Berguru NLP dan Hypnotherapy Pada Ulat Bulu

Waktu kecil, saya sering melihat orang di sekitar Kraton Yogyakarta duduk diam bersila menghadap ke pohon-pohon besar. Saya tidak tahu mereka ngapain, jaman itu saya tidak tahu meditasi atau semedhi. Saya pikir mereka sedang menyembah pohon, hehehe… Lucunya teman saya bilang bahwa mereka sedang belajar dari pohon, katanya mereka itu akan dapat ilham dari pohon itu setelah mereka duduk diam berjam-jam itu. Yah namanya juga anak kecil, berusaha melogikakan sesuatu secara sebisanya alias ngawur. Logika tidak selalu bisa diandalkan, karena ilham sering datang tanpa bisa dilogikakan. Jadi misalkan saat Anda istirahatkan sejenak logika Anda, maka berguru pada alam menjadi lebih mudah dilakukan.

Wah, kalau kita bisa belajar dari pohon, pasti pohon akan banyak bercerita pada kita bagaimana ratusan tahun ia menyaksikan berbagai ragam manusia dan perilakunya. Kali ini, Anda dapat saja untuk rilekskan diri Anda sambil bayangkan berada diperkebunan yang nyaman. Nah, kali ini, saya akan ajak Anda berguru pada Ulat Bulu. Saya memang tidak memiliki ilmu parselmouth atau parseltongue seperti Harry Potter yang bisa berbicara dengan ular. Namun kalau berbicara dengan Ulat Bulu bisalah…. Lha wong sama-sama dari spesies mahluk berbulu. Bahkan, bisa dibilang,  manusia punya beragam jenis bulu, dari yang tajam, panjang, keriting, kusut, dan sebagainya. Ya khan…? Santai saja…

Yuk kita santai.. agar otot tidak tegang…”  kata Rhoma Irama.

Well, ketika percakapan dengan ulat bulu dimulai, saya tanyakan “Kenapa kalian mewabah di seantero Indonesia, suka iseng mengganggu manusia yang sudah hidup tenang…?” Ulat Bulu menjawab dengan cengengesan katanya “Secara biologis kami beruntung, karena manusia sudah membunuhi pemangsa alamiah kami!” Saya merasa tidak paham dan bertanya lagi “Apa maksudmu?”

Secara panjang lebar rombongan Ulat Bulu Itu sahut menyahut menjawab hiruk pikuk: “Ya, manusia menambang batu kapur di gua kapur secara ngawur, makanya kelalawar pada mati karena tidak punya tempat tinggal lagi. Padahal mereka pemangsa utama kami setelah kami jadi Ngengat.”

 

“Betul!” Teriak Ulat Bulu yang gemuk : “Demikian juga burung Jalak, karena banyak ditangkap, mereka tidak lagi bisa berkembang biak di alam. Padahal mereka pemangsa kami juga! Makasih dah!”

Ulat Bulu satunya menukas cepat: ”Well, you tahu lah, manusia suka pakai pertisida di sawah khan? Which is banyak virus dan bakteri yang biasanya membunuh kami saat masih larva, juga ikut mampus dah…. Jadi kita tumbuh bebas dan aman dari para predator doong! Sok tahu sih, manusia, punya attitude sendiri aja kacau, dipikirnya bisa ngatur attitude-nya alam…!” (Wuih, bawa-bawa bahasa Inggris nih si Ulat, batin saya sambil nyengir…)

Ulat Bulu yang lain gakmau kalah: “Kamu tahu semut rangrang khan? Mereka itu pemangsa kami saat masih jadi ulat. Asyiknya, semut rangrang sudah hampir punah, karena dieksploitasi manusia untuk pakan burung sih…

Mendengar celotehan Ulat Bulu itu, saya agak merinding, dan rasa merinding itu mengingatkan saya pada kata-kata Guru Biologi yang galak, saat ia menjelaskan Rantai Makanan, katanya : “Dengan adanya rantai makanan ini maka dunia berada dalam keseimbangan. Misal, darah kalian dihisap oleh Nyamuk, tapi malangnya si Nyamuk dimakan oleh Cicak, dan Cicak disantap ama si  Ayam, lantas Ayam itu…  kalian makan secara rakus dan ribut! Dan kalau sikap kalian masih ribut di kelas…, saya tidak ragu-ragu untuk kunyah-kunyah kalian!!!!” Galak bener Guru itu, tapi sebenarnya ia mengajarkan sesuatu yang baik yah…

Waduh! Kisah diatas, secara mudah mengingatkan betapa pentingnya menjaga ekologi lingkungan hidup, kelancaran rantai makanan, supaya keseimbangan alam secara general tetap terjaga. Rupanya, kerusakan keseimbangan alam semesta secara general, dapat  berimbas kepada ketidakseimbangan salah satu aspek alam lain. Ulah beberapa gelintir manusia yang sok tahu, sok pintar, yang katanya mengerti mengenai sikap dan perilaku alam semesta, ternyata malah merusaknya jadi gak karuan.

