BERDAKWAH, PONDASI PALING KOKOH MEMBANGUN PIRAMID SUKSES

Saat kembali hadir sebagai murid pelatihan IndoNLP-nya Pak Wiwoho akhir November 2007 lalu untuk NLP Certification Program, saya merasa sungguh sangat beruntung akan kesempatan indah ini. Ya, bisa kembali duduk “diam” di kursi peserta adalah suatu pengalaman yang menyenangkan. Khususnya untuk saya yang sudah cukup lumayan melanglang buana di Nusantara ini.

Apakah tujuan saya Sertifikasi? Ah, jika hanya sertifikasi NLP agar “fee” saya lebih mahal, tentu saya lebih memilih membawa halaman muka majalah Intisari edisi Agustus 2007 yang memuat berita 3 Motivator Sukses Indonesia. Karena dampak pengakuan pasar tentu lebih kuat dibanding sehelai kertas Sertifikat NLP. Lokal lagi he..he… Juga, jika sertifikasi NLP yang saya cari, tentu saya akan ikut kelas NLP di Amerika atau kembali melanjutkan kelas NLP Trainer di Inggris. Selain karena saya memiliki uang untuk pergi kesana, juga berkelas international.

Lalu, apa yang ingin saya dapatkan dari pelatihan IndoNLP? Buat saya, bukan sekedar teknik NLP yang dengan mudah bisa saya dapatkan dengan membaca dari buku atau internet, namun karena Pak Wiwoho mengajarkan kehidupan. Inilah yang saya butuhkan dan membuat saya sangat respect pada Pak Wi.

Saya butuh retret ke dalam diri. Saya butuh mengalahkan dan berdamai dengan sang ego diri. Bukan sekedar mengusai teknik-teknik NLP yang jika lalai ekologi, malah berbalik memberi makan sang ego. Dan, yang penting adalah karena bisa kembali duduk di pangkuan sang Ibu yang 5 tahun lalu memberikan wejangan sangat berguna sebelum saya turun gunung sebagai Motivator. Tabik sujud saya untuk Guruku Pak Wiwoho…

Sambil mendengarkan Pak Wi, saya selalu bersyukur atas keputusan saya 5 tahun lalu mengikuti pelatihan IndoNLP yang menjadi dasar yang sangat penting dalam saya membangun kompetensi diri sebagai pembicara, trainer atau sebutan umum Motivator. Di kelas, sering kali memori saya download lagi ke awal perjalanan karir saya memulai usaha pelatihan ini. tidak disangka saya telah melakukan pelatihan lebih dari 700 kelas, dengan peserta yang hadir sekitar 300.000 orang. Lelahkah? Nggak tuh. Kok bisa nggak lelah? Saya coba menggali ada apa di balik jawaban ini.

Oh, saya ingat pesan pembimbing spiritual saya almarhum Pastor Martosudibyo SJ bahwa trainer tuh kayak Romo. Misinya ya berbagi saja… Nah, dalam bahasa awam saya selalu menggunakan kalimat ini yakni kegiatan Motivator adalah Berdakwah. Inilah yang saya jadikan pondasi dasar dalam membangun Piramid Sukses saya. Ya, BERDAKWAH. Artinya saya harus melayani siapapun, kemanapun dan saya tanamkan mindset berikutnya dalam benak saya bahwa:

QUANTITY CREATE QUALITY

Sayapun mulai bergerak kemanapun tanpa arah untuk selalu berbagi, berbagi dan berbagi pengetahuan yang saya miliki kemana saja, kapan saja dan ke siapa saja. Saya menawarkan pelatihan saya kemanapun, ke siapapun. Saya pernah diundang untuk melatih orang buta, hasilnya seru karena saya tertantang untuk menemukan ide baru, bukan?. Saya pernah memberikan pelatihan untuk anak-anak jalanan, sunguh sebuah ujian yang luar biasa. Karena diperlukan jiwa ekstra sabar dan ketulusan HATI. Namun, jawaban yang saya peroleh untuk keberhasilan pelatihannya justru pada HATI itu. Sekarang ini misi dari uang yang saya dapatkan dari bisnis ini adalah untuk membuat pelatihan kepada kaum tertinggal yang memerlukan.

Karena terus berkarya, layaknya sebuah belati yang terus digunakan dan diasah, maka si…

BELATI MENJADI MAKIN TAJAM

Sungguh kerja yang sangat, sangat keras selama 5 tahun ini. Saat malam hari, trainer-trainer lain sudah istirahat, saya seringkali masih memberikan pelatihan khususnya Group Therapy yang mengambil momen malam hari. Saya tidak pernah memilih kelas, apapun saya layani. Dibayar atau tidak dibayar, sudah tidak saya pikirkan lagi. Banyak komentar bahwa saya tidak SMART, buat saya terserah saja karena misi saya sebagai Motivator adalah BERDAKWAH. Masak dalam berdakwah, kita memilih peserta yang datang? Sombong amat! Prinsip saya: Peserta boleh bayar berapapun, namun peserta harus mendapat pengetahuan yang sama dari saya sebagai trainer mereka saat itu.

