“Pak Krishna, bagaimana bapak membuat diri bapak selalu semangat?”
Demikian pertanyaan yang kerap muncul saat saya berbagi motivasi. Menurut saya ini pertanyaan yang aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya selalu termotivasi, bagaimana mungkin saya bisa selalu semangat, bagaimana mungkin saya selalu percaya diri? Ya, tidak mungkinlah. Kalau saya selalu termotivasi, kapan saya tidurnya ha ha ha…
Jawaban canda yang selalu saya berikan adalah berikut ini: “Kuncinya agar kita selalu termotivasi dan bersemangat adalah dengan berdiam diri…”,si penanyapun makin bingung dan saya sangat menikmati wajah melongoh mereka he he… Serius, jawaban yang benar adalah…
Berdiam
Saya tentu perlu waktu untuk sendiri, saya perlu jedah, saya perlu refleksi diri, saya perlu introspeksi, saya perlu bicara dengan diri sendiri. Saya perlu waktu untuk itu. Saya perlu waktu untuk berdiam. Kapan? Ya, kapan saja saat saya perlukan. Dimana? Ya, dimana saja saat saya perlukan. Seperti saat saya sedang berada di dalam sebuah bus malam, di kegelapan jalan dari kota Pontianak menuju kota Sintang, dalam berdiam diri saat itu saya berdialog dengan diri saya, mengalirlah syair ini bahwa Krishnamurti juga perlu:
Ruang bicara diri
Saat serahkan diri
Saat serahkan nafas
Ada saja cara Allah
Mengatur langkah ini
Menuju tempat sunyi
Ruang waktu yg gelap
Berjalan namun duduk diam
Hanya peluang bicara diri
Ada tapi tiada
Diam tapi bicara
Itulah cara Dia berkata
Saat kita ikut percaya
Saat kita ikut saja
Saat kita percaya saja
Ada saja cara yang indah
Itulah ruang bicara diri
Ruang indah guna terus tumbuih
Kuat dan besar untuk diri
Ikuti saja
Ya, aku ikuti…
Pontianak, 20 Agustus 2009
Krishnamurti – sedang di bus malam menuju Sintang
Berdiam memberikan peluang untuk kita mendengar suara dari dalam diri kita, bisa suara hati, bisa suara perasaan, bisa juga suara “setan”, bisa juga “suara-suaraan” he he… Serem ya? Ya, bisa suara apa saja, kok. Makanya perlu berdiam untuk mengenali mana suara kita sendiri. Mana suara batin ini, mana suara hati ini
Adakah teknik NLP khusus untuk berdiam?
Nah, ini pertanyaan wong edan. Saya sering ditanya tentang hal ini. Mengapa edan? Wong, diam kok perlu teknik. Perlu cara yang benar, perlu teknik NLP. Ya, aneh banget. Diam ya diam saja. Diam membisu, nggak ngomong beberapa waktu karena memang sedang mau ngomong dengan diri. Diam selama sehari, tapa bicara. Boleh pilih, diam beberapa hari. Ya, diam saja. Hanya diam saja, gitu lho!
Memang baik juga, pejamkan mata. Namun, tetap ide yang baik, berdiam diri sambil beraktifitas seperti berkebun, membereskan rumah, beraktifitas sosial, asal tetap berdiam. Mulutnya diplester he he… Mengamati sesuatu, memotret, melukis atau apa saja, yang penting idenya adalah berdiam diri, tapa bicara. Namun, maaf yang saya sampaikan di atas tadi, adalah ide saya, strategi saya, jika mau berdiam diri. Belum tentu pas untuk Anda.
Beberapa pengalaman yang saya dapatkan saat berdiam diri ini, salah satunya:
Perubahan Sikap
Karena suatu peristiwa, saya seringkali mengambil jedah untuk berdiam diri. Sebagai pembicara publik, suka tidak suka, banyak baik pujian atau makian yang diberikan kepada saya. Bila makian, saat diterima bisa menjadi motivasi untuk perbaikan diri, untuk berkarya lebih luas, bisa untuk kebangkitan diri. Nah, yang bahaya adalah pujian. Jika salah terima, bisa menghancurkan, bisa membunuh.
Saya pernah hancur, saya pernah sombong, saya pernah lupa diri, saya pernah ngaco, saya pernah ngawur, saya pernah macem-macemlah… Begitu banyak pujian yang saya terima sejak saya kecil, otak saya sangatlah cemerlang. Saya hanya perlu beberapa waktu saja untuk membaca buku pelajaran, saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan, saya sering disebut teman-teman sebagai anak yang serba bisa. Kepandaian ini bisa membuahkan pujian, juga bisa menghancurkan. Sayangnya, dalam banyak hal saya malah menghancurkan diri saya sendiri, dengan kepandaian yang telah dipercayakan oleh Tuhan.
Perenungan demiki perenungan telah saya lewati, telah saya jalani, sampai suatu saat juga di tengah perjalanan menuju pedalaman Kalimantan Barat, mungkin karena takut tidak bsia kembali dengan selamat ke Jakarta ha ha ha… Muncullah syair ini dalam benak saya.
Hanyalah titik
Sering aku bertanya
Siapakah diriku ini?
Buat apa aku ke bumi?
Sulit kutemu jawabnya
Kadang aku merenung
Mengapa aku tercipta?
