Dipresentasikan pada “Indonesia Hypnosis Summit”, 28 April 2012 Sekian banyak penggunaan istilah spiritual, mengapa mengajukan satu lagi? Ya, memang begitu banyak hal kini dikaitkan dengan soal-soal spiritualitas. Dan hampir setiap konsep pengembangan diri yang masuk ke Indonesia, memiliki versi spiritualnya. Beberapa orang menganggap fenomena ini latah belaka, atau sekedar marketing model. Well, mungkin ada yang demikian. Tapi saya ingin mengajak Anda untuk melihat dari sisi yang lain. Sisi bahwa ada kebutuhan akan hal itu. Kebutuhan untuk berspiritual, untuk keluar dari ‘sekedar’urusan-urusan material.
Author Archive
Tak terasa, sudah separuh Ramadhan terlalui. Sungguh hati bercampur rasa, antara cemas dan harap. Cemas, akankah diri ini termasuk yang semata mendapat lapar dan dahaga. Harap, semoga segala kekurangan digenapkan sempurna sebab kemurahanNya. Sementara harap dan cemas menyatu, terngiang suara para guru yang mengajarkan bahwa makna puasa adalah menahan. Secara fisik, ia menahan makan, minum, dan berhubungan seksual. Secara psikis, ia menahan segala kegiatan hati dari munculnya rasa marah, dengki, iri, dan kawan-kawannya.
Setiap amal itu tergantung pada niatnya. Demikian ajaran agama menelusup dalam diri saya, yang juga begitu sering saya dengar dari banyak orang. Saya lansir, ia merupakan salah satu ajaran yang paling populer di kalangan orang awam. Meskipun, saya pun yakin bahwa makna aslinya banyak yang belum dipahami secara tepat. Betapa tidak? Kalimat,”Yang penting kan niatnya baik” cukup sering saya dapati ketika seseorang berusaha menasihati orang lain, namun justru ditanggapi dengan kurang menyenangkan. Meski saya sepakat bahwa situasi seperti ini mungkin saja terjadi, seringkali saya pahami bahwa kesalahpaman ini terjadi lebih disebabkan oleh sang pemberi nasihat yang belum menggunakan cara yang [ Read More ]
“Kesabaran adalah Matahari” Demikian sebuah tulisan terpampang di belakang kaus para pelayan salah satu kedai makan di Jogja, beberapa tahun yang lalu saat saya masih kuliah. Sungguh saya bingung apa maksud tulisan tersebut saat pertama kali membacanya. Sebagai Informasi, kedai ini amat terkenal aneka sambalnya yang selalu bikin kita makin dekat dengan Tuhan, sebab sering kepedasan dan mengucap “Allahu Akbar” atau “Subhanallah”. Setelah beberapa kali makan disana, barulah saya sadar penyebabnya. Ya, kedai ini memang istimewa. Sebab hidangan sambal beraneka rasa yang mereka sajikan, rupanya dibuat tepat saat dipesan agar benar-benar segar. Jadilah, kedai yang makin lama makin ramai ini [ Read More ]
Cukup sering saya ditanya, “Pak, apakah seorang yang belajar NLP tidak bisa sedih, marah, atau merasakan emosi negatif lainnya?” Ah, sebuah pertanyaan yang menggelitik. Di tengah maraknya berbagai ilmu pengembangan diri, utamanya yang berbasis mind technology, kata-kata emosi negatif seolah-olah hanya miliki emosi-emosi seperti marah, sedih, dendam, dengki, kecewa, dan kawan-kawannya. Sementara emosi-semosi seperti senang, gembira, semangat, antusias, dan sobat-sobatnya, dengan sendirinya masuk ke dalam kelompok emosi positif.
Sungguh saya tak habis pikir, bagaimana seorang Ibu atau pengasuh bisa begitu kreatif mencari berbagai cara untuk membujuk seorang anak untuk makan. Dimulai dari berbagai bujukan hingga permainan, yang entah bagaimana, seketika suapan demi suapan masuk tanpa disadari. Ya, seorang Ibu bisa begitu luwes nan lentur demi memastikan sang anak makan dengan sukarela. Dari jutaan cara, salah satu yang begitu takjub saya tonton adalah bermain drama. Tak jarang, saya pun turut ambil peran, entah sebagai orang yang sedang kelaparan, atau hewan yang juga sedang menginginkan makanan anak saya.
Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang terceletuk dalam benak saya setelah menyelami NLP selama kira-kira 4 tahun. Sebuah pertanyaan yang bernada iseng, namun rupa-rupanya menyimpan persoalan mendasar. Ya, jika peta bukan wilayah, mengapa masih dipakai? Mengapa tak kita langsung saja masuk ke wilayahnya, tanpa menggunakan peta? Nyebur aja langsung. Maka penelusuran pun saya lakukan, dan mengantarkan saya pada kesimpulan sederhana. Ya, sangat sederhana, yang saking sederhananya justru tidak kepikiran sejak awal. Apakah itu?
Kita hari ini adalah hasil dari apa yang kita putuskan kemarin. Kita esok adalah hasil dari apa yang kita putuskan hari ini. Saya teringat suatu kali pernah berdiskusi dengan seorang sahabat. Setelah membahas berbagai hal, sampailah ia pada pertanyaan, “Siapa kamu?” Tentu saja saya jawab, “Saya Teddi.” “Bukan, itu namamu. Siapa kamu?” tanyanya lagi.
Saya teringat “Pak Ogah” yang dulu sering mengatur lalu lintas di salah satu pertigaan menuju rumah. Kami sering menyebutnya “Si Makasih”, karena ia punya logat yang khas setiap kali mengucapkan kata “Makasih” saat diberi uang. Selama bertahun-tahun, ia begitu konsisten mengatur lalu lintas, dan saya tak menyadari peran istimewanya, selain bahwa ia seperti kebanyakan “Pak Ogah” lain. Sampai satu saat, ia mulai jarang masuk. Ya, ia digantikan oleh orang lain, tidak hanya satu, tapi berganti-ganti.
