukan sehari-hari?
Kapan terakhir kali Anda berdiam diri, hanya bicara dengan diri Anda sendiri?
Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi perjalanan hidup Anda?
Kapan terakhir kali Anda bertekuk sujud dan menangis di kaki DIA?
Kapan terakhir kali Anda masuk ke dalam diri Anda yang paling dalam?
Kapan terakhir kali Anda bertanya siapa aku ini?
Kapan terakhir kali Anda bertanya ada dimana aku saat ini?
Kapan terakhir kali Anda bertanya mau kemana hidupku ini?
Kapan terakhir kali Anda dimana akhir cerita hidup ini?
(Sekarang baik juga putarlah sebuah musik lembut dan dengarkan dengan hati, nikmati dengan jiwa, menyatulah dengan musik yang Anda pilih, tanpa harus menjawab pertanyaan di atas. Biarkan larut dengan musik)
Selesai mengevaluasi dimana perjalanan kita saat ini, barulah berikutnya kita menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan..
Tengok ke Atas
Melihat tujuan Anda di depan. Melihat cita-cita yang akan diwujudkan. Melihat tanah tujuan, tanah harapan. Melihat impian di ujung jalan. Melihat cahaya terang nun jauh disana.
Agar terbangun kembali semangat, motivasi, tenaga, harapan dan keyakinan bahwa cita-cita masih bisa diwujudkan. Harapan itu masih bisa terlaksana. Harapan itu masih ada.
Tidak apa-apa juga untuk melihat lebih tinggi, melihat lebih jauh, menerawang kejauhan diluar batas ambang visual manusia. Melihat akhir cerita kehidupan. Melihat kabar akhir diri ini. Menuju ke alam semesta yang lebih luas. Menuju ke langit. Langit yang berlapis. Bahkan berlapis sampai tujuh lapis. Sangat tinggi, sangat jauh. Tidak terlihat, tidak terjangkau, hanya diyakini…
Agar saat mata kembali menengok ke bawah, kita mudah untuk memahami bahwa jalan yang sedang diinjak mungkin sudah tepat, mungkin juga salah, mungkin juga keliru, mungkin berlumpur, mungkin hanya kubangan kerbau.
Saat tahu salah, kita mudah untuk berpindah jalan, kita mudah untuk melangkah bangkit. Kita mudah untuk memilah arah dan melanjutkan perjalanan kembali. Sebagai seorang Khalifah. Sebagai seorang Musafir. Sebagai seorang pengelana. Pengelana kehidupan… Dan,
Teruslah sempatkan tengak-tengok
Agar tidak tersesat, agar mudah berpindah arah, agar tetap bersemangat. Teruslah tengak-tengok, walau hanya sejedah tarik nafas, seteguk kopi pahit, sehirup teh panas, seucap Allah Maha Akbar dan menghembuskan nafas dengan syukur dan kembali ikhlas untuk melangkah, melanjutkan perjalanan ini, ke jalan setapak di depan mata. Jalan lurus, jalan panjang, jalan yang mungkin tanpa ujung, jalan kembali. Kembali ke pemilik nafas ini. DIA yang Besar, DIA yang Akbar…
Ah, serahkan saja jawabannya ke dalam diri.
Serahkan saja nafas ini pada Dia pemilik senyum ini.
