Ringkasan Artikel Sebelumnya :
Prinsip “Living at The Present” dimaksudkan untuk melahirkan reaksi-reaksi cerdas yang dapat membimbing kita untuk “menemukan” atau “merasakan” sinyal-sinyal dari alam semesta yang akan “menarik” kita menuju hal-hal yang kita ingin capai.
Prinsip “Living at The Present” yang dipahami secara benar tidak akan menjerumuskan kita ke sikap hidup “pasrah” dan “apatis”, sebaliknya “Living at The Present” akan membimbing kita untuk selalu merevisi setiap planning kita agar selalu uptodate.
***
Untuk melengkapi prinsip “Awareness” dan “Living at The Present” maka berikut ini saya akan menyoroti salah satu aspek yang berkaitan dengan aktivitas bathin dan fisik yang nyaris selalu bersama dengan kita di sepanjang hidup kita !
Mindset & Lifestyle : “Stimulus vs Response”
Apakah “Stimulus” ? Stimulus adalah rangsangan dari dunia luar, dalam hal ini adalah “segala sesuatu” yang kita terima dari dunia luar … ya apapun yang kita terima dari dunia luar … menyenangkan atau tidak menyenangkan …. menggembirakan atau menyedihkan …. ya .. semuanya !
Apakah “Response” ? Response adalah reaksi yang kita munculkan setelah menerima stimulus yang kita terima ! Response ini dapat saja berupa reaksi secara sadar, serta reaksi spontan alias reaksi tanpa disadari ….! Response ini dapat berupa aktivitas fisik … aktivitas bathin … atau gabungan keduanya !
Lalu kenapa kita harus repot-repot untuk mempermasalahkan keberadaan “Stimulus vs Response” ini ? Toh mereka sudah menjadi bagian alamiah kita ?
Ya harus ! Karena untuk membaca “keajaiban semesta” yang merupakan konsep utama yang ditawarkan “LoA”, kita benar-benar harus belajar “membaca” ! Dan penyikapan yang benar atas fenomena Stimulus vs Response ini akan mempermudah kita dalam “membaca keajaiban alam semesta” !
Mas Ronny FR pernah mengatakan kepada saya … bahwa “LoA” ini sudah bekerja … atau dari “sono”-nya sudah merupakan bagian dari gejala alam ! Kita hanya perlu “membuka diri” saja …. dan kita akan dapat “menikmati” keajaibannya !
Nah ini pernyataan yang sangat menarik …. jika kita anggap bahwa istilah “membuka diri” adalah suatu konsep yang baik dan memberdayakan … maka berikutnya kita harus men-transformasikan konsep ini agar dapat di-implementasikan dalam kehidupan sehari-hari !
Jadi …. pembahasan mengenai “Stimulus vs Response” merupakan bentuk transformasi dari konsep “membuka diri” agar dapat “membaca” dan “menerima” keajaiban alam semesta !
Bahkan seorang Stepphen Covey perlu meletakkan penyikapan terhadap “Stimulus vs Response” ini di bagian-bagian awal dari bukunya yang sangat terkenal : “7 Habit” !
***
Apa yang terjadi jika di suatu pagi hari yang sangat cerah …. tiba-tiba seseorang tanpa ba .. bi .. bu … langsung menempeleng kita ? Ya, kemungkinan besar kita secara refleks akan langsung balas menempeleng …. minimal akan keluar sumpah serapah alias absensi seluruh isi kebun binatang ….?? Atau …. Stimulus = ditempeleng, Response = balas tempeleng plus sumpah serapah !
Kenapa Response atau reaksi kita pada umumnya seperti itu ? Apakah kita tidak memiliki pilihan untuk bereaksi yang berbeda ?
Nah sampai disini … kita harus membahas terlebih dahulu pandangan kita sebagai manusia terhadap mahluk yang bernama manusia !
Apakah kita memandang manusia sebagai mahluk yang bereaksi atas dasar pattern utama yang telah terekam sebelumnya ? Terlepas dari pattern tersebut berasal dari kejadian, pengetahuan, pemahaman yang benar atau salah ?
Apakah memang seseorang yang tiba-tiba tanpa ba .. bi … bu …. langsung menempeleng kita … adalah seorang penjahat ? Atau minimal orang tersebut menjadi pantas untuk ditempeleng lagi minimal 5 kali lebih keras ? Atau kalau perlu harus di-mutilasi ? Darimanakah pengetahuan tersebut berasal ? Apakah berasal dari pengalaman empiris atau penalaran induktif ?
Apakah tidak ada kemungkinan lain ? Sehingga kita dapat sedikit berbeda dengan “anjing parlov” yang selalu meneteskan air liur saat bel dibunyikan ?