Manusia adalah makhluk beralasan. Kalimat di atas cukup lama terngiang dalam benak saya, membuat saya trance bukan kepalang mencari makna yang menyimpulkannya. Entah dari mana ia bermula, baru belakangan saya mampu melihat titik terang yang menggairahkan. Mari kita tengok perilaku manusia (baca: kita sendiri). Mengapa ia muncul? Mengapa saya melakukan sesuatu, dan tidak melakukan yang lain? Mengapa saya memilih satu hal dan membiarkan hal yang lain? Mengapa saya menyukai seseorang dan tidak yang lain? Pertanyaan-pertanyaan di atas pun menggelayuti pikiran saya hingga berujung pada pertanyaan: Adakah perilaku manusia yang muncul tanpa alasan?
Bicara soal kepemimpinan, saya teringat sebuah pengalaman ketika terakhir kali menjadi program manager untuk sebuah proyek management trainee 2 tahun lalu. Sebagai rangkaian dari program panjang tersebut, kami mengundang Presiden Direktur kami untuk bertemu dengan para trainee dan berbagi kisah tentang perjalanan kepemimpian beliau. Dalam format diskusi melingkar, beliau membuka dengan sebuah pertanyaan menggelitik. Ya, bahkan sampai sekarang saya masih terus tergelitik setiap kali mengingatnya. “Siapa di sini yang ingin jadi pemimpin?” tanya beliau.
Wit ing trisno, jalaran sako kulino. Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat diterjemahkan dengan: pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Umumnya, pepatah ini muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering bertemu dan berbagi cerita, pasangan-pasangan ini pun rupanya juga berbagi rasa, yang berujung pada pernikahan.
Judul di atas mungkin mengingatkan Anda pada sebuah lagu. Lagu yang cukup populer beberapa tahun lalu, plus merupakan sedikit lagu yang saya sukai yang dinyanyikan oleh kalangan boyband. Maka sembari Anda mengingat bagaimana lagu tersebut dinyanyikan, plus merasakan suatu sensasi tertentu dalam tubuh dan pikiran Anda, saya akan menceritakan mengapa saya memilih tema cinta untuk artikel saya kali ini. Ya, cinta adalah sesuatu yang unik untuk dibicarakan. Bukan saja ia adalah tema yang begitu marak dibahas dalam keseharian, ia adalah sebuah ranah yang seringkali dipahami secara parsial.
Sudah hampir 8 tahun sejak saya pertama kali belajar mengemudi mobil.Tiga tahun di antaranya benar-benar mengemudi setiap hari, dengan jarak tempuh 60 km pulang pergi setiap harinya. Maka hampir 4 jam setiap hari saya berada di jalanan, menyelami kemacetan bersama Si Ceri—nama untuk mobil Daihatsu Ceria kami. Ada begitu banyak pelajaran berharga, sebanyak jenis peristiwa yang acapkali saya alami. Macet, disenggol mobil lain, diserempet sepeda motor, dipotong secara tiba-tiba, dll. Itu yang kurang enaknya. Loh, kok kurang enak? Katanya NLPers itu bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya? Jadi semua hal itu enaaaak.
Seiring dengan proses editing naskah saya, saya pun melakukan peninjauan kembali naskah tersebut dari awal hingga akhir. Sebuah proses yang melelahkan, namun sekaligus mencerahkan. Kok mencerahkan? Ya, karena rupanya saya jadi berkesempatan untuk meninjau kembali berbagai pemahaman yang sejauh ini telah begitu mapan saya tanam dalam diri saya tentang NLP. Uniknya, saya menemukan buanyak pemahaman baru, yang belum pernah terpikir sebelumnya. Serangkaian simpul-simpul baru pun terjalin menyusun bangunan pemahaman yang semakin luas. Apa saja sih?
Wah, gimana sih tuh tukang gado-gado. Aku bilang pedes kok malah manis begini. Emang kamu tadi bilang ke dia berapa cabe-nya? Ya kubilang aja, pedes gitu. Nah, makanya, lain kali bilang berapa kamu mau dia kasih cabe. Siapa tahu menurut dia itu udah puedes buanget. Jadinya memang nggak kepikir untuk nambahin lagi. Iya juga yah.
Saya memulai pengembangan Spiritual NLP dengan alasan yang amat sederhana. Sebuah alasan yang berangkat dari keawaman saya mengenai ranah spiritual dan agama. Ya, saya bukanlah seorang ustadz, apalagi ahli agama. Saya adalah praktisi psikologi. Sementara itu, jauh di atas profesi saya, saya adalah seorang Muslim, yang menikmati keislaman saya. Nah, dalam kondisi sedang menyelami perjuangan untuk mendekat pada Sang Pencipta, saya menemukan bahwa umur manusia begitu singkat jikalau digunakan untuk hal-hal yang tidak mendekatkan saya pada tujuan akhir: bertemu Allah sebagai ahli surga.
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan Sudah hampir 5 tahun sejak pertama kali saya mengenal NLP. Sebuah masa yang pendek jika dilihat dari angkanya, sekaligus panjang saat dirunut tiap detik yang ada di dalamnya. Betapa tidak? Begitu banyak hal—hal-hal yang belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya—terjadi ketika saya belajar dan mempraktikkan NLP secara serius. Wah, kok kayaknya canggih betul ya? Apa iya begitu? Ah, setelah membaca artikel ini sampai habis, simpulkan saja sendiri deh.


















