Mungkin saja Anda, termasuk orang yang sudah benar-benar muak dengan berita-berita pat gulipat korupsi di berbagai media…Muak dengan berbagai wajah culas yang sering muncul jadi berita-berita di layar kaca. Wajah yang senantiasa masih ‘berani’ menebar senyum, bahkan saat sudah tertangkap tangan melakukan perbuatan korupsi. Wajah-wajah itu adalah yang yakin bahwa dirinya masih akan bisa selamat, karena ia tahu sesuatu. Ia tersenyum pada media, karena ia tahu benar…., bahwa pihak-pihak tertentu masih bisa diajak korupsi lagi untuk membuatnya lolos dari proses peradilan…
Entah kenapa, jikalau sedang muak pada koruptor-koruptor yang untouchable itu…., kok tiba-tiba langsung ingat suatu adegan dalam film “Clash of the Titans“. Di film itu Preseus bersama beberapa kawannya mendatangi neraka untuk memburu dan menghabisi Medusa, semacam sosok perempuan berambut ular penghuni neraka.
Well, Anda tahu, pergi ke neraka bukan perkara enteng dan mudah, neraka adalah tempat yang demikian menggetarkan hati mereka semua. Apalagi mereka tahu, Medusa adalah sosok sakti yang bisa membuat siapapun yang memandang langsung ke matanya akan berubah jadi batu. Mati seketika!
Sehingga itulah…, sesaat menjelang masuk neraka, Preseus mengatakan pada kawan-kawannya:
“I know we’re all afraid. But my father told me:
….. Someday, someone is gonna have to take a stand!
….. Someday, someone is gonna have to say “Enough is enough!”
And this could be that day!!!”
Rasa muak…, rasa tidak bisa lagi membiarkan sesuatu itu berlangsung lebih lama lagi….., ketika sudah menyelimuti pikiran dan perasaan… Benar-benar menjelma menjadi suatu kekuatan dahsyat yang unstoppable! Tak terbendung….
Jadi, “rasa muak” ternyata memiliki kekuatan yang bisa dipergunakan untuk meng-inisiasi suatu proses mental yang berwujud :”RASA URGENSI DAN MAU MELAKUKAN APA SAJA UNTUK TERJADINYA PEBERUBAHAN SEKARANG JUGA”
Sepanjang pengalaman membimbing para pembelajar NLP, salah satu tantangan yang kerap dihadapi para praktisi adalah ketika ingin membantu orang yang ingin menghilangkan suatu prilaku kompulsif (keinginan melakukan sesuatu terus menerus). Misal orang yang suka ketagihan ingin makan coklat selalu, ingin ngemil suatu makanan tertentu selalu. Dahulu, sebelum NLP terkenal, hal-hal seperti itu biasanya dianggap sulit diselesaikan dan perlu waktu lama untuk terapinya. Padahal jika mengerti, hal begini sih hanya diperlukan sebentar waktu saja, dengan memanfaatkan kekuatan “muak” itu.
Nah,
Suatu prilaku kompulsif didasari oleh adanya representasi mental tertentu di kepala si klien, yang membuatnya menginginkan hal itu terus menerus. Representasi mental ini berupa kombinasi (bauran) dari : gambaran objek itu, suara-suara, dan rasa yang membuatnya tertarik ingin terus mendapatkannya. Baik gambaran, suara dan rasa ini memiliki parameter (submodality) yang sedemikian rupa sehingga menjadi menarik.
Misal, saat memikirkan coklat, maka gambaran di kepalanya adalah melihat suatu bungkus permen coklat warna-warni yang sangat menggoda, warna bungkus yang cerah dan mengkilat, ukuran besar, terletak persis di depan mata. Suara-suara yang muncul adalah misalkan “ssssh, lezaaaat, nyam nyam nyam….” bercampur decak-decak ludah yang sedang mengunyah. Kemudian mungkin muncul rasa nikmat lezat tiada tara di lidah dan seputaran mulut saat bayangan mengunyah itu hadir. Lendir salivapun bisa langsung hadir, menimpali rasa ingin makan coklat itu. Well, itu semua disebut submodality. Bagi yang belum akrab dengan submodality, maka silahkan pindah dulu untuk membaca detailnya di artikel ini. Bagi yang sudah mengerti submodality, silahkan melanjutkan membaca artikel ini terus.
Nah, dalam bauran submodality tadi, Anda bisa ketemukan driver-nya, atau critical submodality-nya. Yakni submodality yang jika diubah-ubah, maka akan terjadi peningkatan/penurunan intensitas dari pengalaman itu. Critical submodality ini bisa saja hanya satu buah saja, atau bisa pula ditemukan beberapa buah, untuk satu jenis prilaku.