Perubahan suatu komponen secara provokatif dan brutal, bisa saja menjadikan sesuatu yang lain jadi bertumbuh lebih banyak sehingga mewabah, atau sebaliknya menjadi berkurang drastis bahkan punah.

Saya teringat seorang teman praktisi hypnotherapist dan NLP-er dari luar pulau pernah menelepon saya menanyakan, “Mas, bagaimana cara mengubah Metaprogram seseorang, saya mau terapi klien saya nih!”. Alih-alih menjawab langsung saya bertanya balik dengan sopan kepadanya: “Boleh tahu, kenapa Anda hendak mengubah MetaProgram, apakah sudah tidak ada cara lain untuk melakukan perubahan yang lebih ekologis?”

Bagi Anda yang awam, MetaProgram adalah suatu bagian penting dalam NLP yang termasuk struktur behavior. MetaProgram menunjukkan bagaimana seseorang menyaring, mengubah, dan mengambil sikap atau berkecenderungan terhadap sesuatu hal disuatu konteks. Contoh MetaProgram yang terkenal adalah Pain – Pleasure. Apakah Anda lebih berkecenderungan Moving Away From Pain (Melarikan diri dari penderitaan), atau Moving Toward To Pleasure (Mengejar Kesenangan) dalam suatu konteks tertentu?

Orang yang MetaProgramnya Moving Away (dalam suatu konteks), lebih termotivasi saat ia menyadari bahwa ada banyak kerugian/resiko/derita jika ia tidak mengerjakan hal/konteks itu. Sebaliknya, ia tidak akan terlalu termotivasi pada Manfaat/Keuntungan/Kesenangan yang diperoleh jika ia mengerjakan hal/konteks itu. Kayak kuda, leboh termotivasi jika dicambuk, daripada diiming-imingin makanan.

Saat saya tanya itu, dengan kebingungan ia bertanya lagi “Kenapa berkait dengan persoalan ekologis Mas?”. Dengan sabar saya jawab: ”Tahukan Anda kenapa Richard Bandler menyebut hal itu sebagai MetaProgram?”

Dari jeda yang lama untuk menjawab pertanyaan saya itu, saya tahu, ia tidak mengerti kenapa disebut MetaProgram. Saya melanjutkan “Dalam NLP, kata Meta dipergunakan untuk menjelaskan sesuatu yang lokasinya ‘di atas’ atau untuk menunjukan bahwa itu ‘melampaui’ yang lainnya. Jadi MetaProgram adalah Program diatas suatu Program. Atau Program yang mengatur, bagaimana cara kita menjalankan / mengeksekusi Program yang lainnya.”

Dalam suatu training Master Practitioner, Charles Faulkner mengatakan bahwa Richard Bandler pernah mengatakan (kurang lebih demikian) “Hati-hati kalau mengubah MetaProgram, perhitungkan apa efeknya secara ekologis bagi Program yang lain, karena mengubah sesuatu yang Meta maka akan mempengaruhi yang ada dibawahnya!”

Misalkan saja ada seorang Klien memiliki MetaProgramnya menghindar dalam konteks ‘menghadapi Rasa Takut’. Dalam suatu terapi, ia merasa kenapa bisnisnya nggak maju-maju, lantas terapisnya mendiagnosis bahwa ini disebabkan oleh MetaProgramnya yang menghidar saat menghadapi Rasa Takut itu. Sebab, untuk berbisnis khan harus bisa mengelola rasa takut rugi, demikian logika si terapis…

Lantas, secara gagah perkasa, Metaprogram  si Klien ini diubah oleh terapisnya menjadi Menuju alias Menghadapi. Ia menggabungkan semua cara NLP dan sugesti Hypnotic yang dia tahu untuk menginstall MetaProgram barunya si Klien itu.

Yang tidak terlalu disadari oleh sang terapis imajiner ini adalah, mengubah MetaProgram menghindar menjadi menuju, dalam konteks ‘menghadapi Rasa Takut’, akan berpengaruh dalam seluruh program yang lain dalam konteks yang sama.

 

Bisa jadi ia akan kehilangan rasa takut dalam menghadapi hantu, menghadapi marabahaya apapun: singa, harimau, ular , perampok, dan Ulat Bulu sekalipun. Bisa berbahaya sekali khan? Padahal saat menghadapi marabahaya ini si terapist sudah nggak aad di tempat, bahkan si Klien tidak tahu, kenapa ia menjadi berprilaku yang berbeda dari biasanya, saat ketemu dengan marabahaya semacam itu.