Serahkan saja nafas ini. Serahkan saja…
Agar kita terus berkarya
Agar kita terus kuat melangkah
Agar kita terus mampu mendaki
Agar kita terus bisa terbang tinggi dan jauh, setinggi dan sejauh yang bisa kita yakini…
God, I love you full…
Tabik sujudku Krishnamurti yang masih terus bertanya kemana akhir hidup ini…
(ditulis untuk mengenang Mbah Surip yang “Tak Gendong” Burung Merak WS Rendra untuk terbang bareng kembali ke sarang milik-NYA… Jakarta, 7 Agustus 2009)




















(On August 7th, 2009 at 2:38 am)
sinambi mendengarkan musik gamelan yang dipadukan dg saxsophone, aku makin tenggelam dalam meeting 3 serangkai, body-mind-soul, membedah diri dengan pertanyaan, “kapan terakhir kali saya….” Thanks mas Krishna, artikelnya sangat mencerahkan…. Hanya kepada-Nya semuanya kita serahkan…
(On August 7th, 2009 at 2:47 am)
Dear Mas Sugiri,
Wah, sama dong ha ha ha. Saat sy buat artikel ini, terus mengumandang lagu “I’m Yours”-nya Jason Marz…
thanks atas doanya yooo
(On August 7th, 2009 at 5:30 am)
Tks pak Kris, kapan ya… terakhir aku…
banyak terjawab pada waktu bersama “Quantum Trance Formation, 30 jul – 2 Agts lalu. tks atas kesempatannya. tks juga atas tulisan ini
(On August 7th, 2009 at 8:30 am)
Dear Pak Yo,
Biarkan saja DIA yg mengaturnya, kita hanya bisa terus berkarya saja ha ha ha ha salam Mbah Surip
(On August 8th, 2009 at 5:36 am)
Dear Pak Kris
ya. Pak krishna, memang seringkali kita merasa lelah melangkah kemudian bereluh kesah. namun tetap saja melangkah mengira bahwa langkahnya tersebut akan segera menghantarkan pada tujuan yang tetah ditetapkan. tanpa disadari bahwa ternyata kita keluar jalur karna lupa buka peta. akhirnya kita malah tersesat.
terimakasih pak Krishan anda mengingatkan aku kembali tentang tujuah akhir mau seperti apa kita dikenang saat malaikat maut menjemput.
mbah Surip telah menjadi bagian dari kebenaran Ayat Allah bahwa hidup ini sementara saja. beliau dikenang sebagai seorang musisi yang sangat legendaris semua orang merasa kehilangan akan budi baiknya.
Ya Allah tuntunlah aku selalu, untuk senantiasa membuka peta perjalanan hidup ini yang engkau tuangkan dalam firman-Mu dan Sunah Rosul-Mu. Sehingga aku tidak tersesat dijalan yang salah untuk menjadikan akhir dari hayatku nanti menjadi seseorang yang mempunyai penghasilan Rp. 2 juta atau lebih setiap harinya dan sangat dermawan untuk menyumbang dakwah di jalan yang Engaku tentukan.
Mohon do’a dari pak Kris dan sahabat semuanya.
Amin
(On August 8th, 2009 at 5:58 am)
Sungguh Top Cer…r…r Bpk.Krishnamurti,
Cerita yang sering dialami manusia sekarang & sarat makna di dalamnya,Jangan memandang diatas ketika Anda terpandang,tengoklah ke bahwa ketika Anda mulai bangkit & meraih cita2 sehingga Anda mengetahui dimana c hakiki kehidupan itu yach…,he…he..,
salam sukses selalu
D1Q-Arek Suroboyo
(On August 9th, 2009 at 3:02 pm)
Dear Hepi Hermanto,
Thanks atas sharing yg menguatkan ini, sungguh sangat menguatkan satu sama lain…
Sukses selalu yooo
(On August 9th, 2009 at 3:18 pm)
Dear Dicky,
Thanks atas doa & sharingnya. Semoga artikel ini berhimah & bermanfaat utk org banyak. Salam sukses utk Anda selalu yooo
(On August 10th, 2009 at 11:19 am)
…saya mau tumbuh, tapi tdk ada keberanian untk bicara..
saya minta maaf…
Terimakasih karena telah mengijinkan semua orang belajar banyak pada Bapak.
God Bless Us.
Amin
Trie, Jogja
(On August 10th, 2009 at 12:04 pm)
Dear Trie Win,
Temukan apa penyebab kamu tdk berani bicara, kenali lalu rubah/buang/hapus atau apapun namanya.
Semoga artikel2 kami, bisa berguna utk Anda. Yes, YOU CAN!
(On August 10th, 2009 at 4:35 pm)
penting sekali retreat atau rekoleksi di dalam kehidupan sehari-hari. bagus pemikiran mu mas kris. salam dan doa
(On August 11th, 2009 at 3:30 am)
Dear Pastor Titus,
Ya, memang kita perlu “retret” setiap hari… Thanks atas doanya yooo…. Salam utk semua saudara di Bangka
(On August 11th, 2009 at 3:48 am)
Mas Krishnamurti Yth., ini adalah buah pikiran yang sangat menyentuh sekali…
Untuk itu, mohon perkenan dan izinnya saya meng-copy paste-nya di blog baru kami, para alumnus Pelatihan Program Percepatan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah, Angkatan IV Tahun 2009 di Surabaya, dengan situs blog http://www.ppakp042009sby.blogspot.com.