Bayangkan suatu submodality memiliki kenop-kenop seperti kenop volume dalam radio. Bisa diputar atau digeser, untuk menghasilkan peningkatan atau penurunan intensitas. Misalkan, jika Anda menggeser atau mengubah intensitas gambar (ketajaman warna) dari suatu pengalaman, maka ternyata efek pengalaman itu menguat, dan jika menggeser kearah sebaliknya, maka ternyata efek itu menurun. Maka intensitas warna merupakan critical submodality untuk pengalaman itu. Nah, untuk setiap pengalaman, bisa saja critical submodality-nya berbeda-beda.
Suatu prilaku kompulsi, pada prinsipnya juga memiliki critical submodality. Nah, jika “tombol” submodality-nya kita mainkan, maka tingkat keinginan untuk mendapatkan hal itupun akan meningkat atau menurun seiring mengikuti arah perubahan intensitas submodality yang dimainkan.
Misal, seorang penggemar coklat yang kompulsif, mungkin menemukan salah satu critical submodality-nya adalah “ukuran gambar coklat” itu di imajinasinya. Jika ukuran gambaran coklat itu dikecilkan, maka keinginannya berkurang, jika ukuran gambaran itu diperbesar, maka keinginan atas coklat akan meningkat secara drastis.
Biasanya, dalam terapi “mengurangi suatu keinginan” (craving) yang menggunakan submodality, maka pada diri orang itu, critical submodality-nya akan dikecilkan hingga keinginannya berkurang drastis, bahkan tidak ingin sama sekali.
Namun, beda halnya untuk suatu kompulsi, biasanya kita menggunakan pendekatan sebaliknya, yakni pendekatan meng-inisiasi “rasa muak” seperti tersebut diatas. Yakni dilakukan dengan cara, setiap critical submodality-nya diperbesar / diperkuat sedemikian rupa sampai pada titik berlebihan dimana si klien akan muak, dan merasa “Huwwwwwek!!!” alias merasa “Cukup itu ya CUKUPPPPPP!!!”
Secara sederhana, pola ini seperti meningkatkan / menjebol ambang batas (threshold) keinginan sampai pada titik yang muak dan bener-bener akhirnya nggak kepingin lagi. Bayangkan seperti apa rasanya saat diharuskan makan 1 truk coklat sekaligus, seperti apa eneg-nya. Huwwwwekkkk!!
Perlu ditegaskan disini, melakukan pola Enough is enough pattern ini harus dilakukan hingga selesai. Tidak boleh berhenti di jalan ketika belum selesai. Karena jika belum selesai, namun sudah berhenti, maka sebenarnya yang terjadi justru adalah peningkatan level kompulsi. Jadi ingat baik-baik: HARUS DILAKUKAN SAMPAI SELESAI. Kemudian setelah selesai, harus dilakukan test, apakah kompulsi benar-benar sudah meletus : Blow Out!!!
Kompulsi yang sudah meletusadalah saat orang yang tersebut ditawari lagi benar-benar sudah tidak berminat, bahkan wajahnya atau responnya menunjukkan rasa jijik dan muak lur biasa.
Untuk mengunci hasil prosesnya, ikuti proses ini dengan Swish Pattern. Silahkan lihat di artikel lain, mengenai swish pattern ini.
Well,
Kembali pada soal korupsi itu lagi. Sebenarnya saat ini sedang terjadi ekshalasi / peningkatan skala korupsi dimana-mana. Pada akhirnya, setiap rakyat Indonesia akan mengalami satu kondisi bahwa threshold-nya dalam “kesabaran” dipermainkan harkat dan martabatnya akhirnya akan jebol. Saya tidak akan heran, dan saya tidak akan mengatakan “Nah, tu khan…! Dibilangin juga apa….!” saat melihat lahirnya Preseus-Preseus di Indonesia yang akhirnya meneriakkan kalimat “Cukup itu ya CUKKKKKUP!!!”
Bukankah sejarah sudah mengajarkan, bahwa tumbangnya orde pemeritahan yang lalu oleh gerakan mahasiswa, juga contoh bahwa kemuakan masyakarat pada suatu hiprokrisme akhirnya berujung menjadi kekuatan yang segera meng-inisiasi suatu proses mental yang berwujud : “RASA URGENSI DAN MAU MELAKUKAN APA SAJA UNTUK TERJADINYA PEBERUBAHAN SEKARANG JUGA”



0 Comments
You can be the first one to leave a comment.