Nah, disinilah letak ekologis dari suatu perubahan yang kita desain dalam suatu terapi. Contoh tadi baru dari suatu aspek yakni MetaProgram, senyatanya  kita tetap harus merespek jiwa manusia saat melakukan suatu desain proses terapi. Apa sebenarnya perubahan yang kita inginkan, apa cara terbaik dan teraman untukmelakukan perubahan itu?

Melalui pelatihan Licensed NLP Practitioner, kita diajarkan untuk berhati-hati, dan merespek map klien kita saat melakukan terapi. Jadi, saat Anda pilih suatu pelatihan, Anda bisa nilai sendiri hal-hal semacam itu. Alangkah baiknya, perhitungkan betul, desain suatu perubahan agar ekologis bagi semua pihak dan elemen dalam hidup kita. Jangan sampai perubahan itu akan muncul menjadi masalah baru di dinamika psikologi yang lain, mirip kejadian wabah Ulat Bulu itu.

Jadi, mungkin orang-orang juga sudah menyadari, bahwa ekologi adalah salah satu komponen yag senantiasa perlu diperhatikan oleh praktisi NLP ataupun hypnotherapy. Perubahan yang provokatif, brutal dan ugal-ugalan bisa berakibat fatal di area kehidupan yang lain. Belakangan ini ada kasus Lian yang konon mengalami proses brainwashing, yang merupkan contoh suatu perubahan yang dilakukan secara brutal dan tidak ekologis.

Kembali pada ekologi alam, saat ini wabah Ulat Bulu ini tidak hanya menyerang Jawa Timur, namun sudah sampai Sleman, dan entah mau ke mana lagi. Kalau beneran bisa bercakap dengan Ulat Bulu, maka mungkin bisa kita minta : “Wahai ulat bulu…, bersediakah kalian pindah ke hutan-hutan yang jauh dari komunitas manusia dan mahluk-mahluk yang gatal kalau kehinggapan bulumu?”.

Mungkin rombongan Ulat Bulu itu akan menjawab “Enak ajah, pergi ke hutan-nya naik apa dong? Anterin dooong…!”

Halah!

Hingga karena saking banyaknya epidemi Ulat Bulu ini, akhirnya kita baca bahwa Pemerintah terpaksa membasmi Ulat Bulu itu dengan semprotan insektisida tertentu. Yang kita sulit ramalkan adalah, semprotan insektisida ke koloni Ulat Bulu ini akan mengimbas pada faktor ekologi apa lagi?

Deg-degan saya memikirkannya. Mungkin kalau teman semasa kecil saya ada di sini, ia akan mengatakan : “Apa kita perlu duduk diam menghadap pohon, agar dapat jawaban?

Aaaah, Rhoma Irama, boleh saja mengajak kita tadi untuk bersantai agar otot tidak tegang. Tapi Ebiet G. Ade akan memilih menyanyi nan menyayat hati: “Coba kita bertanya pada rumput…, yang bergoyang…

Silahkan memberikan tanggapan / komentar konstruktif.

Tangggapan/komentar tidak dimoderasi, jika Anda mendapatkan pesan “Pesan Anda Menunggu Moderasi”, berarti posting komentar Anda mengandung kata-kata “possible spam” dan terfilter OTOMATIS oleh mesin Anti Spam. Komentator yang tidak menggunakan nama dan email yang asli, tidak sopan, tidak produktif, mengadu domba, atau yang bersifat negatif lainnya, akan dihapus oleh sistem.

Comments

  1. R. Kukuh says

    Praktek dan analogi di dunia NLP kok “mirip2″ dunia IT ya?
    Ada programming, meta, backup, format, restore,.. hehe :D

  2. says

    Salam
    Dear Pak Ronny,
    Artikel yg luar biasa diiringi slentingan yg menggelitik.. :D

    Ada yang ingin saya tanyakan pak, untuk therapy yang dengan cara mengubah metaprogram seseorang contohnya dalam kasus apa yah? yang tidak menimbulkan dampak terhadap permasalahan seseorang itu dikemudian harinya..

    Terima kasih Pak Ronny..

    Salam, Hilal

  3. says

    Halo Mas Hilaludin,

    Salam kembali.

    Dalam praktek terapi saya,
    Saya tidak pernah merasa perlu mengubah Metaprogram seseorang Mas.
    Selalu ada jalan yang ekologis untuk membantu orang tanpa mengubah metaprogram.

    Salam

  4. nugroho says

    inspirational moment at ringin kurung…. he..he…
    Apakah NLP bisa dipelajari sendiri mas Ronny ?
    ada beberapa terbitan buku ttg NLP yg menyatakan bahwa NLP bisa dipelajari sendiri tanpa didampingi mentor ….. benarkah ?

    trims

  5. says

    wah, kayak komputer aja yah untuk menjelaskan sikap manusia, ada meta, programing dan seabreg lagi kayaknya mah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>