Setiap kajian Ericksonian Hypnotherapy , Saya sering mendapat pertanyaan tersebut dari peserta yang kebetulan pernah belajar NLP.
Sungguh menarik untuk menjawab pertanyaan peserta apalagi untuk membongkar map nya. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Hebat, apa kriterianya, dan seberapa penting Hebat itu dalam peta hidup dan kehidupannya.
Pertanyaan itu dijawab mereka dengan Hebat adalah Efektif atau Mangkus atau Manjur. Indikatornya adalah kecepatan waktu, ketepatan treatment dll.
Alih-alih menjawab pertanyaan mereka secara langsung, saya kasih tahu bahwa sebagai Psikolog saya belajar banyak approach terapi. Saya belajar Hypnotherapy, Gestalt Therapy, Part Therapy , Transactional Analysis, Logotherapy, Ego State Therapy, Behavior Therapy, RET, CBT, dll. Dalam menangani kasus, tentunya keunikan kasus ybs akan mengantarkan saya memilih approach mana yang paling efektif bagi klien. Ada kadang-kadang hanya dari satu teknik, ada dari gabungan beragam teknik bahkan ada teknik modifikasi, dan seringkali teknik yang muncul sendirinya saja tidak dapat dikategorikan pada salah satu pendekatan.
Belajar dari genius Bandler dan Grinder yang memodel tokoh Gestalt Therapy, Family Therapy, Milton H Erickson (MHE), Margareth Mead, George Bateson, dll sangat wajar bila hasil pemodelannya menjadi ragam teknik (ingat Bandler tidak pernah mengatakannya sebagai terapi) yang dapat digunakan untuk membantu klien. Wajar pula bila sebagai Psikolog, saya dapat mengenali teknik2 itu sebagai teknik yang dulu pernah saya pelajari saat belajar tentang Gestalt therapy, Family Therapy, Provocative Therapy, dll. Kehebatannya adalah Bandler dan Grinder mampu memilah dan memilih mana hal yang paling penting dan akan menuju efektif dari teknik-teknik itu. Sederhananya kedua genius itu memilah mana yang berguna dan kurang berguna dan memilih mana yang paling mangkus.
Karena memodel bukan hanya dari Milton H. Erickson, maka NLP bukan hanya Ericksonian (Keuda Genius itu memberi nama Milton Model yang juga dikenal sebagai Hypnotic Language Pattern) . Sebagian dari NLP bisa juga dikatakan Perlsian (memodel dari Fritz Perls), Satirian (Memodel dari Virginia Satir), Meadian (Memodel Margareth Mead), Batesonian (Memodel dari George Bateson), Farrelyan (Memodel dari Frank Farrely) dll. NLP sudah menjadi entitas yang tidak dapat diklaimkan hanya kepada Milton H. Erickson. NLP tidak hanya Hypnotherapy saja, ia telah melampaui dari sekedar hypnotherapy bahkan sekedar terapi itu sendiri. Sangat wajar bila Bandler dalam webnya menyatakan bahwa NLP bukan terapi.
NLP bagi saya yang telanjur menjadi Psikolog dulu bermanfaat dalam psikoterapi khususnya dalam komunikasi (mengetahui dunia klien termasuk struktur dan strateginya) dan mempengaruhi klien menggunakan pola komunikasi khasnya untuk mendapatkan efek yang diinginkan klien sendiri.
Ericksonian Hypnotherapy atau Ericksonian Psychotherapy adalah sebutan untuk pendekatan-pendekatan hasil belajar dari MHE . Istilah itu digunakan bagi murid-murid atau mitra MHE. Erickson sendiri tumbuh dan berkemban. Tentunya murid-murid MHE ini pun bisa berbeda pandangan satu sama lain, lebih karena rentang perhatian dan pengamatan yang berbeda. Jay Halley adalah tokoh yang mengamati perbedaan pendekatan MHE dari awal. Ia antara lain melihat approach MHE di awal-awal lebih ke autoritarian ketimbang indirect atau cooperative. Bill O Hanlon, Zefrey Zeig, Ernest Rossi dan Stephen G Gilligan yang nyatrik di akhir masa hidup MHE akan mempunyai cara-cara pandang dan hasil ekstrak yang berbeda atas apa sebenarnya karya MHE.
Yang jelas pada saat mengamati karya Stephen G Gilligan pun, dapat dipilah mana hasil ia nyatrik dari MHE, mana hasil nyatrik dari Hillgard (orang dibalik Standford Hypnotic Susceptibility Scale)dan mana hasil olahannya sendiri berdasarkan penaglamannya.
Kembali ke pertanyaan awal hebat mana Ericksonian Hypnotherapy dengan NLP?