Apakah ada kemungkinan bahwa yang menempeleng kita ternyata adalah seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya yang sangat dicintainya yang mati karena pembunuhan …. dan ia terkena gangguan jiwa temporer sehingga menganggap setiap orang di depannya adalah pembunuh anaknya ?
Wah ….. contohnya terlalu ideal dan mengada-ada ya ??! Ya …. saya memang sengaja mendramatisir …. namanya saja contoh ….! Tetapi percayalah … bahwa banyak reaksi dalam kehidupan sehari-hari (nyaris semuanya) …. sebenarnya hanya merupakan “sub-routine call” yang terdapat dalam harddisk kita masing-masing !
Lha jika hampir semua reaksi merupakan “sub-routine” ……, maka dari manakah keajaiban semesta berkesempatan memasuki diri kita ? Maksudnya bagaimana keajaiban semesta dapat kita sadari keberadaannya ?
***
Diantara “Stimulus” dan “Response” sesungguhnya ada “jeda” ! Dan “jeda” inilah yang konon merupakan salah satu pembeda antara manusia sebagai mahluk dengan kesempurnaan tertinggi … dengan mahluk lainnya !
Seni “memainkan jeda” inilah yang merupakan salah satu rahasia utama dari “LoA” ! Kemampuan kita untuk mengelola “jeda” akan melahirkan reaksi-reaksi yang dapat merubah kehidupan kita secara ekstrim …. baik menjadi hal baik … atau sebaliknya menjadi hal yang jelek …..!
Saya pernah berbincang dengan seorang narapidana Nusakambangan (ketika saya masih bersekolah SMP di kota Cilacap), dimana yang bersangkutan membunuh orang hanya karena merasa sakit hati karena dihina sebagai “anak haram” ! Ketika berbincang dengan saya, yang bersangkutan menyatakan benar-benar menyesali tindakan yang telah dilakukannya … dan bahkan berpesan panjang lebar terhadap saya agar jangan terjerumus ke hal yang sama ! Luar biasa ….hanya karena tidak mengelola “jeda” secara bijak ….. yang bersangkutan harus menebus belasan tahun hidupnya di balik tembok penjara ….!
***
Diantara “Stimulus” dan “Response” terdapat “jeda” ! Dan … di dalam “jeda” terdapat berbagai pilihan bebas ….. bahkan pilihan baru yang benar-benar berada di luar “kekayaan pengalaman empiris” dan “kekayaan penalaran induktif” kita !
Lalu bagaimana agar kita dapat mengelola “jeda” dengan baik ? Sehingga melahirkan reaksi-reaksi yang lebih memberdayakan ?
Ya, sekali lagi diperlukan kebiasaan pendukung sebelumnya, yaitu “Living at The Present”, karena kebiasaan ini akan membuat kita “lebih mudah melepas” penjara empiris dan induktif yang berasal dari masa silam ! Serta ….. kita harus selalu menerapkan sikap hidup “aware” terlebih dahulu ….. sehingga kita benar-benar “ngeh” terhadap setiap “gerakan” kita di tingkat bathin maupun fisik !
***
Bahkan …. rasa marah …. sedih …. kecewa … seringkali hanyalah merupakan reaksi spontan … dan merupakan “sub-routine call” yang telah tersimpan di harddisk kita sebagai bagian dari pemrograman empiris dan induktif !
Ketika kita telah mulai “memberanikan” diri untuk “mengelola jeda” …. maka seringkali sesuatu yang seharusnya “menyedihkan” …. ternyata merupakan jembatan … atau “alasan logis” bagi alam semesta untuk “menyesatkan” kita ke “jalan yang benar” !
Saya memiliki seorang sahabat yang bercita-cita untuk menjadi seorang wirausahawan …. tetapi kesempatan tidak berpihak kepadanya …. alias bertahun-tahun menjadi orang gajian ! Suatu hari ia datang kepada saya dengan lesu dan wajah berlipat, karena perusahaan tempatnya bekerja jatuh bangkrut, bahkan tidak dapat memberikan pesangon PHK !
Hari ini …. sahabat saya ini benar-benar telah hidup dalam keberlimpahan ! Ia memiliki usaha sendiri di bidang infrastruktur telekomunikasi dengan kontrak-kontrak berskala besar dari beberapa provider nasional ! Dan yang menarik … ia benar-benar mensyukuri bahwa ia dulu di-PHK dan tidak diberi pesangon ….! Karena inilah yang menggerakkan dia ke arah saat ini …… arah yang sejak dulu diimpikannya !
