Pentingnya Pikiran Bawah Sadar Yang Bodoh
Written by Waidi on 1 March 2008 – 9:45 am -Pikiran bawah sadar (PBS) bisa dikatakan cerdas bisa pula dikatakan bodoh. Dikatakan cerdas karena merekam semua informasi di sekitar kita baik yang kita sadari atau pun yang tidak disadari. Jadi pada saat Anda mengikuti sebuah training di sebuah ruangan ber-AC, pikiran sadar (PS) berkonsentrasi pada materi training, PBS tetap saja mencatat informasi yang dikirim oleh tubuh Anda tentang dinginnya ruangan.
Sementara PBS dikatakan bodoh, karena salah satu sifatnya adalah tidak menganalisis, menerima apa adanya setiap informasi. PBS tidak bisa membedakan antara sebuah kejadian itu beneran atau kejadian itu bohongan. Ingin contoh, bila Anda suatu malam bermimpi dikejar-kejar orang gila, atau bertemu dengan “setan” (mimpi buruk) PBS menganggapnya itu sebagai kejadian beneran. Oleh karenanya, jantung menjadi berdegup keras, Anda mungkin berteriak (ngigo), dan bangun masih dalam suasana ketakutan. Itulah bodohnya PBS tidak menyadari bahwa itu adalah bohongan.
Justru karena kebodohannya itulah, dapat kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk merubah hidup kita. Kita bisa menstimulir atau merekayasanya untuk menghadirkan cita-cita spesifik kita (berimajinasi) seolah hadir nyata di depan kita. Ingat PBS tidak pernah mengalisis, ia cenderung menerima apa adanya.
Coba duduk dengan rileks, se rileks Anda duduk di tepi pantai. Kendurkan semua otot sehingga Anda merasa nyaman. Pejamkan mata, perlahan hadirkan (imajinasikan) sesuatu keinginanan yang Anda sangat termotivasi. Boleh sebuah cita-cita, sebuah a achievable goal setting, boleh juga benda/barang yang benar-benar Anda inginkan.
Sekarang sesuatu itu benar-benar sudah hadir di depan Anda. Apabila kehadiranya masih belum jelas, sinari dengan sebuah lampu, bila warnanya masih hitam putih, coba beri warna sesuai dengan warna favorit Anda. Bila sesuatu itu yang hadir memiliki suara, perjelas suaranya, volume suara disesuaikan dengan volume suara yang cocok untuk Anda, perhatikan pula suara khasnya, termasuk suara tersebut datangnya dari mana. Bila sesuatu itu kehadirannya dapat Anda rasakan, maka rasakan dan nikmati sepenuh hati. Singkatnya, sesuatu yang Anda inginkan kini hadir secara holographic, utuh, menyenangkan dan membuat Anda sangat termotivasi untuk mencapainya.
Ketika Anda berhasil menghadirkan sesuatu yang yang sangat termotivasi, atau sangat menyenangkan, sesungguhnya PBS merasa senang, merasa hidup, karena mendapatkan energi, atau vitamin yang menjadikan dirinya lebih “sehat”. Imajinansi merupakan salah satu cara memberdayakan PBS.
Bila Anda sering menyentuh PBS dengan cara berimajinasi, maka intensitas motivasi menjadi terjaga. Maksudnya, bila sedang bete, bisa saja Anda “menipu” PBS dengan berimajinasi sehingga termotivasi. Pencitraan tentang surga merupakan konsumsi PBS agar momentum untuk memotivasi kita untuk beribadah sesuai dengan Agama kita masing-masing. Begitu pun pencitraan uang sebagai pemicu motivasi, bukan uangnya itu sendiri (toh hanya logam dan kertas uang) melainkan sejumlah kesenangan yang mempesona di balik uang itulah yang memicu PBS untuk mendorong diri kita terus mencari uang. Setidaknya uang dapat membuat diri kita senang, atau minimal sebagaian kebutuhan akan terpenuhi dengan uang.
Ketika kita berimajinasi, kemudian kita hanyut didalamnya, seolah itu adalah benar adanya, di situlah kita merasa beruntung memiliki PBS yang “bodoh” karena PBS tidak pernah menyadari bahwa imajinasi itu hanyalah bohongan.
Seandainya PBS “secerdas” pikiran sadar yang mampu membedakan antara dunia nyata dengan dunia imajinasi, mampu menganilisis, maka boleh jadi kita tidak pernah termotivasi. Semisal kita sedang berimajinasi tentang masa depan, sedang membayangkan akan nikmatnya sebuah cita-cita bila tercapai, seketika itu PBS –bila ia secerdas pikiran sadar—segera mengatakan (ngrecokin) : “Ah,.. itu bohongan!”. Apa jadinya? Mungkin kita tumpul imajinasi dan tidak bisa memotivasi diri.
Berungtunglah kita memiliki PBS yang bodoh, yang mau menerima imajinasi sehingga kita terjaga motivasinya setelah berimajinasi.