Saya mewakili seluruh alumnus mengucapkan terima kasih. Akan tetapi, apabila Mas Krishnamurti merasa masih belum memungkinkan artikel ini diterbitkan di situs lainnya (karena prosedur atau yang lainnya), maka dengan penuh kesadaran, kami akan segera lepas kembali artikel tersebut.
Demikian, mohon ma’af dan terima kasih…
(On August 11th, 2009 at 3:58 am)
Dear Mochamad Suluh,
Sungguh sy senang bisa artikel ini bisa berhikmah utk org banyak, monggo buanget jika mau di-copy paste utk saudara2ku yg lain.
Salam utk mereka semua.
Teruslah berkarya & berbagi utk bangsa ini…
(On August 12th, 2009 at 3:47 am)
nice and touchable
(On August 12th, 2009 at 3:52 am)
Dear Bunga,
Thanks atas doanya, semoga berhikmah yooo
(On August 12th, 2009 at 7:43 am)
bapak…saya baca artikel ini jadi pengin buru2 outng besok dan menanti terapi musiknya…..sepertinya kepala saya sudah penuh dan perlu dihapus untuk diisi yg baru….whuih..hidup mmg penuh tantangan..tapi benar2 terbukti mengasah jiwa..kalo biasa2 saja mgkn kapak hidup saya tdk setajam sekarang…mski perlu utk tetap diasah sampai kapanpun……
(On August 12th, 2009 at 8:13 am)
Hai Monica,
Ha ha ha gak apa2, seimbangkan aja semuanya. Nikmati dulu apa yg ada. Sampai ketemu yaaaa…. di acara asah kampak pas 17 Agustus besok!
(On August 12th, 2009 at 4:09 pm)
Pak Kris, TOP dah tulisannya
Kita harus menyadari tujuan hidup yang sebenarnya di kehidupan kita saat ini. dengan semakin menyadari tujuan hidup kita maka pertanyaan-pertanyaan dalam tulisan pak kris akan lebih mudah terjawab. Pertanyaan-pertanyaan itu sangat dalam maknanya untuk kehidupan kita. Semoga kita semua dapat semakin sadar akan tujuan hidup kita dan terus berkarya sesuai kehendak Tuhan dan menurut cara Tuhan.. Amieen
(On August 12th, 2009 at 7:00 pm)
Ha ha ha ha…
Setelah membaca artikel ini, membuat saya rajin-rajin mengasah kampak untuk menebang pohon lebih banyak lagi…
(On August 12th, 2009 at 10:17 pm)
Dear Syaifu Rachman,
Sy hanya berbagi pengalaman saja, setelah sekian kali banyaknya kesalahan & kekeliruan yg sy buat he he he…
Mantap, teruslah berkarya yooo
(On August 12th, 2009 at 10:19 pm)
Dear Saiful Akbar,
Syukurlah jika demikian, agar si kampak makin tajam & makin tajaaam…
(On August 13th, 2009 at 4:49 am)
Pa’ Krish…
mau ga mau saya tetap salut dengan kepekaan Bapak.. melihat & menuangkan yang terjadi di sekeliling dlm rangkaian kata2 yang membuat pembaca tergugah dan berpikir dan memutuskan…
Pasti juga apa yang sudah bpk alami sekian tahun dari sejak pertama kali bilang ama Tuhan “aku mau jadi orang berguna” itu jalannya mendaki naik turun dan terjal sampe bisa menghasilkan karya2 yang indah.
Tetap berkarya ya…krn U R my inspiration to be a better person too! God bless you n bu Naomi chayank…
(On August 13th, 2009 at 6:50 am)
dear Pak Krishnamurti,
sering kali kita lupa, sering kali kita khilaf dan sering kali kita terjerumus….
terimakasih sharingnya Pak, semoga Pak Krish selalu dimuliakan…….
salam,
dwi
(On August 14th, 2009 at 3:51 am)
baru tadi malam saya dan teman saya curhat2an ttg kehidupan dan paginya saya baca artikel Pak Krisna sesuai sekali dan menambah satu wawasan saya.
bahwa kita harus terus menajamkan kampak kita tapi untuk tidak lupa juga mengingat kedalam diri sendri.
dan juga kita harus ingat ini, “untuk apa kita ada dan untuk siapa kita ada?”
satu kalimat yang indah yang sesuai dgn artikel mas krisna.