***
Membiasakan “mengelola jeda” memang bukan soal yang mudah ! Apalagi jika kita sudah sangat terbiasa dengan “reaksi empiris & induktif” ! Tetapi sekali lagi …. soal sulit dan mudah adalah soal tingkat “kompetensi” ….. dan, soal mencapai tingkat “kompetensi” adalah soal “teknik” ….! Disinilah NLP dan Hypnosis mungkin dapat berperan untuk mempercepat proses ini !
Saya pribadi sampai dengan hari ini masih terus “berjuang keras” untuk “mengelola jeda” agar lebih baik dan semakin baik ! Bahkan ini menjadi salah satu kegiatan hidup yang mengasyikkan ….. kegiatan yang semakin menyadarkan …. bahwa kita adalah mahluk yang sempurna … tetapi sekaligus kompleks ! Ini bukan soal “sulit” atau “mudah” …. Ini soal “arah” …. Ini soal “mindset” dan “lifestyle” !
***
Mungkin saat ini jika ada orang yang tiba-tiba tanpa ba … bi … bu …. menempeleng kita …. maka kita-pun tetap akan menempelengnya lagi …. mungkin 10 kali lebih keras …. tidak masalah …. selama telah didahului oleh “jeda” …! Jadi …. mari kita menempeleng orang dalam keadaan “Full Awareness” ! Mari kita menempeleng orang berdasarkan suatu “pilihan” dan tentu saja dengan segenap “resiko” atas pilihan tersebut !
Bersambung …..
***
Sekedar suatu sumbangan pengetahuan, untuk memperkaya wacana ! Jauh dari kebenaran mutlak, dan sangat boleh diperdebatkan ! Tinggalkan saja bagian yang tidak memberdayakan, dan ambilah bagian yang mungkin memberdayakan !
Maap, jika ada salah-salah kata ! Tabik !



11 Comments
Mas Yan. “Jeda” yg spt apa yang bisa menyelaraskan dengan LoA. Thx
Mas Hade Yth.
Jeda adalah kesempatan kita untuk menge-nol-kan semuanya untuk sesaat, alias terbebas dari pengalaman empiris masa silam. Jadi bukan soal “Jeda” yang seperti apa ? Tetapi lebih ke arah pembiasaan untuk menghadirkan “Jeda” tersebut sesaat setelah adanya “Stimulus”, sehingga akan menghasilkan “Response”yang lebih baik !
Jeda adalah untuk memberikan kesempatan kepada “pribadi cerdas” kita untuk bekerja …… dan “pribadi cerdas” inilah yang “pintar” untuk membaca keselarasan terhadap “LoA”.
Sukses selalu !
Yan Nurindra
Terima kasih Mas Yan,
Jadi, mungkin selama ini kita tidak pernah “mempunyai” (tdk mampu menghadirkan) jeda, tetapi langsung merespon stimulus, begitukah?
Apakab benar kalau jeda “dekat” dengan kesabaran?
Suwun.
Mas Hade Yth.
“Jeda” agak sedikit “Berbeda” dengan “Kesabaran” ….! Kesabaran mungkin lebih bersifat “normatif” … sedangkan “Jeda” benar-benar berpotensi untuk menghasilkan “keuntungan” !
Pada umumnya kita bersifat “responsif” … yang bermakna bahwa kita “mengulang” pattern yang telah kita miliki sebelumnya ! Padahal untuk memperoleh kemungkinan baru … kita harus sedapat mungkin melepas “kaca mata” lama kita …..
“Jeda” lebih dekat ke “awareness” alias “Eling” …. yaitu benar-benar menyadari segenap response kita …. tentu dengan segenap kemungkinan akibatnya ….
Apabila kita selalu bereaksi secara “cerdas” alias dengan “awareness” …. dapat dipastikan bahwa kita akan selalu bergerak ke arah yang kita inginkan …. seperti filosofi “LoA” …. saya lihat, saya inginkan, saya dapatkan !
Sekali lagi … selamat dan sukses ! Kita semua adalah Sang Co-Creator bagi kehidupan kita !
Yan Nurindra
Terima kasih Mas, maaf ‘ngrusuhi’ karena benar-benar pemula di NLP.
Thanks mas, karena coba praktekin kata “jeda” ini. Dulu kalimat atau ba
…Dulu kalimat ato bahasa tubuh yg biasa bikin tersinggung cuma jadi angin lewat aja.
salam sejahtera mas Yan?
mohon anda jelaskan jeda ini,dan beberapa contoh penggunaanya,terima kasih,sukse untuk anda.
mas gatot
Mas Yan,
Terima kasih artikelnya, untuk yg bagian 12 nya kapan di launching ? biar kita semakin mastap dlm menskenario kehidupan ini.
TQU
Mas Yan, aku sdh gak sabar tunggu artikel lanjutannya nih…….
kapan lanjutannya yg 12 master Yan, nie murid jg gak sabar. jedanya kalo kelamaan tar lupa