Dikembalikan kepada kondisi klien. Untuk keadaan dengan kondisi klien tertentu pendekatan NLP lebih tepat. Untuk keadaan dengan kondisi klien lain, Ericksonian Hypnotherapy lebih tepat. Dalam kasus berbeda NLP dalam Ericksonian Hypnotherapy dapat dimanfaatkan bersamaan. Untuk keadaan dengan kondisi klien lainnya lagi, bisa jadi baik Ericksonian maupun NLP perlu ditunda, approach2 lainnya bisa jadi sangat tepat.
Sungguh bijak bila cermati apa nasihat Gilligan kepada saya sebagai Psikolog “Sebagai orang yang berada dalam peran facilitator dan coach untuk klien mendapatkan outcomenya, maka hal terpenting adalah CONNECTEDNESS dengan klien dan mengetahui INTENTION klien. Bila keduanya ini sudah kau miliki, maka teknik akan muncul begitu saja, sendirinya “. Setiap selesai membantu klien, saya ulangkali menemukan kebenaran dari kalimat itu.
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu Sangkan Nanjung di Juritan Nanjeur di Buana
Semarang, 30 Nopember 2009
Asep Haerul Gani




















Setelah belajar NLP & Ericksonian Hypnoterapi, saya menyadari bahwa masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi saya setuju kalau penggunaan terapi menggunakan NLP atau Ericksonian tergantung kondisinya.
Penguasaan kedua terapi ini tentu saja akan lebih baik karena satu dengan lainnya akan saling melengkapi.
Mas Tono,
Terima kasih atas komentarnya.
Sampai jumpa tanggal 19-20 di Yogyakarta dalam pagelaran 2 hari mencerahkan workshop Ericksonian Hypnotherapy- Advanced Level.
Salam untuk komunitas NLP Yogya
Asep Haerul Gani
Salam Kang Asep..
Dari masing-masing pendekatan tentu ada asumsi dasar. Akan lebih afdhol lagi kalau kang Asep bisa membedah dasar asumsi masing-masing pendekatan itu.. (tentunya tulisan jadi panjang ya.. ?
pendekatan mana yang paling baik? saya setuju dengan kang Asep, tergantung connectedness dan intention.
Saat membantu klien, terkadang sulit untuk menjelaskan pendekatan mana yang dipakai…. untungnya outcomenya tercapai. Penjelasan baru dipikir kemudian.. hehe..
Terima kasih kang Asep.
Bung Fahmy Arief,
Asumsi dasar mengenai NLP dan Ericksonian sudah ada di beberapa tulisan kontributor Portal NLP, silakan kunjungi.
Bagi saya saat membantu klien tetap mudah membedakan dan menentukan penjelasan yang dipakai baik Ericksonian, NLP atau pun Asep Haerul Gani-an.
Terima kasih sudah mampir menyemarakkan PortalNLP.
Asep Haerul Gani
Setelah membaca tulisan kang Asep ini, sangat baik jika Anda belajar NLP maka Anda harus belajar Ericksonian Hypnotherapy.
Setelah saya belajar Ericksonian Hypnotherapy saya menyadari kalau NLP dengan Ericksonian Hypnotherapy merupakan satu kesatuan utuh dan saling melengkapi.
Pengalaman melakukan terapi dengan menggunakan kedua terapi tersebut pada satu klien dan satu sesi berjalan dengan “elegan”.
Mas Tono,
Karena Mas adalah orang yang belajar NLP hingga level Master Practitioner dari Richard Bandler melalui Sinergy Lintas Batas, pernyataan mas saya aminkan.
Sukses untuk Mas dan keluarga.
Asep Haerul Gani
saya ingin belajar NLP dan ingin menjadi Master Practitioner – dari mana saya harus mulai, mohon informasinya.t.kasih
Pak Arifin,
Bila anda ingin mendapatkan kelas MASTER PRACTITIONER yang disertifikasi RICHARD BANDLER dipersilakan kontak langsung ke Ronny F. Ronodirdjo melalui PT. Sinergi Lintas Batas. Silakan kontak langsung kepadanya.
Asep Haerul Gani
Assalamu’alaikum kang Asep…
Luar biasa kang Asep..saya belajar banyak dari kang Asep, karena memang setiap klien unik dan kita melayani mereka (client cenetered)…jadi secara otomatis conscious dan subconscious saya setuju banget dengan prinsip CONNECTEDNESS dan INTENSION klien…..
Terima kasih kang Asep
ws
Heru Kurnianto Tjahjono
Wa’alaykum Salam Mas Heru,
Semoga bermanfaat mas untuk diri Anda serta orang-orang yang Anda bantu untuk meningkatkan martabat dirinya.
Sukses.
Asep