Walaupun fokus saya berbagi, berbagi dan berbagi, namun tetap dalam koridor berbagi yang terbaik, jangan asal berbagi. Dan, karena mindset dasar saya bahwa motivator adalah berdakwah, maka saya bukanlah penganut menjual pelatihan dengan teknik Preview. Buat saya…

NO PREVIEW, GIVE EXCELLENT

Tidak ada yang keliru menjual pelatihan dengan teknik preview atau dalam bahasa ibu-ibu melatih anaknya makan dengan cara icip-icip. Jika respon anaknya suka dengan rasa makanan tersebut, barulah disuapkan. Buat saya tidak ada preview seminar. Berikan saja yang terbaik kepada yang hadir, sebaik-baiknya.yang bisa diberikan, bahkan sebanyak-banyaknya. Karena belum tentu ada kesempatan lagi…

Pak Leo Chandra pemilik Columbia Cash & Credit Company pernah bertanya pada saya: “Mengapa Krishna mau menceritakan semua pengetahuan kepada kami, padahal kami belum kontrak membuat pelatihan untuk perusahaan ini”. Saya diam sebentar dan menjawab ringan: “Di benak saya tidak terpikir bahwa apakah proyek pelatihan ini jadi dilaksanakan atau batal. Yang penting saya berbagi saja yang terbaik pada saat ini. Kalo jadi ya syukur. Kalo tidak jadi, ya semoga ilmu yang saya bagikan ini bisa berguna…”

Saya pernah diberikan kesempatan oleh beliau untuk bicara di hadapan 5.000 karyawannya dalam waktu 10 menit. Anda tahu waktu yang saya persiapkan untuk momen 10 menit tersebut? Semalaman. Hasilnya? Setiap orang yang hadir saat itu, jika bertemu saya mereka ter-anchor sapaan: “Ehmmm…” sebuah kata kunci yang terus mereka ingat dari saya. Tanya mereka apa itu? He..he..

Seorang sahabat EO dari Surabaya yakni Ibu Eva pernah minta saya mengisi sesi preview sekitar 2 jam di organisasi sosial yang dipimpinnya. Waktu yang dipilih adalah malam hari sebelum saya memberikan seminar besar bersama James Gwee. Saya menolak memberikan seminar preview. Saya katakan bahwa saya akan memberikan materi yang berbeda dengan materi seminar esok harinya. Walaupun untuk organisasi sosial, mereka haruslah mendapatkan yang terbaik dari saya, bukan icip-icip untuk promo seminar esok harinya. Demikian prinsip saya dan hal inilah yang membuat hubungan bisnis kami terjalin erat, tidak hanya dengan Ibu Eva tapi dengan siapapun yang punya misi sama dengan kami.

Dengan mindset untuk memberikan hanya yang terbaik saat itu dalam setiap kesempatan, saya makin lama makin kaya pengalaman (kaya uang setelahnya ya he..he..) dan hal ini membuat…

ENERGI KOMPETENSI DIRI MAKIN BESAR

Seperti saat awal karir saya 5 tahun lalu, Pak Wi mengatakan kepada kami: “Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah guru yang tidak bisa mengajar” Kalimat ini sungguh tertanam sangat kuat dalam benak saya. Karena sekarang sudah tahu ilmu mengenai “The Secret” kekuatan otak manusia yakni ilmu NLP, ilmu modelling. Jika saya kuasai sungguh-sungguh, maka saya bisa membantu orang banyak dengan SANGAT CEPAT dan dalam JUMLAH BESAR. Begitu kira-kira pemikiran dalam benak saya saat itu.

Melatih orang buta, oke juga. melatih anak-anak TK, gak masalah. Melatih anak SMP, anak SMA, Mahasiswa, Custoerm Service, UKM, Fakir Miskin, Pemulung bahkan saya pernah melatih seekor monyet di Ubud Banyaklah jumlah kelas dengan peserta dari berbagi macam kalangan, seperti melatih anak-anak TK, SD, SMP, SMU, Mahasiswa, Guru-guru sekolah, Dosen, Karyawan, Orang Buta, Executive, bahkan melatih seekor monyet di Ubud, Bali, walau hanya sebentar, menghasilkan kekayaan pengalaman yang sangat beragam. Semua ini membuat energi kompetensi dalam diri saya terus makin membesar dan membesar. Inilah jawaban mengapa saya tidak pernah lelah dalam menjalankan kegiatan sebagai Motivator ini. Terbukti sudah bahwa Quality Create Quality. Bahkan, akhirnya malah selain Quality, energi kompetensi diri terbangun makin besar dan makin besar…

Karena belati pelatih sudah menjadi sangat tajam,apapun bisa dipotong, bisa dibelah, bisa ditebang, bahkan bisa diterbangkan kemanapun diinginkan, juga pelatihnya makin canggih, maka…

SERTIFIKAT MENJADI TIDAK LAGI PENTING

Paling tidak buat bisnis training saya. Pasar akan menilai karya saya, bukan lagi sertifikat saya. Pengalaman selama 5 tahun ini mengatakan bahwa pasar melihat karya nyata yang dicetak di lapangan adalah setifikat yang sudah teruji dibanding sertifikat yang dicetak diatas sehelai kertas. Sertifikat karya nyata lebih mahal nilainya.