Berkhayal, berimajinasi itu penting, syah-syah saja. Jangan takut berimajinasi. Kalau Anda tanyakan kepada mereka yang sukses, tidak lepas dari imajinasinya. Bahkan hampir setiap penemuan besar di bidak iptek (ilmu dan teknologi) tidak lepas dari imajinasinya yang diterima oleh PBS.
Capaian saya hari ini sebagai dosen, motivator, trainer, dan penulis buku-buku pengembagan diri berbasis NLP tidak lepas dari imajinasi saya 25 tahun yang lalu. Imajinasi yang saat itu saya masih berprofesi tradisional yakni seorang anak kampung, bertani, merumput untuk pakan sapi, dan menggembala sapi. Saat masih sebagai seorang cleaning service, dan sebagai tukang cetak di sebuah percetakan.
Ah, boleh jadi Anda semua hari ini adalah hasil imajinasi masa lalu. Dan imajinasi itu –yang dapat memotivasi kita—tidak lain karena PBS yang bodoh. Selamat berimajinasi semoga sukses! Kalau sukses, berimakasihlah kepada PBS yang bodoh.
Posted in Dasar NLP |



















By Ade Asep Syarifuddin on Mar 2, 2008 | Reply
Benar sekali Pak Waidi. Alam bawah sadar kita menerima segala sesuatu yang kita install kapan pun kita mau. Tapi memang tidak semua orang mengetahuinya bahwa ketika kita fokus dengan intensitas emosi yang tinggi pada satu hal, itu adalah awal dari keterwujudan keinginan kita. coba kalau semua orang memahami cara kerja pikiran bawah sadar, sudah tentu mereka akan menggunakannya semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang banyak. Sukses slalu Pak Waidi dan portal nlp.
By bambang setiawan on Mar 3, 2008 | Reply
Pak Waidi, Nabi Muhammad pernah bersabda dengan “cara hipnosis”: “Beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati besok, dan Bekerjalah kamu seolah-olah hidup selamanya.” Benar juga pesan Anthony Robbins: “Bersikaplah seolah-olah sebagai orang sukses.” Sukses Pak Waidi, juga untuk semua penulis PortalNLP. Luar biasa…..
wass.
bambang setiawan
By Daniel on Mar 3, 2008 | Reply
Betul pak, kita bersyukur ada si pbs ini. Bodoh tapi bisa memintarkan banyak orang. Yang tahu cara kerjanya.
By yohan on Mar 3, 2008 | Reply
apakah bodoh sama dengan netral ?
By rosyidin on Mar 4, 2008 | Reply
pak,apa bedanya berimajinasi dgn melamun/ melamunkan sesuatu.?
By Kun Mukarrom on Mar 5, 2008 | Reply
Benar pak Waidi!!…berimajinasi kecil, sedang maupun besar kan sama2 gratis..lalu buat apa cuman berimajinasi yang kecil?..; PBS emang bodoh ya?bodoh dan tidak bodoh hanya masalah Label saja, asalkan jangan secara sadar tahu saja kalo’ PBS yang sedang akses itu bodoh, jadi gak seru berimajinasinya.
TANYA :
Bagaimana CARANYA memperkuat intensitas/power dari sub-modality saat kita berimajinasi dan CARANYA untuk mencapai Imajinasi tadi.
Terimakasih Bapak.
Wassalam.Wr.Wb,
KUN
By waidi on Mar 5, 2008 | Reply
Untuk Yohan, netral sedikit beda dengan bodoh. Netral itu nol, tanpa persepsi menerima apa adanya, tanpa mengolah, as it is. Sementara bodoh atau dikatakan bodoh karena pijakannya dari pikiran sadar yang sudah terlanjur menganggap bahwa PBS bodoh. Namun imajinasi kurang “afdol” bila netral (tanpa intesitas emosi).
Untuk Rosidin: imajinasi ya sama dengan melamun, hanya saja melamun bisa berkonotasi negatif (hal2 yang tidak bermanfaat), imajinasi melamun untuk tujuan positif.
Untuk Kun: kalau Anda tipe visual imajinaskan dengan apa yang anda bayangkan, bila anda auditori gunakan imajinasi dengan apa yang anda dengar, dan bila kinestetik, dengan cara apa yang anda rasakan. Selanjutnya gunakan intensitas emosi Anda.
By titus budi on Apr 4, 2008 | Reply
pemikiran ini sudah tersirat dalam buku-buku anda. Gagasan cemerlang. saya menunggu buku mas waidi yang baru. makasih
By norie on Apr 9, 2008 | Reply
wah… tulisan yang bagus dan menginspirasi, Pak.
Saya minta izin untuk mengkopi artikel ini untuk dipajang di blog saya. Tentunya saya akan menyebutkan sumber artikel ini dan juga identitas penulisnya.
Smoga artikel tsb lebih bermanfaat sehingga banyak orang yang tertarik untuk berkenalan dengan NLP. ^^
Trima kasih banyak kepada Pak Waidi.