Apa rencana ciptaan ini?
Sulit kutemu jawabnya
Kehembus nafas panjang
Kubuang semua tanya
Kulepas semua asa cita
Kupilih diam sajalah
Kupilih terus melangkah
Kupilih diam sajalah
Kupilih terus lanjut saja
Aha, malah kutemu cahaya
Aku hanyalah bulatan kecil
Aku hanyalah titik
Ha ha ha ha….
Ternyata hanyalah titik.
Sosok, Kalbar, 20 Agustus 2009
Krishnamurti
Demikian sahabatku, sungguh saya tidak atau belum punya resep dan strategi bagaimana membuat batin ini bertumbuh. Menurut saya, kuncinya hanyalah perenungan. Dan, penerenungan memerlukan waktu untuk berdiam. Jadi kuncinya hanyalah berdiam. Bukan NLP, bukan Hypnotherapy, bukan juga ilmu-ilmu lain, karena Tuhan menyimpan kunci sukses Anda bukan di Surga, namun di hati Anda, ditempat yang paling dekat dengan diri ini.
Dan, cara membukanya hanya perlu berdiam diri dan masuk ke dalam hati itu. Hati itu milik Anda sendiri, bukan milik orang lain. Teruslah berdiam diri dan berdiam diri, agar…
Kesadaran Diri Meningkat (Self Awareness)
Ya, inilah buah yang indah dalam proses berdiam diri. Saat kesadaran diri meningkat, kitapun akan termotivasi, kitapun akan percaya diri, kitapun akan lebih baik, lebih maju, lebih sukses, ilmu NLP-pun akan menjadi makin dashyat, karena diterapkan dengan kesadaran yang benar.
Saat kesadaran diri ini meningkat, maka teknik NLP yang sangat sederhanapun akan menjadi luar biasa. Bukan NLP yang hebat, namun ditangan siapalah yang membuat NLP hebat. Suksespun bisa dirancang dengan baik dan benar. Pencapaian suksespun akan sangat cepat, lebih cepat yang pernah Anda bayangkan sebelumnya.
Saya sudah melewati jalan ini dan akan terus berjalan, karena tidak akan pernah selesai sampai nafas ini dihentikan oleh DIA. Semoga Andapun termotivasi untuk melewatinya. Hanya satu jalan menuju sukses yang damai itu yakni hati… Sepotong “daging merah” yang ada di dalam diri kita…Masuklah… Masuklah…
Malampun semakin larut, perjalanan panjang bus malam menuju Sintang seperti sangat pendek, karena syair demi syair tercipta dengan sendirinya. Ini adalah salah satunya dari pengalaman batin saya sendiri, bahwa…
Engkau tidak pernah tinggalkan aku
Ibu awanku… Bunda jiwaku…
Saat batin ini berkeluh
Saat sedih sepi memelukku
Saat semua rasa beradu-adu
Saat anakmu ini berpejam diam
Engkau selalu menyentuh halus
Mengusap wajahku dengan lembut
Menarik selimut agar badanku hangat
Biar nyenyaklah tidurku di alam
Karena memang tidak ada jawab
Hanya cinta yang tercanang
Agar anak-anak terus tangguh
Untuk menyelesaikan cerita
Kisah kehidupan anak manusia
Berpuluh tahun kualami
Beribu masalah kudaki
Berjuta langkah kujalani
Kusimpulkan sebuah yang pasti
Engkau sungguh tidak pernah
Tidak pernah tinggalkan aku…
Karena Engkau satu di hatiku
Terima kasih Ibuku di awan.
Engkau tidak pernah tinggalkan aku
Hanya karya hikmah yang bisa kubawa
Semoga aku bisa menjumpaiMu…
Krishnamurti – Tiga pagi di Bus malam menuju Sintang, 20.08.09
Demikian akhir dari tulisan ini, semoga Anda memahami bahwa saya sebagai Motivator tidaklah selalu termotivasi, tidaklah selalu percaya diri, tidaklah selalu semangat, tidaklah selalu tertawa, tidaklah selalu hebat, tidaklah selalu benar…
Sayapun perlu merenung, sayapun perlu berdiam diri, sayapun perlu lelah…
Sayapun perlu salah…
Krishnamurti – Sedang di awan dari Aceh ke Jakarta, 11 September 2009
NB:
Bila berkenan, mohon Anda berbagi pengalaman batin Anda di bagian komentar ini yooo. Biar batin kita saling menguatkan dan makin akrab he he…




















mungkin ini jawaban yang aku cari… diam…!!!
selama ini aku terkenal temperament sebagai teman, atasan atau apapun aku sering dikritik karena suka marah2….. mungkin denngan dia aku bisa mengurangi semua bahkan merubah energi yang negatif menjadi energi positif
terimakasih pak krishnamurti
salam
eko
Terima kasih mas Khris, penuh kesederhanaan dan kontekstual.
Terima kasih buat sharingnya pengalamannya pak.Memang kata pepatah “Silent is Golden” alias diam itu emas…..tul nggak pak?Jadi memang dengan berdiam kita dapat merefleksikan diri kita kembali untuk menjadi lebih baik lagi >>> Semangat dan maju terus buat bangsa ini pak.