Kita belajar dari kehidupan bahwa ijasah sekolahan tidaklah menjadi jaminan kebehasilan kita di kehidupan ini, ironis sekali jika kita sebagai trainer justru melabelkan diri dengan berbagai titel di depan dan di belakang nama kita yang memberikan kesan bahwa AKU ADALAH ORANG PINTAR, padahal sekarang untuk menjadi orang pintar sangatlah murah. Anda hanya perlu minum TOLAK ANGIN saja, maka Anda sudah mendapat gelar ORANG PINTAR.

Untuk itulah, semua sertifikat yang saya peroleh selalu saya hanyutkan ke laut, untuk dipersembahkan lagi kepada sang pemilik dunia. Aku hanyalah alatMu. Sertifikat hanyalah membuatku berbeban berat dan sering sekali terpeleset menjadi sombong. Jika Engkau masih mempercayaiku, maka aku percaya bahwa Engkaulah yang akan menjadi sertifikatku… Sederhana saja, bukan? Buatku yang terpenting adalah…

MISI BUKANLAH KOMISI

Karena dengan menjalankan misi, saya percaya akan berbuah komisi. Dan, terbukti dengan hasil nyata hanya dalam 3 tahun membangun bisnis training ini, saya berani mengatakan bahwa apa yang menjadi kunci dalam membangun bisnis training menjadi milyaran adalah BERDAKWAH. Dan, saya akan meneruskan perjalanan ini dengan mindset yang sama. Sebagai penutup artikel ini, saya ingin berbagi sepotong perjalanan hidup yang saya beri judul “MISIMU AKAN MENGUJIMU”

Kadang saat refleksi diri akan kehidupan.

Diriku bertanya pada hatiku…

Mengapa jalanku seperti ini?

Haruskah kutempuh jalan ini?

Betulkah jalanku ini?

Inikah jalan Mu?

Sering aku mendapatkan senyuman.

Sang Khalik hanya tersenyum lembut.

Misimulah yang akan mengujimu…

Aku menyadari akan doa misiku,

Sebuah doa yang aku ucapkan sejak kecil.

Ingin menjadi berguna untuk bangsa ini.

Misi besar, ujianpun pastilah besar.

Refleksi Tengah Malam, M1 Maret 2007.

Krishnamurti – Mindset Motivator si Pendakwah

 

55 Comments

  1. Yudha Argapratama says:

    Dear Pak Krish,
    Terima kasih sekali artikelnya. artikel ini semakin menguatkan nasehat salah satu guru saya, bahwa uang, karir, kesuksesan itu hanyalah dampak, bukan tujuan.
    Kalau kita niatkan aktivitas kita untuk memberi dan berbagi, maka semuanya jadi lebih mudah. Dan Allah pun akan memberikan jalanNya. Memang berat menjalaninya untuk yang masih muda seperti saya, yang masih punya ambisi & ego untuk mengaktualisasi diri.
    Tapi artikel ini mengingatkan saya kembali, untuk apa kita hidup dan diciptakan.
    sekali lagi terima kasih.

  2. Krishnamurti Krishna says:

    Dear Mas Yudha, sy setuju sekali bahwa uang hanyalah akibat saja, bukan tujuan. Sukses selau ya Mas & teruslah berkarya, berbagi dan berbagi. Banyak orang yg butuhkan uluran tangan kita…

  3. Perdanawan P. Pane says:

    Alhamdulillah saya pernah merasakan sentuhan “berbagi” ide kreatif anda di TMI.

    InsyaAllah, Agustus 2008 saya akan lakukan MARTABE, saya akan kembali ke kampung, menggali LEADERSHIP BATAK, dan membuat pelatihan seperti ide yang anda berikan secara tulus itu.

    Ya Allah, berikanlah rezeki kepada guru’ku ini. Berikanlah ide-ide kreatif kepadanya, agar Ia menjadi sempurna sebagai seorang guru’ku. Amin

  4. Krishnamurti Krishnamurti says:

    Bang Perdanawan,
    Terima kasih yg mendalam & tabik sujud atas doa Anda. Sy hanyalah manusia biasa, yg juga penuh dg dosa. Sy hanya ingin berbagi saja, tdk mudah menyelesaikan semua dosa yg sy buat.

    Sy hanya ingin berbagi, berbagi dan berbagi saja… Tabik sujud,

  5. Didik Madani says:

    saya senang membaca posting dari Bpk Krishnamurti. salam hormat dan kenal dari saya.

    Didik Madani

Leave a Comment