“Hei, Thomas. Semut-semutnya jangan kamu ganggu, apalagi sampai jadi mati. Semut-semut itu mahluk hidup juga, lho..!”, ujar Santi setengah memekik ketika melihat anaknya yang masih balita memain-mainkan barisan semut di lantai.
“Semalam mama ma’em ikan besal, kok boleh? Ikan besal ‘kan mahluk hidup juga?”, protes putra bungsunya.
Di kesempatan lain, terdengar suara Santi minta tolong diambilkan minuman pada pembantunya yang sedang berada di dapur. “Inah, tolong ambilkan minuman yang ada di atas meja dapur, ya!”
Tiba-tiba terdengar suara imut kekanakan dari balik pintu kamar, “Mama ‘kan masih punya tangan dan kaki, kenapa nyuluh Mbak. Kenapa Thomas kemarin ga boleh?”
Santi agak pusing bercampur gemas dengan celetukan-celetukan anaknya yang satu ini. Apakah celetukan anak bungsunya ini dapat dikategorikan sebagai feedback?
Apa itu Feedback?
Feedback mengacu pada hasil pemrosesan dari sebuah mesin, organisme atau sistem yang tidak sesuai dan dikembalikan. Bagian yang “dikembalikan” tersebut dapat masuk kembali sebagai input baru untuk diproses lagi ke dalam sistem sampai menemukan hasil yang diharapkan.
Dalam ilmu teknik elektronika, kita dapat mengambil contoh perangkat audio system. Feedback Ini sering terjadi ketika suara di loudspeaker hidup dan microphone berada didekatnya, maka akan terjadi suara mendenging yang pada beberapa orang sering menyebutnya sebagai storing(?). Suara mendenging itu adalah feedback.
Atau pernahkah Anda berada tepat di atas sebuah tebing dan meneriakkan kata-kata ke arah lembah di bawahnya. Tak lama kemudian akan terdengar pantulan suara Anda kembali yang disebut sebagai gema. Ini juga merupakan feedback.
Yang membedakan keduanya adalah; pada storing(?) terjadi pertumbukkan frekwensi yang kurang selaras sehingga menimbulkan suara berdenging yang tidak enak didengar. Sebaliknya pada gema, terjadi keselarasan dalam frekwensi sehingga suara yang timbul terpantul kembali dan bertenaga.
Subconscious Feedback
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat berdialog pada orang lain maupun diri sendiri. Feedback menjadi ada bila ditanggapi oleh salah satu pendengar. Bahkan dalam berkomunikasi dengan diri sendiri pun akan mendapatkan feedback bila kita mau melatihnya. Kecepatan dalam menanggapi dan bereaksi, tergantung pada reaksi yang menguntungkan atau merugikan diri.
Untuk melatih hal ini adalah melalui penguasaan VAK. Hanya sayangnya, untuk mengenal VAK yang lebih luas amat sulit, disebabkan sudah terkukung oleh kebiasaan diri.
Seseorang yang “mengalami” suatu kejadian. Pada saat “mendapatkan” hal tersebut; maka dari dalam dirinya langsung “menjawab” dengan peristiwa seperti apa yang sudah terekam dalam Subconscious-nya. Hal ini seringkali terjadi dan sering pula disangkal oleh Conscious-nya.
Sebagai ilustrasi, suatu ketika saya menyadari bahwa perlu melakukan follow up segera atas proposal dan presentasi yang sudah dilakukan. Tetapi kemudian timbul keraguan apakah masih perlu menghubungi kembali? Ini berarti perlu mencari calon klien baru dan kembali membuat proposal lagi jika ternyata ditolak. Bukankah klien juga perlu waktu untuk mempelajari. Nanti dululah, biar segini saja. Siapa tahu malah klien jadi tertarik. Kalimat keragu-raguan yang dimunculkan oleh Subconscious adalah suatu feedback langsung dalam diri yang menghasilkan keputusan secara Conscious untuk menunda sebuah tindakan.
Pada saat Santi mendengarkan kata-kata yang mengomentari dirinya dari sang putra bungsu; kinestetik-nya langsung memberikan feedback. Subconscious-nya pun secara otomatis memunculkan serangkaian kata-kata. Untunglah secara Conscious, Santi langsung menyadari bahwa telah terjadi bertumbukan frekwensi yang tidak selaras dengan yang “diangan-angankan” oleh visual auditorial-nya. Santi memiliki pilihan dalam menanggapi; memarahi atau justru berterima kasih atas feedback yang diberikan oleh putra bungsunya.
Singkatnya, tingkat kedewasaan seseorang berhubungan dengan sampai sejauh mana ia telah belajar dalam kehidupannya dan “hasil pelajaran kehidupan” tersebut kemudian dipraktekan kembali bagi kemajuan dirinya. Nama lain daripada “hasil pelajaran kehidupan” tersebut adalah Feedback atau umpan balik.
Pertanyaan :
Selama ini bagaimanakah Anda menanggapi feedback yang diberikan oleh lingkungan Anda? Bagaimana pula Anda menanggapi feedback yang diberikan oleh diri Anda sendiri?



10 Comments
Thanks mas Adi
Sekarang saya harus lebih ELING lagi agar bisa menangkap feed back dengan lebih baik lagi.
Thanks Pak Adi…
Mengingatkn saya lgi, no failure only feedbck…
Sering kali feedback kita anggap suatu complain yang menyesakan dada, walau kita tahu itu cumn masalah pilihan…, complain or feed back?
Bagaimana menyelaraskan feed back dari uncons. kita dengan consc. agar menjadi selaras dan harmony?..
salam sehat dan berbahagia selalu,
kun
Mas Hendy,
Saya juga masih belajar dan mari kita belajar bersama dan saling mengingatkan.
Salam kenal,
Adi Putera
Mas Kun,
Dibutuhkan tingkat kewaspadaan dalam diri yang tinggi agar uncon, subcon dan con selaras dan harmonis. Mari belajar bersama, Mas Kun.
Salam,
Adi Putera
Yth, Pak Adi
Apakah pak Adi menyelenggarakan pelatihan publik untuk materi ini ? saya begitu ter motivasi pak dan membaca tulisan bapak saya serasa de javu atau saya seolah-olah ada didalamnya. terima kasih pak telah berbagi
Salam kenal
Parikesit P. Arjuna
hum…ini membuat saya untuk selalu mengingat, bahwa dalam berbicara untuk lebih berhati-hati
Jamu psikologi kunjungi http://www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit
terima kasih pak telah berbagi ilmu .semoga bermanfaat buat sy.
makasih infonya…ini membantu sekali