“Ketika kita menangis dunia tersenyum, tetapi ketika kita tersenyum dunia menangis”
thx y Pak Krisna… Best Pray For Us…
(On August 17th, 2009 at 6:09 am)
Dear Joan,
Thanks atas doanya, sy hanya berbagi dari hal2 kecil aja, krn memang hanya itu yg bisa sy bagikan.
Teruslah berkarya, berbagi & melayani yaaaa…. Sampai ketemu di Nongkojajar, Jatim
(On August 17th, 2009 at 6:09 am)
Dear Dwi Ary,
Thanks, artikel ini hanyalah sharing dr pengalaman sy sendiri saja, semoga berhikmah yaaa…
(On August 17th, 2009 at 6:10 am)
Dear Anwar,
“Ketika kita menangis dunia tersenyum, tetapi ketika kita tersenyum dunia menangis”
Sungguh sebuah kalimat yg indah & sangat melengkapi artikel ini, thanks buangeeet…
(On August 18th, 2009 at 1:53 pm)
Terima kasih mas krisna jadi mengingatkan kembali pada saya, bahwa saya harus terus mengasah kemampuan saya, karena tidak ada trainer yang terlatuh tetapi sedang berlatih. Salam sukses tanpa batas
(On August 18th, 2009 at 4:58 pm)
Luar biasa ,,,dasyat pa kris…sebuah pencerahan yang memgelitik tabir dalam hati,,agar terus memaknai kehidupan ini…Ulasan yang simple namun berisikan seribu hikmah didalamnya…Apapun yang terjadi dalam dunia ini, kita sendirilah yang memberi arti…
Thanks pak krish god bless u..
(On August 19th, 2009 at 1:10 am)
Dear Pak Kris,
Thanks atas articlenya, cukup bagus dan cukup tepat waktu untuk mengingatkan kita apalagi seorang karyawan yang sibuk terus ngurusin pabrik sampai kebanyakan lupa mengasah kampaknya dengan alasan sibuk , sibuk and sibuk yang akhirnya diri kita sendiri yang rugi. Sesungguhnya apa yang kita cari dan kita dapat adalah semua bersumber dari Dia dan itulah sebabnya kita harus selalu sujud di kaki Dia. GBU
(On August 19th, 2009 at 3:23 am)
Dear Rahmat,
Syukrlah jika demikian, semoga hikmah ini terus bergema. Teruslah berlatih & berlatih agar pisau melayani ini makin tajam…
(On August 19th, 2009 at 3:25 am)
Dear Rafi,
Betul sekali, kitalah yang memberi arti kehidupan ini. Buatlah arti yg bermakna & berhikmah agar kehidupan ini makin baik dan makin baik…
(On August 19th, 2009 at 3:26 am)
Dear Pak Paimin,
Ya, setuju sekali. Boleh juga parbik ditinggal sejenak utk mengasah pisau agar makin tajam he he he…
Salam utk teman2 di Batam…
(On August 21st, 2009 at 3:25 pm)
Selamat malam, pak.
Maaf saya mampir. Mudah-mudahan tidak mengganggu. Mudah-mudahan juga, kalo ada perbedaan pendapat antara saya yang bodoh ini dengan panjenengan, kita bisa saling memaafkan dan bisa berlapang dada, dan mau menerima perbedaan.
Saya tergelitik dengan kata-kata ‘Hipsonis’, maklumlah saya hanya orang kampung, yang tidak mengenal istilah-istilah modern. Mudah-mudahan bapak sudi memaparkan ini kepada saya serbagai penambah ilmu pengetahuan.
Pak Kris yang bijak, perjalan untuk ‘masuk kedalam’, memang penuh rintangan, walau hakikatnya ringan dan mudah. Budaya yang telah mendarah daging, sangat sulit dilarutkan, meski diberi bermacam-macam obat.
Namun ketika seseorang mampu menembus ‘alam kekosongan’, maka akan terlihat “Siapa yang ada, dan siapa yang sejatinya tidak ada”. Dan akhirnya akan berkembang menjadi, “Siapa yang hidup, dan siapa yang dihidupkan”. Dan poin akhirnya adalah, ” Siapa sejatinya yang bergerak dan siapa yang digerakkan”.
Inti sejatinya adalah,” Meski kita merasa memiliki puncaknya pengetahuan, namun jika tidak dapat menjadi ilmu, apakah bisa disebut berhasil?”.
Kadang kita telah mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang ini dan itu, bahkan sampai pada hakikatnya hidup yang sejati, namun jika hati masih gelisah dan gundah-gulana, apakah masih bisa disebut orang yang berilmu?.
“LIPSTIK” sangat menipu, bahkan yang memakainya sendiri. Bahkan “LIPSTIK” bisa membuat bangga bagi pemakainya, karena dengan adanya lipstik itu, pemakai lipstik dielu-elukan banyak orang, sehingga sang pemakai bisa kehilangan kewaspadaan. Apalagi bila Sang Rabbul Alamin berkenan, “MEMBUKTIKAN” apa yang telah dimengerti oleh si pemakai lipstik. Sungguh, apakah benar terbukti KALO KAMPAK BENAR_BENAR TAJAM, seperti yang selama ini telah dipaparkan kepada banyak orang.
Memang, bagi manusia yang telah diperkenankan “menembus alamNYa”, maka akan dinampakkan ketiga hal, yaitu :
1. WujudNYa
2. SifatNYa
3. Dan Sifat yang berada didalam Wujud.
Maka, orang tersebut akan mempersaksikan suatu hakikat, yang sekaligus bisa membuat SYOCK, TAKJUB atau Malah SANGAT KECEWAKAN. Mungkin hakikat tersebut adalah :
-. Sesungguhnya, yang ada itu hanyalah TUHAN. Sedang yang lain itu diadakan.
-. Sesungguhnya, yang hidup itu hanyalah Sang Rabbul Alamin, sedang yang lain dihidupkan.
_. Sesungguhnya, yang bergerak itu hanyalah Tuhan, sedang yang lain digerrakkan.
Setelah mendapatkan persaksian seperti ini, maka hidup kita yang sesungguhnya perlu dibuktikan, apakah benar semua makluk tunduk pada kehendaknya, yaitu mau menjalani dengan iklas apa yang dikehendakai oleh Sang AKU. Jika masih belum bisa iklas menerima kehendak sang AKU, maka belum bisa dikatakan berILMU.
Apakah benar begitu, Pak Kris?. Mohon memberikan petunjuk pada saya yang bodoh ini.
Dan moga-moga, ini bukan seperti menggurui. Kalo ini dianggap seperti menggurui, maka akan membuat EMOSI bagi yang merasa digurui. Karena, sifat orang pintar itu akan marah jika digurui.
Sampai disini dulu ya, pak Kris. Mudah-mudahan bapak mau memaafkan kelancangan saya, dan semoga perbedaan pendapat tang ada ini bisa menjadi rahmat. Amin.
Salam :
Mochtar Wibowo.
Si Penunggang Keledai Yang Bodoh.
(On August 24th, 2009 at 12:02 am)
Dear Mochtar Wibowo,
Sungguh reflektif yg melengkapi dan menguatkan, baik utk diri sy sendiri, maupun para pembaca.
Inilah pertanyaan indah para Sufi akan kehidupan ini. Seandainya kita menyadari hakikat kehidupan ini, hanya berserah total, membuat semuanya indah & luar biasa…
Tabik sujud untuk Anda,
(On September 19th, 2009 at 6:18 am)
Terimakasih pak kris mohon diperkenankan saya mengajukan pertanyaan bagaimana cara mengasah kapak kita , pakai batu apa yang terbaik berapa kali dalam sehari , semoga pertanyaan ini ada sahabat-sahabat beri pengalaman
(On September 19th, 2009 at 1:09 pm)
Dear Setyabudi,
Sangatlah banyak cara mengasah kapak, pilih saja ide atau strategi yg pas utk kamu, walau hanya sebuah ide mensyukuri nafas, akan membuat pertumbuhan jiwa ini…